
"heyy berdua! ga kasian apa sama yang jomblo. jadi..... Astaga!" Fitha tiba tiba terkejut melihat kearah pintu, ia menarik narik kaos Aldo yang masih menunduk mengambil poselnya dibangku kemudi. Aldo langsung reflek melihat Fitha, dengan insyarat matanya Aldo langsung melihat kearah yang dituju Fitha. Ia seketika menggigit bibirnya.
Deg!
Ternyata Sasha dan Faishalpun sudah menyadari ada sosok yang tak mereka harapkan kehadirannya disana, reflek Sasha menepis tangan Faishal lalu menjauh darinya dan berbalik menatap Aldo yang ada dibelakangnya.
"Do! temenin aku keswalayan yuk" Ucap Sasha dengan nada bergetar, Faisal lalu menarik tangan Sasha lalu mengeratkannya genggamannya, memberi isyarat bahwa semua akan berlalu dengan baik. Sasha menatap Fitha meminta sarannya.
"kita masuk bareg bareng." ucap Fitha yanh diangguki Aldo
"kamu percaya sama aku kan?" ucap Faishal
"iya..." ucap Sasha lirih, ia tetap tak yakin akan bertahan dengan baik.
Vivi dengan amarahnya berlari kearah Faishal dan Sasha lalu menghempaskan genggaman tangan Faishal dijemari Sasha.
"jelasin! kalian berani beraninya depan aku! depan ayah bunda kayak gini! kak! Vivi ini kakak anggap apa?! trus KAMU! ga malu kamu! kamu kan yang janji bakal jauhin kakak!" Vivi menunjuk nunjuk pipi Sasha dengan keras, lalu ditangkis oleh Faishal, Sasha hanya diam, ia sudah berkaca kaca. Dalam benaknyabia akui apa yanh dikatakan vivi benar adanya, Sasha merasa dirinya benar benar pelakor.
"Jangan kasar! kami sudah menikah! jadi jangan pernah mengusik kami lagi." Ucap Faisal lalu menarik Sasha agar segera masuk kedalam rumah.
"Apa!!!! menikah apanya kak! kita kan masih tunangan, kakak jangan bohong, kakak tunggu!" Vivi bergegas mengikuti Faisal masuk kedalam rumah.
Fitha menjadi sedih melihat sahabatnya terluka.
"Fith kita masuk dulu, ntar barang barang lo gue yang ambil." Aldo merangkul pundak Fitha membawanya kedalam rumah.
"sayang kamu ga kenapa kenapa?" ucap Bunda prihatin melihat Sasha yang wajahnya sudah sangat gelisah.
"gapapa bunda." ucap Sasha, ia meraih tangan bunda dan menciumnya lalu beralih ke ayah.
"bawa masuk dulu kak" ucap Ayah lembut
"iya yah. Ayo kita kekamar aja." ucap Faishak mendorong Sasha yang terlihat sangat berat utnuk masuk kedalam rumah.
Faishal membuka pintu kamarnya lalu membawa Sasha masuk kedalamnya, lalu menguncinya dari dalam. Sasha lalu duduk pinggiran ranjang ia sudah tak tertahankan ingin menangis. Akhirnya jatuhlah airmatanya.
"Sayang...? jangan khawatir, semua akan kita selesaikan dengan baik, tolong, percayakan ini semua sama aku yah?" Faishal duduk didepan Sasha lalu memeluknya.
"mas, aku benar benar jahat mas, aku merebut kamu dari dia." Sasha terisak, ia sesenggukan sambil berbicara
"Sha, aku ga pernah mencintai dia, kamu kabahagiaan aku satu satunya, aku cuma ingin kamu jadi istri aku Sha, tolong jangan berfikir seperti itu, aku memang salah, harusnya aku mengakhirinya secepatnya, namun aku belum diberi kesempatan untuk itu. Tolong kita saling menguatkan agar persoalan ini segera berakhir yah, kamu dikamar dulu aja, aku keluar dulu." Sasha belum mau melepaskan Faishal, hatinya benar benar kacau saat ini.
Dak dak dak dak!!!
Suara pintu kamar Faishal digedor degan keras oleh Vivi.
__ADS_1
"kak!!! vivi ga percaya kalian menikah! kak!! bukaaak!! kalian bohong!! kak!!!! tega kalian gini!! hik hik hik." Vivi menangis tersedu sedu, ia amat terluka, ia masih tak percaya semua yang dikatakan Faishal. Ia percaya jika tunangannya tersebut bukanlah laki laki yang akan menghianatinya.
Krieet...
"kak! hik hik, kakak bohong kan?" Vivi masih mengiba lalu ia langsung merangkul Faishal, faishal terkejut ia mencoba melepaskan pelukan Vivi, Faishal amat risih mendapat perlakuan tersebut.
"vi!! lepasin! lo ga denger kakak bilang apa? nih lihat HP gue! lihat!" Aldo menarik pundak Vivi lalu menunjukkan foto pernikahan Faishal dan Sasha yang disana juga ada bunda dan ayah yang mendampinginya.
Vivi perlahan meraih HP Aldo dilihatnya dengan seksama sesuatu yang ia sama sekali tak mempercayainya. Iapun menangis hingga tak bersuara, hanya sesenggukan menandakan hatinya amat hancur.
"kenapa kalian jahat banget sama aku..." ucapnya lirih sambil sesenggukan, bunda jadi iba melihatnya.
"Vivi sayang, kita duduk dulu yah, Fith! bunda tolongin ambilin minum yah sayang." Ucap bunda, fitha langsung kedapur dan mengambil gelas, bunda membawa Vivi yang masih dengan tangis pilunya bahkan badannya yang sudah lemas keruang TV.
"bun, bohong kan ini?" ucapnya, ia merangkul bunda dengan erat, bundapun menepuk nepukkan tangannya dengan lembut kepundak Vivi. Pundak bunda menjadi basah, namun terasa hangat oleh air mata Vivi yang tak kunjung mereda.
"vivi ga mau bun, vivi mau nikah sama kakak." Suaranya kini serak, namun tangisnya belum reda jua.
"Vivi, maafkan kami." ucap Ayah yang duduk didekat mereka.
"gak yah, jangan bilang maaf, Vivi ga mau denger ayah bilang maaf, hik hik, itu berati semua ini beneran, vivi ga mau denger." ucapnya tangisnya makin menjadi.
"nih vivi minum dulu biar tenang." Bunda neraih gelas yang disodorkan Fitha, lalu membantu Vivi meminhmnya layaknya sang ibu sednag memberjkan minum ke anak batitanya.
"sebelumnya aku minta maaf, harusnya aku akhiri semua ini sedari awal, kamu tahu kan aku melakan pertunangan ini karena terpaksa, aku ingin bahagia Vi, dengan pilihanku sendiri, tolong kamu.....bisa mengerti." Ucap Faisal lirih, ia menautkan kedua tangannya lalu menunduk, merasa bersalah? jelas, ia sangat merasa bersalah, harusnya ia menolak sedari awal agar tak bertunangan dengan Vivi, namun keadaanya justru tidak memungkinkan.
"apa kakak sama sekali ga mencintaiku?" tanya Vivi, ia memastikan sekali lagi perasaan Faishal kepadanya, lalu Faishal menggeleng, membuat Vivi,semakin tersedu sedu kini ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" bunda, bunda ga sayang sama Vivi? kenapa bunda ga mau Vivi jadi menantu bunda?" Ia mengalihkan pertanyaannya kebunda, bunda jadi semakin iba kepadanya.
"bunda sayang bangat sama Vivi, kamu dah seperti anak buat kami sayang."
"bunda bohong, kenapa bunda milih perempuan itu!" ucapnya sambil sesenggukan air matanya yang sempat terhenti, kini mengalir lagi.
"Vi, bunda milih Sasha bukan berati bunda ga sayang sama kamu, tapi bunda ingin kakak menikah dengan orang yang benar benar ia inginkan, kalo pertunangan kalian tetap dipaksakan, akan menyakiti keduanya, Faishal akan sakit karena harus menikahi wanita yang tidak ia inginkan, , sedangkan kamu juga pasti akan menderita sayang, kamu pasti akan kesepian. Bunda justru sedih lihat seperti itu." ucap bunda sehalus mungkin agar Vivi lebih mengerti.
"tapi vivi yakin bun, Kakak akan mencintai vivi suatu hari nanti." ucap Vivi masih dengan egonya, membuat Faishal mengempaskan nafas beratnya.
"vi, coba terima yah? kalian bukan ditakdirkan bersama. pasti Vivu nanti diberi jodoh yanh baik dan sangat mencintai Vivi" ayah menimpali
"..... vivi ga akan pernah melepaskan pertunangan ini, sampai kapan pun!" Vivi berdiri lalu tanpa berpamitan ia keluar rumah dengan langkah yang cepat, airmatanya masih mengalir.
"Do! sana susulin ,bunda khawatir kayak kemarin." ucap bunda cemas
"ck males banget deh ngurusin tuh anak, yaudah ya bun Aldo keluar dulu." Aldo langsung berlari menyusul Vivi, sedang Faishal menghempaskan kepalanya disandaran kursi lalu ia terpejam.
__ADS_1
"Kak! kamu jangan terlihat depresi, ingat! ada Sasha yang harus kamu jaga hatinya. kamu kan yah sudah meminta Sasha bersandar sama kamu." ucap bunda
"iya kak, sana temui Sasha, beri dia kenyamanan. Ayah mau keluar dulu lihat mereka." Ayah beranjak dari duduknya lalu keluar rumah.
"kakak ke kamar ya bun."
"iya nak, yang tenang."
.
.
.
.
.
"Lepasin ga!" Vivi mencoba melepaskan cengkraman Aldo dilengannya.
"awas, kalo lo macem macem kayak kemaren, pakek masuk rumah sakit segala, nyusahin orang tauk, kita dah pada ga mempan kamu kasih trik kayak gitu." ucap Aldo sinis lalu melepaskan tangannya
"bukan urusan kamu! minggir!" Vivi masuk ke mobilnya lalu mengendarainya, Aldo dari luar mobil masih berteriak kepadanya
"awas kalo lo ngebut!" ucap Aldo penuh emosi namun tak diindahkan oleh Vivi.
Aldo memperhatikan dengan intens kemana arah kepergian Vivi, lalu sedikit lega karena Vivu tidak menjalankan mobilnya dengan kencang. Ia berharap semoga saja tak terjadi apapun dengan sepupunya yang paling menyebalkan menurutnya.
.
.
.
.
Vivi melajukan mobilnya keswalahan yang baru baru ini menjadi tempat favoritnya, selain disediakan temoat nongkrong, swalayan ini merupakan swalayan 24 jam, dan pastinya banyak pemuda yang stay disana dengan laptopnya menikmati fasilitas Wifi disana.
Vivi membeli makanan yang membuatnya menghilangkan depresi, yah seperti yang kita ketahui, pemudi cantik ini akan menghilangkan rasa resahnya dengan menyantap makanan pedas dan minuman yang asam, serta beberapa makanan lainnya yanh memiliki rasa yang kuat. Tiba tiba......
***********
siapa tuh???
semoga vivi ga bikin ulah lagi yah....
__ADS_1