
Sasha duduk didekat pintu karena ruangan itu penuh dengan kerabat dekat serta perwakilan perangkat desa. Sasha duduk dengan kebingungan. Ia tak berani berkata kata, ia menunggu apa saja yang akan dikatakan ayah dan ibunya atau orang orang yang ada diruangan itu. Sasha benar benar tak tahu apa yang terjadi, satu hal yang ia yakini pasti menyangkut tentang dirinya. Kesalahan apa yang ia perbuat hingga dapat mengumpulkan banyak orang disini?
Faishal diminta masuk dan duduk bersebelahan dengan Sasha sedangkan Fitha dan Aldo hanya dapat menyaksikan dipintu saja , tak dapat masuk kesana karena ruangan tlah penuh. Cilla tiba tiba menangis, bayi mungil itu sangat peka akan keadaan, Fitha mengambilnya dari pangkuan faishal dan mengajaknya keluar, sedang Aldo diminta untuk tetap berada didekat Sasha. Fitha tak ingin terjadi sesuatu. Aldo faham, ia menganggukkan kepala saat Fitha memberinya tugas penting, menjaga Sasha.
Saat Faishal membawa Cilla masuk dan ikut duduk, semua orang didalam ruangan itupun intens melihatnya, dan tak luput dari pandangan sang ibu saat Cilla tiba tiba menangis, ibu dari Sasha memejamkan matanya mukanya terlihat sangat sedih.
Faishal pun merasa kebingungan ada apa sebenarnya yang terjadi, ia melihat gelagat Sasha yang tak berkutik namun sangat terlihat kecemasan di wajahnya. Ia akan duduk disana ditemani Aldo yang berdiri tepat dibelakangnya. Ya posisi duduk Faishal tepat dipintu masuk. Ia ingin mengikuti apa hal yang terjadi sebenarnya.
" Karena disini Sasha sudah datang kita bisa mulai" ucap tetua kampung disana
"silahkan dari Pak Jamhari selaku ayah dari Sasha, mengutarakan maksudnya." lanjut tetua tersebut
"Saya dan keluarga pasrah pak, kami serahkan semuanya sama keluarga abang (keluarga Insan)" ucap ayah Sasha dengan nada bergetar dan mendunduk seperti orang yang telah melakukan kesalahan. Terlihat jelas helaan nafasnya yang tak beraturan. Sedangkan ibu melanjutkan tangisnya yang hampir tak bersuara.
"kami sekeluarga sudah sepakat! tidak ada melanjutkan pertunangan ini!" ucap Ayah dari Insan dengan tegas
JEDERrrrr!!!!!
Terasa disambar petir, Sasha terperanjat, ia semakin bingung mengapa pertunangannya dibatalkan, dan parahnya lagi jika pertunangan dibatalkan secara adat oleh pihak laki laki maka itu menandakan bahwa yang membuat kesalahan adalah pihak perempuan. Sasha bingung, apa benar ia yang telah melakukan kesalahan? mengapa kejadiannya seperti ini? kesalahan apa yang telah ia perbuat. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu namun ibu yang mendampinginya tadi dan sekarang sedang merangkulnya sambil duduk selalu mencegahnya agar bersabar terlebih dahulu.
Berbeda dengan Faishal, ia serasa mendapat angin segar, apakah ini adalah jawaban dari doa doanya? namun ia tak mau besar kepala, Faishal belum tahu apa yang akan ia ataupun Sasha hadapi dikemudian hari. Kapasitasnya saat ini adalah hanya seorang kakak dari sahabat Sasha.
"Sepakat ya? bagaimana keluarga besar pak jamhari?" tanya tetua meminta keluarga Sasha menanggapi namun semuanya terdiam saja, akhirnya ayahnha bicara.
"kami pasrah pak". ucap sang ayah terlihat sekali hancur hatinya
Sasha merasa sesak didadanya airmatanya tak terbendung lagi, ia hanya bisa menangis tanpa berkata kata, tanpa bersuara, diusap air matanya dengan dengan jaketnya, badannya bergetar menahan suara tangis, pilu.... amat pilu terasa. Faishal melihatnya sangat iba, ingin sekali ia mengusap airmata Sasha dan memberikannya perlindungan namun apalah statusnya disana, hanyalah tamu yang datang tiba tiba.
"Sasha... duduk sini dekat nenek." ajak sang nenek, Sashapun bangkit lalu duduk didekat sang nenek, ia tak berani menatap ibu dan ayahnya.
"terima ya nak? ini dah jalan kau nak." bisik sang nenek merangkulnya namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, matanya hanya tertunduk dibawah berlinangan air mata.
__ADS_1
"ada hal lain yang akan disampaikan?" ucap tetua kepada keluarga Insan
"kami ingin semua biaya sekolah yang pernah kami sisihkan untuk membantu Sasha sekolah, dapat dikembalikan kepada kami, itu bagian dari uang lamaran, karena pernikahan dibatalkan jadi kami harap bisa kembali kepada keluarga kami. Itu bukan uang yang sedikit, adapun rinciannya telah kami catatkan nanti bisa diserahkan kepada adik Jamhari." ucap ayah dari Insan setelah dibisikkan sesuatu oleh istrinya,
Ayah dari Sasha mengangguk menanggapinya, saat ini ia hanya mampu mengangguk walau pada kenyataanya hal itu adalah cobaan terberat mereka, tanpa bantuan orang tua Insan, orang tua Sasha tak akan mampu menyekolahkan Sasha sampai keluar sumatra.
Sasha makin getir hatinya, ia memberikan beban amat besar kepada keluarganya, bahkan saat inipun ia tak tahu apapun perihal kejadian malam ini.
Pertemuan itu ditutup oleh para tetua, lalu keluarga besar Insan keluar dari rumah dengan wajah yang penuh amarah. Mereka saling bersalaman, Sasha mencoba bersalaman kepada sang bibi saat melintasinya, namun sang bibi menolaknya.
"kecewa bibi Sasha, kamu benar benar tak tahu diri! tega kamu sama kami! jangan pernah lagi masuk kerumah kami lagi! Jangan pernah ganggu Insan! kami akan mencarikan jodoh yang paling baik untuk insan, dengar kamu!!!" ucap sang bibi didepan Sasha membuat Sasha menangis sejadi jadinya.
"Bibi, maafin Sasha bi...Sasha melakukan apa sampai bibi begitu marah? hik... hik....kak Insan mana bi..hik...hik..Sasha ga tau harus gimana...huuuhuuu" Sasha berbicara sambil terisak reflek tangannya memegang tangan bibinya yang selama ini sangat dekat dan baik kepadanya, namun saat ini menjadi orang yang amat membencinya. Dihempaskannya pegangan Sasha membuat Sasha makin terguncang hatinya. Sang nenek langsung memeluknya.
"sudah salah tak mau mengaku!! sudah!! kita sudah tak ada hubungan apapun, ini sudah selesai!" ucap sang bibi dengan nada sangat kerah penuh amarah lalu bergegas meninggalkan ruangan tersebut, tak lupa saat dipintu ia memandang Faishal dengan tatapan sangat tajam. Faishal menjadi tambah bingung dibuatnya ia hanya diam saja.
Keluarga Insan tlah kembali kerumahnya tak jauh dari sana, tapi para tetua masih duduk disana.
Pipi Sasha ditampar oleh sang ibu, punggungnya pun dipukuli oleh tangan ibunya. Sambil menangis sang ibu mengeluarkan segala unek uneknya ke Sasha membuat semua orang mengerumuninya dan mencoba memisahkan Sasha dari amarah ibunya.
"Durhaka kamu sama ibu!!! kura*g aj*r! kenapa kamu jadi tak tahu diri!!! hah!!!! jawab ibu!!! kamu bohongi ibu!!! kurang apa ibu sama kamu!!! kurang apa!!!!" ucap ibu sasha yang menangis sambil memukuli bahu Sasha
"Ampun buuuu!!! hik hik hik... ampun! Sasha salah apa bu!!! ampun!!!" Sasha menangis meraung raung, bukan hanya sakit fisik, namun hatinya amat sakit.
"sudah sudah sutia!!! sadar!! bisa mati anak kau!" ucap seluruh keluarga Sasha yang mencoba melerai sang ibu dari Sasha.
Faishal amat khawatir, didepan matanya ia melihat Sasha menderita namun tak mampu berbuat apapun, hampir saja ia berlari dan merebut Sasha dari pukulan ibunya, namun Aldo menahannya. Matanya panas berkaca kaca, ia menjadi tak tenang karena sangat sakit melihat Sasha amat menderita, lantunan doa doa ia panjatkan dalam hati agar Sasha segera keluar dari situasi genting ini.
Ibu Sasha akhirnya berhenti, dipegangnya dadanya yang terasa nyeri, keringat dingin keluar diwajahnya, ia merasakan sesak, membuat semua orang panik disana.
"ibu!!! ibu kenapa?" teriak Sasha cemas, isak tangisnya semakin menjadi.
__ADS_1
"do! ambil kotak medis kakak!" titah Faishal ke sang adik, lalu Aldo berlari secepat mungkin mengambil kotak medis dan tak lupa ia ambilkan stetoskop dan jas praktek sang kakak.
Perlengkapan lengkap Faishal sudah disiapkan semua oleh sang bunda tanpa sepengetahuan Faishal, terkecuali kotak medis dan stetoskop yang selalu dibawanya. Saat Aldo datang menyerahkan perlengkapan Faishal, Faishal kaget karena jas medisnya juga ada, tanpa pikir panjang ia mengenakannya lalu berlari kearah ibunya Sasha.
"maaf permisi, saya dokter." Faishal menunjukkan kartu praktek resminya namun tak begitu digubris dan mereka justru melihat jas prakter putih milik Faishal lalu baru membolehkannya.
"Tolong nak tolong nak, bantu ibunya Sasha. bapak mohon." ucap Ayah Sasha memohon kepada Faishal, ayahnya menyambut dengan kelegaan saat faishal mengutarakan niatnya, ia berharap sang istri segera tertangani.
"Mas... tolongin ibu." pinta Sasha sambil terisak.
Faishal langsung duduk dan mendekati ibu Sasha yang sekarang ada dipangkuan Sasha dalam keadaan lemah dan kesulitan bernafas. Faishal melakukan pertolongan pertama dengan cekatan, lalu memberikan obat yang dimasukkan kebawah lidahnya, lalu perlahan lahan ibunya dapat bernafas dengan baik kembali.
Semua yang melihat menjadi lega, lalu berterima kasih kepada Faishal.
"jadi kamu dokter ya anak muda?" ucap salah satu paman Sasha.
"iya pak....." ucap Faishal sopan dan tangannya sambil memijat telapak tangan ibunya Sasha.
"Sha sebaiknya ibu kamu dibawa kekamar dan dipasangi infus." ucap Faishal
"tapi.... didinding kamar ada paku? buat menggantung infus." lanjut Faishal
"belum tau." ucap Sasha yang sudah mereda tangisnya namun matanya masih bengkak.
"dimana kamarnya?" ucap Faishal yang tiba tiba menggendong ibunya Sasha yang sudah lemas tak berdaya.
"nak biar bapak saja nak kamu berat nanti." ucap ayah Sasha
"gapapa pak tunjukkan kamarnya saja karena harus segera dipasangi infus." ucap Faishal
"ayo nak kesini." Ayah sasha menunjukkan kamar kepada Faishal Sashapun mengikutinya.
__ADS_1
Sementara diruangan itu sepeninggal Sasha Faishal, ibunya dan ayahnya, suara saudara saudara Sasha sangat riuh saling mengobrol membicarakan Faishal, Aldo sengaja tak beranjak dari sana ingin tahu hal baik atau kah hal buruk yang mereka bicarakan tentang sang kakak.