Bayi Kita

Bayi Kita
42


__ADS_3

Ternyata sesampainya didapur ia melihat orang yang sangat dikenalnya menggunakan apron dan sangat asik memasak.


"ehm!" Sasha berdehem memberi kode akan kedatangannya, sebenarnya Sasha bingung harus berkata apa ia sungguh kikuk.


Mendengar suara deheman, sosok yang sedang asyik memasak tadi menoleh kebelakang ternyata sudah ada wanita yang membuatnya bersemangat pagi ini hingga memasak nasi goreng spesial andalannya, ya dialah Faishal yang tiba tiba jadi chef yang bahagia pagi ini. Ia menoleh lalu tersenyum, mempersilahkan Sasha yang ada 1 meter dibelakangnya untuk duduk dikursi makan.


"dah bangun sha? cilla masih bobok?"


"ia mas, masih pules." ucap sasha tersenyum canggung, ia yang awalnya ingin membantu karena mengira pembantu rumah tangga faishal yang sedang memasak, namun yang ia temui adalah Faishal yang berpenampilan baru lagi dimatanya, menggunakan apron. Ia jadi bingung ingin membantu atau balik kekamar.


"sini duduk, dah aku buatin susu hangat. Susu coklat doyan kan?" Faishal menarik kursi untuk Sasha


"apa aja mas, maafin ya jadi ngrepotin, coba tadi suruh aku aja yang masak gapapa lho mas."


"santai aja, pagi kalo bunda ga ada, aku, ayah atau aldo kita gantian masak, pagi ini ayah lagi capek kayaknya kemaleman tidurnya jadi aku yang masak "


" wah ga nyangka mas pinter masak juga." Sambil duduk dikursi yang sudah disiapkan Faishal


"ga juga koq cuma nasi goreng aja bisanya hehe." Faishal nyengir mengakui bahwa ia hanya bisa memasak nasi goreng saja, ia khawatir jika sasha membayangkan dirinya bagaikan Chef handal.


"tapi.... jarang ada mas cowok yang mau masak."


" karena bunda petugas kesehatan yang kadang harus jaga malem jadi kita sejak SMP dah harus bisa back up ayah dirumah, soalnya kita cowok semua selain bunda. Nanti cobain deh masakan ayah lebih enak lho, walau ga sebanyak bunda bisa masak resep resep lain."


"ohh... hahhaha ternyata om pinter masak juga, wah keren banget deh."


" Nih cobain nasi gorengnya semoga berkenan ya, tapi ga tau rasanya gimana, nih susunya masih panas, aku ambilin sendok dulu."


"mas mas ga usah biar aku ambil sendiri." Sasha mencegah Faihsal mengambil sendok ia sangat sungkan.


"gapapa lebih deket aku koq." Faishal langsung mengambil sendok lalu memberikannya ke sasha.


.


.


.


"gimana rasanya?" Faisal memperhatikan Sasha yang baru satu sendok memasukkan nasi goreng buatannya.


"enak koq mas." ucap sasha sambil tersenyum lalu cepat cepat mengalihkan pandanganannya lagi ke nasi goreng dihadapannya, ia grogi dipandangi Intens oleh Faishal saat makan.


"beneran enak?"


"he eh" Sasha hanya bisa mengangguk karena sedang mengunyah


" mas ga makan?"


"ini baru mau ambil, lihatin kamu makan jadi lupa mau makan juga hehe." Tanpa sadar Faishal mengatakan kalo ia fokus memandangi Sasha membuat Sasha malu mendengarnya.

__ADS_1


Faishal mengambil nasi goreng lalu mereka makan bersama berhadapan.


"ini makan bersama kita yang kedua ya berdua aja." ucap Faishal mengusir kecanggungan.


"kalo menurut aku ini yang pertama." ucap Sasha mulai santai


"hm? kan waktu di mall kita makan bareng." ucap Faishal heran


"kan bertiga...." Sasha tersenyum malu, ia heran kenapa harus menghitung Cilla.


"iya iya bener, hahaha." Faishal jadi langsung mengerti maksud Sasha. karena saat dimall mereka bertiga dengan Cilla, jadi hari ini adalah makan berdua pertama mereka.


Faishal lalu mengambil HP disakunya, kemudian ia memberikan notifikasi di kalendernya, dengan tulisan "makan berdua pertama". Ia senyum senyum sendiri, heran dengan dirinya sendiri mengapa bertingkah seperti anak belasan tahun. Saat ke Mall pun ia memberi notifikasi kekalender HPnya dengan tulisan "jalan bareng pertama dan terakhir" lalu ia ceritakan ke Alman dan mendapat ejekan "ABGTE" alias ABGtelat. Saat itu ia tak terima disebut seperti itu, namun hari ini ia sadar sepenuhnya kata kata sohibnya benar, ia telah melakukan hal yang sama lagi bagaikan anak ABG, kemana masa masa ABG yang terlewatkan itu batinnya, kenapa dulu ia sama sekali tak tertarik dengan hal hal ini bahkan banyak wanita yang mencoba mengungkapkan perasaannya dan tak satupun membuat hatinya bergetar. Memang ya orang yang sedang jatuh cinta iti bisa melupakan kewibawaannya, seperti faishal saat ini. Dulu baginya cowok cowok yang suka begini da begitu saat jatuh cinta terlihat menjijikkan dimatanya. Namun saatvia sendiri yang mengalami justru seperti menelan ludah sendiri.


"Kenapa mas?? seneng banget kayaknya?" ucap Sasha yang ikut senyum melihat tingkah Faishal.


"oh..! ah. gapapa cuma lagi seneng aja." Faishal terkejut karena Sashat tenyata memperhatikan keanehannya senyum senyum sendiri dengan HP.


"ohh dapet wa dari pacar yah? Biasanya kalo seneng kan gitu." ucap Sasha memberanikan diri agar mereka lebih santai


"kamu biasanya gitu kah kalo dapat wa dari tunanganmu?" Ucap Faishal, ia jadi penasaran juga dengan hubungan Sasha.


"koq jadi tanya balik sih? curang." Sasha tak mau menjawabnya dan mencoba untuk bercanda.


"kirain, soalnya kalo aku ga, hehe." ucap faishal sambil bercanda


"kan ga punya pacar." ucap faishal yang niatnya bercanda namun seperti menjelaskan keadaannya kepada sasha bahwa hatinya belum bertuan.


"ohh hehe maaf."


"Kamu mau tau kenapa aku lagi seneng?"


"Kenapa emang?" tanya Sasha penasaran.


"Soalnya ada...."


"oek! oek! oekkkk!"


" eh mas Cilla nangis"


" Dah kamu makan aja biar aku yang gendong"


Faishal langsung berlari kekamar. Diangkatnya sang putri kesayangan.


" cup cup sayang bangun yah, seneng ga? yang gendong pas bangun ayah. sayangkuuu, emh" Faishal mencium pipi cilla dengan gemas, Cillapun merespon dengan tertawa kecil, matanya sudah membuka lebar saat diangkat sang ayah


Faishal langsung membawa Cilla keluar kamar.


"Nih bunda Cilla dah haus." ucap Faishal seolah mewakili Cilla menemui Sasha didapur yng terryata sedang membuatkan sufor.

__ADS_1


"sini ma bunda yok. mas nasi gorengnya belum habis lho nanti dingin biar cilla ma ku aja. oiya mas maaf aku tadi pinjem pancinya buat masak air mandi cilla."


"iya pakek aja, anggap rumah sendiri. Nih cilla ma bunda dulu yah." Faishal menyerahkan Cilla lalu diberikan ke Sasha yang sudah siap dengan botol dot ditangannya.


Faishal menghabiskan makanannya, lalu membereskan piring mereka berdua dan mencucinya.


"duh mas jadi ga enak, coba tadi biar aku yang cuci piringnya."


" santai aja Sha."


"nanti siang aku aja mas yang masakin, aku ga ada kuliah hari ini, kosong. boleh kah? biar ga bosen."


" kalo kamu ga repot silahkan pakek dapur sesukanya, kalo bunda tau pasti seneng banget sha. Aku juga ga ke rumah sakit hari ini."


"libur?"


" lemburanku dah tak ambil semua kemarin jadi hari ini Alman yang tugas." pada kenyataannya Faishal memohon kepada Alman agar menggantikannya hari ini saja karena ia ingin healing time setelah melalui harinya yang berat kemarin. Dan Alman sangat pengertian selain itu iapun seorang lajang yang hidup sendiri sehingga lebih suka bila menghabiskan waktunya untuk bekerja, bahkan sangat sering Alman menemani Faishal diruang prakteknya untuk mengusir kejenuhan.


"oiya mas makasih ya dah diizin pakek kamarnya, kalo bisa aku ma cilla dikamar tamu aja mas." ucap Sasha


"kamu dikamarku aja gapapa sha aku bisa tidur dikamar Aldo, kamar tamunya kemarin belum beres makanya karna sudah terlalu larut jadi kamu aku antar kekamarku.


"tapi aku ga enak mas, biar aku aja yang bersihin kamar tamunya."


"ga usah sha udah aku bersihin tadi pas bangun kalo kamu mau tidur disana."


"iya mas makasih yah, oh airnya dah mateng. tolong pegangin Cilla dulu ya mas."


"iya, itu mandinya disebelah sana aja udah aku siapin baknya."


"beneran ada bak mandi bayi?"


" iya ada, kan bunda bidan jadi jaga jaga kalo ada yang dateng kesini pasiennya"


"iya mas makasih, tadi kalo belum ada bak rencana mau aku pangku aja mandiinnya, kemarin buru buru sampe lupa, aku siapin dulu ya mas."


"ok. aku bawa keluar yah mumpung masih pagi biar Cilla fresh." Faishal akhirnya menggendong Cilla sambil berjalan jalan disekitar teras dirumah menunggu air mandi yang disiapkan.


"Cilla... ayah seneng banget Cilla disini sama Bunda, coba aja bunda belum tunangan yah mungkin ayah ga harus bertunangan sama dia. Doain ayah ya Cilla semoga semuanya bisa berjalan dengan baik. Cilla....tadi sebelum Cilla bangun ayah hampir aja kelepasan sama bunda, hampir aja ayah bilang kalo yang bikin ayah bahagia hati ini adalah kalian. Tapu ayah takut bunda jadi menjauh kalo ayah terlalu menunjukkan perasaan ayah. Cilla..... makasih ya berkat kamu hadir ayah jadi tambah dekat sama bunda walau cuma sebentar. Tapi bunda adalah cinta pertama ayah. Walau bunda sama ayah ga bisa bersama, tapi ayah tetep sayang kalian. Cilla harus sayang ayah yaa??" Faishal mengelus elus pundak Cilla sambil berjalan jalan ditepian rumah, ia mengungkapkan segala perasaannya pada bayi mungil tersebut.


Faisal tak kuasa menahannya lagi namun ia tak mau menunjukkan perasaan cintanya yang makin mendalam kepada Sasha, ia justru takut Sasha tak nyaman lagi dengannya, toh lambat laun Sasha juga akan tahu jika ia dan Vivi akan bertunangan. Faishal menunggu saat itu, saat dimana Sasha tahu ia bertunangan, apakah Sasha akan biasa saja? atau bersedih? atau bahkan semakin memberi tembok yang tinggi. Tapi jika difikirkan lagi, mereka tak sedekat itu untuk ia tahu bagaimana perasaan Sasha yang sebenarnya kepadanya, membuat Faishal semakin fankaruan hatinya.


"buat apa aku harus tahu reaksi Sasha? selama ini sasha bahkan membuat jarak yang tegas kepadaku, Ya Tuhan. Beginikah rasanya cinta sendirian?" itulah yang selalu membuat kegalauan dalam diri faishal.


"mas? Cilla?" Sasha mencari cari keberadaan Faishal dan Cilla karena air mandi telah siap, dan akhirnya menemukan mereka ditaman depan.


Faishal dan Sasha memandikan Cilla bersama dihalaman belakang, mereka terlihat sangat bahagia bersama. Ayah yang telah siap dnegan setelah kerjanya dan bermaksud sarapan didapur akhirnya mencoba melihat keseruan yang terjadi dihalaman belakang. Ia melihat putra sulungnya amat bahagia memandikan Cilla, yang jelas ia ketahui bahwa putranya amat bahagia karena wanita idamannya ada didalam rumah yang sama dengannya. Tapi ayah menjadi iba menyadari yang akan dihadapi puttra sulungnya tak mudah.


"Assalamualaikum....yah?! Ngapain?!".......

__ADS_1


__ADS_2