Bayi Kita

Bayi Kita
27


__ADS_3

"Sha??? kamu kenapa?" Fitha mendekati Sasha yang baru saja bergabung dengan mereka dihalaman belakang.


"kamu kelihatan ga nyaman Sha. Kenapa?" ucap Fitha khawatir.


"Gapapa koq Fith paling capek aja." jawab Sasha terlihat lesu.


"apa mau pulang sekarang?" Tanya Fitha


"Nanti aja, Cilla masih bobok didalem."


"Yaudah duduk sini aja." Fitha menepuk nepuk bangku sebelahnya.


Hafiz mengambil yakiniku yang sudah matang lalu menyerahkan ke Sasha.


"nih! enak banget." ucap Hafiz


"aku dikit aja, tadi dah makan didalem." Ucap Sasha tak berselera.


"kalo kamu capek pulang aja yuk, aku bilangin Aldo yah biar nganterin."


"ga enak Fiz, kan acaranya belum selesai." Sasha menolak


"napa sha?" Aldo menghampiri meninggalkan Bastian dan Dennis yang sedang asyik memanggang sosis setelah mereka menghabiskan semua yakiniku yang disiapkan bunda.


"Do, kamu bisa lihatin Cilla ga, dia tidur dikamar mas Faishal, kalo dah bangun bawa sini aja. Aku ga enak mau ngecek sendiri."


"Santai aja kali sha... yuk ikutan."


"Tapi temenin yah"


"iya beres sambil mau lihat om sama eyang belum salim gue." Aldo lalu mengajak Sasha masuk, tepatnya ke kamar Faishal.


Sampai didepan pintu kamar ternyata Faishal baru aja keluar dari kamarnya. Ia melihat Aldo dan Sasha menuju ke arahnya.


"Cilla gimana mas?" tanya Sasha


"tadi bangun sebentar trus bobok lagi. Masuk aja kalo mau lihat." ajak Faishal


"umm... ga enak mas, aku ga biasa masuk kamar cowok."


"Santai aja kan dah aku izinin." ucap Faishal tersenyum, Sasha lalu menganggukkan kepalanya lalu berjalan melangkah menuju kamar Faishal. Sedang Aldo menuju ruang tamu dimana ada eyang dan om tantenya yang batu datang.


Sasha masuk kekamar lalu mendudukkan dirinya disamping Cilla.


"empuk sekali." gumam Sasha yang baru pertamakalinya duduk dikasur seperti itu.


Dilihatnya Cilla yang masih tertidur dengan sangat nyamannya dihamparan kasur lembut milik Faishal. Sasha terpesona, iya menyunggingkan senyum kecilnya, suasana kamar Faishal yang begitu bersih dan rapi seperti kamar impiannya yang selalu ia lihat lihat dipostingan instagram dengan hastag disain kamar minimalis.


Faishal memperhatikan Sasha dari pintu dengan tatapan sendu.


"andai kamu bukan milik seseorang, kamulah yang akan kujadikan pemilik kamar ini Sha." gumam Faishal getir hanya bisa menahan didalam hati.

__ADS_1


"Apa aku benar benar telah jatuh hati kepadanya?" lanjutnya dalam hati mencoba mengarungi kembali rasa dihatinya ia ragu rasa ini benarkah sebuah ketertarikan? atau hanya simpati biasa.


"Do kakak mana? koq ga balik kesini." Vivi mencari cari sosok faishal yang belum juga muncul keruang tamu, sejak tadi bilang pamit ingin ke kamar mandi. Karena sang eyang ingin semua anggota keluarga berkumpul, ada hal yang ingin disampaikannya.


"tunggu aja ntar lagi kesini." ucap Aldo mencoba menahan agar Vivi tak menyusul Faishal kekamar mandi tepatnya kekamar Faishal karena kamar mandi ada dikamar faishal juga. Ia tak mau jika vivi mengganggu kebersamaan Faishal dan Sasha.


"ke sana ah." Vivi beranjak dari duduknya langsung menuju ruang makan.


"ck... adaaaaa aja pengganggunya." Aldo menjadi kesal karena tak berhasil menahan vivi.


Vivi kemeja makan, dilihatnya ada bakso kesukaan Faishal. Ia dengan hati berbunga bunga menyiapkan semangkuk bakso dengan kuah yang masih panas untuk Faishal.


"Pasti seger kalo anget anget" gumamnya sumringah sambil membayangkan betapa lahapnya Faishal saat memakannya. Faishal memang paling suka dengan bakso.


Dilihatnya Faishal sudah ada didepan pintu kamar, lalu dengan berjalan cepat ia menghampiri faishal membawakan semangkuk bakso.


"Kak!!..." sapanya keFaishal


BRAKK!!


PRANNNNG!!!


"Ahhhh!sssh!" Sasha menjerit ternyata saat ia keluar kamar dan menutup pintu bertabrakan dengan Vivi yang sedang membawa semangkuk bakso. Mangkuk tersebut tersenggol Sasha saat membalikkan badan, sontak kuah bakso yang amat panas menyiram badannya hingga Sasha harus menjerit dan berdesis kesakitan. Mangkukpun terjatuh kelantai dah pecah.


"Sha.....!" Faishal dengan cepat merangkul bahu Sasha dan mengajaknya kekamar mandi yang ada dikamarnya. Sasha yang Shock tak tahu harus bagaimana lagi ia hanya bisa menurut.


"kamu siram air dulu aku ambilkan salep bakar." Faishal segera mengambil kotak obatnya dan beberapa perlengkapan lainnya lalu ia mengetuk pintu kamar mandi, Sasha membukanya, hanya tangannya yang keluar mengambil obat.


"bisa koq mas, bisa pinjam handuk?" Ucap Sasha sambil membersihkan sisa mie dari bakso yang menempel dibajunya. Faishal langsung mengambil handuknya yang paling lembut lalu menyerahkan ke Sasha, ia benar benar khawatir dengan Sasha.


Vivi yang shock membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya yang ternganga. Ia tak menyangka akan ada orang didepannya. Namun yang paling membuatnya kaget adalah sikap Faishal yang terlihat sangat panik serta tak segan merangkul Sasha masuk kekamar pribadinya yang sulit sekali orang lain bisa masuk termasuk dirinya.


Seketika suasana menjadi gaduh. Bunda dan Aldo berlari mendekat, melihat pecahan kaca berserakan langsung meminta Aldo membantu membersihkannya.


Vivi menyusul kekamar Faishal. Ia menghampiri pintu kamar mandi.


"Mba maaf..... maafin ya aku ga sengaja." Ucap Vivi panik, ia tahu betul kuah tersebut sangat panas.


" ga gapapa mba. sssh" Sasha menahan nyeri.


" Kak, maafin Vivi." Ucapnya sambil bergetar menahan tangis. Namun pandangannya teralihkan ke seorang bayi diatas kasur Faishal.


"Kak?? anak siapa ini??" Lanjutnya, banyak pertanyaan dikepalanya yang ingin ia keluarkan, kenapa tiba tiba ada bayi dirumah ini, seingatnya tidak ada satupun tantenya yang memiliki bayi. Jika bunda? tidak mungkinkan? diumur beliau akan memiliki bayi lagi. Apa??? Ahhhhh? ia tak mau berfikir jika itu adalah anak dari Faishal, cinta pertamanya. Ia buang jauh jauh prasangka.


"Ini Cilla." ucap Faishal singkat ia tahu Vivi pasti bertanya tanya tentang siapa bayi ini.


"anak siapa?" Vivi penasaran


"nanti diceritain bunda kamu tanya bunda aja." Faishal amat malas menjelaskannya, saat ini fikirannya sedang ada pada seseorang yang berada dibalik pintu kamar mandi.


"eh, hu... hu." Cilla terbangun lalu Faishal dengan sigap menepuk nepuk pan*atnya.

__ADS_1


"cup cup sayang." ucap Faishal.


"Kak!" Bunda masuk kekamar, bunda sudah tahu jika ada kejadian yang menimpa Sasha.


"iya bun." jawab Faishal


" Sasha gimana?"


" lagi dikamar mandi bun"


Sasha akhirnya keluar kamar mandi setelah memberaihkan belas kuah dan mie serta mengoleskam salep pada bagian yang tersiram kuah panas, untungnya segera ditangani jika tidak bisa melepuh. Namun pakaiannya jadi basah.


"Sasha salin pakek baju bunda aja ya." ucap bunda


" Ga usah bun Sasha langsung pulang aja." ucap Sasha sungkan


"tapi... nanti kamu masuk angin, nanti Cilla ikut basah, kan kamu gendong. Pakek kaosku yah?" Faishal menawarkan kaosnya raut wajahnya terlihat sngat cemas.


"gausah mas, gini aja gapapa nanti Fitha yang gendong Cila." tolak Sasha iya mana mungkin memakai kaos Faishal, iakan tidaknmembawa celana ganti, tak mungkin kan memakai celana Faishal juga, sungguh tak bisa Sasha bayangkan.


"yaudah aku anter." ucap Faishal


"Tapi..." Vivi menyela namun dicegah lengannnya dipegang oleh bunda


"Kak, biar Aldo aja yang anter, eyang mau bicara sama kamu." ucap bunda


"bicara?" tanya Faishal, bunda mengangguk memberi penguatan, kalo sudah begini Faishal tak mampu berbuat apa apa lagi karena sang eyang sudah sangat sepuh, jadi ia tak mau eyangnya kecewa, walapun ia juga kecewa karena tak bisa mengantar Sasha pulang.


Sasha lalu pamit keluar dari ruangan itu. Faishal langsung menggendong Cilla.


" ayah gendong ya sayang" Ucap Faishal ke Cilla saat itu didekatnya masih ada Vivi yang tertegun mendengar Faishal menyebut dirinya ayah.


"Ayah?? koq?? apa beneran bayinya kakak? trus istrinya???" batinnya bertanya tanya ada sebuah kekhawatiran dalam benaknya, ia amat berdebar saat ini takut niatnya hari ini tak terwujud dan menuai kecewa, Vivi bertekad akan menanyakan ke bunda.


"Fit, Cilla sama kamu dulu ya, maaf ga bisa anter mau ada yang diomongin eyang."


" Gapapa kak, maaf ga sampe selesai." Ucap Fitha meraih Cilla untuk digendongnya, bayi kecil itu masih pulas dalam tidurnya.


" it's okay." jawab faishal


Sasha menghampiri Fitha.


"maaf ya sayang ga bunda gendong dulu yah." ucap Sasha membelai tangan Cilla lalu mencium tangan Cilla bagian kanan, tenyata Faishalpun melakukan hal yang sama dibagian tangan kiri Cilla. Membuat yang melihat ikut terhanyut dengan adegan manis tersebut.


Tapi tidak dengan Vivi, lagi lagi ia dibuat terkejut atas ucapan sasha yang menyebut dirinya bunda. Vivi berdebar debar, ada apakah sebenarnya ini? jika Faisal ayah dan Sasha Bunda, apa mereka sudah menikah? mengapa tak ada yang mengabari.


Sasha berpamitan kepada semua yang mengantarnya ke depan. Iapun menuju mobil Aldo yang sudah menjemputnya didepan teras seperti saat ia diturunkan tadi.


Faishal berlari lalu tiba tiba memakaikan jaket hoodienya ke Sasha. Sasha yang mendapat perlakuan tiba tiba tersebut menjadi terpaku. Tak meyangka Faishal akan melakukannya. Entah harus senang atau sedih Sasha amat bingung jadi hanya bisa berterimakasih kepada Faishal.


Vivi yang melihat itu menjadi kesal, awalnya ia merasa bersalah karena sudan mencelakai Sasha, namun kali ini ia merasa sungguh tak senang atas perhatian Faishal kepada Sasa.

__ADS_1


__ADS_2