Bayi Kita

Bayi Kita
46


__ADS_3

"Awas!"


"Aaakh!"


Tiba tiba ada ranting pohon diatas mereka patah dah terjatuh hampir megenai Sasha. Faishal Reflek memeluk Sasha lalu menjauhi ranting. Sasha yang terkejut menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"haaaaah" Faishal menghela nafas lega, karena berhasil menghindarkan Sasha dari ranting jatuh yang cukup berat jika terjatuh diatas kepala mereka, bahkan bisa saja melukai. Ia masih memeluk erat Sasha melindungi kepalanya.


Sasha tersadar, dirinya saat ini ada dalam pelukan Faishal, bisa dirasakannya nafas faihsal yang memburu, sama seperti dirinya. Dilepaskannya kedua tangannya lalu memberanikan diri mendongak keatas. Faishal yang menyadari gerakan Sasha melonggarkan pelukannya, entah apa yang membawa bola matanya harus menatap ke mata indah yang ada didepannya.


Mereka saling bertatapan, Sashapun menjadi terdiam tak mampu berbuat apapun, saat ini debaran jantungnya amat kuat. Entah itu debaran jantungnya ataukah milik seseorang yang masih memeluknya saat ini.


CUP!


Tiba tiba Faishal mendaratkan kecupan dikening Sasha lalu melepaskan pelukannya, Sasha terkejut dan terpejam. Nafas Faishal menjadi semakin berat. Hatinya benar benar tak kuasa menahan segala rasa sukanya kepada Sasha dan......


"aku..... aku jatuh hati sama kamu Sha......" dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca kaca faisal mengungkapkan isihatinya.


DEG!


Jantung Sasha berasa akan copot


Terucaplah sudah apa yang ada didalam hatinya yang sudah tak kuasa ia pendam terlalu lama. Dilihatnya Sasha hanya membisu tak berani menatap kearahnya. Faishal pasrah, ia terima apa saja jawaban yang akan diberikan oleh Sasha. Faisal sadar betul dirinya salah, mengutarakan cinta kepada wanita yang telah bertunangan. Faisal juga tau resikonya bahwa cintanya takkan terbalas. Jika pun terbalas akan ada hal hal rumit yang harus ia selesaikan kedepannya. Namun makin dipendam makin besar rasa itu. Setidaknya saat ini hatinya lebih lega tlah mehempaskan rasa berat dalam hatinya. Dipandanginya Sasha yang masih menunduk didepannya. Ia harap harap cemas, kata apakah yang akan keluar dari bibir Sasha. Apapun itu ia akan bersiap dengan segala kemungkinan kedepannya.


Sasha tertegun! ia tambah bingung harus bagaimana, ia tak berani menatap pria yang baru saja mendaratkan kecupan dikeningnya, ditambah lagi sebuah pengakuan yang membuat hatinya meledak ledak. Dalam satu menit ia mendapatkan dua hal yang menggetarkan hatinya. Satu kecupan pertama yang belum pernah ia dapatkan selama hidupnya dan pengakuan cinta dari orang yang telah menggetarkan hatinya.


Diam seribu bahasa, tubuhnya kaku, matanya hanya mampu melihat ketanah. Haruskah ia senang? Tapi... ada orang yang lebih dulu mengikat janji bersamanya. Haruskah ia tolak? padahal orang yang tlah mengisi hatinya memiliki perasaan yang sama dengannya.

__ADS_1


Bagaimana ia harus menjawabnya? Jika diterima ia berati akan menghancurkan hati keluarganya, jika ditolak.... mungkin tak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan balasan dari perasaannya. Bingung.... sampai tak mampu berucap apapun lagi. Sasha mulai berfikir dan.... saat akan berbicara....


"kamu ga perlu jawab sha kalo itu sulit, aku ga akan memaksa kamu. Kamu cukup tau aja." Ucap Faishal penuh peyesalan, ia tahu telah memberikan beban dihati Sasha.


"sha maafin aku yah? tolong lupakan saja. "


"....." Sasha masih membisu


"Kita pulang aja ke Villa." Faisal melangkahkan kakinya perlahan lalu berbalik badan memastikan Sasha mengikutinya.


Ternyata sasha tetap mengikutinya dengan tetap membisu, raut wajahnya tegang memerah. Iya hanya mampu melihat sayu jalan yang ada didepannya. Faisal jadi makin tak enak hati. Iapun ikut membisu.


Sepanjang perjalanan ke Villa Sasha berulang kali berfikir baik buruknya kedepan. Namun ia tetap damang. Ia hanya ingin diam untuk sementara sampai hatinya tertata kembali serta lebih lega untuk berbicara kepada Faishal.


Mereka sampai lebih dulu ke Villa. Wajah Sasha terlihat pucat.


"ga papa bun cuma lemes aja soalnya lagi dapet." Sasha menjawab bunda dengan suara lirih sambil tetap memaksakan senyumnya.


"hari pertama ya? yaudah Sasha kekamar aja istirahat mandi air hangat yah, itu ada air hangat dipanci tadi buat jaga jaga kalo ada yang minta mandi air hangat. Habis mandi istirahat ya sayang yah."


" iya bun makasih, Sasha mandi air dingin aja gapapa bun, jadi ngerepotin bunda."


" kak! sana pancinya dibawa kekamar Sasha dituangin ke bak mandinya sekalian." Bunda langsung menyuruh faisal menyiapkan air hangat kekamar Sasha. Tanpa menjawab Faishal segera melaksanakan perintah sang bunda, ia menjadi khawatir karena kata katanya membuat Sasha terlihat kurang baik.


Setelah menyiapkan air hangat faishalpun bergegas kekamarnya dan membersihkan dirinya lalu berbaring dikamarnya. Ia merutuki dirinya yang tergesa gesa meluapkan perasaannya tanpa memikirkan perasaan Sasha. Ia jadi merasa bersalah kepada Sasha. Ia berharap semoga tak ada yang tahu kejadian ini. Ia yakin Sasha tak mungkin bercerita kepada Fitha sekalipun.


Sementara itu, Sasha dikamarnya pun berbaring gelisah, bagaimana ia harus bersikap jika bertemu Faishal. Bagaimana juga ia harus berkata, membalas atau menolaknya atauuu.... tak perlu menjawabnya. Ia memikirkan kata kata faishal lagi. Jika diam ia takkan merasa begitu bersalah kepada Faishal karena faishal tadi mengatakan tak akan memaksa jika tak bisa menjawabnya, bukan bermaksud menggantungkan perasaan Faishal. Namun ia tak mampu berkata apa apa, ia adalah tunangan seseorang. Ya.... akhirnya tak menjawab dan pura pura tak terjadi sesuatu adalah pilihannya, ia juga tak akan bercerita kepada siapapun, cukup ia simpan dihati saja.

__ADS_1


Tapi Sasha tak mengelak jika iapun merasa bahagia ternyata Faishal memiliki rasa yang sama terhadapnya. Andai saja tak ada perojdohan ini mungkin saat itu ia akan langsung menjawab bahwa iapun memiliki rasa yang sama. Diusap usap keningnya, ia jadi tersipu malu mendapat kecupan pertama kali dalam hidupnya dan itu dari orang yang ia cintai. Sasha menata hatinya sejenak dikamar sebelum yang lainnya pulang dan agar lebih percaya diri saat harus bertemu dengan Faishal lagi. Sadarlah sha.... pilih yang tak banyak menyakiti orang lain.


"Assalamualaikum bundaaaaaaa...... nihhh Aldo bawain jadah tempe kesukaan bunda."


"makasihhh sayang." ucap bunda meraih bingkisan jadah tempe yang diberikan Aldo


"bun Sasha ma kakak dah sampe ya?" Tanya Fitha


"udah.... mereka dikamar, kakak kayaknya lagi istirahat capek, kalo Sasha tadi pucet banget mukanya."


"pucet bun? duh kenapa ya, Fitha susulin dulu deh bun."


Fitha akhirnya langsung kekamar, dilihatnya Sasha berbaring dengan wajah yang masih pucat.


"kamu kenapa?"


" aku cuma kecapean aja, lagi banjir banjirnya jadi lemes, nanti dibawa tiduran langsung baikan koq."


"ga biasanya deh kamu kalo lagi dapet kayak gini Sha... capek lari pagi ya."


" iya kayaknya, yaudah mandi gih! aku tiduran dulu yah."


Fitha menjadi semakin cemas melihat Sasha, tak biasanya ia sepucat ini saat sedang menstruasi. Ia jadi berfikir mungkkn karena kelelahan.


TIN...TIN!!!!


"Loh.......

__ADS_1


__ADS_2