Bayi Kita

Bayi Kita
33


__ADS_3

Mereka akhirnya menemukan stroler, yang benar benar nyaman buat Cilla. Sasha melihat harganya sangat istimewa, awalnya Sasha menolak namun Faishal langsung membayarnya.


"nah Cilla dah bisa bobok distroler, bunda biar ga capek yah kalo ayah ga ada." Ucap Faishal ke Cilla, Sasha menahan senyumnya mendengar penuturan Faishal


"Ya Allah, tega banget aku memikirkan pria lain yang sungguh indahnbila menjadi ayah dari anak anakku. Tolong lindungi hati saya hanya untuk Kak insan." batin Sasha bergejolak


"makasih ya mas." ucap Sasha


"aku yang makasih kamu mau menerimanya." ucap Faishal sambil ikut tersenyum


"sini barang barangnya ditaruh dibawah stroler aja cukup koq. Tapi kita bersihkan dulu dirumah baru Cilla bisa naik stroler." lanjutnya ia begitu detil, takut Cilla terkena virus dan semacamnya jika langsung memasukkannya ke stroler baru.


"ternyata mas Faishal itu ayah yang baik, besok kalo Cilla sudah besar dan ingat kita pasti dia sayang banget sama kamu mas."


"kalo kamu?" tanya Faishal yang perhatiannya tak lepas dari sasha ketika sasha berbicara.


"hah? maksudnya?" Sasha melihat wajah Faishal mencoba menanyakan lagi kejelasan pertanyaan Faishal.


"oh engga... engga jadi." Faishal tersenyum canggung lalu menggosok gosok leher belakangnya


"kamu aneh mas, suka bilang hal hal ambigu." ucap Sasha


"iya kah?" seolah tak menyadari faishal malah bertanya kebenarannya


"iya." Jawab Sasha sambil tersenyum canggung. Ia menyesal sudah terlalu jujur berbicara.


"Aku ga sadar malah he, yaudah kita makan dulu yah."


Mereka menuju ke foodcourt Mall dilantai bawah.


Sedari tadi ternyata ada yang memperhatikan mereka. Namanya Mila, ia masih saudara jauh dari Sasha. Ia pula yang pernah melihat Sasha dirumah sakit ketika menjenguk rekannya disana. Ternyata ia sudah mengambil beberapa protret sasha kembali, sebelumnya dirumah sakitpun ia sudah mengabadikannya. Ia begitu terkejut, seolah apa yang dipertanyakannya selama ini semakin jelas.


" Ya, ampun ternyata bener, laki lakinya juga sama." Milla menscroll foto saat dirumah sakit ternyata laki laki yang ia maksud adalah Faishal.


"Duh kasihan uwak Jamhari, dikampung belum ada kabar apa apa. Bahkan mereka sedang membuatkan rumah buat Insan dan Sasha yang sebentar lagi menikah. Sasha Sasha.... kenapa kamu bohongin banyak orang." Ucap mila Shock ia tahu bahwa keluarga Sasha sangat berbahagia untuk pernikahan ini bahkan mereka bekerja lebih keras untuk membuatkan pesta besar buat anaknya, padahal mereka bukan orang berada dan hidup pas pasan, namun begitu keras usaa mereka untuk membahagiankan putrinya saat menikah nanti. Namun ternyata Sasha disini teah memiliki bayi, Milla menjadi kasihan kepada orang tua Sasha.


Ternyata Milla selama ini masih menyimpan tentang ceritanya mengenai Sasha, ia belum punya cukup bukti. Saat pulang kekampung pun ia diam diam mencari tahu kabar tentang Sasha. Keluarganya hanya tahu bahwa ia kuliah dan belum pulang hampir dua tahun karena tak bisa membeli tiket bis untuk pulang ke lampung. Namun siapa sangka saat ia kembali kejogja mengunjungi rekan rekannya kembali dan berjalan jalan keMall, ia justru dikejutkan dengan apa yang ia lihat. Iapun langsung menyimpulkan sesuai yang ia lihat. Ia tak enak jika langsung menanyakannya ke Sasha. Takut jika Sasha tak mau bicara, menurut Milla masalah Sasha ini wajar jika ia sembunyikan dari orang tuanya. Dua tahun tak pulang, tiba tiba sudah memiliki bayi.


Mila geleng geleng kepala, bagaimana Sasha yang terkenal sangat baik perangainya tapi salah langkah juga. Yang menguatkan lagi adalah laki laki yang ia lihat sama persis, jika bukan dengan laki laki itu dia sudah berbuat yang tidak tidak, tak mungkin mereka selalu bersama bahkan terlihat seperti sudah sangat dekat dan bekerja sama mengurus bayi mereka. Itulah yang difikirkan Mila. Ia sudah benar benar membulatkan tekad untuk memberi tahukan keluarga diLampung agar Insan tak menyesal. Ia prihatin akan nasib Insan dan keluarga Sasha.


Foodcourt...


"Mau makan apa?" Tanya Faishal


" aku aja mas yang pesen, kali ini biar aku yang nraktir yah."


" ga usah, kan aku yang ngajakin, cowok itu pantang dibayarin kalo udah ngajakin. Dah mau pesen apa?" Sasha sudah tak mampu mengelak lagi

__ADS_1


"Bakso aja mas, mienya yang putih ya." ucap Sasha sambil duduk didursi yang sudah tarik Faishal.


"ok tunggu disini." Faishal lalu menuju ke kedai bakso disana ia memesan makanan yang sama serta jus strawberry kesukaannya.


"nih, kamu duluan aja yang makan biar gantian pegang Cilla."


"aku bisa koq mas makan sambil gendong."


"beneran ga kesusahan? nanti kalo susah aku gantiin."


"Mas pesen sama yah kayak aku?"


"ini makanan kesukaan aku, bakso mie putih."


"wahh sama!"


"iya kah?"


"iya mas aku juga sukanya bakso mie putih..."


"ga pakek kecap.... hahaaha" mereka berdua serentak berbicara lalu tertawa bersama ternyata kesukaannya sama.


" Kalo jus strawberry juga kesukaan mas Faishal ya??"


" yup." jawab Faishal sambil tersenyum


"iya ini enak banget, kalo Cilla dah bisa makan bisa ikut beli sama kita."


" iya ya. um mas, mas gapapa jalan sama aku?"


"kebalik, harusnya aku yang tanya gitu sama kamu. Tunanganmu gapapa?"


" Dia ga tau koq, he, kayak selingkuh yah?" Sasha tersenyum nyengir


"berati aku yang jadi selingkuhannya??" tanya Faishal


Sasha menggeleng,


"kan kita ga ada hubungan apa apa." Jawab Sasha sambil menikmati pentol baksonya Faishal tak menjawab ia hanya menahan senyumnya, entahlah hatinya terasa miris mendengarnya.


"mas, makasih ya atas segala kebaikannya, sudah hampir dua bulan kami menumpang disana, Bastian sudah dapat beberapa calon kontrakan mas. Kalo sudah fix semua kami akan segera pindah." kali ini Sasha berbicara serius ia menatap Faishal langsung.


"jujur.... aku sebenernya pingin kalian lama disitu, kamu baru bilang mau pindah aja perasaanku seketika jadi ga karuan. Bukan maksudnya gimana gimana, tapi, e maksudnya... mungkin bakal kesulitan ketemu Cilla." Sasha ga faham mendengar penjelasan Faishal, perasaan ga karuan yang seperti apa maksud dari Faishal. Apa karena ga bisa pisah sama aku atau Cilla?? ah mana mungkin kami tak sedekat itu, batin Sasha berbicara.


"kalo mas mau ketemu Cilla kita bisa janjian atau mas main aja kekontrakan kita yang baru."


"iya aku usahakan."

__ADS_1


"Sha, berati kamu nikah habiis wisuda?"


"maunya sih gitu mas, tapi ngikut kata ibu sama bapak aja diLampung."


"kamu itu anak yang berbakti ya."


"ga juga mas, adakalanya aku jadi anak badung hehehe." jawab Sasha jujur ditanggapi senyuman oleh Faishal.


"Sha, apa aku pernah buat kamu kesal? kalo iya aku minta maaf." ucap Faishal sendu


"ga mas ga pernah, mas terlalu baik buat kami, kami yang belum bisa balas apa apa. Kalo mas sendiri? Apa aku pernah bikin mas gusar?"


"iya" ucap faishal lirih


"hm??" sasha kurang jelas mendengarnya


" oh bukan itu maksudnya. Maksudnya engga."


" tuh kan ambigu lagi." ucap sasha, faishal menahan senyumnya.


" ada hal hal yang ga bisa aku katakan sha, jadi maaf." Faishal menatap Sasha yang bingung


"kalo tentang aku bilang aja mas, aku gapa kalo itu memang akan menyakiti hatiku, buat introspeksi diri."


"ga ah, kalo aku katakan malah justru aku yang sakit."


"koq??"


" umm kabar orang tua Cilla gimana?" Faishal cepat cepat mengalihkan pertanyaan


"aku ga suka mas kalo ada orang yang bicara setengah setengah trus mengalihkan pembicaraan. Kalo memang ada masalah sama aku kita selesaikan hari ini, karena besok besok belum tentu kita bisa ketemu, apalagi itu membuat kamu ga tenang karena aku. Apapun kesalahan aku... aku maunya denger langsung dari mulut mas Faishal." Sasha menatap Faishal dengan serius ia penasaran, lebih baik ia mendengar kata kata yang jika memang menyakitkan hatinya langsung dari mulut Faishal


"maaf sha ga bisa, karena yang salah ini aku. Kalo aku lanjutkan nanti aku takut kita ga bisa berteman lagi" Sasha mengeryitkan dahi ia ingat ingat sepertinya tak pernah Faishal berbuat kesalahan kepadanya.


"aku beneran gapapa mas aku orangnya ga gampang tersulut koq. Kayaknya mas Faishal ga pernah bikin salah sama aku".


"Aku salah sha karena sudah jatuh cinta sama kamu, kamu yang berstatus tunangan pria lain, jika kamu tau aku takut kamu menjauh dari aku, biarlah seperti ini saja, kamu ga perlu tau perasaanku." Faishal berbicara dalam hati, ya hanya berani dalam hati


"Sudahlah, kalo sudah selesai makannya kita langsung pulang aja." Faishal langsung beranjak dari tempat duduknya menuju ke kasir lalu kembali kekursi mereka, mengambil stroler dan belanjaan yang sudah tersusun rapi di stroler bagian bawah. Ia hanya diam mendahului Sasha menuju parkiran mobil yang tak jauh dari Foodcourt.


Sasha dibuat makin bingung, Faishal yang seharian ini terlihat ceria tak seperti biasanya tiba tiba murung bahkan mendiamkan Sasha. Ada apa sebenarnya, apa salahku? batin Sasha bertanya tanya.


Mereka memasuki mobil, suasana yang tadinya mulai mencair menjadi canggung kembali. Faishal hanya diam selama menyetir. Sasha beberapa kali menoleh kearah Faishal, ada apa gerangan sampai menjadi seperti ini. Jika memang bukan aku yang salah, kenapa aku jadinyang merasa bersalah? batin Sasha gusar.


Sampailah diparkiran rumah. Sasha menahan Faishal agar tak keluar, hatinya benar benar gusar, ia ingin menyelesaikannya agar kedeoannya baik baik saja hubungannya dengan Faishal.


"Mas!" Sasha menarik baju Faishal ketika ingin keluar. Faishal tertegun, jantungnya berdebar kencang

__ADS_1


__ADS_2