
"Loh, koq tau kita disini sih?" Ucap Fitha kepada. Aldo.
Saat inihari menjelang sore, mereka sedang bersantai dibalkon lantai dua bermain bersama Cilla, Sasha tlah enakan hatinya jadi ikut bergabung dengan semuanya. Sedang Faishal tak ikut bergabung. Ia sungkan bertemu dengan Sasha, ia menyibukkan dirinya membantu bunda menyiapkan makan malam. Namun siapa sangka ada orang yang gak diinginkan datang menyusul keVilla. Sehingga saat mobilnya membunyikan klakson agar pintu gerbang villa dibukakan, Fitha dan teman teman yang ada dibalkon dapat melihat kebawah karena si pemilik mobil keluar dati mobilnya.
Dialah Vivi yang sedari malam meneror Aldo memaksa agar aldo memberitahukan posisi liburan mereka, padahal Aldo hanya bilang jangan ganggu kakaknya liburan sebelum pertunangan. Dan akhirnya terpaksa diteror terus menerus oleh Vivi yang saat ini baru saja keluar dari rumah sakit lalu memaksa sang mama beserta supir untuk mengantarkannya ke Villa dimana pujaan hatinya berada.
"biarin aja Fith, nanti bakal kapok tuh anak dibilangin ngeyel." ucap Aldo yang sebenarnya ia memang sengaja menggiring Vivi agar datang dan memakan umpannya. Ia ingin Vivi melanggar kata kata sang kakak yang tak ingin diganggu selama tiga hari, karena jika Vivi benar benar mengganggu maka acara pertunangan akan menuruti keinginan Faisal yaitu hanya disaksikan keluarga inti saja dan dilaksanakan dirumah sakit didekat sang eyang yang saat ini sudah masuk ke Bangsal biasa dan menunggu pemulihan. Jika Vivi tak datang Aldo justru tak terima jika pertunangan sang kakak harus idekspos besar besaran kebanyak kolega ayahnya, teman temannya dan sang kakak bahkan masih banyak orang orang yang dikenalnya akan tahu perihal pertunangan ini. Aldo masih berharap jika pertunangan kakaknya dibatalkan maka tak banyak orang laon tahu karena tak banyak orang yang menyaksikannya.
Bunda akhirnya keluar lalu memanggil Faishal, namun mereka tak dipersilahkan masuk, jujur saja Faishal benar benar terganggu atas kehadian Vivi dan ia kesal kepada tante Nia yang dia anggap menyepelekan kata katanya.
Mama Vivi menyadari bahwa kedatangan putrinya ke Villa ini hanya akan menyakiti putrinya. Namun ia tak kuasa menahan sang putri yang ingin sekali bertemu calon tunangannya.
"Kak! vivi nyusul boleh yaaaa?" ucapnya manja lalu bergelayut dilengan Faisal, namun langsung dilepaskan dengan kasar oleh Faisal. Sasha yang melihat dari ataspun menjadi tak karuan hatinya.
Nyuuuut... hatinya serasa ditarik saat Vivi tiba tiba meraih lengan Faishal walau ia pun tahu faishal langsung melpaskannya dengan kasar.
"Teguhkan hatimu Sha, banyak orang yang akan tersakiti jika kamu egois." Sasha seolah diingatkan suara hatinya.
"tante, Saya sudah mengingatkan tante kan kemarin. Kalo saya tante tuntut bertanggung jawab, maka tante juga sudah melanggar permintaan saya. Saya hanya akan bertunangan dirumah sakit dihadapan eyang dan hanya ada keluarga kita titik. " Faishal kesal, wajah rupawan yang tak pernah marah itu menunjukkan emosinya.
"iya iya! terserah kamu! Vivi! kita pulang, mama kan sudah bilang kamu belum sehat! mama tunggu dimobil!" Ucap tante Nia tak kalah kesal, ia langsung masuk kedalam mobil tanpa berbasa basi lagi termasuk ke bunda yang ada disana. Sejak hari dimana eyang jatuh sakit sejak itu pula hubungan bunda dan adik iparnya menjadi renggang.
"Kakak beneran Vivi ga boleh kesini? Vivi dah sehat." ucapnya sambil merengek namun Faishal tak bergeming sedikitpun
" Vivi sayang, kamu harus pemulihan dulu yah, jadi lebih baik istirahat dirumah, yah!" ucap bunda selembut mungkin
"iya bun Vivi pulang yaaaa. Besok kan bun tunangannya?"
__ADS_1
" iyaa besok sore kita jenguk eyang sekalian ya. Dah sana ditunggu mama." Bunda mencoba membujuk Vivi agar segera masuk kedalam mobil agar Putra sulungnya tak berlanjut emosinya.
Bunda menjadi kepikiran bagaimana nasib rumah tangga mereka nanti. Jika sebelum bertunangan saja Faishal sudah tak nyaman. Jika Vivi bunda tak khawatir lagi, jelas ini adalah keinginannya.
"Aldo! makasih yaa!!! dahh!" seru Vivi dari dekat mobilnya, ia tahu ada Aldo beserta teman temannya dan ia juga tahu ada Sasha yang sudah dianggap rivalnya. Karena ia yakin, Faishal pasti sudah menaruh hati sejak pertama kali ia melihat sasha dirumah Faishal.
"Besok aku tunangan ma kakak! minta doanya ya temen temen.!" Ia melanjutkan kata katanya dengan suara yang lebih lantang serta terkesan amat bahagia. Tunjuannya cuma satu, agar Sasha mendengar bahwa Faisal akan jadi miliknya. Agar tak ada yang namanya pelakor pelakor menurut versinya dimasa mendatang.
Deg!
"Tunangan? kakak? pasti mas Faishal kan maksudnya " gumam Sasha dalam hati, tiba tiba air mata dipelupuk matanya sudah membendung, ia yakin sebentar lagi pasti akan menetes.
"Fith aku ke kamar mandi dulu ya, titip Cilla." Ia segera memberikan Cilla dan secepat kilat memalingkan wajahnya dari Fitha. Namun sayang Fitha sudah terlanjur melihat Sasha yang berkaca kaca. Ia sangat peka bahwa sahabatnya itu sedang tercubit hatinya mendengar perkataan vivi baru saja. Bukan itu saja, hari ini setelah kepulangan mereka, Sasha terlihat aneh, namun ia tak mau memaksa Sasha bercerita, ia akan terus memantau. Hanya itu yang bisa ia lakukan kepada Sasha saat ini.
Sasha berlari kekamar mandi yang ada didalam kamarnya. Iya menutup pintu lalu bersandar disana. Tes tes tes, air matanya tumpah. Ada rasa sesak yang amat dalam menusuk dihatinya. Kenapa Faishal mengungkapkan isi hati kepadanya padahal sudah akan bertunangan. Membuat Hatinya benar benar terombang ambing. Tapi kenapa juga ia harus menangisi ini, harusnya ia tenang karena tak harus membalas dan memberi jawaban untuk Faishal, toh ia juga bingung harus berkata apa. Sudah jelas arah masing masingnya. Dirinya melanjutkan pertunangan dan terus menjaganya, insan juga orang yang baik, dan faishal melanjutkan pertunangannya.
Namun walau ia sudah tau titik terangnya, air matanya terus menetes, yang paling membuatnya sedih adalah iapun tlah benar benar jatuh hati pada Faishal, semakin ia mencoba mengeluarkan faishal dari hatinya makin besar rasa itu. Semakin mereka bertemu makin berkembang pula ruang dihatinya. Ditambah perhatian perhatian kecil dai faishal membuat perasaannya semakin dalam. Ingin sekali ia mengatakan kepada Faishal "tolong jauhi aku, tolong pura pura tak melihatku, tolong jangan berbicara apapun padaku, tolong jangan memberikan apapun lagi, karena aku akan makin jatuh kedalam perasaan ini, aku takut akan egois dan ingin memiliki kamu seutuhnya, tolong tarik kembali kata kata jika kamu jatuh hati kepadaku." tapi ia tak kan sanggup megatakannya, saat bertemu yang ada bibirnya tak mau bekerja sama hanya diam seribu bahasa.
"Bundaaaa Cilla dateeng nih mau main cama bunda" Fitha masuk kekamar menemui sahabatnya membawa Cilla. Ia khawatir karena sedari sore Sasha tak keluar kamar. Setidaknya ia ingin memastikan bahwa Sasha bisa ceria lagi. Sehingga selepas sholat magrib ia langsung menemui Sasha.
"Cilla sayang sini main sama bunda yah. Fith mataku kelihatan banget ya." Ucap Sasha sebelum Fitha memperhatikan matanya terlebih dahulu.
"iya banget, kamu dikamar aja dulu sampai makan malam. Aku tadi bilang sama anak anak kalo kamu kurang sehat, jadi mereka dah faham kalo kamu dikamar aja. Bunda dah masakin lho, tapi bunda tadi buru buru pulang sama ayah katanya giliran shift malam di klinik. Jadi titip salam sama kamu. Malah kamu dibuatin kunir asem anget sama bunda biar ga lemes katanya kalo orang haid minum itu lebih seger dan darahnya wangi." Ucap Fitha
"jadi ga enak ma bunda" Sasha terharu ternyata bunda sangat perhatuan padanya.
"itu tanda bunda sayang banget sama kamu Sha, mau makan malem dulu apa mau kunir asemnya tuh dah pada ngumpul dimeja makan nungguin kamu makan?"
__ADS_1
" ummm ada siapa aja?"
"Semuanya minus Ayah bunda. Nanti kamu duduk sebelahan ma aku aja, biar bisa gantian jaga Cilla."
"Cilla distroler aja anteng koq."
" oiya ya sha, yaudah yuk makan."
Sasha menarik nafas dalam dalam, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Faishal sejak kepulangan mereka tadi pagi. Faishal juga tau Sasha tak baik baik saja. Walau ia juga berharap tahu isi hati Sasha namun ia pasrah. Tak mungkin ada kesempatan untuk mereka lagi.
"dah enakan Sha?" Tanya Dennis
"udah koq." ucap Sasha ia mencoba tersenyum seperti biasa agar teman temannya tak curiga. Padahal jika ia tahu semua orang yang ada dimeja makan itu dapat melihat mata sembabnya namun tak ada yang mau membahasnya takut Sasha tak nyaman.
Kondisi Sashapun tak lepas dari perhatian Faisal, ia melihat Sasha sekilas, lalu mengalihkan padangannya ke hidangan yang sedang ia santap. Sasha terlihat sayu dimatanya, kantung matanya membengkak yang bisa ditebak jika ia habis menangis. Hatinya makin merasa bersalah, ialah penyebabnya. Ia merasa telah menyakiti Sasha atas pengakuannya. Jika Sasha tak mempermasalahkan pengakuannya tak mungkin kan Sasha menangis dan suasana hatinya buruk. Liburan kali ini harusnya menjad kenang kenangnya menyenangkan terakhirnya sebelum pertunangannya dengan Vivi, namun menjadi pengalaman terburuknya hingga meyakiti perasaan Sasha. Ia jadi frustasi. Ingin rasanya ia meninggalkan Villa namun tak mungkin kan ia meminta adiknya bolak balik mengantar teman temannya pulang karena mobil Aldo tak cukup jika semuanya temannya ikut.
Ohh Alman, ia lupa ada satu sahabatnya yang bisa ia ajak kerjasama. Iapun mengirimi pesan ke Alman agar pura pura menelfonnya. Dan meminta Alman menjemputnya dengan membawa mobil yang lebih besar milik Alman yang muat 6 orang. Jadi ia bisa pergi meninggalkan Villa malam ini dengan mobil Aldo. Alman tahu jika sahabatnya sudah meminta bantuan seperti ini tentunya ada masalah. Alman langsung respon dan menelfon Faishal pura pura harus menjemput Faishal ke RS karena kekurangan dokter jaga.
drrrrt...drrrrt....drrrt....
"halo man? oke aku bisa, tapi tukeran mobil ma Aldo ya biar temen temennya muat. ok ok." Faisal berbicara dengan Alman ditelfon namun ia sengaja mengangkat telfonya dimeja makan agar semuanya bisa mendengar jadi ia tak perlu harus menjelaskan kepergiannya. Agar tak terkesan kabur dari situasinya dengan Sasha. Dan agar Aldo tak begitu curiga,jika sampai Aldo curiga makan Faishal akan ditanyai banyak hal oleh Aldo dan bisa bisa Faishal akhirnya jujur atas pengakuannya terhadap Sasha, dan Aldo pastinya akan mengusahakan segala cara agar Sasha bisa menjadi milik Faishal. Ia tak ingin iti terjadi, ia takut melukai Sasha.
"lho kak ada panggilan?" Tanya Fitha
"iya Fith Alman ga ada temannya jaga, banyak yang izin jadi malam ini kakak mesti bantu jadi dokter jagan, jadi nanti kakak tinggal yah. Do nanti mobilmu biar dibawa Alman, di lagi otw kesini tukeran mobil, punya dia kan 6 seat bs muat semuanya buat pulang besok."
"ya kakak ga asik sih masa dah ke RS aja." Ucap Aldo sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"namanya juga tugas, sekalian buat persiapan mau ke Solo dua hari lagi ada seminar." Faishal sengaja menceritakan hal itu biar Sasha tahu bahwa ia tidak akan bertemu Faishal dihari hari berikutnya.
Faisal memanfaatkan waktu kebersamaannya bersama Sasha dan Cilla tentunya untuk beberapa puluh menit kedepan. Mungkin setelah ini Faishal tak akan mengganggu Sasha, karena ia yakin dengan kehadirannya saja sudah membuat Sasha tak nyaman.