
Faishal masuk ke bangsal Vivi. Namun Mama Vivi sudah mencegatnya dan membisikka sesuatu kentelinga faishal.
"kamu harus tanggung jawab atas kejadian hari ini, tante ga mau kamu bikin anak tante celaka lagi." Faishal hanya tertegun mendengar bisikan sang tante, ia sama sekali tak bergeming, lidahnya kelu untuk mengatakan iya atau tidaknya. Bahkan menganggukkan kepalanya saja sulit membuat Mama Vivi cemas akan diamnya Faishal.
Melihat pujaan hatinya masuk Vivi langsung sumringah. Namun sedetik kemudian wajahnya menjadi termenung. Ia teringat dengan penolakan Faishal.
" Vivi tau kakak ga suka Vivi kak, tapi Vivi akan berusaha yang terbaik, terima Vivi ya kak hiks" Vivi menyandarkan kepalanya dibahu sang mama yang duduk dikasur bersamanya. Ia mejadi terisak isak. Sang mama menjadi tak tega melihat putrinya yang sudah ditolak namun masih memohon kepada Faishal.
"iya sayang kak Faishal pasti nerima kamu koq. Iya kan sal?" ucap mama Vivi sambil menajamkan matanya ke Faishal seolah memberi peringatan.
Faishal tak mampu berkata kata, keluasan hatinya habis terkikis hari ini. Ia hanya mampu menanggapi dengan senyum yang dipaksakan. Namun menjadi pelipur dahaga bagi Vivi, ia menganggap jika Faishal sudah setuju walau dengan senyum terpaksanya ia sudah cukup lega. Akhirnya Faishal jadi miliknya.
Faishal tak sanggup berlama lama didalam bangsal, azan magrib pun berkumandang seolah membantunya untuk keluar dari ruangan tersebut.
" om regan, Faishal pamit dulu ga om mau magriban sekalian gantian sama bunda jaga eyang." ucap Faishal sopan, ia hanya mampu berbicata dengan pamannya yang masih terasa nyaman baginya
"iya le sana gek sholat." ucap regan
"pamit dulu ya om tante." Belum sempat mama vivi menjawab Faishal langsung meninggalkan ruangan
" dasar ga sopan banget sih." kesal mama Vivi seolah tak dianggap Faishal
"Ma, sabar! Faishal juga hari ini perrasaanya sedang terguncang. Vivi juga sabar ya nak." ucap Regan mencoba membela keponakannya yang ia tahu anaknya sangat baik.
"ya jelas dibela sama papa, keponakannya, kalo besok nikah sama vivi masih ga sopan sama aku pah jangan harap bisa hidup tenang." ucap mama Vivi masih emosi, sebelumnya ia tak pernah berkata kata kurang mengenakkan kepada semua keponakan dari suaminya, namun hari ini ia jadi berubah karena kejadian yang telah menimpa putrinya. Ingin rasanya ia meminta agar sang putri mencari pria lain yang jelas jelas akan menikahinya, walau sebelum kejadian yang membuatnya kecewa hari ini ia sangat mendukung Faishal menjadi menantunya. Tapi ia tahu sang putri pasti akan berbuat nekad lagi, ia jadi takut.
Setelah menjalankan ibadah Faishal berdiam diri dimasjid, ia sengaja menunggu waktu sholat Isya' tiba. Selesai sholat Isya' ia baru menemui sang bunda di ICU tempat eyang dirawat. Sedang om edi sudah kembali ke rumahnya sejak sore hari.
"kak.... eyang sudah sadar, eyang minta kamu ke dalem. Sayang, kalo kamu ga mampu menyanggupi apapun yang dikatakan eyang jangan ragu untuk bilang, asal bahasanya yang halus ya nak?" bunda mengingatkan Faishal, Faishal mengangguk lalu masuk ke runag ICU.
" Shal..." terrdengar suara eyang memanggil Faishal yang sudah ada disampingnya, suaranya lemah, sedikitt serak dan bergetar.
"jagain Vivi yo le...?" Pinta eyang sambil menggenggam balik tangan Faishal yang telah menggenggamnya.
Lama Faishal terdiam, hatina bergejolak antara meyakinkan eyangnya untuk menolak perjodohan dengan bahasa yang halus sesuai pesan bunda, atau menuruti eyang agar tak meebuat sang eyang shock kembali.
Namun, naluri kemanusiaannya lebih mendominasi dirinya, ia khawatir jika sang eyang anfal karena satu kepitusan egoisnya. Akhirnya.....
__ADS_1
"iya eyang" Faishal menerima resiko terberat dalam hidupnya, mengiyakan yang eyangnya minta berati menyetujui pertunangan ini.
"Vivi sudah ketemu?"
" sudah eyang."
" be besok tu.....ker cin...cin di...sini ya le......hufhhhh..... de depan e...yang." Eyang terkihat terengah engah nafasnya, Faishal menjadi cemas lalu akhirnya memanggil dokter dan perawat. Eyang langsng ditangani dan Faishal diminta keluar ruangan.
Diluar ia menceritakan kepada sang bunda apa saja yang ia obrolkan di ruangan, bunda terkejut dengan keputusan anaknya. Ia merasa sedih karena tak bisa membuat sang putra memiliki masa deoan sesuai keinginannya.
" Maafin bunda nak, maafin eyang yah. hik hik." bunda menangis dipelukan Faishal. ia menenangkan bunda.
" kakak akan berusaha yang terbaik bunda" ucap Faishal
" makasih nak yah, semoga kamu masuk surga nak, kamu berbakti sama bunda"
" aamiin bunda, kakak sayang bunda. Kakak boleh ka bun pulang?"
" iya kak pulanglah istirahat, bunda faham betul kakak hari ini dah capek fikiran capek badan. Bunda dah telfon Aldo dan Fita yang bakal jagain bunda."
" Fitha tad dah izin sama Sasha, malah sasha yang nyuruh nginep nemenin bunda biar aldo bisa wira wiri. kalo kalo kita butuh apa."
" Yaudah bun Kakak pulang ya. dah malem jam 10 nih."
Faishal mencium pucuk kepala sang bunda lalu keluar rumah sakit. Hatinya amat kacau, bahkan saat menyetirpun fikirannya melayang layang entah kemana. Namun ia selalu ingat lesan sang bunda agar tidak terlalu ngebut.
Tiba tiba sampailah ia didepan rumah Sasha. Iapun terkejut perihal apa yang membuatnya bisa sampai disini. Ia menghela nafas berat. Ia yakin tak sadar mengemudikan mobilnya kerumah ini. Namun ia lihat lampu ruang tamu masih menyala dan terdengar sayup sayup tangisan cilla. Faishal langsung turun ia jadi khawatir kenapa Cilla menangis sampai sebegitunya walau tak terdengar sangatvkeras akrena pintu tertutup namun ia faham tangisan Cilla seperti bayi yang lagi tak nyaman.
Tok...tok...
" Sha! ini mas... cilla kenapa?" ucap Faishal dari balik pintu.
Ceklek....!
" lho mas koq malem malem kesini?" Sasha membuka pintu sambil menggendong cilla, ia melihat faishal yang terlihat sangat lesu, wajahnya terlihat tak segar, penampilannya berantakan terutama rambut karena berulang kali faishal menyibak rambutnya deegan kasar saat Frustasinya datang. Faishal tak menjawab Sasha ia lansung masuk kerumah dan mencuci tangan serta mukanya ke wastafel lalu mendekati Sasha yang sedang menimang Cilla yang ternyata sudah lama menangis hingga suaranya serak.
Pintu rumahbdibiarkan terbuka oleh Sasha karena tak enak dengan tetangga jika ada laki laki yang kerumahnya.
__ADS_1
" Sini sama ayah, cup cup" Faishal meraih Cilla dan menenangkannya digendongannya, ajaibnya Cilla langsung perlahan lahan menyelesaikan tangisnya sehingga hanya sesenggukan saja yang tertinggal lalu lama lama tertidur.
"ternyata kangen sama kamu mas." ucap Sasha sambil mengelus elus rambut Cilla yang ada digendongan Faishal.
" Cilla tau kali ya aku mau dateng." ucap Faishal yang wajahnya mulai tak sekacau saat datang tadi.
"iya mas, dia deket banget sama kamu."
" sama kamu juga koq " Faishal tersenyum lalu mereka saling pandang kemudian sama sama tersipu malu.
" Mas aku tinggal mandi ya, Cilla seharian ga nyaman jadi aku belum bisa mandi."
"iya biar sama aku, ambilin strolerya aja nanti aq tidurin disana dulu."
Sasha mengambil stroler, lalu kembali lagi membawakan Faishal minuman jahe hangat yang ia buat sendiri siapa tahu Faishal bisa melepas penatnya. Sasha tahu jika eyang dari Faishal masuk rumah sakit jadi ia menerka mungkin karena hal itu Faishal terlihat kusut. Lalu ia segera kekamar mandi.
Cilla ditidurkan distroler dekat dengan dia duduk, melihat jahe hangat Faishal menyeruputnya. Ia tersenyum, alangkah bahagianya jika bisa seperti ini, Sashalah yang akan menjadi pendampingnya. Ia merasa benar benar seperti diladeni seorang istri, ditunggu oleh seorang anak yang jika bersamanya langsung nyaman. Tempat pulang yang benar benar nyaman.
Namun ia tersadar kembali, hari ini ia telah memutuskan menyanggupi bertunangan dengan Vivi, ia tak tahu akan seperti apa kedepannya, yang ia rasakan saat ini adalah ia hanya ingin menyelamatkan nyawa sang kakek. ia tak tahu bisa memperlakukan Vivi dengan baik atau tidak. Dan ia juga tak boleh lupa jika Sashapun tunangan orang lain. Benar benar Frustasi mengingatnya kembali.
Sasha keluar dari kamar mandi, dilihatnya Faishal tertidur disofa dan tangannya masih memegangi sisi stroler agar Cilla tetap aman. Cilla terseyum melihat pemandangan didepan, namun ia tak mau berrkhayal terlalu jauh, takut nama Insan akan semakin menghilang dihatinya.
" Duh dah mau jam 12, kalo aku bangunin pasti mas Faishal capek banget sampe mendengkur begitu, pintunya aku tutup aja kali ya, mudah mudahan ga ada masyarakat yang berfikir aneh aneh tentang kami. Aku tidur dikamar aja deh."
Sasha menutup pintunya lalu membiarkan lampu ruang tamu tetap menyala. Iapun masuk kekamar.
DOK...DOK....DOK..DOK!!!!!
" KELUAR!!!! KALIAN BERDUA NGAPAIN DIDALEM!!!"
"KELUAR!!!!"
Terdengar pintu digedor dari luar amat kencang dan banyak suara orang orang yang berteriak keluar keluar.
Degh......!
Sasha berdebar kencang ada apa sebenatnya diluar, ia sangat takut, belum lagi ia merebahkan diri sudah mendengar keributan sedag Faishal yang memang sangat lelah seperti belum bisa terbangun bahkan Cilla sama sekali tak terganggu.
__ADS_1