Bayi Kita

Bayi Kita
28


__ADS_3

"Ehem ehemm! hihi." Fitha menggoda Sasha yang duduk dibelakang Aldo.


"apa sih Fiiiith???" ucap Sasha malas menanggapi Fitha


"Duh yang dipakein hooodie, angetnya rasa dipeluk orang nya ngga??" Fitha tersenyam senyum mengingat Faishal yang memakaikan hoodie ke Sasha, untung hoodienya memiliki resleting depan jadi tidak sulit memakaikannya.


" ga jelas banget kamu Fith." Sasha memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"elo belum lihat adegan yang lebih uwwu lagi Fith." Sambung Aldo sambil ekor matanya melirik kebelakang.


"beneran??" Fitha berbinar binar mendengar ungkapan Aldo


"iya makanya ga sibuk makan sosis aja sampe bau asep."


"ga tuh ga bauk." Fitha mencium cium badannya.


"apaan ceritain!" lanjutnya.


"Tadi pas kesiram air langsung deh sasha dipeluk kakak dibawa masuk kekamar, so suit banget deh pokoknya, rugi lo ga lihat." ledek Aldo ia bangga hanya ia dari sahabatnya yang melihatnya.


"Oooohhhhh so cweeet bangeeeeet, koq ga dividioin sih do." ucap Fitha, sebelumnya ia begitu terkejut mendengar ucapan aldo hingga menutup mulutnya yang tenganga dengan tangan kanan, tangan satunya lagi untuk menyangga Cilla yang tidur dipangkuannya.


Sasha yang mendengarnya teringat kembali perlakuan Faishal saat itu jika ia tak dalam kesadaran penuh mungkin sudah senyum senyum sendiri, namun tentunya para sobatnya yang amat berbahaya baginya ini bisa meledeknya habis habisan, hingga ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya bagian dalam.


"ck orang lagi panik Sasha kesiram air panas sempet sempetnya inget HP. haduuh Fith Fith. Otak dipakek!"


"waahh Sashaaaa, koq aku ya yang seneng.hi hi." Fitha girang sekali mendengarnya


"jangan kayak gitu, aku dah tunangan lho, dosa aku kalo sampe nyakitin banyak orang." Ucap Sasha serius, ia takut semakin Fitha dan Aldo mencoba coba menghubungkannya dengan Faishal, akan semakin tumbuh perasaannya, walau saat ini Sasha akui dalam hatinya mulai terisi nama Faisal, ia tak ingin terjerumus keperasaan yang lebih dalam, yang akan membuat ia ragu untuk melanjutkan pertunangannya hingga jenjang pernikahan.


Banyak hati yang akan tersakiti, tentunya hati kedua orang tuanya dan orang tua insan yang sudah merawatnya sejak kecil serta amat menyayanginya. Mungkin perasaannya ke Insan belum begitu terasa tak seperti benih benih rasa ke Faishal. Satu yang diyakini Sasha, Insan adalah orang yang baik dari keluarga yang baik pula. Pasti hari esoknya akan baik pula. Itulah keteguhannya.

__ADS_1


"koq dosa sih sha, masih tunangan gini." ucap Aldo


"Bagi aku ini bukan sekedar tunangan do, sudah direncanakan jauh jauh hari, dan tugasku saat ini adalah menjaga agar sampai kepernikahan. Jadi tolong jangan pernah mencoba menghubung hubungkan aku dengan mas faishal lagi. Jangan bikin aku goyah." Ucap Sasha kali ini benar benar membuat dua temannya yaitu Fitha dan Aldo terdiam.


"maafin ya sha soalnya kita lihat kalian cocok. Maafin juga kalo aku ngirainnya kamu jatuh cinta sama kak Faishal." ucap Fitha menyesal


"gue juga minta maaf ya sha dah bikin lo ga nyaman." Ucap Aldo yang juga terlihat menyesal


"gapapa temen temen, aku justru yang minta maaf sama kalian.... aku ga bisa mewujudkan keinginan kalian, aku tahu kalian pasti ingin yang terbaik buat aku, sama halnya orang tuaku. Aku juga tahu kalian mencoba menjodohkan aku sama mas Faisal. Tapi aku bener bener ga bisa. Kalian juga harusnya menjaga perasaan mas Faishal kan? siapa tau dia risih, kalo iya... justru aku yang ga enak, daaaan.... mas Faishal terlalu baik untuk aku" Sasha terpaksa harus mengatakan semuanya agar jelas tak berlarut larut, takut ia sendiri yang berharap lebih ke Faishal dan agar perasaannya tak semakin berkembang.


"iya Sha, kita cuma bisa doain yang terbaik buat kamu, apa aja keputusan kamu kita tetep akan selalu dukung kamu. Ya kan do?"


"iyes banget pokoknya kita solid. semangat Sasha!!!" ucap Aldo memberi penguatan membuat Sasha bisa tersenyum atas perhatian teman temannya ini.


Merekapun melaju kerumah.


************************


"Sini pada ngumpul eyang mau bilang sesuatu. Lho Aldo mana Ratna?" tanya eyang ke bunda


"lagi nganterin temennya Pak." ucap bunda yang sudah duduk disebelah Faishal.


"wah kurang iki putuku." eyang kecewa karena ingin semua cucunya datang, disana telah hadir pula keluarga anak ketiganya dan membawa cucu cucu laki lakinya.


Eyang adalah ayah dari bunda, istrinya sudah lama meninggal dan eyang saat ini tinggal bersama om Regan, putra kedua, ayah dari Vivi dan adik dari Bunda. Bunda anak tertua memiliki 2 saudara laki laki. Bunda dan om Edi memiliki anak laki laki semua, bunda dua anak dan om Edi tiga anak Laki laki yang masih bersekolah di SMA dan SMP. Sedang hanya om Regan yang memiliki satu satunya anak perempuan. Sehingga Vivi amat dimanjakan oleh sang eyang selain oleh orang tuanya.


Mereka asli dari jogja, sedang ayah asli Jakarta, sebelum pindah kejogja, keluarga Aldo tinggal dijakarta, saat itu ayah masih menjadi karyawan biasa di kemenristek dan saat Faishal kuliah di kedokteran UGM ayah dimutasi ke Jogja tepatnya di BATAN. Sedang bunda adalah seorang bidan senior disalah satu rumah sakit dijogja.


"nanti Aldo segera pulang koq eyang." ucap Faishal


Tiba tiba Dennis, Bastian dan Hafiz muncul untuk berpamitan kepada semuanya setelah membereskan sisa kegiatan mereka.

__ADS_1


"Sal..."


"iya eyang." jawab Faishal lembut


"kamu sudah ada rencana menikah belum le?" tanya eyang dengan logat khas jawanya.


" Belum eyang, Faishal mau lanjut spesialis dulu." jawab Faishal lembut


" berapa tahun itu le?"


"bisa 5 tahun eyang."


"selak tuo toh le, opo ndak messakke bundamu pingin nduwe putu, eyang yo pingin nduwe cicit." Faisal hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan eyangnya.


"Bundamu wes golekke jodo tetep ora dadi, jaluk sing kepiye to le?"


"Belum ada yang cocok eyang." jawab Faisal tetap dengan kelembutannya


"wes le ndak usah jauh jauh, eyang pingin kamu nikah sama Vivi." ucap eyang sambil tersenyum menatap Faishal, Vivi yang sedari tadi harap harap cemas akhirnya tertunduk malu malu, akhirnya eyang mengutarakan apa yang menjadi keinginannya, karena beberapa hati ini Vivi selalu merengek kepada eyang, meminta pulang ke Indonesia dari Malaysia hanya untuk membantunya menjodohkan dirrnya dengan Faishal orang yang ia Cintai sejak kecil bahkan. Apalagi setelah 5 tahun tak pernah bertemu Faishal telah menjadi pria yang dewasa serta tambah rupawan, membuat Vivi lagi lagi jatuh cinta.


Degh!!!!


Faishal, Bunda dan Ayah terkejut atas permintaan eyang. Mereka terdiam seribu bahasa, tak menyangka jika eyang akan menjodohkan Faishal. Bunda dan Ayah memang selama ini mencatikan jodoh Faishal agar Faishal tak selalu di ganggu oleh stalker, namun jika dengan Vivi banyak hal yang mereka pertimbangkan. Selain sudah seperti putri mereka sendiri dimana saat kecil Vivi sudah ikut dirawat oleh Bunda ketika orang tuanya harus keluar kota mengurusi perdagangannya, Faishal tak begitu menyukai Vivi karena sifatnya yang sangat manja dan pemaksa.


Bagaimana jika Aldo tahu?? ia harusnya jadi orang yang pertama kali menolak dengan lantang andai ia ada bersama mereka saat ini. Untungnya si bungsu belum kembali membuat bunda sedikit lega. Anak bungsunya tersebut emosinya bisa meledak ledak. Padahal eyang sudah sangat sepuh, jika dilawan maka penyakit jantungnya akan kambuh.


Aldo memang tidak akur dengan Vivi karena mereka seumuran dan dikala kecil sempat merasa cemburu karena harus berbagi sang bunda kepafa Vivi yang amat manja dan suka ngambek. Beda dengan Faishal, ia menganggap Vivi benar benar seperti Adik namun ia paling anti dipeluk atau disentuh oleh orang lain termasuk Vivi, bahkan Vivi ingin masuk kekamarnya pun tidak ia izinkan, bagaimana jika mereka harus menikah???


Bunda jadi berfikir keras, yang bunda sesalkan mengapa harus eyang yang mengatakannya. Mengapa tidak keluarga adiknya saja yang langsung mengutarakanya. Jika ditolak, takutnya sang ayah akan shock dan membahayakan penyakit jantungnya. Jika diterima, Bunda faham betul Faishal tak menginginkannya. Bunda tak ingin memaksakan Faishal.


"piye le??" tanya eyang lagi.

__ADS_1


__ADS_2