Bayi Kita

Bayi Kita
37


__ADS_3

Faishal mengendarai mobilnya keluar area rumahnya. Hatinya dipenuhi rasa kesal, benar kata Aldo yang sehari sebelumnya telah mengatakan bahwa kemungkinan pertama Vivi akan kabur dan kemungkinan terburuknya eyang akan kambuh penyakitnya.


"Semoga eyang ga kenapa kenapa." desah Faishal ia melihat kanan kiri siapa tahu menemukan mobil yang dikendarai Vivi namun hasilnya nihil


Sementara dirumah Faishal...


"pah gimana??" ucap Mama Vivi penuh kekhawatiran melihat suaminya mondar mandir didepannya mencoba mendial nomor sang putri


"ga diangkat angkat sama Vivi, tapi HPnya masih aktiv, mas Agung gimana mas? Faishal dah ngabari?" ucap papa vivi ke ayah.


"belum gan." ucap ayah lesu dan masih mencoba menghubungi ponsel Vivi.


"gimana pah, hiks" Mama Vivi tak kuasa menahan air matanya, dan papa Vivi hanya menggeleng.


"Gung! apa salahnya to kamu sebagai ayah ngandani Faishal, terima saja perjodohan ini. Nak ngene iki, kepiye nak ada apa apa!" eyang berbicara kepada Ayah dengan nada tinggi


"pak, kami berdua ga mau memaksa anak anak pak, mereka sudah dewasa, biarlah mereka memilih pasangan yang mereka inginkan." Ucap bunda kepada eyang, berusaha mewakili sang suami yang lagi lagi mendapat perkataan ketus dari sang ayah.


"lah ini yang bapak ndak mau Ratna! gara gara kamu nikah sama Agung ga mau manut bapak, anak anakmu jadi ngeyel semua sama bapak, apalagi Aldo, blas! ra sopan nak karo aku!" eyang sudah tak bisa berbicara baik baik lagi dan selalu mengungkit ungkit masalah pernikahan ayah dan bunda yang awalnya tak disetujui eyang karena Ayah bukan dari kriteria yang diinginkan eyang.

__ADS_1


"pak, ampun ngeten niku (jangan seperti itu).... Ratna bahagia sama mas Agung pak, bapak bisa lihat kan sekarang hidup kami tak sesusah dulu." jawab bunda memelas, berusahan selalu tetap sopan walau eyang sering menyalahkannya serta ayah.


"lho buktine Faishal ra gelem manut nikah ro Vivi! piye didikanmu?!" ucap eyang emosi


"pak, mboten onten hubungane pak(ga ada hubungannya pak). Faishal mboten saget nikah kaloh Vivi mergane mboten sing di karep pak( Faishal tidak bisa menikah dengan Vivi karena tidak sesuai keinginannya), ampun duko kalih mas Agung pak (jangan marah sama mas agung pak)" om Edi ikut mencoba menjelaskan kepada eyang dengan bahasa yang halus, karena ia tidak enak kepada iparnya yang selalu disalah salahkan sang ayah, bukan hanya iparnya iapun tahu rasa ketidakenakan tersebut karena om Edi juga menikah dengan orang yang tidak dipilihkan eyang namun jalannya tidak serumit ketika Ayah yang meminang Bunda. Jadi hanya om Regan yang pernikahannya diatur oleh eyang sehingga Nia alias istri dari om regan sangat disayang dan dimanjakan oleh eyang.


"ora usah melu melu Edi! (ga usah iku ikut Edi), kowe yo podo wae ro Ratna gur ngeyel ro bapak! (kamu ya sama aja sama Ratna, suka membantah sama bapak)!" Akhirnya om Edipun kena semprot eyang.


"terus ini gimana??! Vivi belum ketemu hiks!" Mama Vivi tak tahan mendengar perdebatan didepannya ia ingin semua orang yang ada disana memikirkan nasib putrinya.


"Sabar Nia semoga Faishal segera ketemu ya nduk sama anakmu." ucap eyang yang terlihat sekali sangat memanjakan menantunya yang satu ini membuat bunda akhirnya melirik om Edi, mereka hanya bisa berbicara dengan mata mereka.


"mba Nia! tolong sopan sedikit sama mba Ratna, kalo semua emosi ga ada jalan keluarnya!" ucap edi yang tidak terima melihat iparnya menuding nuding sang kakak


"ini lho mba, sikap jenengan yang bikin Vivi ga dewasa, terlalu manja dan obsesinya harus dipenuhi!" lanjut om edi


"gan! berani kamu bilang gitu! iya memang aku ga becus ngurus anak! aku sibuk memulihkan usaha batik bapak biar ga bangkrut! semuanya demi bapak! kalian sama sekali ga mau bantu! aku juga capek ya ngurusinnya!" mama Vivi akhirnya mengeluarkan uneg unegnya, sedang sang suami hanya bisa diam tak mampu bicara apapun. Om edi tersulut emosinya


"mbak!!! koq segitunya toh mba! mba lupa apa cuma mas regan yang dikasih warisan sama bapak! kalo kami ga bantu kan itu dah jadi milik jenengan to mbak! kami juga ga pernah minta bagian, saya sama mba Ratna hidup dari jerih payah kami sendiri mba, kami ga pernah minta sedikitpun laba batik mba! kami sadar kami bukan anak yang penurut buat bapak! kami jiga sudaj faham betul hanya anak yang mau dijodohkan yang akan mewarisi harta bapak! kami ga minta sedikitpun mbak! haruse mbak nyadar!" om Edi benar benar tidak terima atas perkataan iparnya, karena memang usaha batik tersebut sudah diberikan seutuhnya kepada om regan, karena eyang selalu mengatakan bahwa harta warisannya hanya untuk anaknya yang penurut.

__ADS_1


Om regan memang sangat penurut, apa saja yang diinginkan sang ayah dituruti bahkan saat dijodohkan oleh Nia (mama Vivi) iapun menurut dan pernikahan mereka termasuk langgeng, karena mereka saling tertarik satu sama lain sejak pertemuan pertama perjodohan.


Dengan perilaku om Regan yang sangat penurut sehingga eyangpun melaksanakan hajatnya yang selalu eyang katakan kepada semua anaknya sejak kecil bahwa yang akan mewarisi harta dan seluruh usaha batiknya adalah anak yang penurut. Sedang om Edi dan Bunda terlihat legowo menerima hal itu justru mereka amat berterima kasih kepada om Regan karena bersedia meneruskan usaha batik sang ayah yang bisa dikatakan sudah sangat besar bahkan mereka sangat terkenal dijogja.


Om Edi dan Bunda tidak tertarik sama sekali dengan usaha batik sang ayah, mereka memilih melanjutkan sekolah keperguruan tinggi dan mencapai cita citanya, Bunda menjadi bidan dan Om Edi menjadi Guru. Beda dengan om Regan yang tidak berkeinginan kuliah karena ia amat frustasi jika harus banyak belajar. Sehingga lebih memilih membantu usaha sang ayah.


"tapi kan sama saja Ed! ini kan usahanya bapak!. kalian sama sekali ga peduli sama usaha ini!" ucap mama Vivi tak mau terpojok oleh kata kata adik iparnya.


"mbak! sadar mba! usaha ini dah jadi milik jenengan! kalo kami bantu nanti jenengan ngerasa kami akan merebut warisan inj, iya kan mba! mba pernah berprasangka seperti itu!" lanjut om Edi frustasi yang merasa kakak ipar tidak sama sekali berpuas diri dengan apa yang mereka peroleh, seluruh harta kekayaan eyang bahkan hanya mereka yang menikmati tetapi ketika usaha batik mulai menyusut bunda daa om Edi dianggap tidak peduli.


"sudah sudah! sekarang ini kita sedang khawatir sama Vivi tapi kalian malah bertengkar!" lerai bunda


"mbak! ini kan semua gara gara anakmu mbak!" mama Vivi balik menyentak bunda


"akh!!! ya Allah, hufth..... ya Allah!" eyang memegangi dadanya merasakan sangat sesak didadanya , keringat dingin mulai keluar dari dahinya, bunda, om regan dan om edi dengan sigap merengkuh sang ayah.


"pak!! bapak!!! ayah siapin mobil kita ke UGD!" Bunda memberi aba aba ke ayah


Om edi dan om regan membopong sang ayah menuju mobil yang sudah terparkir dekat dengan teras rumah. Bunda melakukan penyelamatan pertama dibantu om regan saat ayah melajukan mobilnya ke rumah sakit. Sedang om edi duduk disebelah ayah yang menyetir. Mereka membawa eyang menuju kerumah sakit terdekat yaitu GMC tempat dimana Faishal biasa praktek. Sedang di rumah mama Vivipun tak kalah kalut selain melihat sang mertua yang amat menyayanginya terkena serangan jantung didepannya, putrinyapun belum menunjukkan tanda tanda keberadaanya. Ia mondar mandir sambil menelfon Vivi tak kunjung diangkat meebuatnya semakin khawatir, menelfon faishal namun juga tak mendapat hasil, akhirnya menelfon Aldo untuk membantu mencari, namun Aldo sedang ada kegiatan sehingga tak bisa mejawab telfon.

__ADS_1


"duhhh gimana inih!" mama Vivi frustasi


__ADS_2