
"piye?" tanya eyang sekali lagi kepada Faishal yang msh tidak bergeming, ia menunduk, bingung harus menjawab bagaimana, ia yakin jika menolak saat ini juga akan membuat eyangnya kecewa khawatirnya mengganggu kesehatan sang eyang, bundapun meraih tangan Faishal lalu mengenggamnya.
"Pak, Ratna mohon biarlah Faishal memikirkannya dulu, tolong berikan dia waktu pak." Ucap bunda sambil menguatkan genggaman tangan sang Faishal. Ia tahu putranya saat ini sedang gundah.
"Vivi kan cantik, sudah kenal, sudah biasa hidup disini, pendidikannya TOP lho, bibit bobot bebet apik kabeh lho le, jangan disia siakan kesempatan ini." ucap eyang ingin agar Faishal terbuka pikirannya dan memilih Vivi yang sangat istimewa buat sang eyang da cocok dengan Faishal yang juga istimewa.
"Faisal belum bisa jawab eyang. Tolong kasih Faishal waktu." Akhirnya Faishal buka suara juga.
"Ojo sui sui yo le. eyang tunggu sebulan lagi. Eyang sudah ga ke malaysia mau tinggal sama om Edi." ucap eyang
"Agung, Ratna. kamu setuju kan nak Vivi jadi mantumu?" Tanya eyang kepada ayah dan Bunda. Kali ini ayah yang menjawab.
"Saya pasrahkan sama Faishal pak keputusannya, karena Faishal yang akan menjalaninya." ucap ayah
"Ratna juga pak, sama kayak mas Agung, biar Faishal yang mutusin." dilihatnya sang putra disebelahnya lalu diditepuk tepuknya tangan Faishal yang masih menggenggam satubtangannya yang lain, seolah mengatakan bahwa mereka akan selalu mendukung segala keputusan Faishal.
"Regan sama Nia kalian gimana apa setuju?" Tanya eyang ke orang tua Vivi.
"Setuju banget eyang kami sangat mendukung, apalagi Vivi begitu mencintai Faishal, iya kan sayang?" tanya Regan ke putri semata wayangnya. Vivi yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung tersipu malu tanda mengiyakan.
"Vivi sudah jatuh cinta sama kakak sudah lama pah mah." Ucapnya kepada orang tuanya membuat Faishal yang masih menunduk memejamkan matanya, meringis. Untung hal itu hanya bisa dilihat bunda yang ada disampingnya.
"Ya sudah sebulan lagi kita tunggu kabar dari Faishal ya. Siapkan jawabannya ya le, jangan kecewakan eyang." Eyang berkata kata penuh penekanan, kata katanya terkesan memaksa, seperti tidak memberi pilihan untuk Faishal.
Ayah menghembuskan nafas beratnya, ternyata sang mertua belum sepenuhnya berubah, ia jadi teringat saat akan melamar Bunda dan ditolak mentah mentah dengan alasan bibit bobot bebet ditambah saat itu ayah masih berstatus mahasiswa. Sungguh alot menaklukkannya namun pada akhirnya eyang menyetujui pernikahan bunda dan ayah setelah melewati berbagai usaha. Sekarang giliran putranya yang harus menghadapi sang eyang. Sayangnya kondisi kesehatan eyang kurang baik. Namun hal ini justtu dimanfaatkan Vivi untuk mendapatkan tiket menjadi istri Faishal, Vivi yakin tak ada yang mampu membantah sang eyang.
Pertenuan keluargapun berakhit, mereka semua berpamitan kembali kekediamannya masing masing, Aldo baru saja tiba dari rumah Sasha.
"Lho koq udah mau pulang aja eyang om tante. Eh Doni dah gede aja ga pernah ketemu Kak Aldo sih."
"hehe iya kak sibuk sekolah." Ucap Doni anak om Edi yang rumahnya memang jauh dari Jogja kota tepatnya di gunungkidul.
__ADS_1
"Aldo...eyang pamit ya." ucap eyang yang menepuk bahu Aldo lalu aldo mencium punggung tangannya.
"Do eyang minta tolong yaaa, bujuk kangmasmu biar mau nikah sama Vivi." ucap eyang lirih
"Apa??? ga salah eyang??" Tanya Aldo terkejut
"tanya bundamu sana." ucap eyang sambil tertawa lalu berlalu dari Aldo yang masih terpaku shock mendengarnya.
"Kita pamit ya mbak" ucap om da tante berpamitan
"Bunda Vivi pulangnya, Bundaaa tolong bujuk kakak ya bunda, vivi janji bakal jadi istri terbaik kakak." Dengan logat manjanya ia bergelayut ditangan bunda menyandarkan kepalanya kepalanya dibahu bunda.
"Nanti bunda kabari lagi yah, bunda ga bisa maksa kakak, semua keputusan ada ditangan kakak sayang, sabar yah?" bunda menanggapi dengan lembut lalu Vivi memeluknya dan berpamitan.
Semuanya telah pulang, tinggallah mereka berempat.
"Ayah! Bunda! apa maksud eyang tadi?? kakak dijodohin sama Vivi??" Tanya Aldo penasaran
" mana bisa gitu!!! pokoknya Aldo ga setuju!"
" Bunda juga speechless tadi do. Hari ini banyak kejutan. Pusing bunda." bunda memijat keningnya
"Kak! jangan bilang kalo Kakak mau." Tanya Aldo ke sang kakak, Faishal yang ditanya malah memejamkan matanya lalu menyigar rambutnya dengan kedua tangannya. Dipandanginya pintu masuk dengan tatapan kosong.
"Kak, sabar, dalam waktu satu bulan ini kita cari cara untuk mengatasi ini yah." bunda mengelus elus punggung Faishal lalu Faishal hanya bisa mengangguk.
"Kak! bunda tanya tapi kakak jawab jujur ya??"
"tanya apa bun?" jawab Faisal
"kamu tertarik dengan Sasha kan? jujur aja gapapa. Kakak kan ga pernah bohong sama bunda." Faisal yang ditanya terdiam apa lagi saat ini ketiga orang didepannya sedang menatapnya intens
__ADS_1
"iya nak, ayah lihat tadi kamu perhatian sekali bahkan kamu perbolehkan masuk kekamar, tapi.... ayah juga agak kecewa tadi ternyata sudah bertunangan."
" ayah, bunda, Aldo, jujur, memang dua bulan terakhir sejak kakak bertemu Sasha, rasanya beda. Rasanya ingin terus memperhatikan dia, ingin sering ketemu. Tapi kakak ga tau ini perasaan apa. Kakak rasa ini cuma simpati biasa." Faishal tak mengungkapkan semuanya, padahal ia juga amat berdebar dan bahagia jika bertemu.
"sayang, itu tandane jatuh cinta. iya kan yah??" ucap bunda, ayah mengangguk, akhirnya bunda dengar dari mulut putranya sendiri bagaimana perasaannya. Faishal tertegun, benarkah ia jatuh cinta kepada Sasha? kenapa sekalinya ia jatuh hati kepada orang yang tidak dapat dimiliki.
"Tapi yah bun, Sasha sudah bertunangan, Kakak ga mau ganggu. Ayah bunda juga jangan banyak harapan. Trus Aldo! jangan mencoba menjodoh jodohkan kami, kakak ga mau jadi perusak hubungan orang lain. Kakak ga akan meneruskan perasaan ini yah bun jadi jangan khawatir. Kakak kekamar ya?" Faisal beranjak dari duduknya menuju kekamarnya, kepalanya sudah amat berat ingin segera merebahkan diri dikasur.
Sampai dikamar, ia meraba raba kasurnya persis ditempat Sasha duduk. Entah kapan lagi gadis yang kini dihatinya akan duduk lagi disana.
Semua yang diruang tamu menjadi khawatir oleh Faishal.
"Kasian ya bun kakak.... tapi bun koq bisa sama ya kayak Sasha." ucap Aldo
"emang kenapa?" tanya Bunda
" Sasha juga tadi bilang ke Aldo waktu Aldo ma Fitha nggodain dia bun, katanya jangan suka jodoh jodohin dia ma kakak dia bilang jangan bikin goyah gitu." Ucap Aldo
"jangan bikin goyah?? kalo ada orang sampe bilang gitu berati hatinya dah goyah dek. Kayaknya ya kalo dari yang bunda lihat tadi mereka kayaknya sama sama jatuh hati deh dek, iya ga??"
" kalo Aldo sih yess bun, sehati kita bun."
"kalian ini kayak peramal aja bisa nerawang." ucap ayah sambil tertawa kecil.
"ih ayah ga konco lah sama ayah." ucap bunda sambil mengurucutkan bibirnya membuat ayah jadi tertawa.
"hahaahahaha, bun bun udah tua bun ga usah ikutan anak muda." ucap ayah
"emang ayah ga lihat apa mereka berdua tadi." sambung bunda
" ya lihat, tapi inget kata kakak, kita jangan berharap lebih. bukan haknya." lanjut ayah mengingatkan
__ADS_1
Aldo dan bunda jadi lesu, sekalinya Faishal tapi tak bisa dimiliki.