
Malam itu terasa panjang bagi Faishal, selepas magrib, ia didatangi oleh Ayah dan para tetua untuk latihan ijab kabul. Faishal merasa berdebar, ia berharap akan melakukan ijab kabul dalam satu tarikan nafas. Ayah selalu mengelus pundaknya ketika Faishal gugup sehingga banyak kesalahan pengucapan. Lalu ia berusaha dengan kuat melafalkannya.
Lalu para tetua memberi tahukan prosesi adat yang dilakukan esok harinya kepada seluruh keluarga, ya Faishal akan mengikrarkan janji sucinya pada pk.09.00, sesuai kesepakatan dengan penghulu. Namun para tetua mengatakan jika prosesinya akan disingkat saja karena persiapannya sangat mendadak, dan itu dimaklumi oleh seluruh keluarga Faishal yang hanya akan menurut saja.
Fithapun bahagia, Sang mama datang sehabis magrib mengendarai mobil mereka yang sederhana, mobil yang biasa dibawa mama papanya saat mendapat job rias pengantin. Malam itu setelah tetua pulang, mama dari Fitha mencocokkan beberapa baju pengantin pria untuk Faishal, awalnya sempat bingung karena Faishal terlalu tinggi, namun postur tubuhnya sangat ideal membuat mama Fitha segera dapat mengatasinya.
Lalu mama Fitha beralih kekediaman Sasha yang sudah dihiasi pelaminan khas daerah tersebut, namun hanya pelaminan saja yang terlihat didekor dengan baik, karena waktu yang tak memungkinkan mendekorasi layaknya acara pernikahan disana. Kamar Sasha pun telah didekor ala sepupunya karena tak mendapat pinjaman dekorasi kamar, sehingga para sepupunya berkreasi sendiri namun masih terlihat cantik. Sasha bertubuh mungil seperti putrinya sehingga lebih mudah bagi mama Fitha mencarikan ukuran baju pengantin Khas lampung yang ada dirumahnya, sebagai seorang penata rias pengantin, mama Fitha harus menyediakan berbagai ukuran agar ukuran kliennya dapat dipenuhi. Mama Fitha hanya berdua dengan sang ayah, mereka sudah terbiasa bekerja bersama, mamanya yang akan bertanggung jawab dengan pengantin perempuan, dan papanya yang mengurusi pengantin laki laki. Untungnya Fitha ada disana, Fitha juga bisa membantu merias ibu kedua mempelai, karena sejak kecil sudah terlatih membantu sang mama walau belum sepintar mamanya, sehingga ia gak pernah mau menggantika sang mama merias pengantinnya, karena lebih sulit menurutnya.
Pada malam harinya setelah fitting baju pengantin Sashapun dikelilingi para gadis sahabat kecil yang bertetangga denganya serta beberapa sepupu perempuannya untuk memasang 'pacar' di kukunya yang kita kenal dengan hena atau inai. Namun bedanya pacar ini terbuat dari daun pacar kayu yang ditumbuk halus dan ditempeli dikuku sehingga membuat kuku berwarna kuning kecoklatan hingga merah maroon tergantung seberapa lama daun pacar menempel. Sasha hanya pasrah dan menuruti saja apa yang akan dilakukan para gadis tersebut. Ia hanya bisa tersenyum bahagia.
.
.
.
"Fith!" Aldo berlari ke arah Fitha
"napa!" balas Fitha sewot
"ck, yang baik kenapa sih,!."
"cepetan Do mau bilang apa! dah malem ini, besok aku mau bantuin mamaku merias pagi pagi."
"iya iya bentar napa sih. Bunda tanya, udah dibayar belum make upnya, kalo belum bunda aja yang bayarin."
"ga usah do! ini kadoku buat Sasha, soalnya mamaku ga mau dibayar, aku kan ga bawa apa apa inih, biar jadi kadoku."
__ADS_1
"yaudah makasih ya, besok yang merias bunda lo kan? pakek make up bunda aja, bunda cocok cocokan katanya."
"oke besok habis subuh aku kesana, sampein ke bunda."
"Fith!...."
"apa lagi?????" jawab Fitha kesal karena ia terburu buru ingin segera istirahat.
"lo ada rasa sama Riyan?" tanya Aldo lalu sedikit menggigit bibir bawahnya, Fitha malah kesal ditanyai seperti itu.
"bukan urusan kamu kan? dah ah dah ngantuk nih. Cilla kasian tau ga ada yang ngelonin, seharian cuma sama Sinta." Fitha lalu berlalu meninggalkan Aldo yang aneh menurutnya
"ya udah sana!" Aldopun berbalik menuju tempat keluarganya berkumpul.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Semua keluarga mulai bersiap siap sejak subuh. Ayah mulai memberi wejangan wejangannya kepada sang putra yang akan melepas masa lajangnya hari ini.
Begitu pula dikediaman Sasha, sejak pagi Sasha sudah diminta mandi serta sarapan lebih pagi oleh ibunya, beliau khawatir Sasha akan pingsan mengingat pakaian serta singer yang berat akan dikenakan putrinya. Lalu selepas sholat subuh, Sasha mulai dirias dikamarnya. Begitu pula sang ibu , setelah Fitha merias bunda ia kerumah sasha untuk merias ibunya Sasha, hanya mereka yang sanggup dirias mengingat mama Fitha tidak membawa asisten riasnya. Setelah semua selesai barulah Fitha mandi dan merias dirinya sendiri, iapun ingin tampil cantik dipernikahan sahabatnya karena ia akan mendampingi Sasha saat prosesi sekalian menjaga agar riasan serta atribut pakaian pengantinnya tak ada yang bermasalah selama prosesi yang akan diselenggarakan dari jam 9 pagi hingga jam 1 siang. cukup singkat mengingat tak begitu banyak rangkaian adat yang akan dipenuhi karena kurangnya persiapan, sehingga prosesi yang penting saja menurut keluarga Sasha.
Cilla? bagaimana kabarnya? Sasha dan Fitha tak khawatir mengenai Cilla, keluarga Sasha amat pandai mengurus bayi sehingga walau dititipkan oleh berganti ganti orang namun Cila tetap terjaga dengan baik, hanya rewel sesekali apabila lelah.
Pukul 7 Aldo sudah menjemput penghulu ditemani bastian dan paman dari Sasha yang faham dengan lokasi disana.
Sasha telah selesai dirias mengenakan pakaian pengantin khas pepadun dengan singer cantiknya, semua yang melihat takjub, karena Sasha terlihat berbeda dan sangat cantik, bahkan terlihat mirip sang ibu sejak muda begitulah para uwak dan pamannya memuji. Sasha sedang berdebar menunggu acara dimulai. Fitha telah sibuk dengan ponselnya yang sudah ia isi dengan penuh dayanya. Ia memotret Sasha dengan penuh antusias lalu mengirimkannya ke bunda Faishal. Bunda jadi terkesima melihatnya. Lalu tersenyum senyum sendiri, membuat Faishal yang sedang berganti pakaian menjadi bertanya tanya.
"bunda kenapa sih? senyum senyum sendiri."
__ADS_1
"ini lho Fitha ngirimin foto sasha yang habis dirias. duh duh bunda ga sabar pingin lihat langsung."
"lihat bun." Faishal juga penasaran ingin sekali ia melihat Sasha.
"eit, ga boleh, ini foto cuma punya bunda. Kamu belum waktunya, nanti habis kakak selesai bunda foto yah mau bunda kirim ke Fitha buat balas jasa. hihi" ucap bunda sambil meledek sang putra membuat para om dan tantenya semua tertawa. Faishal jadi tersenyum malu terlihat sekali sudah tak sabar ingin bertemu Sasha.
Faishalpun telah selesai dipakaikan pakaian adat lampung pepadun oleh papa dari Fitha, ia terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Bunda mengagumi putranya, menurutnya sangat berbeda dengan suaminya disaat menikah dulu karena Faishal cenderung mirip dirinya walau tinggi dan posturnya menuruni sang ayah, putranya lebih gagah dalam pandangannya. Bunda tak henti memotret Faishal dari berbagai arah membuat Faishal geleng geleng kepala, namun ia bahagia karena membuat keluarganya bahagia.
"Ayah sini foto dulu! dek fotoin kita yah." Bunda meminta suaminya berfoto bersama sang putra dan dibantu memotret oleh adik iparnya.
Bunda lalu mengirim semua foto Faishal ke Fitha membuat Fitha tersenyum senyum. Sashapum Sama penasaran apa yang membuat Sahabatnya begitu bahagia. Namun Fitha pun sama, tak ingin menunjukkannya kepada Sasha membuat Sasha jadi malu didepan para kerabatnya Fitha terang terangan membuatnya menjadi tersipu. Sasha jadi berdebar.
"Fitha! bunda kasih challence ya, nih bunda kirim foto bunda ma ayah ma kakak, ayok kirimin yang sasha ma ibu ayahnya." Bunda menelfon Fitha lalu disanggupi Fitha.
Fitha meminta ayah dan ibu Sasha berfoto mengapit Sasha ditengahnya lalu ia kirimkan kepada bunda. Saudara serta kerabat yang menekat diajak berfoto oleh Fitha. Dan iapun tak lupa berselfy ria bersama Sasha yang sudah berdebar menunggu acara dimulai, berkat Fitha rasa gugup Sasha sedikit berkurang. Sayangnya kamera mereka hanya kamera HP namun cukup bagus untuk berfoto. Sedangkan kamera yang untuk fotografer sedang dibawa bastian. Bunda sengaja menyiapkannya agar pernikahan putra sulungnya dapat diabadikan dengan baik.
Penghulu datang 30 menit sebelum prosesi adat. Dan keluarga pihak perempuan diharap bersiap menunggu pihak laki laki datang, Debaran jantung Sasha makin kencang, Fitha menggenggam tanganya yang sudah terasa sangat dingin, sebentar lagi ia akan menjadi istri dari seseorang yang spesial dihatinya.
**************************
Masih prosesi pernikahan ya my lovely readers
Author mengucapkan maaf yang sedalam dalamnya terkhusus untuk masyarakat lampung, apabila dalam prosesi adat yang disajikan berbeda jauh dengan keadaan sebenarnya. Mengingat Author bukan berasal dari Lampung jadi hanya mengadaptasi dari beberapa sumber saja.
Semoga tidak mengurangi minat mylovely readers semua...
Selamat membaca 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1