
Subuhpun tiba, semua keluarga Sasha berkumpul, sarapan bersama setelah sholat subuh. Ibu membawakan bekal untuk mereka agar tak kelaparan dijalan, padahal bisa saja Faishal berhenti di rest area lalu kekantin, namun ia menghargai usaha sang mertua yang telah dari jam 3 pagi menyiapkannya.
Bekalnya sungguh unik, nasi dibungkus dengan daun pisang dalam keadaan panas, konon tak akan basi hingga malam hari karena beras dimasak diatas kayu. Bahkan hangatnya akan awet. Ibu menyiapkan beberapa sambal dan lauk untuk dijalan, Sasha sungguh terharu, akhirnya ia merasakan kembali bekal buatan ibunya setelah kepulangan terakhirnya 2 tahun yang lalu.
"kak! sering sering telfon kita ya kak?hik hik" ucap Sinta lalu memeluk Sasha sambil menangis, Sari lalu mengikutinya.
"iya, kakak akan sering sering telfon, kakak pamit yah, jagain ayah dan ibu, belajar yang baik yah," ucap Sasha yang akhirnya ikut meneteskan airmata.
"ibu, Sasha pamit, ibu jaga kesehatan ya." Sasha beralih ke sang ibu dan memeluknya.
"iya nak, baik baik disana ya, ingat pesan ibu, jadilah istri yang baik, jangan malas, layani suamimu sebaik baiknya. Dan kuliah yang baik ya nak, anak ibu bisa kan?" ibu terisak sambil memeluk Sasha.
"iya bu, sasha janji, bakal kangen ibu, hik hik hik" Lama Sasha memeluk sang ibu lalu beralih ke ayahnya.
"Sasha pamit yah."
"iya nak, baik baik disana ya, besok kalo ada rezeki, ayah akan kesana." ucap Sang ayah sambil mengusap kepala sang putri.
"iya yah, Sasha tunggu, nenekkk!"
"iya cu, jangan nangis, sehat sehat disana yaa? ingat kasih nenek kabar baik, nenek pasti kesana kalo Sasha melahirkan." ucap Sang nenek lalu diangguki Sasha
Suasana pamitan yang begitu haru, membuat Faishal merasa bersalah, ia berjanji akan menyayangi sasha sepenuh hatinya, tak akan menyakitinya. Sekarang giliran Faishal yang berpamitan, nasihat demi nasihatpun didapatkannya, ia merasa sangat senang ternyata keluarga Sasha memang orang yanh sangat perhatian.
"Nak Faishal, jangan lupa pesen nenek, buatin cicit yang banyak." Ucap nenek
"hahaha iya iya nek, nanti Faishal kasih yang banyak. Iya kan Sha?" ucapnya sambil merangkul bahu Sasha.
"neneeeek, itu aja yang didinget." Sasha tersipu, sang nenek selalu mengingatkan point tersebut berkali kali.
"nenek sudah tua nak, tinggal menunggu cicit, baru Sasha cucu nenek yang menikah." ucap sang nenek sambil tersenyum dan menepuk nepuk lengan Sasha
"iya nek tunggu kabar baik dari kita." jawab Sasha
Mereka semua selesai berpamitan, tak lupa sari dan sintapun memeluk Fitha yang beberapa hari ini sudah lengket dengannya. Lalu Faishalpun disalami terakhir menyalami Aldo.
"kak janji ya kalo kita kesana diajakin jalan." ucap Sari yang telah dijanjikan banyak hal oleh aldo
"iyes! kesana dulu deh, nantu bakal puas mau main kemana aja, disana ada SunMor* lho, temoat jualan barang unik besok kakak ajak kesana deh pasti kalian betah."
__ADS_1
SunMor adalah pasar minggu pagu yang ada disepanjang jalan tepatnya didepan masjid kampus UGM, dimana banyak sekali penjual yang menjajakan banyak barang unik dan murah.
kl Sari langsung sumringah, ia bahagia dan berharap segera dapat menyusul kejogja.
Mereka berempat masuk ke mobil dengan Formasi yang Sama, Faishal dan Aldo didepan dan Sasha serta Fitha dibangku kemudi. Tiba tiba ada yang menggedor pintu
"Fith!" dengan suara terengah engah
"Riyan!" Fitha dengan cepat meminta Aldo membuka jendela dari kendali kemudi karena sentralock.
"Fitha! ini buat kamu jangan lupa telfon aku yah." ucap Riyan sambil memberi sebuah kotak.
"iya, makasih Riyan, nanti aku telfon kamu, aku pamit yah." Ucap Fitha sendu, tiba tiba ia menjadi terhenyuh lalu tangannya diraih Riyan, perlahan Riyan melepas tangan Fitha karena mobil mulai melaju, Riyan mengikuti mobil sampai ujing jari Fitha terlepas. Lalu ia melambaikan tangannya , Fithapun megeluarkan kepalanya sambil melambaikan tangan hingga Riyan tak terlihat lagi.
"Nanti ditelfon Fith, ga usah sedih." Ucap Sasha yang melihat wajah sendu Fitha.
Aldo yang biasanya selalu mengomentari seluruh perilaku Fitha, kali ini dia diam saja. Entah apa yang ia rasakan, ia hanya fokus kedepan, sambil menyetir. Faishal melihat sang adik jadi tersenyum, jelas terlihat dimatanya ada sebuah kecemburuan, namun ia tak mau mengakuinya.
Mereka menempuh perjalanan dengan lancar. Saat dikapalpun tidak terlalu banyak antrian. Sasha menikmati laut sambil tersenyum, ia tak menyangka dua kali menyeberangi selat jawa dengan status yang sudah berubah.
" Mas? Fitha sama Aldo mana?" Tanya Sasha saat Faishal menghampirinya lalu memeluk pundaknya.
"tumben sih."
"sha " ucap Faishala lalu melingkarkan tangannya diperut Sasha
"hm? tapi mas jangan gini, aku malu dilihatin orang orang." Sasha melihat kekanan kiri ternyata beberapa ibu yang juga ada disekitar mereka sedang memperhatikan mereka sambil senyum senyum.
"kenapa?" tanya Faishal yang makin mengeratkan pelukannya.
"dilihatin tuh." Sasha risih dengan pandangan sekitarnya, akhirnya ia melepaskan pelukan Faishal, lalu agak menjauhinya.
"tuh kan jauh." ucap Faishal dengan wajah kecewanya namun terkesan imut sekali bagi Sasha.
"Hahaha, kan masih sebelahan." Jawab Sasha, lucu akan sikap Faishal yang mulai hanya ingin menempel padanya.
"ya udah peluk tangan aku aja, plis...... nanti kamu dikira gadis, belum ada yang punya." Faishal menarik tangan Sasha lalu memintanya memeluk tangannya.
"ya udah." Akhirnya Sasha mengalah
__ADS_1
"nah gitu donk, kan biar pada tau kamu istriku." Ucap Faishal senang
"yakin dikira suami istri?" Tanya Sasha
"trus apa?" tanya Faisal bingung
"yuh tadi ibu yabg disebelah bilang kalo anak jaman sekarang pacarannya lengket kayak perangko." jawab Sasha lirih takut ibu ibu yang tadi membicarakannya mendengar.
"biarin, kan kita emang baru aja pacaran." ucap Faishal santai
"ssst, nantu dikira pacaran beneran, merrka mana tau kita dah nikah." ucap Sasha sambil mengerucutkan bibirnya melihat Faishal terlalu santai menanggapi perkataan orang lain, sedangkan Sasha sebenarnya tak ingin mengumbar kemesraan didepan umum, dan iapun sebenarnya masih canggung berdekatan dengan Faishal, ia butuh waktu agar lebih nyaman bersentuhan dengan Faishal.
"iya istrikuuuu." ucap Faishal sedikit keras agar ibu sebelahnya mendengar, Sasha jadi geleng geleng kepala.
"ga nyangka ya minggu kemarin kita masih ga jelas, aku kira bakal nganterin kamu pulang dan ga akan kembali kejogja, sekarang aku dah bawa pulang kamu kejogja buat hidup selamanya sama aku Sha, makasih yah, semoga kita selalu langgeng sampai akhir hayat." Ucap Faishal lalu mengecup tangan Sasha, sasha tersenyum malu dibuatnya.
"aku juga mas, ga nyangka akan kembali kejogja untuk tinggal disana."
"kamu seneng kan?"
"iya" jawab Sasha tersenyum, Faisal lalu menyentuh kepalanya
"tapi mas, ada perasaan cemas, aku ga tau bagaimana menghadapi keluarga besar kamu yang disana, terutama Vivi, aku..."
"sssttt, kamu lihat kan? aku dah berani mengambil keputusan melamar kamu, karena memang ini yang aku inginkan, cuma kamu satu satunya Sha, Bunda dan Ayah juga ada dipihak kita, kamu jangan khawatir yah?"
"entahlah mas, makin dekat kejogja rasanya makin gelisah. Ada rasa bersalah mas, kalo aku jadi Vivi pasti sakit banget rasanya." ucap Sasha sendu
"tenang yah, kita hadapi bersama besok, yang harus kamu yakini, aku ga akan pernah melepaskan genggamanku ini. Yaudah masuk yuk, tuh Fitha dah nyari kita." Faishal mengajak Sasha masuk ke kabin kapal karena terlihat Fitha melambaikan tangannya sambil menubjikkan dua cup pop*mie yang ia pesan untuk Faishal dan Sasha.
*******
Tunggu mereka dijogja yahhhhhh
Nanti kita sambung lagi
love you readers semuanya
sehat selalu yaaaaa
__ADS_1