
Hari berlalu sangat cepat, saat pagi hari perawat mulai memeriksa keadaan Cilla, mengambil darahnya kembali dan melihat keadaan luka di dahi Cilla. Panasnya telah turun, namun masih sering merengek. Sasha dan Faishal dengan sabar menunggu hasil lab dari Cilla. Faishalpun menjelaskan kepada istrinya jika keadaan Cilla sebenarnya semakin membaik, Faisal memeriksan Cilla dengan seksama. Faishal sebenarnya ingin membawa Cilla agar dirawat Inap dirumah sakit tempat ia bekerja, namun prosedur yang harus ditempuh amat banyak. Bundapun bergantian berjaga dirumah sakit karena Faishal harus praktek dan Sasha harus kuliah. Sore harinya Sasha dan Fitha kembali kerumah sakit setelah pulang dan membersihkan diri. Hasil labnya pun telah keluar, dan keadaan Cilla mulai membaik.
"Suster, apa masih harus transfusi darah?" Tanya Sasha
"Engga koq mba, hasilnya dah bagus, sementara kita infus dulu sampai keadaannya benar benar fit, besok jadwal visit dokternya jam 9 pagi, jadi keputusannya bisa pulang atau tidak nunggu besok yah." ucap perawat yang datang mengganti infus Cilla.
"Iya mba makasih." ucap Sasha
Sasha dan Fitha lega karena keadaan Cilla membaik. Namun masih rewel, dan mulai meminta apa saja, ia tak mau jika terus ditidurkan ranjang pasien, dan setiap melihat tangannya yang dipasangi perban serta penahan infus Cillapun menangis lagi. Terkadang jika Sasha lengah maka Infusnya bisa ditarik tarik oleh Cilla sehingga Sasha tak bisa lepas memandangi Cilla.
"Lho koq berdarah ini?" Sasha terkejut melihat selang infus Cilla ada darahnya.
"Mana Sha??" tanya Fitha yang juga cemas.
"Aduh, bentar panggil perawat dulu." Fitha berlari keluar kamar.
"Fith! Kenapa?" Aldo yang baru saja sampai melihat Fitha berlari dengan cepat menjadi khawatir, Faishal yang juga baru sampai berasam Aldo langsung berlari menuju kekamar.
"Sha kenapa?!!" Faishal langsung masuk, melihat ada apa sebenarnya yang terjadi.
"Maaaas... inih, Cilla koq berdarah." ucap Sasha, suaranya bergetar sambil menggendong Cilla yang juga sedang merengek dan tak mau diam.
Faishal langsung mencuci tangannya dan melihat selang infusnya. Dan ia merasa sedikit lepas dari kecemasan. Ternyata darah tersebut dikarenakan Cilla yang bergerak terus sehingga terjadi hal itu. Faishalpun langsung membenahi infus Cilla.
"gapapa koq , ini Cilla gerak terus, makanya darahnya naik. Ini sudah mas benahi." ucap Faishal tenang
"Syukurlah, sayangnya bunda, kacian banget, ga mau ya pakek infus? Sabar dulu ya sayang." ucap Bunda menenangkan Cilla, lalu Cilla meminta digendong sang ayah.
"Sini sini sama ayah. Kangen ayah yah?" Ucap Faishal menenangkan Cilla, Sasha merasa lega suaminya datang tepat waktu.
"Gimana mba?" Ucap perawat yang tadi di panggil oleh Fitha.
"Sudah mba, tadi dibenahi suami saya?" ucap Sasha lembut
"Coba saya cek, oh ya dah betul. Lain kali jangan melakukan tindakan sendiri ya mba, nunggu petugas kesehatan yang datang. Kami takut nanti terjadi apa apa." Ucap Sang perawat, beliau khawatir jika salah dalam melakukan tindakan walaupun sebenarnya dia heran mengapa Faishal bisa membenahinya dengan tepat.
"Maaf mba perawat, kakak gue ini dokter lho." ucap Aldo, membanggakan sang kakak.
"Ahh, beneran? Dokter beneran? Tenane lho mas?" ucap perawat tak begitu percaya.
"iya mba, saya praktek di GMC." ucap Faishal ramah
__ADS_1
"Ya ampun maaf, dokter siapa kalo boleh tau?" tanyanya kembali
"Faishal Pratama di klinik pediatri." ucapnya lagi.
"Oalah, maaf maaf ya dok, kalo begitu saya permisi." ucapnya canggung, walau iapun belum bisa percaya 100% yang dikatakan Faishal, ia kembali keruangannya lalu mengecek komputer disana, ia melihat data Dokter pediatri yang ada di GMC secara online dan betapa terkejutnya ia, ternyata benar apa yang dikatakan Faishal, ia menjadi malu karena sempat merasa dibohongi oleh Faishal yang dianggap anak anak kuliahan olehnya. Ternyata benar benar seorang dokter.
.
.
.
.
Keesokan harinya Faishal sedang tidak ada shift pagi sehingga ia dapat menjemput Cilla dan Sasha lalu mengantar Sasha kekampus kembali karena ada jadwal kuliah siang harinya. Setelah dokter yang memeriksa datang, Cilla diperbolehkan pulang sehingga infusnya sudah bisa dilepas. Fithapun membantu Sasha membereskan ruangannya sambil menunggu Aldo dan Faishal menjemput mereka. Sedangkan Cilla tertidur pulas setelah sempat menangis keras ketika selang infusnya dilepas.
"Sha nanti kita bareng Aldo aja. Kakak biar pulang sama Cilla. Tapi kita kerumah dulu aja, biar Cilla ada yang jagain. Baru deh kekampus. Kalo kakak nganter kamu trus Cilla ditaruh dikursi gitu?? Jatuh nanti Sha." Ucap Fitha
"iya juga ya?? lemot banget sih aku Fith, lagi ga bisa mikir, ini nenek, Ibu, Ayah ,Sinta ma Sari dah berangkat katanya dari rumah." ucap Sasha
"naik apa?" ucap Fitha
"naik Bis. Bisnya nanti jam 1, ini lagi perjalanan ke terminal." jawab Sasha
"iya, tapi aku belum bilang mas Faishal soalnya baru aja nih Sinta ngirim pesan." ucap Sasha
"berati nginep dimana nanti?" tanya Fitha
"apa dikontrakan kita aja yah." ucap Sasha sambil berfikir
"Kejauhan lah Sha." Ucap Fitha.
"Yaudah nanti aki tanya ma mas dulu deh. Yuk buruan nih kita selesaiin beres beresnya." Sasha dengan cepat membereskan barang barang dikamar.
"nih Aldo sudah dateng dia nunggu di Farmasi katanya, Kakak juga disana tuh. Kamu disini dulu aku nyerahin resep ke Farmasi ya nanti aku balik sini lagi. Biar yang ngantri mereka aja."
Sementara diluar bangsal, tepatnya dibagian Farmasi.
"Do! Dah lama?" Ucap Fitha setelah bertemu Aldo.
"belum sih, kakak yang udah lama, tapi kakak baru ketemu seniornya dulu. Nanti nyusul ke bangsal. Mana resepnya gue ambilin." Ucap Aldo
__ADS_1
"Nih, emang dimana sih kakak ketemu senior?" ucap Fitha rasanya ingin menyusul.
"di klinik ortopedi, ngapain sih? Mau nyusul?" ucap Aldo penuh curiga
"pingin sihh, sapa tau dapet gebetan dokter ortpedi." ucap Fitha sambih terkekeh
"ya sana, masih singgle koq, umurnya baru 40an tahun, gue dukung deh kalo dia naksir lo." Ucap Aldo sambil mengulum senyumnya , ia amat senang melihat raut wajah Fitha yang seketika berubah setelah mendengar umur sang dokter singgle tersebut.
" tega banget sih do kamu!!! dah ah males sama kamu, mending aku nyusul Sasha disana. Bye." Fitha dengan kesal meninggalkan Aldo. Aldo tersenyum senyum snediri melihat tingkah Fitha, dalam hatinya ia amat bersyukur, Fitha lupa mendaratkan cubitannya. Karena jika kesal Fitha biasanya reflek mencubit lengan Aldo hingga Aldo meringis.
.
.
.
.
"Mas Pardi, makasih ya sharingnya, besok saya tanya tanya lagi kalo pas dapet pasien dengan kasus seperti ini." ucap Faisal setelah selesai berkonsultasi, ia segera pamit karena jadwa praktek seniornya ini sudah mulai dibuka karena sudah pk. 9 pagi.
"pokoknya selama bisa membantu kita komunikasi terus, saya bangga sama kamu lho Sal, kamu itu konsen, padahal kamu bisa langsung lepas aja dan langsung rujuk ke dokter ortopedi disana, tapi kamu tetep mau mempelajari." ucap dr. Pardi
"biar tambah detil rujukannya mas, paling tidak saya bisa tahu sejak dini pasien saya itu harus diberi tindakan apa dan dirujuk kemana. Karena kalo pasien anak anak kan suka ga bisa jelasin kan mas, apalagi kalo sudah rewel kan. Orang tuanya juga kadang ga menjelaskan secara detil dan pasrah sama kita semua. Wah dah menyita waktunya mas, saya permisi ya." ucap Faishal
"njih njih monggo." jawab dr Pardi.
Faishalpun keluar ruangan sang dokter, namun siapa sangka ia bertemu lagi dengan gadis yang mirip dengan Cilla didepan ruangan klinik tersebut, sedang menunggu antrian sambil duduk dikursi roda. Terlihat sang gadispun langsung menatapnya sambil tersenyum begitu Faishal melihatnya, Faishal lalu menyapa sambil menganguk. Sang gadis jadi merona wajahnya, ia tak menyangka akan sering bertemu.
Saat Faishal melewatinya sang gadis tak mau menyianyiakan waktu ia langsung meraih lengan faishal. Membuat Faishal terkejut lalu reflek menepis tangan sang gadis.
"Mas tunggu!" ucap Wulan
"Iya gimana?" jawab Faishal, ia tak enak hati jika menolak karena dihadapan banyak orang.
"mas bisa bicara sebentar?" ucap Wulan penuh harap
"tapi saya harus segera pergi mba, keluarga saya sudah menunggu." ucap Faishal sopan
"buk, ini buk yang nolongin Wulan, waktu didepan rumah." ucap Wulan kepada ibunya yang ada disampingnya.
"oh njih, maturnuwun njih mas sudah nolongin anak saya. Namanya siapa?" tanya ibu dari Wulan
__ADS_1
"Faishal bu. Kalo begitu saya pamit dulu bu, sudah ditunggu. Maaf tidak bisa berlama lama, mari bu, mbak" ucap Faishal sopan lalu pergi setelah berpamitan. Ia mulai merasa tak nyaman oleh sang gadis, ia paling benci ada orang lain yang tidak dikenal menyentuhnya.
"kenapa ya ketemu terus, besok kalo ketemu lagi aku mau pura pura ga lihat aja." gumamnya dalam hati.