Bayi Kita

Bayi Kita
56


__ADS_3

Sementara di hari yang sama di Rumah sakit GMC....


Dokter Alman berlari terburu buru ke ruangan praktek Faishal.


Brak!!!


Faishal terkejut langsung mendongak dan ternyata sahabatnya yang datang sambil terengah engah.


" Sal! jelasin ke gue! ada apa ini? trus beneran lo di skors 1 bulan?" Alman menatap wajah sahabatnya yang saat ini sedang duduk tenang dikursinya sambil menulis laporan rekam medis yang harus segera ia selesaikan.


"hm? iya." ucap Faishal sambil mengangguk pelan


"cuma iya?! trus kenapa lo bisa digrebek bareng sasha! lo ngapain ma sasha? jangan bilang kalian beneran tinggal bareng?! okelah kalo Cilla gue tahu kronologisnya, tapi kenapa lo berdua bisa di grebek?! pantesan kemaren lo minta izin beberapa hari ke gue tapi lo ga cerita semuanya Sal! kecewa gue!" ucap Alman penuh emosi, ia kecewa mengapa Faishal tak menceritakan jika mereka sempat digrebek berdua oleh warga.


"hufffh. Man! apa mungkin Sasha yang sebegitunya membuat tembok ke aku mau tinggal berdua aja sama aku? kamu percaya gitu aja sama berita itu?" Faishal menghentikan kegiatannya.


"makanya lo cerita ke gue! gue yakin lo ga bakal sebejat itu! tapi lo cerita donk, paling ga gue bisa jadi saksi ke direktur jadi lo ga bakal di skors ! inget! lo bakal ambil spesialis Sal, bakal ambil surat rekomendasi direktur. Kalo lo diskors gini emang Direktur bakal ngizinin?"


" lihat aja kedepannya" ucap faishal tenang sambil mengambil buku untuk dibaca membuat Alman geram.


"Sal! koq bisa sih lo tenang tenang gitu! tadi lo jelasin ga sejujur jujurnya sama Direktur?"


"udah, tadi aku dah jelasin yang sebenarnya, tapi karena masalah ini sudah viral jadi Direktur minta aku istirahat dulu 1 bulan, hingga diperoleh data data pendukung dan saksi warga. ummm.... Sasha juga diminta jadi saksi Man. Itu yang aku bingung gimana nyampeinnya. Padahal aku dah niatin hati ga bakal menghubungi dia lagi bahkan kalo bisa ga ketemu." ucap Fasihal murung


"nah loh! Kepikiran Sasha kan? lo aja diskors dari rumah sakit, emang lo ga kepikiran gimana nasib Sasha di kampus? emang anak kampus ga bakal tau ada berita yang viralnya dah kebangetan sampe lo aja kelacak kalo kerja disini ! Sasha gimana coba? mikir ga lo?" ucap Alman masih penuh emosi membuat Faishal tersadar, padahal sebelumnya tak terfikirkan olehnya hal sepenting ini.


Faishal tiba tiba berdiri, ditutupnya buku yang ia baca dengan kasar lalu buru buru keluar tanpa memperdulikan Alman yang masih saja mengomelinya.

__ADS_1


" Sal! tunggu mau kemana lo? hey!!!" Alman menyusul Faishal ia takut sahabatnya berbuat nekad. Iapun segera menelfon Aldo namun Aldo berpesan agar jangan sampai menemui Sasha saat ini karena situasinya pun tak kalah kacau. Aldo berjanji akan segera mengabari setelah semuanya jelas harus melakukan apa. Aldo meminta agar Alman dapat menenangkan hati faishal.


Sementara Faishal mulai menghubungi nomor Aldo namun tak kunjung dibalas karena posisi Aldo sedang berada dipanggilan lain yaitu Alman. Faishal menjadi emosi dan menendang ban mobilnya karena saat ini ia sudah berada diparkiran. Ia ingin segera menemui sasha namun ia tak tahu kemana Sasha pindah. Bahkan nomor ponsel sashapun telah dihapusnya. Ia pun tak kehilangan akal ditelfonnya Fitha. Namun betapa kecewanya ia karena Fitha memohon agar tidak menemui Sasha terlebih dahulu dan Faishal diminta menunggu kabar.


Sampailah Alman diparkiran. Ia melihat betapa frustasinya Faishal. Ditepuknya pundak Faishal memberikan kekuatan.


"Sal! tenang dulu, kita tunggu kabar dari Aldo. Sekarang mending lo pulang istirahat biar tenang. Atau cerita ke ayah bunda biar dapet solusi yang lebih bijak. Kalo lo tergesa gesa bakal ga baik akhirnya Sal. Ayok...! pulang! gue temenin."


Faishal akhirnya menurut, ia tidak diizinkan mengendarai mobil oleh Alman dan digantikan Alman.Ia berbaring dimobil sambil merenungkan apa yang sudah terjadi. Ia bahkan tak pernah menyangka akan ada hal seperti ini. Padahal urusannya dengan warga setempat telah usai. Faishal menyesal harusya saat itu ia tak berkunjung kerumah itu. Namun apa dayanya, saat itu ia sedang kalut. Iapun menyesal mengapa harus ada kejadian di Villa, membuag ia tak bisa bertemu dengan Sasha kembali.


"Sal! pasti ada jalan, lo sabar dulu, tenangin pikiran."


"ia man makasih yah."


Sampailah mereka dirumah, namun terdengar suara obrolan dari dalam serta suara orang menangis. Faishal sudah bisa menebak apa yang terjadi didalam rumahnya.


Setelah ia masuk, apa yang ada difikirannya benar. Saat ini Vivi sedang menangis tersedu sedu dipelukan sang bunda. Bunda mencoba menenangkannya.


"engga sayang, kan kita tahu mereka ga ada hubungan apa apa, tuh kakak dah sampe." Vivi beranjak dari pelukan bunda ia menoleh kebelakang ternyata benar faishal telah pulang. Iapun langsung berlari kepelukan Faishal namun hal.itu membuat faishal makin tak enak hatinya. Ia pulang ingin menenangkan diri justru harus bertemu tunangan yang tak ingin ia temui.


"kakak! itu bohong kan kak? kalian ga ngapa ngapain kan? jawab vivi kak!" ucap Vivi sambil menarik narik kemeja Faisal


"bisa ga kamu ga usah ikut campur!" ucap Faishal ketus


"kak! vivi kan kan tunangan kakak! masalah seperti ini juga jadi masalah vivi, apalagi sama perempuan itu!"


"dia punya nama! bukan perempuan itu!" balas Faishal tak senang

__ADS_1


"tuh kan! kakak aja belain dia!......kak! apa ga bisa sedikit aja kakak ngerti perasaan Vivi! Kakak suka ma Sasha kan? kalo gitu Vivi ga bisa biarin ini! dia harus dikasih pelajaran!"


Plak!!!!


Faishal tak sanggup mendengar kata kata Vivi lalu tanpa sadar tangannya menampar Vivi, iapun terkejut atas apa yang ia lakukan. Faishal makin tak karuan, ia sudah dibatas kendali atas dirinya. Alman dan bunda yang ada diruangan itu terperanjat melihat kejadian didepan mata mereka, karena baru sekali ini faishal sangat kasar terhadap orang lain. Tanpa sepatah katapun Faishal langsung meninggalkan Vivi yang menangis semakin menjadi, lalu masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.


"duh sayang maafin kakak ya? duh sini dikompres dulu yah. Man bunda ditolongin ambil kompres."


"iya bun" Alman mengambil kompres dan air minum lalu menyerahkan kebunda


"Bun... hiks hiks, kenapa kakak jahat sama Vivi, kenapa kakak ga bisa sedikit aja mikirin vivi."


"vi... maaf sebelumnya, bukan mau belain temen gue ya, dia nampar lo adalah sebuah kesalahan. Tapi... kalo lo memang mau jadi pasangannya harusnya lo tau sikon Vi, faishal sedang kalut hatinya, apalagi diskors sama Direktur selama sebulan."


" hah!!! beneran man?" bunda dan vivi terkejut melihatnya, wajar jika sang putra terlihat amat frustasi saat masuk kerumah ditambah rengekan Vivi yang membuatnya jadi melewati batas. Ia jadi khawatir oleh sang putra


"iya bun, makanya vi harusnya lo ikut nenangin Faishal! bukannya malah menuntut semau hati lo aja. Apalagi berkata yang engga engga, jadi gue pesen ama lo. Kalo lo mau ada dihatinya jadilah lebih baik lagi!"


"kak Alman cuma bisa ngomong aja, coba kak Alman diposisi Vivi, sakit kak sakit banget! Vivi kan tunangan kakak tapi kakak sama sekali ga mikirin Vivi." ucap Vivi masih dengan egonya


"terserah lo gue cuma ngingetin! bun Alman balik dulu ya. Ini kunci mobilnya Faishal Alman naik ojek aja ke RS."


"iya man makasih ya dah anter kakak."


"iya bun."


"Bun hiks, Vivi juga pulang yah. Nanti Vivi kesini lagi, kalo kakak dah tenang."

__ADS_1


"ia sayang, sekali lagi maafin kakak ya?" Bunda tak enak hati karena putranya menampar Vivi tepat didepan matanya.


" iya bun."


__ADS_2