Bayi Kita

Bayi Kita
105


__ADS_3

Aldo dan Fitha berangkat kekampus lebih awal, sedang Sasha dan Faishal sedang mencoba memberikan MPASI pertama untuk Cilla. Bunda mengajari bagaimana caranya memberikan asupan pertama untuk Cilla. Sasha sangat antusias, ia menantikan ekspresi Cilla saat makan pertamannya.


"hahaha, ya ampun Cilla sabar dong nak, inikan makan bukan minum cucu, lihat mas kalo sendoknya di jauhin nangis lho, disedot sedot ma dia makanannya dikira sus**u." Ucap Sasha yang hemas melihat reaksi Cilla untuk pertama kalinya, ia belum bisa merespon sendok dengan baik, karena makanannya masih bubur yang sangat cair, jadi respon Cilla seperti diberi dot.


"Gini qm taruh sendoknya dibibir atasnya jangan bibir bawah, kalo bibir atas kita bisa masukin sendoknya, kalo kena bibir bawah disedotin sama dia dikira dot." Bunda menjelaskan kepada Sasha bagaimana triknya menyuapi bayi yang baru belajar makan. Eits, jangan lupa, Bunda sudah mengabadikan momemt makan pertama Cilla utuk ia berikan kepada Fitha.


"sabar sayang, pelan pelan makannya.... Ga nyangka dia antusias banget padahal rasanya beda, tapi langsung disantap aja sama Cilla." ucap Faishal sambil mengelus elus puncak kepala Cilla.


"iya ya mas, kalo gitu besok kita harus gimana lagi?" tanya Sasha


"Bertahap dulu, pelan pelan ditambahi teksturnya, biar pencernaannya bagus." jelas bunda


"oke bun Kakak faham sekarang." ucap Faishal


"kakak gimana sih, kan kakak calon dokter anak, dah belajar ilmunya." ucap Bunda


"he, beda bun kalo aplikasi langsung, sama ngasih saran ternyata ga semudah yang dibayangkan. Ini buat tambahan pelajaran buat kakak bun." jawab Faishal, ia jadi tak enak hati kepada sang bunda karena ketauan kekurang piawaiannya sebagai dokter muda di klinik pediatri.


"kakak jadi mau lanjut ambil spesialis ga?" tanya bunda serius


"mas mau lanjut sekolah kan?" sambung Sasha, ia ingat saat mereka tak saling bicara sebelum pernikahan, Aldo sempat bercerita jika sang kakak sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke pendidikan selanjutnya.


"iya, tapi.... Belum bisa ninggalin kamu, tahun ini atau tahun depannya, maksimal umur 30 tahun." Ucap Faishal serius

__ADS_1


"Aku ga papa koq mas, kan banyak yang nemenin aku." jawab Sasha, ia berharap Faisha tetap melanjutkan pendidikannya dan tidak menjadikannya sebagai penghambat.


"maafin bun maafin ya Sayang, beljm fokus nih, karena kalo dah lanjut sekolah bakal sibuk banget dan akan ada masa pengabdian didaerah, aku bisa ninggalin kamu, dan.... Kalo kamu hamil tapi pas aku tugas didaerah malah jadi kepikiran. Nanti aja, masih banyak waktu, dan masalah Cillapun belum kelar kan? Karena pemdaftarannya dah hampir tutup juga. Tenang aja pasti lanjut koq." ucap Faishal membuat Sasha terseny haru, ternyata sang suami amat sangat memikirkannya.


"bunda setuju banget, lagian kalian baru aja nikah, masih seneng senengnya jadi pengantin baru, masih harus saling kenal satu sama lainnya kan? semkga dilancarkan semua keinginan anak bunda. Aamiin" Ucap Bunda


"makasih ya bun." Jawab Faishal dan Sasha bersama sama.


Pagi itu mereka lalui dengan bahagia, Sashapun segera berangkay kekampus setelah Cilla tertidur, ia diantar oleh sang suami. Ini kali pertama Faishal mengantarnya kekampus setelah mereka resmi menikah.


"mas ga usah anter sampe dalem, diparkiran aja yah." pinta Sasha, ia khawatir jika mereka bersama akan mengundang banyak pembicaraan anak kampus, karena mereka sudah sangat dikenali sejak kasus berita kurang mengenakkan tersebut. Namun Faishal tetap kekeh, ia berfikir untuk apa bersembunyi, toh hal ini bukanlah hal tabu karena mereka sudah halal terikat dalam sebuah pernikahan.


"Santai aja, kita harus menghadapi ini, ini baru dikampus kamu lho, dirumah sakit pasti juga banyak perkataan yang kurang mengenakkan, jadi kita hadapi bersama ya? Siap kan?" Faishal mencoba meyakinkan Sasha


"oke mas, aku coba. Tapi ga usah mesra mesraan ya aku malu." ucap Sasha, ia berjaga jaga jangan sampai Faishal berbuat sesuatu diluar kendalinya saat didepan orang lain. Namun Faishal hanya menanggapinya dengan tersenyum.


"waduh waduh, go public nih." Aldo yang sedang duduk bersama Hafis dan Bastian mengetahui kedatangan sang kakak langsung menyambutnya. Hafis pura pira tidak melihat, ia belum sanggup melihat kenyataan didepannya, bahwa sang pujaan telah bersama orang lain dan tak bisa diraih lagi.


"takut ada yang nikung yaa." lanjut Aldo mulai menggoda sang kakak.


"sssttt, ga usah berisik, kalo sama istri itu kayak ginj donk, digandeng." Ucap Faishal mengajari sang adik


"helehh bucin akut!" cibir Aldo

__ADS_1


"apaan sih Do, dah ah mau kekelas, mas! Aku kekelas yah." Pamit Sasha lembut dan meraih tangan Faishal lalu mencium punggung tangannya.


" eit, pamitnya ga kayak kemaren?" Faishal menggoda Sasha, membuat wajah Sasha bersemu merah, pasalnya beberapa hari ini setiap akan pamit Faishal selalu menagih agar saat berpamitan Sasha harus memberi tanda dipipinya.


"maaass malu didepan orang," Ucap Sasha lirih.


" emang apaan sih?" Tanya Aldo penasaran


" kepo banget sih do, dah ah masuk yah, dah ya maaaas." Sasha akhirnya langsung masuk kekelas, namun ia tak menghiraukan Hafis yang ada didekatnya, ia menjadi amat canggung, dan begitu pula hafis lebih canggung lagi terlebih ada Faishal disana, ia benar benar harus menjaga sikap, sehingga Hafis tak begitu merasakan jika Sasha sudah canggung terhadapnya.


Faishalpun menyapa Hafis dan Bastian, namun Hafis hanya menckba tersenyum tipis dan menganggukkan kepala, sedang bastian sseperti biasanya sangat ramah dan langsung mengobrol dnegan Faishal.


Sebenarnya arah mata Faishal sesekali melirik ke arah Hafis, ia jadi sangat ingin mengetahui bagaimana reaksi Hafis karena sudah sejak lama Faishal mengamati Hafis, dan Faishal yakin jika Hafis memiliki perasaan spesial kepada sang istri. Namun ia lega karena Sasha telah ia miliki sepenuhnya. Jad ia tak khawatir ketika melihat Hafis yang tidak menyusul Sasha kekelas seperti biasa tapi justru mendekati teman lainnya dan mengobrol.


" Kak, ini pak Sukro sudah mengabari, tapi, sama sekali ga membawa hasil, beliau juga tidak mau ikut campur lagi katanya." Ucap Aldo


"lho kenapa? Apa Pak Sukro mendapat tekanan?" ucap Faishal


"gini kak, Pak Harun kan pagi ini menyambangi rumahnya di magelang, untuk membawa barang barang yang belum sempat terbawa dan memasrahkan tugas kepada Pak sukro dan rekan rekannya. Pak Sukro bilang, kall saat beliau pindahan ada mahasiswa-mahasiswa yang kesana mencari Pak Harun dan membawa bayi, nah dibilangin seperti itu lak harus langsunh marah marah, katanya ga kenal dan ga mau dicampuri urusan pribadinya, kalo sampai Pak Sukro menerima tamu atau menanyakan hal yang aneh, makan semua pegawainya yanh ada disana akan dipecat, makanya Pak Sukro jadi ga bisa berbuat apa apa lagi kak." Bastian menceritakannya dengan lengkap.


"makin kesini makin mencurigakan beliaunya kan? Kita harus bagaimana lagi?" Ucap Faishal frustasi seperti mendapatkan jalan buntu.


"kita lacak nomor HPnya gimana? Kan bisa kan dilacak lokasinya?" Aldo tiba tiba memberikan sebuah ide

__ADS_1


"ohh iya iya bisa sih tapi kalo Pak Harun ga ngaktivin lokasi, ya ga bisa dilacak." ucap Bastian


" kita coba deh." ucap Faishal Akhirnya mereka bersepakat menempuh jalan ini.


__ADS_2