
Sorepun tiba, selepas Ashar Sasha tlah sibuk didapur membantu nenek memasak karena sang ibu masih harus beristirahat. Fitha dan Sinta asik bermain demgan Cilla yang baru saja dimandikan. Sedangkan Aldo masih betah bersenda gurau bersama gadis gadis yang kembali datang setelah Ashar. Yah begitulah Aldo, anaknya selalu membuat orang lain yang baru dikenalnya nyaman. Bahkan Sari ikut menemani Aldo disana.
Hidangan disiapkan diruang tamu rumah Sasha yang memang tak tersedia kursi disana, mereka biasa menggelar tikar untuk berdiam diruang tamu, benar benar rumah kampung yang biasa.
Ayah mulai mengumpulkan semuanya, Aldopun dipanggil agar menyudahi kegiatan tebar pesonanya. Mereka akhirnya makan bersama. Cilla ditidurkan dilantai beralaskan kasur lipat yang memang dibawa dari jogja. Setelah makan Ayah mengajak mereka berbicara.
"Nak Faisal, sepanjang hari tadi, saya dan ibunya Sasha sudah berembuk, jika Sasha masih ingin sekolah lagi saya dan ibunya akan berusaha sekuat tenaga untuk membiayai jadi Sasha bisa kembali kejogja, kami masih punya satu rumah, niat kami rumah itu akan dipakai ketika sasha menikah dengan Insan, tapi setelah kami bicara maka kami akan menjual rumah itu untuk biaya kuliah Sasha. Adapun yang mengganjal dihati kami nak Faishal, melihat kedekatan kalian, kami agak khawatir membiarkan putri kami jauh merantau sendirian, kami ingin agar saat Sasha kembali ke Jogja, Sasha sudah menjadi istri agar kami disini lebih merasa aman begitu nak jika putri kami sudah dihalalkan, agar tidak terjadi hal hal yang tidak kita inginkan begitu nak Faishal, apa nak faishal dan keluarga siap jika kita mempercepat pernikahan ini?" tanya Ayah Sasha penuh harapan, Sasha terkesiap ia tak menyangka orang tuanya langsung meminta faishal menikahinya secepat itu.
" Saya siap pak, saya justru amat bahagia jika bisa dipercepat, untuk orang tua saya tinggal mengikuti saja, kira kira kapan saya harus menikahi Sasha?" ucap Faishal penuh keyakinan membuat Sasha berdebar debar, tak menyangka akan secepat ini.
"saya tanyakan dulu ke KUA setempat nak, apakah bisa cepat pendaftaran pernikahannya, kalo bisa dalam beberapa hari, jika tidak bisa cepat mengingat kalian tidak bisa berlama lama disini kita adakan nikah secara agama dulu nak, tapi.... kami mungkin tak bisa membuat pesta, hanya keluarga saja yang hadir. Besok hari senin saya akan ke KUA."
"biar saya temani pak kesana, nanti saya minta orang tua saya juga mengurus administrasi dari sana pak. Jadi ketika orang tua saya datang nanti sudah siap semua. Saya tidak masalah pak ada pesta atau tidak, yang terpenting akad nikahnya berjalan dengan lancar. Kira kira apa yang harus keluarga kami siapkan pak untuk mas kawin dan memenuhi adat disini?" ucap Faishal begitu antusias membuat yang lain terkagum kagum tak terkecuali Sasha, sungguh anugrah luar biasa baginya bisa menikah dengan Faishal yang amat sempurna untuknya.
"Kalo untuk mas kawin kami orang tua tak akan ikut campur, karena waktu yang sangat sempit jadi sebisanya nak Faishal dan keluarga saja, untuk yang lainnya seperti hantaran, karena nak Faishal dari jauh jadi nanti bisa dibantu dengan saudara saudara disini." ucap ibu dari Sasha membuat Sasha lega karena tidak akan menyulitkan Faishal.
"baik pak terimakasih, kami sekeluarga akan mengusahakan sebaik mungkin, besok senin ayah dan ibu saya akan mengurus surat ke KUA sana, nanti selasa pagi berangkat dari jogja pak." ucap Faishal
"kalo begitu kita tentukan hari rabu saja akadnya bagaimana? misal urusan KUA belum bisa selesai paling tidak kita sudah akad secara agama nak Faishal bagaimana? setuju?" Tanya ibu Sasha yang sedari tadi ingin ikut bicara.
"iya bu, saya ikut baiknya." ucap Faishal tersenyum lalu diangguki oleh semua yang ada disana.
__ADS_1
Peetemuan singkat itupun selesai, Faishal dan Aldo dibawa kerumah kakak dari Ayahnya Sasha yang rumahnya hanya selisih beberapa rumah dari rumah Sasha. Mereka berdua diminta untuk tinggal disana selama menjelang prosesi pernikahan.
Ayah dan ibu serta nenek Sasha mulai mengubungi keluarga dan tetua adat yang ada disana. Malam itupun mereka berencana untjk berembug membahas pernikahan yang akan diselenggarakan tiga hari lagi mengingat hari ini sudah hari minggu.
Banyak keluarga yang keberatan mengapa pernikahan diadakan begitu mendadak, karena mereka ingin sekali Sasha menikah menggunakan perayaan adat setempat. Bukannya tak ingin, sang ibupun ingin sekali menikahkan anaknya sesuai adat, namun dengan berbagai pertimbangan serta mengingat anaknya pernah menjadi korban fitnah, sang ibu tak ingin lagi Sasha terjerumus kembali atau bahkan benar benar melewati batas dengan Faishal, karena sang ibu telah memperhatikan perilaku keduanya yang jelas saling jatuh cinta. Lebib baik segera menghalalkan putrinya yang akan merantau, daripada harus menelan kepahitan yang tak kan temaafkan.
Akhirnya keluarga menyetujui, mereka mulai merencanakan harus bagaumanakah prosesi adatnya. Beberapa orang menyampaikan kepada Faishal, jika ada hal hal yang harus disiapkan jika orang tya faishal memungkinkan melakukanya dalam waktu singkat, da itu disetujui oelh Faisal. Apapun akan dilakukannya demi membahagiakan keluarga Sasha yang telah dengan ikhlas merestui pinangannya dalam waktu singkat. Faishal bersyukur mendapatkan istri yang benar benar ia inginkan.
Faishal segera menghubungi aya dan bundanya dijogja, ia mendapatkan respon yang antusias dari ayah dan bunda. Bahkan ayah menyanggupi apa saja yang harus dipersiapkan sesuai petunjuk tetua adat disana. Ayah bunda bahkan bersyukur karena banyak keluarga Sasha yang akan membantu agar prosesi pernikahannya berjalan lancar. Walaubagaimanapun prosesi adat yang sederhana tetap harus dilaksanakan meski tak selengkap pernikahan adat masyarakat sana yang seperti biasanya dilakukan.
Faishal menceritakan lengkap semuanya, bahkan masalah denda yang harus dibayarkan keluarga Sasha, serta biaya kuliah Sasha yang terputus kepada ayah dan bunda, sehingga ayah dan bunda lebih mudah menentukan hantaran serta mas kawin yang akan mereka bawakan untuk Sasha.
Selepas magrib semua keluarga berkumpul mereka mulai berbagi tugas, ada yang bertugas menyiapkan makanan dan berbelanja, ada yang bertugas mengundang, mendekorasi rumah ala kadarnya serta, hal hal yang terkait, walau hanya keluarga besar beserta tetangga saja yang diminta hadir namun mereka tetap bahu membahu agar prosesi pernikahan ini berjalan dengan lancar. Bahkan anak anakpun diminta untuk membantu membuat semacam dekorasi tambahan yang biasanya ada saat acara pernikahan.
Fitha pun tak kalah antusias, ia menghubungi keluarganya yang ada di metro untuk datang membantu. Ibu dari Fitha adalah perias pengantin, sehingga Fitha ingin Sasha dirias oleh sang ibu. Awalnya ibh sasha dan Sasha menolak karena takut merepotkan, ia hanya ingin berkebaya seadanya yang ia punya dan hanya meminta fitha saja yang meriasnya sederhana. Namun Fitha kekeh, ia ingin hal ini menjadi kado pernikahan untuk sahabatnya karena ia tak bisa menyiapkan apapun dalam waktu yang sesingkat ini.
Sari dan sinta ikut membantu mengurus Cilla, mereka berdua telah diberi tahu cara membuat susu dan mengganti popok, hanya mandinya saja nanti dimandikan oleh Fitha atau nenek, sedang Sasha sama sekali tidak diperbolehkan mengurus Cilla karena harus mengikuti beberapa persiapan pernikahan, sehingga ia sangat sedih telah mengabaikan putri kecilnya sejak kembali kerumah. Tapi Sasha bersyukur karena Cilla tak begitu rewel dan dan sehat. Walaupun jika sakit, akan ada sang dokter dan sekaligus ayahnya yang akan segera merawat.
Perasaan Sasha, amat bahagia saat ini, ia mengesampingkan masalh vivi untuk sementara waktu setelah Bunda dari Faisal menelfonnya dengan hati yang berbunga bunga. Ia tak tega jika membuat mereka semua kecewa, toh ini adalah pernikahan yang sangat membahagiakannya karena menikah dengan orang yang ia cintai dan mendapat limpahan restu. Jadi setelah ini ia akan berjuang bersama Faishal mengatasi masalah masalah kedepan yang akan mereka hadapi.
.
__ADS_1
.
.
Sementara di jogja.....
"Bund, adik adikku semuanya pada mau ikut, mereka berangkat besok sore katanya kelampung naik mobil, paginya mau bantuin cari box hantaran, mas kawinnya mau apa bun?" ucap ayah yang mendekati bunda
"kakak mintanga emas antam yah sama alat sholat, tapi gimana ya cari yang bisa bikin frame, takutnya ga kebawa dari sini yah."
"nitip aja sama adek adek yang dibekasi bun, kan mereka bawa mobil bisa diangkut sekalian, ayah telfon mereka dulu deh udah malem takut besok ga keburu."
"iya iya yah, bunda mau nelfon Edi dulu siapa tahu mau ikut, yang jelas kaget pasti yah."
"bun, Bapak sama Regan gimana?"
"berat sih ini yah, tapi demi kebahagiaan kakak bunda akan cari solusinya. Nanti bunda bilang ke edi aja harus gimana ngasih tahu bapak."
"iya bun, semoga bapak bisa menerima." ayah khawatir jika mertuanya terkena serangan jantung kembali saat tahu Faishal di nikahkan dengan orang lain dengan tiba tiba, namun ia tak mungkin mengorbankan kebahagiaan sang anak, sehingga lebih berat perasaannya.
Beruntungnya Bunda yang memiliki adik ipar yang baik baik, bahkan menyambut dengan gembira pernikahan Faishal dan tak ada satupun yang bertanya hal buruk mengapa perikahan ini tiba tiba. Bahkan mereka antusias membantu ayah dan bunda menyiapkan keperluan pernikahan keponakan kesayangan mereka. Yaa... Faishal lahir di jakarta, saat ayah dan bunda masih menjadi pegawai kecil, sehingga hidup mengontrak dan Faishal dititipkan oleh adik adik dari Ayah ketika mereka masih berkuliah dijakarta, sehingga Faishal menjadi kesayangan para om dan tantenya. Kakek dan nenek Faishal yang telah berpulang dari pihak ayahpun bukan orang berada namun mereka amat menyayangi bunda walau mereka tahu jika eyang alias ayah dari bunda sering sekali menghina putranya.
__ADS_1
Berbeda sekali dengan keluarga bunda, hanya satu dua orang yang sekiranya pasti akan mendukung bunda saja yang diberi tahu, dan merekapun akan membantu menyiapkan keperluan sebisa mungkkn karena waktu mereka hanha hari senin, selasa pagi ayah dan bunda sudah berangkat ke Lampung.