
"Mas!" Sasha menarik lengan baju Faishal ketika ingin keluar. Faishal tertegun, jantungnya berdebar kencang. Ia sepenuhnya sadar telah membuat Sasha gusar akan kata katanya
"iya Sha?" Faishal menoleh ke Sasha didapatinya Sasha yang matanya berkaca kaca ia jadi tak enak hati telah membuat Sasha gusar.
"maafin yah, maaf atas segala yang membuat kamu ga tenang." Sasha berbicara dengan suara tercekat, ia yakin jika telah membuat Faisal terluka jika tidak, tak mungkin kan Faishal akan mendiamkannya serta terlihat murung, walau entah apa yang telah ia lakukan, ia sungguh tak tahu apa apa.
"aku yang maaf, ga bisa jujur, aku janji hari ini terakhir dan ga akan minta apa apa lagi ke kamu Sha. kamu bisa mengerti kan? kamu ga salah koq cuma memang ini bukan waktu yang tepat. Suatu hari nanti mungkin kamu akan tahu dan aku berharap saat kamu tahu itu kamu sudah bahagia." Faishal mencoba tersenyum ke Sasha, senyum yang ia paksakan.
Sasha hanya bisa diam saja, sudahlah jika memang dia tak berhak tau. toh itu bukan urusannya lagi, ia gak sedekat itu dengan faishal sehingga ia tak boleh egois ingin tahu segalanya dari faishal. Sasha mencoba menjernihkan fikirannya, ya ia pedomani adalah kata kata yang faisal ucapkan bahwa ia tidak salah. Berati Faishal hanya berperang dengan dirinya sendiri, walau ia yakin 100% bahwa dialah salah satu penyebabnya. Akhirnya Sasha menyerah, ia keluar dari mobil, menuju kerumah, lalu dibukanya pintu rumah. Disana masih sepi, tampaknya Fitha belum kembali, mungkin nanti malam pikir Sasha.
Faishal menurunkan barang barangnya. Lalu menyusul Sasha kerumah, ia kembali lagi kemobil membawa sebuah kotak kecil, berisikan sebuah kalung yang cantik yang sudah dikemas seindah mungkin. Sasha keluar dari kamar setelah meletakkan Cilla yang sudah pulas. Lalu menghampiri Faishal, saat ini ia sudah menormalkan hatinya, untuk menghadapi Faishal. Dilihatnya wajah faishal tak semurung tadi.
"Sha duduk sini." Faishal menepuk sofa yang ada disebelahnya, Sasha menurut lalu duduk disana.
"iniii, buat kamu."
"ini??"
"terima yah" Sasha dengan ragu meraih kado tersebut.
"beneran buat aku?"
"iya" faishal mengangguk lalu tersenyum
"Tapi.."
"ssst, dibuka aja." Faishal meletakan telunjuk dibibirnya,
Sasha membuka kado, ia terkesima ternyata kalung cantik yang sempat ia lihat di keranjang belanjaan Faishal yang ia pikir buat bunda atau Vivi ternyata diberikan kepadanya.
__ADS_1
"wah cantik banget, makasih ya mas aku pasti akan menjaganya dengan baik, tapi ini untuk apa?." ucap sasha senang
"itu buat kenang kenangan aja, ucapan terima kasih dari aku, hari ini sungguh menyenangkan, makasih kamu sudah mau menerima kado ini, kalo kamu ga keberatan dipakek terus yah."
"iya." Sasha mengangguk dan tersenyum lalu meletakkan kado tersebut dimeja.
"makasih ya sha buat hari ini." ucap Faishal
"aku juga makasih mas sudah banyak ditraktir hari ini, pasti ga akan aku lupakan." ucap Sasha, ia menatap Faishal, Faishalpun membalas tatapannya. Mereka akhirnya saling tatap beberapa saat lalu sama sama menundukkan pandangan dan tersenyum.
"untuk pertama dan terakhir." ucap faishal dengan tersenyum semanis mungkin padahal hatinya sedang meringis, bisa bisanya ia mengatakan yang berlawanan dengan hatinya.
"kan masih bisa ketemu."
" iya ya hehehe." ucap Faishal, lalu ia menatap intens Sasha, tangannya tergerak, ingin sekali rasanya membelai rambut Sasha, atau kalo boleh nglunjak ingin sekali ia membawa Sasha dalam dekapannya, namun ia turunkan kembali tangannya.
"aku pamit, baik baik dirumah ya." Faishal berdiri
"iya makasih." ucap Sasha yang kemudian mengantar Faishal ketempat dimana mobilnya diparkirkan.
Faishal melaju dengan mobilnya, Sashapun masuk kerumah. Tapi mata mata cantik penuh selidik tlah menatap mereka dari tadi.
"Tuh bu, lihaten kayak orang kasmaran to? wah wah makin jelas bu makin kesini."ucap bu Tini
"tinggal nunggu wae kita bu."
" Iya bener bu"
Ternyata para biang gosip sudah berkumpul, setelah mendapat vitamin gosip merekapun pulang.
__ADS_1
**********
Hari hari berlalu, dengan kesibukan mereka masing masing. Sempat bastian dan Aldo bolak balik magelang untuk menanyakan perkembangan kabar orang tua Cilla namun hasilnya nihil. Mereka berniat kembali lagi kesana setelah Cilla berumur 3 atau 4 bulan jadi sudah bisa dibawa perjalanan jauh. Siapa tau dengan membawa Cilla orang tua sang bayi akan muncul.
Fitha beserta teman teman lainnya sedang sangat sibuk menyiapkan pergantian pengurus HIMA baru sehingga mereka lebih sering kekampus bahkan sampai malam hari. Sasha sebenarnya tidak enak jarang bergabung namun rekan rekannya mampu membantu Sasha menyelesaikan laporan akhir kepengurusan karena Sasha adalah bendahara. Terkadang sasha mampir ke HIMA jika Fitha dapat bergantian menjaga Cilla dirumah.
"Sha, gapapa kan kamu kita tinggalin terus? seminggu inu lah sha, sekalian hunting kontrakan lagi, kemarin dah dapet yang lumayan miring sewanya dan bersih tempatnya, iya kan Bas?" Ucap Fitha
"iya tapi bulan depan tanggal 2 atau 3 baru bisa kita sewa soalnya masih ada yang ngontrak." sambung bastian
"pas koq waktunya. Kan aq kemaren janjinya cuma 3 bulan." ucap Sasha sambil menimang nimang dan menciumi dengan gemas Cilla yang sedafi tadi tidak mau tidur siang.
"yah Sha sebenernya gapapa kali kalian disini, bunda aja bilang boleh pakek selama apapun." Ucap Aldo lesu, ia sebenarnya kasihan jika mereka harus pindah dan pastinya akan bayar sewa, jika dirumah ini maka mereka tak perlu memikirkan bayar sewa.
"kita ga enak do, nanti kalo sewaktu waktu Mas Faishal mau pakek atau mungkin bakal menikah diwaktu dekat, pastinya istrinya akan tinggal disini." Ucap Sasha
"sama siapa emang, dia mah susah kalo ma cewek, baru kamu cewek yang pertama kali jalan berduaan aja sama kakak." Ucap Aldo santai sambil mengunyah cemilannya, namun hal itu membuat Sasha mencelos atinya.
"pertama dan terakhir yang bener do." ingin rasanya Sasha mengucapkannya, namun hanya mampu dalam hati, karena ini jelas ungkapan kekecewaan.
"iya ga enak ah do, lagian kita dah siap uang sewanya, kmrn sisa uang kos masih ada, trus aku jual hasil disainku kemaren lumayan, plus Sasha juga lumayan dapet dari hasil les privat." ucap Fitha yang tiba tiba merebut chamilan dati tangan Aldo.
"ish! buka sendiri punya lo!" ucap aldo dengan wajah ngambeknya
"enakan ngerebut punya orang, hehehehe." Fitha membalasnya sambil menikmati chamilan.
"bilang aja males buka bungkusnya." Aldo mengambil satu bungkus lagi jajanan yang lain.
"dah ah berantem aja." Sasha geleng geleng kepala, selalu saja mereka tak pernah akur namun terkesan lucu, kadang Fitha yang dijahilin atau sebaliknya, anehnya mereka tak pernah bisa dipisahkan. Selalu kemana mana kompak berdua.
__ADS_1