Bayi Kita

Bayi Kita
70


__ADS_3

"bayi cantik datang!" Ucap sang nenek sambil menggendong Cilla yang wangi dan dipastikan telah dimandikan.


"Sini sini sama bunda anak cantik." Sasha meminta Cilla kepada sang nenek.


"bunda??" nenek heran Sasha dipangil bunda padahal Sasha telah mengakui bahwa itu bukan anaknya lalu Sasha menjelaskan bahwa ia dan faisal sementara menjadi orang tua angkat Cilla karena Cilla bisa tenang hanya dengan mereka berdua. Akhirnya sang nenek faham.


"ihh lucunya, siapa inih kak?" Tiba tiba Sinta mendekat ke Cilla yang digendong Sasha.


"Cilla, bibi kecil." ucap Sasha dengan nada dibuat seperti anak anak.


"ga mau bibi ah kakak aja." ucap Sinta tak terima dirinya dipanggil dengan sebutan bibi.


"Iya iya hahhaha." Sasha gemas melihat adiknya ngambek.


"Sari mana?" tanya Sasha.


"tuh sembunyi, kak Sari malu katanya sama om itu." Sinta menunjuk Faishal yang telah memperhatikannya sejak datang sambil tersenyum ramah.


"Jangan om lah, kakak panggilnya." ucap nenek


"gapapa nek suka suka dek.... siapa namanya?" tanya Faishal ramah membuat Sinta tersipu


"Sinta." jawabnya sangat imut.


"Sinta yah, namanya cantik kayak orangnya." ucap Faishal memuji sang adik membuat Sinta semakin malu lalu sembunyi dibelakang Sasha. Faihal tersenyum senang melihat sang adik barunya tersebut.


"kak, itu siapa?" Sinta berbisik ditelinga Sasha namun masih terdengar oleh semua yang ada disitu, Faishal makin melebarkan senyumnya sambil tertawa kecil, ia ingin tahu apa yang akan dijawab oleh Sasha.


"itu kakak yang akan menikah sama kak Sasha." ucap neneknya mendahului Sasha.


"hah?? bukannya kak insan?" ucap Sinta polos Sasha jadi miris mendengarnya


"bukan sinta, sudah ganti tadi malam." jawab sang nenek


"kenapa?" tanyanya lagi penasaran namun tak mengurangi kepolosannya.


"Kakak kan mau kuliah jauh biar ada yang jagain jadi menikahnya sama kakak ini, kenalan lah kamu, kakak ini dokter sinta. Sana kenalan." jelas sang nenek menggunakan alasanya yang sengaja dibuat sedemikian agar mudah diterima ditelinga anak anak.


"ummm sinta malu nek." ia mengerucutkan bibirnya, lalu beralih ke cilla dan bermain dengan Cilla yang gemas.


"Sasha makan lah dulu, biar Cilla diletakkan dulu, itu temanmu satu lagi belum masuk, ajak sekalian makan." ucap Sang nenek yang mengambil Cilla kembali lalu ditidurkannya dikakinya.


"besok kasih cicit yang banyak ya nak Faishal." ucap Sang nenek saat memainkan tangan Cilla seperti bertepuk tangan, nenek membayangkan ia akan memiliki banyak cicit dan betapa bahagia dirinya.


Faishal tersenyum menanggapi sang nenek, lalu ia menatap Sasha yang mukanya bersemu merah. Faishal jadi merasa amat bahagia. Anugrah tak terduga akhirnya ia dapatkan tadi malam.


Sasha menjadi salah tingkah, ia langsung keluar memanggil Aldo agar sarapan bersama.


Aldopun masuk, yang pertama ia lihat adalah Fitha. Ia melihat Fitha amat cuek padanya, dan sibuk dengan makanannya, Aldo jadi merasa diabaikan, karena selama ini jika habis berdebat mereka biasanya kembali seperti biasa dan bercanda lagi. Berbeda dengan hari ini, ia enggan langsung bersikap biasa kepada Fitha, dan Fithapun berperilaku yang sama. Mereka saling mengabaikan. Airmukanya jadi cemberut.

__ADS_1


"kamu kenapa dek?" tanya Faishal melihat adiknya yang biasanya ceria namun terlihat tak bersemangat.


"ga papa laper aja." ucapnya lalu langsung mengambil piring dan memilih lauk yang ia suka.


"nek makan nek." sapa Aldo ramah


"iya iya makanlah kalian, nenek sudah duluan." balas sang nenek


"ini apa??" tanya Aldo saat melihat menu yag aneh menurutnya


"itu tempoyak nak, cobalah." balas sang nenek


"bau baunya kayak apa gitu." ucap aldo yang seperti tidak asing dengan baunya.


"hush ga sopan ah dek." ucap Faishal kepada sang adik yang dirasa tidak sopan.


"hahhaha gapapa nak, kalo ada orang jawa datang kesini memang biasanya merasa aneh, ini makanan khas kami disumatra kalo musim duren seperti ini." ucap Sasha yang sedang mengambilkan Faishal nasi.


"ini duren?" tanya Aldo heran, setahunya duren adalah buah buahan manis.


" iya coba dulu deh, kamu doyan duren kan?." ucap Sasha


"doyan sih, ummm.... apa ga aneh gitu duren dimasak pedes gini?" ucap Aldo makin ragu untuk mencoba, ia membayangkan rasa yang aneh


"hihihi makanya coba dulu sedikit." Sasha tertawa, ia yakin Aldo tidak akan doyan dengan tempoyak tersebut.


"Hahhahahhahaa, hahhahahaha." Fitha tertawa terbahak bahak


"Fitha!!!" teriak Aldo dari depan rumah.


Nenek ikut terbahak bahak, pasalnya memang tempoyak akan sulit diterima masyarakat jawa khususnya. Ternyata Aldopun merasakan mual saat mengunyahnya.


"Fithaaa ga usil ah kasian tuh Aldo sampe muntah muntah, sana bawain air putih." ucap Sasha, akhirnya Fitha menurut dan menyusul Aldo ke teras sambil membawakan minum.


"Nih! minum!" ucap Fitha ketus


"Hahhhh ya ampun aneh banget rasanya, ga gitu ah Fith, jadi muntah kan gue." ucap Aldo dengan nada ngambek.


"Katanya mau mampir kerumahku di metro, menunya ya gini gini, ga boleh pilih pilih makanan. Tuh bekas muntah ditimbun sama tanah, bauk tauk.!" ucap Fitha yang melihat Aldo muntah ditanah depan teras


"Gimana caranya Fith, ambilin apa kek gitu." ucap Aldo yang panik, harusnya ia kekamar mandi tapi justru ia muntahkan di tanah.


"hahhhhhhh dasar manja! tunggu sini jagain nanti dimakan ayam pada keracunan ayamnya." ledek Fitha yang membuat Aldo percaya


"beneran ayam mati kalo makan ituan? duh fith cepetan cariin apa gitu yang buat nutupin" Aldo cemas


"hahhaha, dasar polos!" ledek Fitha lalu ia masuk dan meminta sekop kepada sang nenek.


Fitha lalu menimbun bekas muntahan Aldo dengan sekop sambil memain mainkan sekop kearah Aldo, Aldo menjadi makin cemberut.

__ADS_1


"Udah ah Fith, kotor tauk kalo kena!" ucap Aldo


"ini muntahannya siapa?? masih baik aku bantuin ngilangin bekasnya. Ga terimakasih."


"iya iya makasih! tapi gue belum maafin lo bolang gue polos, besok gue tunjukin ke lo, awas lo." ancam Aldo walau sambil tersenyum jahil membuat Fitha jadi heran.


"apaan sih do! dah ah lanjut makan!" Fitha alhirnya kembali ke dalam


"Gitu itu nek mereka berdua suka jahil jahilan." ucap Sasha kepada sang nenek yang memperhatikan Aldo dan Fitha sambil tertawa merasa terhibur akan keributan mereka berdua.


"biasanya jodoh itu." ucap nenek


"nenek sukanya mitos." ucap Sasha tersenyum, ia tak membayangkan jika Fitha dan Aldo mendengarnya pasti mereka akan saling menolaknya.


"Tambah lagi makannya mas?" Tanya Sasha lalu dibalas gelengan kepala oleh Faishal.


Sasha sudah tahu jika Faishal pasti tak akan sanggup mencoba tempoyak sehingga saat mengambilkan makan faishal tak disertakan tempoyak olehnya. Faishal sangat senang, Sasha sangat mengerti dirinya, ia heran kepada keluarga insan yang begitu mudahnya melepaskan wanita seistimewa Sasha, hanga karena gosip yang tak tahu kebenarannya.


Mereka semua makan bersama disusul ibu dan ayah yang sudah kembali. Suasana terasa hangat, baru sekali ini Aldo dan Faisal merasakan makan keluarga di lantai beralaskan tikar dengan suasana desa yang kental, biasanya mereka harus makan diangkringan atau pecel lele lesehan dijogja baru akan merasakan makan bersama seperti ini.


Setelah itu Sasha membantu sang ayah membuka warung. Sedang Faishal masih merasakan sedikit nyeri dibagian oerutnya akibat pukulan tadi sehingga ibu meminta Faishal beristirahat, ibh Sasha tak habis pikir akan sikap arogan Insan yang gak biasa, namun ia bersyukur karena dibukakan oleh Tuhan siapa sebenarnya yang menyahangi putrinya dengan baik.


Aldo dan Fitha sudah mulai akrab dengan Sinta dan Sari. Mereka lebih mudah mendekati adik adik Sasha dibandingkan Faishal yang lebih dewasa. Sari dan Sinta sangat malu jika berbincang dengab Faishal, selain karena ketampanannya, Faisal miripdengan sang guru di SD, jadi Sari dan Sinta menjadi sungkan. Aldo dan Fitha memang paling mudah menarik perhatian anak anak, adik Sasha baru berumur 13 tahun (Sari) dan 11 tahun (Sinta) namun mereka terkesan imut dan pemalu. Aldo mengeluarkan segala jurus mautnya untuk meluluhkan adik adik Sasha sehingga membuat mereka terbahak bahak atas kekocakan Aldo.


Beberapa menit kemudian....


"Wakk belanja wak." muncullah beberapa orang gadis sekitar sana, mereka menuju rumah Sasha.


"langsung ke warung aja kak!" ucap Fitha melihat beberapa orang gadis yang sudah tampil cantik menuju depan teras Sasha, dimana Fitha dan Aldo sedang bercanda bersama Sari dan Sinta. Fitha heran, mengala mereka semua tak langsung kewarung yang jelas jelas sudah dibuka disamping rumah Sasha.


"Kakaknya dari jawa ya?" Tanya salah satu gadis ke Aldo


"ia mba, saya dari jogja." jawab Aldo ramah, namun hal itu membuat Fitha tak nyaman, ia merasa Aldo sengaja tebar pesona.


"dasar modus!" gumam Fitha pelan lalu ia melanjutkan mengajak Sinta bermain game.


"Boleh kenalan kan kak?" ucap gadis satunya


"boleh donk, siapa namanya? gue Aldo" Aldo mengulurkan tangan satu persatu kegadis gadis depannya dan langsung mengobrol akrab. Begitu pula Sari yang ikut nimbrung obrolan dengan mereka.


.


.


.


"ohh kakak temannya Sasha ya? kami juga teman kecilnya Sasha. Oiya kak, kakak satu lagi yang tinggi putih koq ga kelihatan kak," ucap salah satu gadis yang memang paling ingin bertemu Faishal. Ia melihat lihat ke arah dalam rumah namun tak terlihat batang hidung faishal.


Tiba tiba.....

__ADS_1


__ADS_2