
Fitha dan Dennis kembali ke RS, membawa beberapa barang Fitha dan juga Sasha. Mereka mengobrol hinggal pukul 8 malam dan tiba saatnya mereka harus berpamitan. Faishal pun memutuskan untuk berpamitan karena dia belum cukup istirahat untuk memulai hari prakteknya kembali besok pagi dan harus menggantikan Sasha menjaga Cilla di paviliun selama Sasha kuliah serta masih harus menemui Alman untuk membantunya esok hari. Faisal sudah tidak begitu khawatir meninggalkan Sasha merawat bayi hanya berdua dengan Fitha, Sasha cukup terlatih dua hari ini dari mulai membedong, memandikan hingga memberi sufor.
"akhirrnyaaaaa, bebas ga ada cowok cowok." ucap Fitha sambil meregangkan tangannya kemudia mulai merebahkan badannya di sofa empuk yang lebih nyaman dibanding kasur kosnya.
"nikmatin tuh yaaa hotel 3 hari hehehe...". ucap Sasha yang sedang membedong cilla.
"eh Sha besok kalo hasil rongentnya jeluar berati cilla bisa pulang?"
" belum masih nginep satu malem buat observasi. Paginya baru pulang."
"besok malem aku ga nemenin gapapa Sha?".
"mau kemana kamu, trus aku sendiri?"
" Besok kan kak faishal jaga malem, katanya bisa nemenin kamu disini Sha. aku diminta ibukos pulang dulu.....um... besok kalo dah jelas aku ceritain deh." Sasha mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Fitha, ia penasaran apakah yang begitu penting hingga Fitha tak bisa menemaninya, padahal biasanya Fitha selalu menyediakan waktunya untuk Sasha kecuali itu adalah hal yang sangat genting harus diselesaikannya.
"Duh Fit, ga enak aku masa cuma berdua, semalaman bisa diem dieman tauk. Usahain dateng yah malem " Sasha memohon agar Fitha tetap bisa menemaninya walau sudah larut malam.
" besok dennis yang nemenin. Nanti aku kabari dia biar dijemput Aldo." ucap Fitha menenangkan Sasha, walau dokter faishal bisa dipaviliun namun masih diperbolehkan menambah satu orang karena dokter faishal dihitung sebagai tenaga kesehatan disana yang bertugas shift malam jadi dia bisa dipanggil sewaktu waktu ada pasien gawat darurat dimalam hari.
"Koq ga Aldo aja sih yang nemenin?"
" Aldo besok habis jemput dennis langsung nganterin aku, dennis kesini sore koq habis ashar."
"yaudah deh." ucap Sasha kecewa karena akan ditinggal oleh sohibnya.
"tenang....paginya kalo cilla dah bisa pulang kita jemput koq.... yah?? ga usah gitu ih mukanya.
"hmm" Sasha menganggukkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Malam semakin larut, Fitha tak kuasa menahan kantuknya akhirnya dia langsung merebahkan dikasur terenaknya untuk malam ini. Sasha hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat Fitha.
"katanya nemenin, kalo gini mah tandanya aku yang nemenin dia tidur. Dasar Fitha. Cilla jangan rewel ya sanyang.... tinggal kita berdua nih" sambil menimang cilla yang juga sudah sayu matanya.
Cilla tertidur pulas, Sashapun sudah sangat lelah dan membawa cilla kekasur lalu memejamkan matanya. Saat ini sudah menunjukkan pk.00.15 WIB.
Baru setengah jam berlalu tiba tiba .....
"oek..! oek....! oek..!" tangisannya sangat nyaring sperti ketakutan.
Sasha terkejut... langsung ia memeriksa popoknya namun tidak basah, dicobanya diberi Sufor namun cilla sama sekali tidak mau memasukkan kedalam mulut dan tetap menangis. Sasha mencoba menimangnya dengan lembut namun tangisannya tak kunjung reda.
Bingung.... itulah yang dirasakan Sasha. Apapun diusahakan, namun sang bayi tetap saja menangis. Diperiksa suhu tubuhnyapun tidak panas. Biasanya bayi menangis seperti itu karena panas badannya. Namun tak juga ada tanda tanda keganjilan.
"kenapa sayang? cup cup, udah bunda gendong ini sayang, bunda ayun ayun lho ini enak kan?cup cup yah."
Dikala Sasha kebingungan Fitha sama sekali tidak terjaga dari tidurnya terlihat begitu lelah, Sashapun tak ingin membangunkannya karena percuma saja sang bayipun tak mungkin berhenti menangis jika digendong Fitha.
" mas?!!! koq kesini?" Sasha heran tiba tiba Faishal yang harusnya jam segini masih terlelap dikamar rumahnya namun datang kepaviliun.
" saya kepikiran aja, sudah berapa lama nangisnya?" Ucap Faishal sambi memajukan tangannya meminta Sasha memindahkan cilla untuk digendongnya.
" udah sejaman mas, ga panas, minum juga ga mau dan popok juga ga basah. Kenapa ya?" jelas Sasha kaawatir sambil menyerahkan sang bayi
"cup cup cup sini sini, kenapa yah si cantik nangis??" ucap Faishal dengan lembut membuat cilla menurunkan suara tangisnya, yang tertinggal adalah seperti suara tangisan aduan dan lama kelamaan tenang dan tertidur kembali.
Sasha akhirnya menghembuskan nafas lega, Cilla terlihat sangat nyaman dipelukan faishal. Seperti memang menunggu kedatabgab sang dokter dan tak ingin jauh darinya. Jangankan Cilla... Sasha yang hanya melihatnya saja menjadi terkagum kagum dengan kehangatan perlakuan Faishal ke cilla. Ada perasaan hangat dihati Sasha. Sasha memegangi dadanya, getaran jantungnya terasa begitu cepat.
"jadi berdebar debar lihat pemandangan didepanku ini, ya Allah jangan kau tautkan perasaan yang tak layak untukku, aku sudah berjanji dengan seseorang yang menungguku disana." batin Sasha berbisik, diakuinya bahwa Faishal mulai terasa spesial dihatinya, baru kali ini ia merasakan perasaan seperti ini berbeda dengan perasaannya kepada insan, namun ia menyadarkan dirinya yang sudah bertunangan dengan seseorang yang baik dan harus menjaganya.
__ADS_1
" kamu tidur aja, biar cilla sama saya."
" tapi mas Faishal kan harus istirahat besok akan praktek sampe malam kan?" Sasha cemas tak ingin Faishal kurang tidurnya karena ia pastinya dibutuhkan banyak pasien.
"tadi udah tidur pas pulang, sekarang kamu aja yang tidur." ucap faishal sambil tersenyum membuat Sasha jadi menundukkan pandangannya, malu.
"iya makasih ya." Sasha mendekati Faishal untuk berbicara dengan sang bayi.
"cilla bunda bobok ya, cilla sama...... em mau dipanggil siapa mas? he" Sasha bingung panggilan apa yang pantas untuk Faishal. Sedang sepertinya dia tak ingin dipanggil dokter.
" hmm?"
"mau dipanggil siapa ma cilla?" tanya Sasha lagi memberanikan diri melihat matanya Faishal, membuat Faishal tertegun karena jarak mereka sangat dekat. Mereka sempat saling menatap beberapa saat lalu sama sama mengalihkan pandangan ke cilla dan sama sama tersenyum.
"ngi, ngikut kamu aja." Faishal jadi canggung
"umm..... siapa?" Sasha ragu ragu mau menyebutkan kata *a y a h* untuk faishal, tapi sepertinya Faishal lah satu satunya lelaki yang membuat cilla nyaman, benar benar seperti ayahnya.
"kalo boleh....." faishal ragu ingin mengucapkan panggilan sesuai kemauannya karena jujur saja Faishalpun menjadi sangat menyayangi bayi tersebut, terlebih setiap saat digendongannya terlihat sangat nyaman. Beberda dengan pasien bayi yabg oernah ditanganinya, kali ini ia merasa begitu dekat. Saat dikamar rumah, tiba tiba Faishal terjaga dari tidurnya dan merasa gelisah serta terus menerus kepikiran dengan sang bayi. Hingga ia berbegas menuju paviliun. Untung dia adalah dokter disana sehingga diperbolehkan masuk tanpa kartu seperti penjaga pasien lainnya.
"ayah...cilla panggil ayah ya?" ucap Faishal kepada cilla dan cilla terlihat menggeliat digendongannya, seperti memberi respon tersendiri.
"hah.......?" Sasha tertegun, bagaimana tidak, apa yang dipikirannya sejalan dengan Faishal. Ia jadi merasa bahagia karena mendengarnya langsung dari mulut Faishal. Andaikan yang mengatakannya Sasha sendiri lalu tidak disetujui oleh sang dokter, betapa malunya dirinya itulah yang sekarang dirasakan Sasha.
"kalo mas Faishal nyaman dengan sebutan itu aku berterima kasih sekali mas." sasha tersenyum.
" iya aku sendiri yang memutuskan karena walau ia sendirian didunia ini tapi ia tetap punya hak untuk memiliki keluarga baru."
" thank's..."
__ADS_1
" hmm tidur lah."