Bayi Kita

Bayi Kita
116


__ADS_3

Keluarga Sasha langsung dibawa ke perumahan Faishal. Mereka beristirahat disana. Keadaan Sinta pun semakin membaik. Sedang Aldo langsung pulang kerumah, sepanjang jalam ia hanya terdiam karena Riyan ada dimobilnya, dan Fitha terlihat amat sibuk mengobrol dengan Riyan, padahal ia duduk disamping Aldo, namun selau menoleh kebelakang untuk mengobrol seru dengan Riyan.


"Ibuk, kenapa bawa banyak sekali oleh oleh?" Ucap Sasha saat membukan kardus bawaan keluarganya yang isinya makanan khas dari lampung.


"Biar lah nak, sekali kali kami kesini, buat keluarga kau disini, besok bagi lah sama mereka ya?" jawan sang ibu yang juga sibuk membuka barang barangnya.


"Cilla mana?" tanya nenek


"Dirumah nek sama bunda. Kemarin sempet opname dirumah sakit." jelas Sasha


"malang sekali anak itu, kapan ya orang tuanya ditemukan. Ga mungkin dia hidup sama kalian terus nak. Nenek takut nanti ada kecemburuan sama anak mu sendiri." ucap Nenek


"tenang nek, ga akan terjadi, kami akan mengasuhnya dengan baik." ucap Sasha sambil tersenyum.


"Sasha, kata kata kau itu seolah olah tak akan ketemu saja orang tuanya. Ibu tak berharap dia dibesarkan sama kalian. Betul kata nenek, kau harus bisa mendahulukan yang penting dulu. Bagaimana besok jika dia cemburu sama anak anakmu atau sebaliknya?" ucap ibu mulai serius, Sasha terdiam, mulai merasa tak nyaman. Ia sudah bertekad akan mengadopsi Cilla dan resmi masuk ke kartu keluarganya jika sampai umur 3 tahun tak ada satupun batang hidung keluarga Cilla yang ketemu, tapi ternyata keluarganya tak setuju, sama seperti eyang dari Faishal. Sambil menghela nafas Sasha berdiri dari duduknya.


"Sasha bikin teh dulu ya nek, buk." Ucap Sasha mengalihkan pembicaraan, ibunya hanya geleng geleng kepala. Beliau sangat faham betul karakter sang anak apabila mulai tak nyaman akan mengalihkan pembicaraan dan pergi.


"Sabar lah Sutia, nanti kita bicara sama Faishal saja yang lebih dewasa. Kau tenang lah dulu." nenek meraih bahu ibu lalu membelainya dengan perlahan membuat ibu mengangguk tanda mengerti dan yang disebutpun datang.


"Nak Faishal, bisa antarkan ibu cari sesuatu? Ada yang mau ibu beli." ucap ibu saat faishal menghampirinya.


"oh iya bu, sebentar saya bilang Sasha dulu." balas Faishal sopan


"oh nak, tidak usah, tadi ibu sudah bilang ke Sasha, ayo kita berangkat." ibupun keluar mengajak Faishal, ia bersyukur Sasha tak melihatnya.


.


.


.


.


"Nak Faishak, maaf ya, sebenarnya ibu tidak mau beli apa apa." Ucap ibu tenang, membuat Faishal mengerutkan dahi.

__ADS_1


"ada apa bu? Apa ada sesuatu yang tidak nyaman? Ibu bisa bilang saja sama saya bu." ucap Faishal, ia lalu menepikan mobilnya ditempat yang aman untuk parkir.


Sambil menghela nafas, ibu mulai menyiapkan kata katanya.


"Nak, apa kabar dari orang tua bayi itu belum ada sama sekali?" tanya ibu serius, Faishal jadi faham mengapa ibu mertuanya ini mengajaknya keluar, karena hal ini menyangkut masalah yang akan membuat sang istri sangat sensitif.


"masih sedikit sekali petunjuknya bu. Kami akan berusaha terus." ucap Faishal


"nak, ibu jujur ya, sebenarnya kami tidak setuju, jika sampai anak itu kalian besarkan. Akan banyak sekali resiko yang harus kalian tanggung, apalagi jika kalian sudah memiliki anak, kalian harus benar benar bersikap adil dan pintar dalam mendahulukan mana yang penting dulu. Ibu faham betul, pasti nak faishal akan menyetujui segala keinginan Sasha. Tapi jika Sasha sampai meminta yang tidak masuk akal, tolong kamu sadarkan dia, dia terkadang suka memutuskan sesuatu karena rasa empatinya sangat tinggi kepada orang lain. Apalagi kalo dia sudah bilang sangat menyayangi, dia kadang memutuskan sesuatu itu dengan tidak dipikir pikir dulu baik buruknya. Jadi ibu tolong ya nak, kamu lah yang lebih dewasa bisa membimbing sasha, agar tidak gegabah memutuskan sesuatu. Dan ibu berharap, jika orang tuanya sudah ditemukan serahkan saja sepenuhnya kepada mereka karena itu hak dan kewajiban mereka mengurus bayi itu. Agar kalian hidup lebih tenang, ibu tak enak hati dengan keluarga besar kamu nak, karena keinginan Sasha megurus bayi itu jadi merepotkan keluargamu nak. Maafkan Sasha ya." Ucap ibu Sutia penuh harapan kepada Faishal.


"Iya bu, pasti Faisal akan selalu ingat pesan ibu." Jawab faishal, ia jadi merenungkan sesuatu, menurutnya apa yang dikatanya ibu mertuanya tidaklah salah, walau ia pun juga mendukung niatan Sasha yang akan membesarkan Cilla jika orang tuanya tak ditemukan, walau bagaimanapun, berkat Cilla ia bisa lebih dekat dengan Sasha dan sampai menikah dengannya. Ia benar benar harus bijak dalam menyikapi segala hal yang akan terjadi dikemudia hari. Iapun belum begitu mnegenal sifat asli Sasha, dari penjelasan sang mertua, ia mulai mengetahui bagaimana sang istri dan mulai berfikir bagaimana menyikapinya nanti.


"ibu tidak bermaksud mencampuri keputisan kalian nak, tapi kami orang tua, yang sudah melalui banyak hal, sudah melihat banyak kejadian tak terduga daru keluarga lainnya. Kami hanya ingin kalian bahagia. Karena entahlah..... Ibu ada sedikit firasat tak enak, yang terus mengganjal di hati ibu. Tadi ibu coba bicara dengan Sasha, tapi sepertinya dia sangat sensitif nak, jadi ibu ajak kamu keluar." Ucap ibu Sutia


"Ga papa bu, saya justru senang. Tandanya ibu sudah nyaman dengan saya. Selanjutnya ibu jangan sungkan, apapun itu diobrolin aja ke saya pasti saya akan mendengarkannya bu." ucap Faishal membuat hati ibu Sutua menghangat. Ia semakin menyadari, mengapa sang putri bisa langsung menerima pinangan mendadak dari Faishal, tanpa drama penolakan, padahal mereka baru saja terkena masalah. Ternyata, sang putri benar benar jatuh hati pada Faishal. Ia jadi bersyukur menikahkan putrinya dengan orang yang tepat.


"Oiya nak, kita beli sesuatu ya, nanti Sasha curiga kita pulang tidak membawa apa apa." ucap ibu Sutia


"oiya bu, kita beli peralatan mandi saja, kebetulan memang belum sempet nyari tadi. Kita ke swalayan sana saja ya bu?" ucap Faishal


Mereka lalu keswalayan, dan membeli beberapa perlengkapan mandi.


.


.


.


.


"Lho nek, ibu pergi kemana? Kayaknya sudah dari tadi." Tanya Sasha yang mencari cari sang ibu.


"tadi itu ga tau mau cari apa, jadi faishal disuruh ngantar." ucap nenek, ia menjaga perkataannya agar jangan sampai keceplosan.


"iya nek ." balas Sasha

__ADS_1


Hari pertama kedatangan orang tuanya membuat Sasha amat bahagia, ia bersyukur semuanya sampai dengan selamat.


Sementara itu dirumah sang bunda, mereka sedang kedatangan tamu, yaitu Pak Harun yang akan mengambil sepeda motor milik sang anak yang diamankan dirumah.


"Monggo mas Harun, Diminum" Ucap Ayah saat teh hangat gula batu sudah tertata di meja dan gorengan serta cabe rawit yang menggoda selerapun hadir.


"Njih maturnuwun mas Agung, wah ini cocok mas, wedangan, saya dah lama ga wedangan mas, bojoku wong Jakarta, mboten tau wedangan." ucap pak Harun bersemangat melihat suguhan yang ia sukai.


"Hahahha, pokoknya mas Harun, kalo mau wedangan kesini saja mas." ucap ayah


"Mas! Ngapunten lagi ngedusi putuku iki." bundapun datang sambil menggendong Cilla membuat mata pak Harun terasa terkunci memandang bayi yang wajahnya mirip sekali dengan sang putri.


"mboten nopo nopo dek Ratna. Ini anak dari?" Tanya Pak Harun


"Oh ini anaknya Faishal." ucap bunda yang telah duduk disamping ayah.


"Lho bukane Faishal itu yang mau nikah? Apa bukan?" tanya Pak Harun, beliau jadi heran penuh pertanyaan.


"Ohh hohoho, leres mas, ini anaknya yang mau jadi manten, tapi gur pek pek an mas. Jadi mereka ngopeni bayi orang lain." ucap bunda tak ingin menyembunyikan identitas Cilla, dan semua keluarga sepakat tidak menutupi apapun dari Cilla.


"Oalah dek Ratna, maaf tak kira wes duda.Ngapunten, hehehe." Ucap Pak Harun tak enak hati dengan prasangkanya, jadi ia tak mau melanjutkan pertanyaannya meskipun masih ingin bertanya anaknya siapa yang mereka adopsi.


"Mirip to mas?" ucap bunda, ayahpun mengangguk angguk


"Maksudnya? Mirip Wulan to?" ucap Pak Harun karena iapun mengakuinya.


"Iya, kayak kembar" Sambung Ayah, pak Harunpun tersenyum namun dihatinya mencurigai sesuatu


"apa mungkin??? Ahhh bukan bukan, pasti bukan. " gumam pak Harun dalam hati


*****


Jangan marah ya readers, author lagi cari ilham nih, biar ga monoton ceritanya.


Menurut kalian bakal gimana ya kisah mereka selanjutnya......

__ADS_1


__ADS_2