
Aldo berangkat bersama Fitha, tinggallah Faishal dan Sasha dirumah tersebut. Sepeninggal mereka berdua, Faishal dan Sasha menjadi canggung, bingung mau berkata apa. Jadi suasana hening seketika.
"Be bentar lagi saya berangkat jangan lupa berjemur yah." Ucap Faishal gugup ia berbicara dengan sasha tanpa menatapnya dan fokus ke Cilla saja.
"iya mas." Sashapun gugup sehingga hanya mampu menunduk
"mas.."
"ya?" Faishal memberanikan diri menatap Sasha yang duduk dikursi samping kursinya.
"jangan terlalu banyak membantu kami. Kami belum tau apa bisa membalasnya setimpal." ucap Sasha yang terdengar begitu dingin ditelinga Faishal, menandakan ia mulai membuat benteng.
"saya ga minta dibalas. Saya melakukan ini buat Cilla. Memang kalian yang menemukannya, tapi saya sudah merasa dekat. Saya bahkan berfikir apakah saya akan benar benar menjadi sosok ayah baginya jika orang tuanya sulit ditemukan. Jadi tolong... biarkan saya ikut mengurusnya sesuai keinginan saya."
"makasih atas segala kebaikannya, tapi ini sudah terlalu banyak mas, saya yang sudah mengambil keputusan akan menjadi orang tuanya jadi saya yang akan berjuang membesarkannya jika tak ada satupun kabar dari orang tuanya. Dan maaf sebelumnya, saya khususnya belum meminta izin sama mas Faishal untuk tinggal disini sementara. Jika kontrakan sudah dapat kami akan segera pindah."
__ADS_1
"tolong jangan ditolak permintaan saya agar kalian merawat rumah ini, jangan sungkan."
"tapi..."
"Beri saya muka, jangan ditolak." Faishal akhirnya menatap intens Sasha dengan wajah seriusnya, baru pertama kali mereka berbicara dengan saling menatap.
"saya juga ga bisa tinggal disini berlama lama mas. Saya dan Fitha bukan siapa siapanya mas. Akan sulit nanti bagi kami meninggalkannya kalo sudah tergantung tinggal dirumah senyaman ini. Atau biarkan kami membayar sewa."
" Saya ga butuh uang sewa. Rawat saja rumah ini dengan baik dan kalo kalian sudah bosan kalian boleh meninggalkan rumah ini. Ini semua saya lakukan agar Cilla nyaman dilingkungan yang nyaman."
Sasha terdiam, sikap faishal yang terkesan memaksa agar mereka tinggal membuatnya terbebani. Namun Faishal terlihat sangat tulus ingin ikut berkontribusi merawat Cilla.
Faishalpun sama terdiam, lama mereka bertatapan dengan berbagai kegundahan dihati. Faishal yang entah kenapa ingin sekali mereka bertahan hidup dirumahnya, dan Sasha yang sudah banyak sekali beban fikirannya.
Merekapun tertegun lalu sama sama memalingkan wajah kearah lain dengan perasaan sama sama tak enak dihati setelah berbicara amat serius namun menguras perasaan.
__ADS_1
"maaf...saya tidak bermaksud memaksa. Padahal kita baru saja kenal. Jadi apapun keputusan kalian saya tidak akan ikut campur." Ucap Faishal yang terdengar menyesal.
"iya mas aku yang maaf. Aku bukannya tidak suka tinghal disini. Aku..... " Sasha tercekat ingin melanjutkan perkataannya, ia sungguh tak enak bila tinggal disini berlama lama tapi ia pun tak enak menolak kesungguhan faishal memintanya dan fita serta cilla menetap disini. Ia bisa lihat guratan kecewa saat ia menolak tinggal disini apalagi ingin membayar sewa.
"aku akan tinggal disini selama 3 bulan. selebihnya kami akan pindah." ucap Sasha menunduk, ia benar benar tak enak menerima kebaikan faishal terus menerus. Ia tak mau berhutang budi terlalu banyak dengan orang lain, ia sadar tak banyak yang bisa ia berikan apalagi berhubungan dengan uang. Dan Sasha juga befikir bagaimana jika dalam waktu dekat Faishal akan berumah tangga pastinya rumah ini akan ia tempati dengan sang istri. Dan Sasha akan memastikan bahwa mereka harus segera pindah sebelum rumah ini dipakai walau saat itu tiba sebelum 3 bulan ia akan segera mencari solusinya. Sasha sudah bertekad demikian dan ia yakin Fitha akan selalu mendukungnya. Ia juga berharap agar orang tua Cilla segera diketemukan agar semua ini bisa dilewati dengan baik.
"terimakasih Sha." ucap Faishal menatap Sasha
"jangan berterima kasih, harusnya kami yang begitu." Sasha tersenyum membalas tatapan Faishal, lalu ia langsung berdiri, membereskan mangkuk faishal dan kearah dapur untuk menyantap sarapannya. Tak sanggup ia berlama lama berdekatan dnegan Faishal, Sasha sadar hatinya mulai terketuk olah kehadiran Faishal. Sungguh berbeda rasanya ketika bersama Insan tunangannya, tak pernah merasa kegugupan seperti ini. Dipegangnya dadanya yang bergemuruh ia yakinkan hatinya.
"ga ah ga mungkin ini suka, aku dah punya kak insan"
Faishal tersenyum diam diam, ada kelegaan dalam hatinya ketika Sasha bersedia tinggal disana selama 3 bulan. Yah walau tak sesuai keinginannya agar lebih lama dari itu, namun Faishal sadar ia sudah terlalu jauh mencampuri kehidupan gadis didekatnya itu. Padahal mereka baru saja saling kenal bahkan untuk berbicara nyaman saja sungguh jauh dari keinginannya. Setidaknya dalam waktu 3 bulan ini ia masih bisa dengan bebas melihat Sasha dan cilla dirumahnya sendiri. Setelah itu entahlah bisa bertemu lagi atau tidak mengingat dirinya yang akan menempuh pendidikan dokter spesialis, mungkin bisa saja Sasha tiba tiba diminta oleh orang tuanya segera menikahi tunangannya dan cilla yang mungkin sudah ditemukan orang tuanya. Izinkanlah ia membuat kenangan manis dirumahnya ini dalam 3 bulan tersebut menjadi orang tua buat cilla bersama Sasha yang sepertinya mulai mengisi hatinya, begitulah pintanya pada Tuhan saat itu. Dicubit cubitnya dengan lembut hidung Cilla mengalurkan rasa bahagianya.
Waktu sudah menunjukkan pk.07.30 Faishalpun pamit untuk menuju rumah sakit karena sudah masuk jadwal briefing pagi. Selama mngendarai mobil ke Rumah sakit tak pernah senyumnya menghilang, bahagia?? iya... jelas ia begitu bahagia akan menyongsong hidup barunya yang mungkin hanya 3 bulan saja. Ia mengingat kembali saat pamit tadi, ia meminta izin agar bisa selalu menemui cilla dirumah tersebut dan Sasha menyetujuinya. Yah ia akan berperan menjadi ayah sungguhan tiga bulan ini daannn, jadi suami pura pura??? suami sementara??? kan pasangan ayah pastinya bunda....aaaahhhh Faishal merutuki dirinya betapa tak tahu malunya ia menginginkan berperan jadi pendamping Sasha?? sementara?? apa itu?? ia menggeleng gelengkan kepalanya sambil tertawa menertawai dirinya sendiri dengan fikiran tak masuk akalnya itu. Ia heran kenapa bisa dia menjadi tak rasional sama sekali karena Sasha.
__ADS_1
"Banyak tuntutan kamu sal, sadar! calon istri orang" lagi lagi hati kecilnya mengingatkan.
Dipatkirkannya mobil tersebut lalu bergegas menyambut tugasnya hari ini.