Bayi Kita

Bayi Kita
68


__ADS_3

"ibu!....." Ucap Faishal menghentikan langkah ibu dari Sasha, namun ayah Sasha menjadi tak enak hati lalu meminta Faishal untuk berdiri.


"Bangun anak muda jangan bersimpuh seperti ini." ucap ayah Sasha sambil memegang kedua bahu Faishal mengajaknya berdiri, namun Faishal tetap bersimpuh.


"Bapak! ibu! izinkan saya meminang putri bapak! Saya akan bertanggung jawab atas hidupnya sampai akhir khayat! Saya akan menjaga dan menyayanginya lebih dari diri saya sendiri!" Faisal dengan lantang mengucapkan keinginan terbesarnya, membuat semua orang diruangan tersebut tercengang.


Terkecuali Aldo yang sudah meng-on-kan vidio dikameranya sambil tersenyum bangga. Ia tahu kakaknya akan membuat sesuatu yang besar seperti yang di firasatkan sang bunda. Fitha yang baru saja sampai menggendong Cilla yang tertidur pun terkesima melihat keberanian Faishal. Ia mendekati Aldo sambil tersenyum.


Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!


Sasha terkejut, hingga tak berkedip, kejutan apa lagi yang terjadi hampir dini hari ini. Fitha mendekatinya menggenggam tangannya yang terasa sangat dingin. Sasha tak bergeming, ia hanya menatap apa yang terjadi depannya.


Ibu dan ayah Sasha pun terdiam berusaha mencerna kata kata Faishal. Dalam hati mereka apakah inilah cara lepas dari badai ini. Campur aduk perasaan dihati mereka, hingga tak mampu berkata kata, ternyata ada juga pemuda yang masih menginginkan sang putri untuk dipinang, padahal mereka berdua sudah tak berharap ada laki laki baik yang akan menjadikan putrinya pendamping hidup lagi setelah rumor itu menyebar hingga berakar didesa tempat tinggal mereka. Setelah mereka pasrah untuk tetap hidup disana walau tanggapan masyarakat masih buruk terhadap putrinya.


Tiba tiba Aldo menyerahkan HPnya ke Fitha yang masih dalam posisi merekam untuk melanjutkannya, ia maju ikut bersimpuh disamping sang kakak dan menyokongnya. Fitha tersenyum bahagia, diserahkannya Cilla yang pulas ke pangkuan Sasha, ia ingin mengabadikan moment berharga ini dan segera mengirimkannya ke bunda.


"Bapak ibu, mohon izinkan Sasha sahabat terbaik saya untuk menjadi saudari ipar saya, kami sekeluarga janji akan selalu menyayangi Sasha dan menjaganya, mohon diizinkan bapak ibu...., ayah dan bunda kami sudah sangat menyayangi Sasha." ucap Aldo memohon


Ibu dan ayah sasha saling bertatapan, dapat mereka rasakan bahwa putrinya diinginkan oleh orang orang yang begitu serius ingin menjaganya, lalu sang ibu menganggukkan kepalanya ke sang ayah. Semua kerabat yang ada diruangan tersebut menjadi terharu, beberapa diantara mereka menitikkan air mata, mereka tak ingin kehilangan kesempatan ini, dan berbisik serta memberi kekuatan kepada ibu dan ayah Sasha agar menerimanya atau mempertimbangkan dengan baik kesempatan yang mungkin tak kan pernah datang lagi.

__ADS_1


"bawa ayah dan ibu kalian kemari dalam waktu dekat" ucap Ayah Sasha yang begitu singkat namun membuat Faishal merasa amat berbahagia.


"tapi..." ucap Sasha yang tak bisa menerima begitu saja karena Faishal adalah tunangan seseorang, namun dicegah oleh Fitha, tangan Sasha digenggamnya erat lalu Fitha menggelengkan kepalanya, memberi isyarat kepada Sasha agar tak mengatakan apapun. Sang ibu pun melihat kearah Sasha yang terkesan menolak, namun sang ibu memberi kode anggukan kepala agar Sasha menyetujuinya. Sasha hanya terdiam, ia sangat merasakan dilema dalam dadanya, ia bingung haruskan bahagia? atau??? sedangkan jika ia menolak ibunya mungkin akan jatuh pingsan kembali karena perkataannya. Untuk saat ini ia akan menuruti semuanya, lalu akan membahasnya kepada Faishal esok harinya, iapun tak tega melihat Faishal dan Aldo yang tlah memberanikan diri memintanya ditengah tengah seluruh keluarga besarnya. Tak ia pungkiri saat faishal mengatakan kata kata pinangan tadi iapun merasakan seuatu yang penuh mengisi ruang hatinya, ya..... bahagia rasanya dipinang orang yang juga ia cintai. Seluruh keluarganyapun terlihat lega setelah hal tak menyenangkan hati terjadi sebelumnya, pinangan Faishal seolah menghapus keresahan para keluarga. Namun..... beban Sasha masih banyak, mungkin bertambah, Sasha memejamkan matanya, Berharap esok pagi setelah ia bangun akan ada solusi solusi yang terbaik.


"MasyaAllah, Alhamdulillah! terimakasih bapak ibu." Faisal amat bahagia, ia langsung mencium tangan ayah dan ibu Sasha lalu Aldopun mengikuti dibelakangnya. Seluruh keluarga menghampirinya bergantian, membanggakan keberaniannya dan mendukungnya, banyak yang meeteskan airmata, merasa bersyukur setelah tadi mendapatkan pukulan keras, ternyata datang lagi pelepas gundah.


Hanya Sasha saat ini yang diam terpaku sambil memangku Cilla yang tertidur pulas ditengah riuhnya ruangan tersebut, Sasha bingung harus bahagiakah ia hari ini? pikirannya melayang layang ke keluarga insan, vivi, ayah dan ibunya. Mana yang harus ia dahulukan. Ia ingin hubungannya membaik dengan keluarga insan, ia juga tak ingin faishal bermasalah dengan vivi, namun ia juga tak ingin membuat sang ibu jatuh kembali.


"Sha! kita akan selalu membantu kamu, kamu harusnya bahagia sha, terima yah? jika kamu terima lamaran ini, yang akan bahagia itu bukan kamu aja Sha, lihat ibumu, lihat kelegaan diwajahnya, apa kamu tega beliau jatuh lagi kalo kamu menolak lamaran ini? lihat kak Faishal bahagia banget kan Sha? wajahnya tak berhenti tersenyum! apa kamu tega membuatnya hancur kalo kamu menolaknya? Ayah dan bunda pasti akan sangat bahagia mendengar ini, aku pastikan besok sore ayah bunda dah sampe disini. Soal Vivi, pasti ada solusinya, kita kita akan selalu ada dipihakmu Sha, oke?? bisa kan? kamu ga usah bohong sama kita kita Sha, kamu jelas jelas jatuh hati sama kakak, kami semua sudah tau lho, hehe, daaaaah senyum!" Fitha menyemangati Sasha, akhirnya Sasha mau tersenyum juga. Lalu Fitha memeluknya.


Fitha amat bahagia, berada dimoment terbaik sahabatnya, ia juga bahagia, melihat sikap Aldo yang amat mencintai saudaranya, ia jadi membayangkan bagaimana Aldo akan melamar calon istrinya nanti, pastinya akan banyak rencana romantis dalam pikirannya karena selama ini Aldolah yang punya banyak ide dalam percintaan sang kakak.


"ekhem! aku denger lho...jangan jangan kamu naksir Aldo yah?" bisik Sasha yang begitu jelas mendengar Fitha bergumam.


"ya ampun mikir apa sih aku, ga ga ah, amit amit ma Aldo." balas Fitha kepada Sasha membuat Sasha tersenyum.


Hari sudah menunjukkan pk.01.00 dini hari, akhirnya para tetuapun berpamitan, Faishal memutuskan untuk tidur dirumah Sasha sambil berjaga keadaan ibu sutia (ibunda sasha). Aldo juga memutuskan untuk menemani sang kakak. Sasha dan Fitha diminta tidur dirumah sebelah, tepatnya rumah sang nenek.


Sejak lamaran yang ia utarakan, Faishal belum sempat berbicara sepatah katapun kepada Sasha, karena harus menanggapi sapaan seluruh keluarga besar Sasha. Sashapun diminta segera beristirahat kerumah sang nenek serta akan dilihat bekas pukulan dan tamparan yang begitu keras. Sang nenek tak tega melihat keadaan Sasha, bekas tamparan diwajahnya terlihat agak membiru, sedang bekas pukulan dibadannya tak begitu terlihat namun mulai terasa sakit. Sang nenek akhirnya merawat Sasha sesuai dengan petunjuk yang diberikan Fitha, karena sebelum Fitha mengikuti Sasha kerumah sang nenek, Faishal sempat memberikan beberapa obat dan kompres untuk Sasha.

__ADS_1


"gimana Sha?" tanya Fitha


"baru kerasa nyerinya, he." ucap Sasha yang saat ini sedang berbaring, dan sudah berganti pakaian.


"kamu gimana Fitha? ayo istirahat bentar lagi pagi, oiya Aldo ma mas Faishal gimana ya disana?" tanya Sasha


"chieee yang khawatir ma calon suami, hihihihi." ledek Fitha reflek ditepuk oleh Sasha lengannya.


"serius ih fith" Sasha mencoba menyembunyikan senyumnya.


"tenang!!! dah keurus sama ayah kamu, eh adekmu pada kemana sih ga kelihatan?" tanya Fitha yag sedari tadi tak melihat adik adiknya Sasha, ia sangat ingat wajahnya dari foto foto yang sering ditunjukkan Sasha.


"iya ya fith, aku juga belum lihat dari tadi. Kalo mereka lihat Cilla nanti pasti seneng."


"Cilla pules banget lho sha, dikelonin sama nenek dikamar sebelah. Tadi pas aku bawa Cilla keluar aku disamperin ibu yang ngerangkul kamu pertama kali masuk itu lho, trus diajak kesini deh, aku langsung gantiin baju ma pampersnya, trus malah dipijetin sama ibunya, eh Cilla langsung pules sampe sekarang. Kecapean kali dia."


"yaudah kita istirahat yuk, Cilla biarin sama nenek." ajak Sasha lalu mereka tidur berdua dikamar tersebut.


Malam yang singkat terlalui dengan baik, kondisi ibu Sasha sangat stabil, mungkin karena hatinya sudah tak gelisah, sehingga Faishal dan Aldo diminta langsung beristirahat dikamar yang telah disiapkan Ayah Sasha.

__ADS_1


__ADS_2