
Faishal bergegas ke bangsal menyusul Sasha. Sepanjang perjalanan hatinya merasa benar benar tak nyaman atas perlakuan sang gadis tadi. Ia benar benar tak mau lagi bertemu gadis tersebut, namun disisi lain ia berharap ada petunjuk tentang Cilla, siapa tahu jika gadis tersebut adalah orang yang mereka cari selama ini. Hatinya menjadi dilema. Sebelum masuk ke bangsal ia mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Sayang!" Ucap Faishal saat masuk lalu langsung dipeluknya sang istri dengan erat seperti sedang melepaskan segala kegundahannya.
"kamu kenapa sih mas? Jangan lama lama peluknya nanti ada yang dateng gimana?" ucap Sasha sambil melihat keadaan sekitar.
"Bentar aja, mas kangen." ucap Faishal masih enggan melepas pelukannya.
"baru ketemu tadi pagi. Gimana besok kalo aku KKN? Hm?" balas Sasha, Faishal lalu melepaskan pelukannya dan menatap sang istri.
"kalo ga kuat lagi, aku langsung nyusul kesana." ucapnya sabil mencolek hidung sang istri, Sashapun tersenyum geli.
"mas, keluargaku sudah diperjalanan lho. Nanti Bisnya berangkat jam 1 siang dari terminal Lampung." ucap Sasha yang hampir lupa mengatakan berita penting ke sang suami.
"alhamdulillah, kapan sampenya?" ucap Faishal merasa senang akan kedatangnya keluarga barunya.
"mungkin besok pagi mas."
"yaudah nanti sepulang kamu kuliah kita langsung ke perumahan yah. Kita beresin rumah." ucap Faishal amat antusias
" Cilla nanti gimana?" tanya Sasha
" Bunda nanti kan dah pulang, trus Fitha ma Aldo juga ada. Di rumah nanti ada bulik bulik yang dateng, mereka mau buat apa ga tau deh." ucap Faisal, menjelang hari resepsi mereka memang keluarga terdekat datang setiap hari mempersiapkan hari H tersebut.
" Oke deh mas, yuk udah selesai koq ini, tinggal nunggu resep ma Fitha nih. Kita nyusul ke farmasi aja" ucap Sasha, ia mulai menggendong Cilla dengan hati hati agar tidak terbangun, dan Faishal membawa tas dan perlengkapan mereka.
"Lho Fith koq cepet?" ucap Sasha melihat Fitha tiba tiba masuk
"Aldo yang antri koq." ucapnya cuek
" Kenapa ga nemenin?" tanya Sasha
"Males! Dia tadi nyuruh aku nyari gebetan dokter dokter." ucap Fitha sambil cemberut
" trus?" tanya Faishal yang ingin mendengar cerita menarik tentang adiknya yang sudah pasti saling beradu mulut dengan Fitha. Sasha pun mulai tersenyum senyum.
"ya ga mau lah aku, masa disuruh sama dokter dokter perjaka tuaaa, 40 tahun katanya!" ucap Fitha dengan kesal.
__ADS_1
"hahahhahaa, ya ampun kalian tuh ya adaaa aja." Sasha langsung terbahak bahak begitupun Faishal.
"Kita pulang aja sekarang yuk ,tapi ke farmasi dulu." Ucap Sasha.
"yuk" Fitha
Mereka akhirnya keluar bangsal dan menuju Farmasi. Sampai ditempat Ffarmasi ternyata Aldo masih duduk menunggu antrian. Fitha dan Sasha berniat menemani Aldo. Tapi sang gadis bernama Wulan dan sang ibu pun ada disana juga, terlihat sang ibu baru saja memasukkan data resepnya. Hal itu membuat Faishal terkejut dan gelisah. Ia benar benar tak mau lagi bertemu mereka.
"Sha kita pulang duluan aja gimana? biar Cilla segera istirahat , nanti kamu pulang dulu kan Fith, sambil nganter obat kan?" ucap Faishal
"iya kak gitu aja, kasian Cilla kalo nunggu ,tuh masih rame. Nanti Sasha sekalian kita jemput ke kampus." balas Fitha
"Yaudah kita duluan ya Fith." ucap Sasha, lalu ia mengikuti Faishal dibelakangnya. Faishal terlihat amat kerepotan membawa dua buah tas dan barang lainnya.
Gadis yang bernama Wulan tersebut tidak sengajw melihat Faishal menunju mobilnya, namun karena dari arah belakang, ia tak yakin jika itu Faishal, ia mencoba menelisik dengan pandangannya, benarkah orang yang berjalan membawa tas dan diikuti seseorang menggendong bayi dibelakangnya adalah Faishal? Namun ia menampiknya.
"ah paling mirip, ga mungkin kan dah punya anak istri, masih muda banget koq, lagian mukanya ga kelihatan, tapi.... Kayak mirip sih. Bukan bukan koq! pasti kita ketemu lagi kan mas FAISAL." Ucap Wulan dalam hati, ia langsung tak bisa melupakan nama faishal dalam benaknya.
.
.
.
.
" Sha!! Tunggu, aku ikut bantu yah." seru Fitha dari kejauhan, disebelahnya telah berdiri Dennis dan Aldo.
" Ga usah Fith, kita berdua cukup koq, kan ga kotor banget. Kalian pulang aja bantuin bunda. Denis! Bunda dah masak banyak tuh, sana dihabisin." ucap Faishal sebelum membuka mobilnya.
" siyaaaap!" ucap Dennis senang.
"Yah aku kan pingin bantuin Sasha." ucap Fitha cemberut.
"ck, lo nih ga faham banget sih dikodein! Kakak maunya berdua aja tauk! Gangguin penganten baru aja! Kasih mereka ruang napa sih, lo mau jadi kambing congek?" ucap Aldo
"iya iya ga ikut." ucap Fitha kesal
__ADS_1
"dah ya!" Faishal berpamitan dan melajukan mobilnya.
Fitha dan yang lainnyapun pulang kerumah Aldo setelah Bastian ikut bergabung. Karena hari ini Bastian tidak membawa motornya, motornya terpaksa masuk bengkel setelah menggilas paku dijalan.
Sasha dan Faishal sampai juga diperumahan. Rumah dimana ia sempat tinggal. Rumah yanh penuh kenangan walau hanya selama 3 bulan mereka disana. Sasha amat merindukan rumah ini.
"Napa? Kangen yah? Ini kan rumah kamu sekarang." ucap Faishal yang tersenyum melihat sang istri mengitari semua ruangan dirumah tersebut.
"koq rumahku sih mas? Ini kan rumah mas Faishal." ucap Sasha, Faishal mengunci pintu lalu memeluk Sasha dari belakang. Jantung Sasha jadi berdebar.
"sayang, kita kan dah menikah, jadi rumahku ini juga jadi milik kamu, hm?" ucap Faishal lembut, ia mulai mencu*m*bu sang istri membuat sekujur tubuhnya menjadi panas, dan jantung mereka saling bertabuh.
"Ma mas... Kita bersih bersih ga?" ucap Sasha lirih, nafasnya sudah tak beraturan, menikmati sentuhan demi sentuhan lembut sang suami. Lalu Faishal membawanya kekamar dan terjadilah yang memang pasti terjadi.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pk.16.30 sore sedangkan mereka belum menunaikan sholat asharnya. Mereka buru buru kekamar mandi, Faishal memaksa ingin mandi bersama sang istri. Ia merasa sangat bebas ketika dirumahnya sendiri. Namun Sasha merasa curiga, ia tak mau jika tak jadi membersihkan diri pada akhirnya.
" pokoknya aku mandi sendiri mas,! awas kalo masuk! Tapi.... Aku ga bawa salin." ucap Sasha yang ingat jika ia tak membawa ganti.
"Sudah aku siapin koq, lengkap pokoknya!" ucap Faishal sambil memainkan alisnya tanda ia memang sudah berniat melakukan ini.
"pantesan Fitha disuruh pulang, dah niat banget! Mana bajunya mas?" Ucap Sasha geleng geleng kepala, ternyata sang suami memang sudah merencanakannya sampai membawa baju ganti untuk mereka berdua.
Faishal memberikan pakaian Sasha, setelah Sasha selesai, barulah Faishal membersihkan dirinya, lalu mereka segera sholat ashar dan mulai membersihkan rumah.
"Mas, kulkas aku hidupin yah. Gimana kalo kita nyari beras?" ucap Sasha setelah selesai membersihkan bagian dapur.
"Yaudah habis ini kita cari perlengkapan sekalian, sama bahan bahan makanan." jawab Faishal.
"Sha, selama kamu jadi istri aku, aku belum secara resmi ngasih nafkah ke kamu, Rasanya ga enak kalo tiap kamu belanja kita harus rebutan bayar, kamu terlihat masih ga enakan sama aku, ini kamu bawa, ini gaji aku, ada tabungan aku sedikit buat tambah tambah, pokoknya kamu butuh apa aja kamu ambil dari sini. Kamu atur aja kebutuhan keluarga kita, sementara kita masih hidup bareng bunda, kalo kamu ga enakan sama bunda dan mau beli sayur atau baha makanan beli aja, kamu ga usah pakek uang saku kamu yang kamu bawa dari lampung, itu disimpan saja, pakek uang yang ada disini, nanti kalo aku butuh bawa uang atau beli bensin aku tinggal minta kekamu. Gaji dokter muda seperti aku belum banyak, tapi cukup jika buat hidup sehari hari dan biaya kuliah kamu. Kamu atur aja." Ucap Faishal sambil memberi kartu atmnya yang berwarna biru.
Sasha ragu mengambilnya, ia masih berfikir panjang, masih ada rasa tak enak hati jika ia menjadi beban bagi Faishal. Selama ini ia belum merasa kekurangan karena lebih bayak Faishak yang membelikannya sesuatu atau membayarkan untuknya.
"Apa boleh seperti ini mas? Kamu.... Bener bener ridho?" Tanya Sasha ia ingin memastikan keikhlasan sang suami.
"Ridho, lillahita'ala. Ini nafkah buat kamu. Nanti mulai bulan depan aku akan lebih memperhatikan kamu, akan aku sendirikan mana nafkah istri mana nafkah keluarga. Biar kamu lebih leluasa mengaturnya." ucap Faishal sambil memandang sang istri dengan tatapan teduhnya.
"Makasih ya mas, aku janji akan mengaturnya dengan baik. Semoga mas selalu diberikan rezeki yang berlimpah." ucap Sasha lalu ia mencium punggung tangan sang suami, Faisal membelai ramut Sasha lalu mengec*up puncak kepalanya.
__ADS_1
Faishal amat tenang saat ini, akhirnya ia dapat menafkahi sang istri dengan benar. Ia berharap semoga kedepannya keluarga kecil mereka tidak akan kekurangan walau tetap harus berhemat karena ia barulah seorang dokter muda.
Mereka berduapun sangat antusias menyambut keluarga Sasha dari Lampung, dan Faishal tak ingin sampai keluarga barunya akan kekurangan dan tidak nyaman selama berada di Jogjakarta.