Bayi Kita

Bayi Kita
94


__ADS_3

"gini tante, kami ga pernah pacaran sebelumnya, sebenernya Sasha sudah bertunangan dengan seseorang waktu itu, orang tuanya sudah menjodohkan Sasha dari kecil, jadi Faishal ga bisa menjalin hubungan sama Sasha, bahkan sampai dua kali Faishal mengungkapkan perasaan, tapi Sasha belum bisa memutuskan pertunangannya. Jadi... akhirnya Faishal terpaksa menerima pertunangan sama Vivi dengan syarat syarat yang Faishal ajukan ke tante Nia. Faishal sebenernya Frustasi tan, tapi ternyata ada sesuatu yang terjadi, Sasha pertunangannya dibatalkan oleh pihak laki laki karena kesalahfahaman, sehingga Bunda minta Faishal nganter Sasha ke Lampung, disana Faishal memberanikan diri untuk melamar Sasha, dan langsung disetujui oleh seluruh keluarga besar disana tante, dan Sashapun akhirnya mau menerima juga, gitu tan he he." ucap Faishal menceritakan kisah singkatnya.


"kamu hebat sekali yah, memperjuangkan seseorang yang sangat ingin kamu jadikan istri. Untungnya semua berjalan lancar ya. Kalo Sasha gimana waktu dilamar?" tanya tante Santi


" kaget tante, sebenernya waktu itu hati Saya sedang tidak baik baik saja, tapi mas Faishal gigih banget tan, dan ayah ibu semuanya setuju, jadi Saya ga ragu lagi buat menerima. Sebenernya saya ga punya perasaan apapun sama tunangan saya sebelumnya karena kami dijodohkan dari kecil, dan Saya hanya ga ingin menentang permintaan para orang tua. Daaan.... hati Saya goyah juga waktu mas Faishal mengungkapkam perasaan tante, tapi saya waktu itu sudah terikat dan ga bisa menjanjikan apa apa." Sasha menjelaskan detilnya kepada tante Santi, membuat hati Faishal menghangat mendengarnya, tak lupa senyuman tersungging dari bibirnya, tidak ia sangka sangka ternyata Sasha sudah sejak dulu telah memiliki perasaan yang sama dengannya, andai saat itu Sasha belum bertunangan, mungkin kisahnya akan sedikit berubah.


"wah gayung bersambut nih, om Edi doakan kalian berdua langgeng terus, harus saling menghargai ya? Sasha masih sangat muda, jadi Faishal harus sabar dan selalu membimbing Sasha menciptakan keluarga yang baik, masalah pasti ada, tapi kalian berdua ga boleh mengutamakan emosi, harus saling memahami, dan cepat maafkan serta berkomunikasi yang baik, cepat cepat dikasih cucu bundanya." Ucap om edi dengan bijaknya


"tenang om, secepatnya kita bawain bayi, ya kan sayang?" ucap Faishal dengan optimisnya membuat Sasha malu, lalu mencubit pinggang suaminya.


"mas..." ucap Sasha malu


"ehh kak, inget! Sasha masih 22 tahun lho ya, masih harus fokus ma kuliahnya, apalagi mau KKN bentar lg, ga boleh egois le. Ga sabar aja kamu mau bikin terus." bunda mengingatkan


"iya iya buuuuun, wah Bunda sekarang ganti anak, lebih sayang ma Sasha dari pada kakak, pokoknya soal bayi sedikasihnya aja sama Allah. Nih dah ada yang lucu." ucap Faishal mencubit pipi Cilla, membuat semua tertawa.


"gimana besok kalo orang tuanya ditemukan? Apa... Kalian sudah berfikir sampai sana?" tiba tiba tante Santi menanyakan hal ini, Faishal dan Sasha jadi terdiam pasalnya mereka belum tahu harus bagaimana. Tante Santi sangat penasaran, karena sejak datang Cilla selalu jadi perhatiannya.


"belum tau tante, kami jalani yang ada dulu sekarang, kami tetap berkomitmen menjaga Cilla sebaik baiknya. Saya juga bersyukur bunda dan ayah ternyata sayang juga sama Cilla." ucap Sasha setelah terdiam sejenak.


"iya ayah sama bunda pasti bantu kalian, bagaimana cilla kedepannya nanti, jika sampai menjelang umur 5 tahun belum ada kabar juga kita adopsi saja, bisa masuk KK ayah atau KK kalian nanti." ucap ayah Agung, membuat semua yang ada menjadi lebih tenang.


"oiya mba Ratna mas Agung, kapan mau ngunduh mantu??" tanya om Edi


"dah banyak yang nanyain mba sedulur sedulur." lanjut om Edi


"secepatnya, minggu depan kita ngumpul dirumahku ya di, nanti sedulur sedulur pada dikumpulke di rembugkan (rapat), apike kepiye, sisan nentuin tanggal to. ya kan yah? Mestinya ngambil Sabtu atau minggu, tapi mba ga ngunduh dirumah, langsung sedino nang gedung wae, ben praktis." ucap bunda


"gimana Kakak sama Sasha?" lanjut bunda


"kita ngikut aja baiknya gimana bun. Tapi jangan mendadak kan Kakak mau ngabari keluarga lampung buat siap siap." ucap Faishal


"iya bun yah, nanti Sasha bisa ngabari ibu sama ayah jauh jauh hari, sapa tau ada keluarga yang mau ikut juga." ucap Sasha.

__ADS_1


"yaudah mba nanti minggu berati ambil pagi wae jam 8 gitu ngumpul rembugkan dirumah mba. Mengko tak ewangi mba ngabari sedulur sedulur." ucap om Edi


"ok gitu aja di, sepakat, nanti kita yang ngabari sedulur jogja yang deket deket." imbuh ayah


" Mba mas, faishal, mba Sasha, ayok kita makan dulu, malah keasikan ngobrol, ayo ayo ke ruang makan, tapi ya gitu itu lho mba Sasha menunya jangan lombok." ucap Tante memperkenalkan menunya


"apa itu tan?" tanya Sasha,pasalnya ia baru sekali mendengar kata tersebut.


"nanti tak lihatin ayok kesana dulu." ucap tante Santi


"le! Mba Fitha sama mas Aldo diajak maem dulu." seru tante Santi ke salah satu putranya yang sedang melintasi mereka.


Merekapun berkumpul dimeja makan, ruangan yang sangat rapi.


"ini mba Fitha, mba Sasha sayur khas gunungkidul, jangan lombok." ucap tante sambil tersenyum mengenalkan makanan yang ia masak


"jangan?? Koq jangan tante? Emag ga boleh dimakan?" ucap Fitha spontan karena ia bingunv kenapa disebut jangan.


"hush!" Sasha menyenggol Fitha mengingatkan temannya agar tak kebablasan, sedang Aldo menjetikkan telunjuknya di kening Fitha.


"hahhaha kalian ini emang lucu banget toh. Cuma kamu lho Fith yang suka dijahili Aldo." ucap tante Santi melihat kelakuan mereka berdua.


"JANGAN itu kalo kata orang sini artinya sayur, jadi JANGAN LOMBOK itu artinya cabe yang disayur nduk, ayok cobain, kalo yang lainnya kalian dah tau yo, silahkan dinikmati." tante Santi mempersilahkan semuanya makan, Fitha dan Sashapun menganggukkan kepala tanda mengerti akan pengetahuan baru makanan khas disana.


"jangan malu malu, nanti laper lho." ucap om Edi sangat ramah.


"he iya om, makasih." Sasha membalasnya dengan sopan.


"Sini buar sama tante aja Cillanya." Tante santu meminta Cilla agar digendongnya,lalu Sasha menyerahkannya.


"maaf ya tante nitip dulu." ucap Sasha


"iya sini sama simbah aja. Adu adu embulnya." Ucap tante Santi lalu menggendong Cilla

__ADS_1


" oiya, Rangga...." Tante Santi memanggil anak sulungnya


"iya buk?" jawab Rangga


"Eyang dipanggil, maem bareng." ucapnya


"males ah buk, mengko lak diseneni meneh buk." jawabnya yang enggan memanggil sang eyang karena jika hatinya kurang baik maka Rangga serung terkena sasafan omelan sang eyang.


"le.. Mesakke to, eyang ki wes sepuh lho le, ayo gek diundang sik!" ucap tante santi tak senang jika putranya tidak berlaku sopan kepada mertuanya walau sang mertua suka sekali memarahi sang putra bahkan mungkin dirinya pun sering terkena sindiran.


Ranggapun mengetuk pintu kamar Sang eyang lalu masuk karena sang penghuni kamar memintanya masuk.


"yang! Makan dulu, bareng bareng sama bude." ucap rangga ucap Rangga


"males aku nak isih do nengkene, eyang diagawakke nang kamar wae, rasah nganggo sing pedes lho yo. (males saya kalo masih pada disini, eyang dibawainn kekamar aja, ga usah pakek yang pedes lho ya.)." jawab eyang yang sebenarnya sudah sangat lapar namun gengsi menemui keluarga anak pertamaya karena masih membuatnya kecewa.


"lhooo laper to eyang, maem bareng wae to eyang, kan kepenak." jawab Rangga masih dalam mode membujuk sang eyang dan menahan diri agar tak berbahasa jawa yang kasar.


"wes to gawakke, (udahlah bawain aja)" eyang masih kekeh tak ingin makan bersama.


Akhirnya Rangga keluar, lalu ia mengambilkan makan buat sang eyang.


"lho le, eyang mana?" tanya bunda


"ga mau nih lho bude, mintane dibawain ke kamar" ucap Rengga sambil mengambilkan menu permintaan sang eyang.


"Sini bude wae yang nganter, kamu maem aja, bude dah selesai koq. Yah, ayah disini aja ga usah ikut, biar bunda yang ngomong sama bapak." ucap bunda


"iya, jangan sampai marah sama bapak." ucap ayah mengingatkan.


"tenang yah, bunda bukan Aldo koq, hehehe." ucap bunda sambil melirik ke Aldo membuat yang lain tertawa dan sudah sangat faham sekali sifat Aldo. Bunda pun menuju kekamar eyang.


tok tok, ...

__ADS_1


"Gek gowonen mlebu to ngga." ucap eyang meminta seseorang yang ia kira sang cucu mengetuk pintu.


Bunda pun menyiapkan hatinya lalu masuk ke kamar eyang.


__ADS_2