Bayi Kita

Bayi Kita
93


__ADS_3

Sasha akhirnya turun dari mobil. Tangannya langsung digandeng oleh Faishal, lalu Faishal membisikkan sesuatu.


"Ga usah risau, love you." bisiknya ditelinga Sasha membuat wajah Sasha bersemu merah.


"Bun, sini Cilla biar Sasha aja yang gendong." Sasha meminta Cilla agar berada digendongannya, itu sangat membantu mengurangi kegugupannya.


Bundapun menyerahkan Cilla, Faishal langsung merangkul pundak Sasha menuju pintu rumah om Edi. Didepan pintu sudah berdiri om edi, tante santi dan ketiga putranya menyambut kedatangan mereka. Bola mata Sasha mulai mencari keberadaan seorang laki laki tua yang kemungkinan adalah eyang dari Faishal karena ia memang belum sama sekali mengenal wajahnya, namun yang dicari tak terlihat. Sasha jadi menerka nerka apakah sang eyang tak ingin menyambutnya? atau ah mungkin sang eyang menunggu didalam karena beliau sudah sangat sepuh tak mungkin jika berdiri menunggu kedatangan mereka diluar rumah, begitulah Sasha meyakinkan hatinya.


"Sini sini masuk." Sambut tante Santi dengan sangat ramah, terlihat kesan seorang guru yang sangat berwibawa saat melihat penampilannya.


"wah ini, manten anyar lengket terus." imbuh om Edi yang sudah melihat sikap Faishal yang terlihat amat menyayangi Sasha.


"iya donk om, nanti istriku lari donk. hehehe, gimana kabarnya om? ini Sha kenalin adeknya bunda, om edi." Faishal menyalami om Edi lalu disusul oleh Sasha menyalami paman barunya tersebut.


"Salam kenal om. Saya Sasha" ucap Sasha ramah.


"duh ayune, isih imut imut lho iki." Ucap tante Santi saat Sasha menyalaminya lalu dilanjut ritual cipika cipiki ala ibu ibu.


"salam kenal tante." ucap Sasha lalu Fitha menyusul dibelakangnya.


"lha iki sopo yo?" tanya tante santi yang penasaran ada satu lagi anak perempuan terlihat sebaya dengan Sasha.


"Doain wae dadi mantuku yo." ledek bunda sambil terkekeh


"bukan bukan tante, saya temen sekamarnya Sasha dulu." Fitha buru buru menjelaskan, ia teramat malu mendengar celetukan dari bunda, sedang Aldo hanya diam saja tak menanggapi.


"kalo cah lucu ini siapa ya???" ujar tante santi yang sebenarnya sangat penasaran dengan Cilla sejak Cilla dibawa bunda turun dari mobil.


"iniii....." Sasha bingung mengenalkannya


"ini Cilla tante, anak kita." Faishal langsung memotong pembicaraan.


"hmm anak??" tanya tante bingung, mengapa pengantin baru sudah memiliki bayi sebesar ini. Sampai ada terbersit pikiran apakah Sasha ini seorang janda? Tapi... tante tak mau berspekulasi terlalu jauh.


"nanti tak ceritani dek." ucap bunda sambil menepuk pelan pundak tante santi dan dibalas anggukan tanda beliau memahami ada hal penting yang akan ia dengar nanti.


Dan..... ternyata ada sepasang mata dibalik pintu kamar depan rumah tersebut, yang memperhatikan dan mendengar sesuatu yang ingin sekali ia dengar sepertinya. Tangannya mengepal erat, menyalurkan segala rasa didadanya. Beliau ternyata sudah menunggu nunggu kedatangan seseorang yang baru saja menentangnya, membawa seseorang yang tak akan pernah direstuinya, ditambah lagi kehadiran seorang bayi yang makin memberatkan restunya. Pikirannya melayang layang penuh kecurigaan, yah itulah sang eyang yang enggan beranjak dari balik pintu kamarnya dimana terlihat rombongan keluarga bunda dari jendela kaca besar yang ada dikamar tersebut. Dalam hatinya terbersit, "dikei emas milih lempung", ia begitu kecewa, apa hal yang membuat cucunya terburu buru menikahi wanita yang entah berantah asal usulnya, ditambah bayi tersebut menambah kecurigaannya, apakah cucunya dijebak? apakah cucunya telah salah pergaulan selama ini hingga merusak anak gadis orang sampai memiliki anak? Atau?? dipejamkan lah matanya, mau bagaimana lagi? Tak mungkin ia meminta cucunya menceraikan istri yang sangat ingin dinikahi hingga menentang dirinya.


"mesakke temen nduk nasibmu" rintihnya dalam hati sampai menitikkan air mata mengingat betapa kecewanya cucu kesayangan (Vivi) menghadapi sang tunangan idamannya menikahi orang lain sebelum memutuskan pertunangan. Ia sangat yakin, Vivi saat ini sedang tidak baik baik saja.


"Ayo ayo masuk." Tante Santi mengantarkan mereka masuk kedalam rumahnya.


Aldo masuk paling belakang. Ia lalu ditarik oleh sang tante.


"calonmu po le?" tanya tante penasaran sambil mengarahkan dagunya kearah Fitha.


"temen kampus taaaan, ga usah percaya sama bunda." ucap Aldo meyakinkan sang tante yang mulai kepo.

__ADS_1


"mas! sini!" Tiba tiba rangga anak sulung om Edi dan adik adiknya memanggil Aldo.


"napa??" balas Aldo mendekati mereka yang sedari tadi malu malu untuk bersalaman dengan dua orang wanita manis menurut mereka yaitu fitha dan Sasha.


"wekmu sing endi mas? (punyamu yang mana mas?)" tanya rangga.


"ck, anak kecil mau tau aja." ucap Aldo sambil mendorong telunjuknya di kening Rangga.


"hahahha yo wes , tak kecengi ah." ledeknya kepada Aldo sambil menaik turunkan alisnya, lalu berlari dari hadapan aldo sambil terkekeh mengajak adik adiknya ikut menggoda Aldo.


"Eii..! Mau ngapain! Dasar bocah!" Aldo heran dengan tingkah para sepupunya yang seperti tak pernah melihat perempuan cantik.


Semuanya telah duduk diruang tamu. Rangga dan adik adiknya datang memberanikan diri bersalaman dan berkenalan dengan Sasha dan Fitha yang duduk bersebelahan.


"mba! Kenalan...! Rangga mba, masih jomblo." ucap Rangga kepada Sasha sambil menyodorkan tangannya, membuat Sasha tersenyum geli melihat tingkah anak ABG didepannya.


"ekhem! salam kenal juga, ini istriku MBA SASHA, ga boleh naksir loh ya" Faishal tiba tiba merangkul pundak Sasha posesif sambil tersenyum.


"Alah mas gur kenalan wae koq mas, hadew, bucin." ucap rangga yang ditertawakan semuanya.


"Iya salam kenal dek rangga," Balas Sasha yang kemudian menyambut tangan rangga dan bersalaman diikuti oleh kedua adiknya.


"hai aku Fitha panggil Fitha aja ga usah mba gapapa." ucap fitha ceria membuat rangga jadi tersipu.


"Fith adek gue fit, masa elo ngecengin bocah sih." celetuk Aldo tak senang. Fitha menatap sinis Aldo lalu berubah tersenyum saat beralih ke Rangga dan adik adiknya.


"Iya mba Fitha, ikut rangga kebelakang aja, sudah saya siapkan gorengan sama teh." Imbuh tante santi.


"iya tante, ayok ngga." Fitha beranjak dari duduknya lalu mengikuti Rangga dan Aldo akhirnya mengikuti mereka dan mendorong pundak Fitha membuat Fitha risih dan menangkis tangannya.


Situasi tiba tiba hening, lalu om Edi memulai pembicaraan.


"mba Ratna, mas Agung, monggo diminum tehnya, ini sal coba gorengannya buatan tantemu semua itu, ayok Sasha nyobain makanan khas sini. Nih gorengannya dicocol disambel ini, sambel bawang namanya, suka pedes to?" ucap om edi sambil menunjukkan cara menikmati gorengan khas gunungkidul dengan sambel bawang


"iya om makasih, enak kayaknya ini.," Sashapun mengambil bakwan lalu mengikuti om edi menggunakan sambel bawang yang baru pertama kali ia makan.


"auu, auu." Cilla pun mengoceh sambil tangannya berusaha meraih gorengan yang ada ditangan Sasha,


"eh hehhe belum boleh sayang." ucap Sasha sambil menjauhkan tangannya


"abuuu bu bu bu. Hek hek auu." rengek Cilla


"Sini sama ayah dulu biar bunda maem." Faishal mengambil cilla dari pankuannya.


Om Edi dan tante Santi memperhatikan Faishal sambil tersenyum, mereka tak menyangka Faisal sangat berbakat menjadi ayah dan suami yang baik. Tak dipungkiri, merekapun punya banyak pertanyaan tentang Cilla, mengapa Faishal mengatakannya sebagai anak mereka.


"di, bapak nengdi?" tanya bunda

__ADS_1


"sik yo mba tak undange. " om Edi beranjak dari duduknya menuju kamar sang eyang yang sebenarnya tak jauh dari tempat mereka duduk.


Suasana menjadi hening kembali, bahkan Cilla yang biasanya sering mengoceh pun sedang asyik dengan jari Faisal yang dimainkannya.


Sasha menghela nafas dalam, bersiap bertemu dengan eyang barunya. Namun ia usahakan terlihat biasa saja sambil menyibukkan dirinya mencicipi makanan yang tersaji didepannya, bunda dan ayahpun sedang menikmati tehnya. Faisalpun sedang merangkai banyak kata dalam benaknya untuk bertemu dengan sang eyang, ia ingin agar kata kata yang keluar dari bibirnya nanti adalah kata kata terbaik.


Tok tok tok....


"Pak! Mba Ratna sampun ten mriki pak, ajeng nemoni bapak." ucap om edi dengan sopan, namun.... tak ada jawaban dari dalam, lalu om edi mencoba memanggil eyang kembali.


"Pak! sare nopo bapak?(pak! Tidur ya?)" tanya om edi. Ternyata tetap tak ada sahutan dari dalam, om.edi jadi khawatir, ia lalu membuka pintu kamar tersebut , dan dilihatnya sang ayah sedang berbaring membelakangi dirinya, ia tahu, sang ayah hanya pura pura tertidur terlihat dari nafasnya yang tak beraturan. Om edipun mendekati ranjang eyang.


"Pak, bapak ajeng nemoni mboten? (pak , bapak mau nemui tidak?).... Pak?" bujuk om.edi dengan halus.


"rasah mikirke aku, aku ki wong tuo sing wes ra dianggep." Ucap eyang sinis tanpa mau berbalik dan tetap membelakangi om edi.


"Pak, mba Ratna sak keluargo niate apik pak, ajeng ngenalke mantune mriki, ampun ngeten niku pak." bujuk om edi kembali.


"mantu opo, wong aku ra tau dijak rembukan, wes kono! Aku rep turu." ucap eyang sinis sambil mengusir om edi dengan kibasan tangannya.


"pak..." om edi menghela nafasnya, ia sangat kecewa betapa kerasnya hati sang ayah. Om edi lalu keluar kamarnya menuju ruang tamu kembali.


"piye di?" tanya bunda


"bapak sare mba" jawabnya dengan lesu, namun dari sikap om edi jelas terlihat bahwa eyang tak ingin menemui mereka.


"yo wes, nanti kita ke kamarnya eyang aja pas pamit pulang ya." ucap bunda ke Faishal dan Sasha lalu diangguki oleh mereka.


"mba Ratna, maaf sebelumnya, bayi ini bayi siapa?" ucap tante santi memberanikan diri karena bunda sebelumnya telah berjanji akan bercerita, pandangan tante santi selalu tertuju ke Cilla.


"gini dek, bayi ini bayi temuan." ungkap bunda


"nemu?? Lho koq bisa?" tanya tante santi dan om.edi berbarengan.


"Sasha, Aldo, Fitha dan temen temene yang nemu dek, saat itu........" bunda akhirnya bercerita panjang lebar tentang proses ditemukannya Cilla.


"owalah gitu toh ceritanya, duh kalian memang anak anak yang baik, lah trus kenapa bisa manggil Faisal dan Sasha ayah bunda?" lanjut tante Santi


"gini tan, waktu pertama kali dibawa ke rumah sakit itu langsung ke klinik Faishal tan, dan ga mau digendong siapapun nangis aja tapi kalo sama Faishal dan Sasha anteng, jadi karena kita kasian bayi sekecil ini ga punya orang tua, jadi kita memutuskan untuk menjadi orang tua angkatnya untuk sementara, sejak saat itu Faishal ma Sasha jadi deket tante, dan.... Jadilah kita menikah." ungkap Faishal sambil menggenggam tangan Sasha.


"romantise poll, jadi mak coblange si Cilla to." ucap tante Santi sambil terkekeh


"ya gitu ya dek rahasia Tuhan itu jalannya tak terduga." ucap bunda yang ikut berbahagia


"berati kalian dah pacaran sebelum faisal tunangan?" tanya om edi membuat Sasha berdenyut hatinya, tak dipungkiri iya merasa telah merebut Faishal dari sang tunangan.


Dan...sekali lagi, ada sepasang telinga yang sedang menguping pembicaraan dari dalam kamarnya, ingin memastikan kebenarannya. Jika benar Faishal sudah menjalin hubungan sebelum dipaksa ditunangkan oleh Vivi berati ialah penyebab Faishal menentangnya. Tapi jika tidak, tidak masalah kan jika ia tak dapat memberikan restu? Toh mereka melanggar batas kesopanan, berani menikah sebelum memutuskan pertunangan. Itulah yang terbersit dalam hati laki laki 70tahun tersebut.

__ADS_1


__ADS_2