
Mereka akhirnya bermalam dirumah Aldo, para laki laki tidur dikamar Aldo dan Fitha tidur dikamar tamu yang sudah disiapkan. Bunda dari Aldo begitu bahagia saat malam hari ditemani Fitha memasak walau Fitha tak bisa membantu apapun karena tidak pernah memasak. Selesai makan tengah malam mereka akhirnya tidur.
Keesokan paginya.....
"dah beres semua kan Sha?" tanya Fitha yang pagi itu telah menjemput Sasha bersama Aldo.
"udah koq, yuk cus." ucap Sasha yang sudah menggendong Cilla dan barang bawaan sudah dimasukkan ke mobil oleh Aldo, Faishal dan Fitha.
" mba tika, mas Faishal, dokter Alman makasih ya, kedepannya jangam bosen ya kalo Sasha ngerepotin lagi." ucap Sasha dengan sopan.
"iya mba Sasha kalo butuh konsultasi langsung aja telpon dokter Faishal atau wa saya boleh kan kita sudah tukeran nomor." balas Tika yang sudah membersamai sejak subuh karena ia juga mendapat shift malam sehingga menyempatkan diri ke Paviliun.
Merekapun pamitan, semua yang disana disalami oleh Sasha. Tiba giliran akan menyalami Faishal namun Faishal langsung membelai kepala cilla lalu mengecup kepala cilla.
"nanti ayah tengokin yah." ucap Faishal lembut kepada cilla
"baik baik yah." ucapnya lagi ke Sasha lalu diangguki oleh Sasha
"iya mas makasih" ucap Sasha dengan senyumannya yang lembut.
"meleleh gue lihat mereka do." bisik Fitha ke Aldo
"Sama, semoga jodoh deh mereka." Aldo pun merasa teraebtuh nelihat sang kakak yang bersikap hangat kepada Sasha.
Aldo melajukan mobilnya.....
"lho do! kita mau kemana?" tanya Sasha yang heran kenapa arah perjalanan mereka sepetinya berlawanan arah menuju kos kosan.
" nanti juga tau koq." Fitha akhirnya yang menjawab lalu ia memalingkan wajahnya kearah Aldo terlihat sangat gelisah. Aldo pun menepuk nepuk tangan Fitha menyakinkannya bahwa tidak akan terjadi apa apa. Saat itu Fitha memilih duduk didepan bersebelahan dengan Aldo.
" Tapi... kasian cilla lho kalo dibawa kemana mana dia baru berumur 4 hari." ucap Sasha khawatir
__ADS_1
" nanti kita jelasin." Aldo mencoba menenangkan Sasha yang terlihat bingung.
" kalian aneh deh dari kemaren, kalian nyembunyiin sesuatu kan dari aku." ucap Sasha kecewa yang merasa teman temannya tak mau berbagi cerita dengannya.
Aldo da Fitha hanya bisa diam saja hingga akhirnya mobil berhenti disebuah rumah sederhana minimalis terlihat sangat asri dan terawat. Rumah tersebut ada di area perumahan, berukuran tipe 36. Cukup dihuni keluarga kecil, namun lumayan besar bagi Sasha dan Fitha untuk menempatinya.
"rumah siapa ini?" tanya Sasha
" nanti juga tau yuk masuk dulu yang lain dah didalem." ucap Fitha sambil merangkul bahu Sasha menuntunnya kedalam rumah.
Sasha terpesona, rumah ini terlihat sangat indah walau bukan rumah yang besar. Namun sangat terawat, model minimalis, furniturenya sangat simple namun bisa ia taksir harganya tidaklah murah.
Beda jauh dengan rumahnya di kampung halamannya, walau lebih besar dari rumah ini namun tidak terawat dan suram, yah karena jarang sekali keluarganya dapat membeli cat rumah, bisa bertahun tahun tidak dicat. Rumah itupun dibangun sedikit demi sedikit oleh orang tuanya dan furniturenya pun hanya kursi rotan yang sudah berumur serta lemari yang sudah turun temurun.
" kenapa kita kesini? kenapa semua barang barang diturunin?" Sasha sangat bingung
"gini Sha, kita tinggal disini dulu ya untuk sementara sebelum kita ketemu kontrakan." dengan wajah yang tak bisa didefinisikan Fitha mencoba mengatakannya
"lho kenapa Fith?!" Sasha mengeryitkan dahi dia bingung, dilihatnya satu persatu sobatnya namun semuanya menunduk.
"jelasin! kalian aneh tauk dari kemaren!" Sasha meminta penjelasan rekannya hatinya mulai merasa ada yang tidak beres.
Fita menatap teman temannya yang lain, lalu mereka mengangguk memberi isyarat agar Fitha langsung saja menceritakannya. Aslinya Fitha amat sulit mengatakannya takut Sasha bersedih jika mereka diusir.... tidak! lebih halus dari di usir karena ibu kos tidak meminta mereka meninggalkan kos dengan kasar.
"kamu tenang yah aku ceritain......" Fitha menceritakan semuanya dan yang ditakutkan Fitha benar benar terjadi, seketika wajah Sasha menjadi murung.
Sasha jadi banyak berfikir terutama biaya, karena biaya kos dan sewa kotrakan jauh berbeda, ditambah dia juga harus memikirkan menghidupi bayinya agar dapat bertahan. Dia tak mungkin meminta tambahan uang bulanan ke ortunya. Dia pun tak ingin Fitha ikut menderita karna keputusannya merawat bayi ini. Dia yang memutuskan untuk mengambil tanggung jawab penuh menjadi orang tua sang bayi. Belum lagi biaya rumah sakit kemarin. Walau dia tau dia tidak diperbolehkan membayar sepeserpun oleh Faishal namun ia merasa berhutang banyak. Sempat sebelum pulang Sasha menanyakan biaya administrasi perawatan bayi diRS ternyata sangat besar karena mereka menempati paviliun namun saat Sasha menanyakan batas pembayarannya, pihak rumah sakit mengatakan bahwa semuanya sudah diselesaikan oleh Dokter Faishal membuat Sasha tidak enak hati. Apalagi Faishal sama sekali tidak mau diganti bahkan mengancam akan membenci Sasha jika ia tak menerimanya, sungguh membuat Sasha terbebani.
Fitha berusaha keras menenangkan Sasha yang mulai terlihat gelisah, ia faham betul aoa yang difikirkan sohibnya ini.
__ADS_1
" Sha kamu ga sendiri, kita semua bakal bantu kamu." ucap Fitha semuanya pun mengangguk menguatkan
"kalian dah banyak banget bantuin aku. Aku belum bales apa apa."
"kita kan sohib Sha, jadi ga da namanya pakek bales bales siapa yang bisa bantu harus bantuin, semua beban kalo dipikul bareng bareng bakal ringan Sha." ucao Bastian bijak
Sasha tak kuasa menahan tangisnya, ia ingat semua hal yang telah dilakukan sohib sohibnya ini, dari membelikan makan siang, membantu berobat, antar jemput dan banyak hal. Untungnya Cilla tidur dengan nyenyak saat itu, sehingga ia tidak rewel dan bisa ditidurkan di sofa yang ada disebelah Sasha.
"makasih ya." suara Sasha bergetar, hafizpun mendekatinya lalu menepuk nepuk pundaknya memberi kekuatan. Fitha pun memegangi tangan Sasha menyalurkan energinya agar sasha tetap merasa bahwa ia aka selalu bersamanya.
"Kita berdoa aja semoga orang tua cilla ketemu. Jadi sementara ini kita saling bantu yah." ucao bastian.
"dah sekarang karena hari ini ga ada kuliah kita beres beres aja yuk." ucao Aldo mencoba memberi semangat kembali keteman temannya
"Bentar ini rumah siapa?" Tanya Sasha
"ini rumah kak Faishal." ucap Fitha
"Hah?!" Sasha tak menyangka ia bakal berhutang lagi kepada Faishal
" iya sha, awalnya gue mau ngajak kalian tinggal dirumah gue aja, tapi Fitha ga mau dan mestinya lo juga ga mau. Padalah bunda ga masalah. Jadi karena kita ga mungkin cari kontrakan secepat itu akhirnya bunda yang nyuruh kita kesini. Rumah ini ga pernah dipakek sha. Sekali kali aja kalo Kakak gue lagi kepingin gitu, ini rumah yang dibeli kakak dari gajinya sendiri cuma buat properti aja. Aslinya kakak lebih suka tinggal sama bunda. Jadi Santai aja." jelas Aldo
"Tapi mas Faishal tahu ga? aku harus minta izin dulu lah ga enak aku." tanya Sasha
" tenang Kakak gue malah seneng banget dia lo mau disini."
"Mas Faishal dah tau?"
" ya udah lah, tadi malem bunda langsung telpon dia trus langsung deh diizinin, malah kakak bilang kalian ga usah cari kontrakan dah disini aja, anggep aja bantuin dia jagain rumah ini."
" Ga ah do, kita tetep harus cari kontrakan, jangan buat aku makin terbebani. Aku belum tentu bisa membalas sebesar bantuan ini." Ucap Sasha
__ADS_1
"koq mas faishal ga bilang apa apa ya tadi?" gumam Sasha dalam hati karena Faishal tidak mengatakan apapun padanya, padahal keemyataannya Faishal dengan suka cita membolehkan Sasha tinggal disana sehingga memudahkan ia mengunjungi Sasha dan Cilla tanpa harus cari banyak alasan karena datang kerumahnya sendiri.