
Jam menunjukan pukul sepuluh pagi alva baru bangun dia bersandar di headboard ranjang kamar utama rumahnya dia merasakan Hangover.
'ceklek..
Kevin masuk ke kamar Alva
alva meletakan hp nya ke nakas.
"Hangover gue"ucap alva memegang kepalanya
"Minum ini"kevin menyerahkan minuman hangat ke alva.
"loe bawa gue ke rumah ga ke hotel"ucap Alva
"Daddy"seru kail berlari mendekati alva yang masih di ranjang di ikuti axel di belakangnya.
"Hai boy kamu sudah tampan dan wangi apa kamu sudah sarapan?"alva memeluk erat kail di pangkuannya menciumi ceruk leher kail dengan di iringi gelak tawa dari kail.
"Daddy please stop ini geli"pintanya dengan suara yang masih tergelak.
"Ah oke daddy melepaskan mu kali ini tapi tidak untuk lain kali karena daddy ingin ke kamar mandi untuk saat ini"ucap alva melepaskan kail dari pelukannya.
"Mr jack mau kesini bos"ucap rey yang baru saja datang dan bergabung di kamar alva.
"Dia pasti sudah menceritakan tentang kedatangan mu"ucap kevin.
"Ya kurasa seperti itu dia kan lemes udah kaya ibu² yang sedang kumpul saat belanja sayur mulutnya selalu gatal untuk ghibah"ucap alva membuat rey terkekeh.
Alva berlalu ke kamar mandi.setelah beberapa saat alva keluar dengan menggunakan kaos dan celana pendek atas lutut.
mereka kini sarapan bersama di ruang makan.
"Dua hari lagi mobil anda datang bos"ucap rey.
Terdengar langkah sepatu mendekat terlihat pria dengan wajah bule menggunakan kemeja biru dengan jas namun tanpa dasi berdiri melihat ke arah meja makan.
"gosip apa yang kamu bawa"tanya Alva melihat Jack menarik kursi dan duduk di sebelah Axel.
"ck kenapa sih bawaan mu itu curigaan terus"ucap Jack sambil mengambil makanan untuknya.
"hallo boy"sapa Jack melihat kail yang sedang menikmati sarapannya.kail hanya melihat ke arah Jack tanpa membalas sapaan Jack.
"kenyataannya memang mulutmu selalu gatal untuk ngomongin orang"ucap alva.membuat Rey dan Axel tersenyum.
"aku hanya mengatakan fakta"sergahnya dengan mulut yang penuh makanan.alva mendengus kesal melihat jack.
"Kamu bayangkan wajahnya saat mendengar anaknya telah kembali dan masih hidup setelah dinyatakan menghilang bahkan polisi mengatakan kemungkinan sudah meninggal tujuh tahun yang lalu,binar bahagia lega terlihat dari matanya"ucap Jack menceritakan wajah Abra saat mendengar anaknya telah pulang saat meeting tempo hari.
Alva hanya diam mendengarkan jack.dia hanya meminum kopinya.rey dan Axel diam saling pandang.kevin melihat ke arah Alva,dia berbisik meminta kail untuk menyuapkan makanan ke mulut Daddy nya.
"daddy buka mulutmu aku akan memasukkan makanan ini ke dalam mulutmu"titah kail membuat Alva mengalihkan pandangannya.
"thank you boy"Alva membuka mulutnya dan menerima suapan dari kail.
"apa yang kamu lakukan setelah ini"tanya Jack.
__ADS_1
"tentu membuatnya tidak mengakui ku lagi"ucapnya.
"maksudmu?"Jack bingung dengan ucapan Alva yang ambigu.
"Kamu tidak perlu tau"ucap Alva membuat Jack mendengus kesal.
"Oh ya bos apartemen sudah di urus sean,anda bisa menempatinya"ucap rey lagi mengalihkan pembicaraan.
"Oke berarti kita bisa menjalankan rencana"ucap alva
Kevin dan rey mengangguk.
"Axel apa saja yang di butuhkan kail"tanya alva.axel menyebutkan apa saja yang di butuhkan kail sesuai permintaan bibi sarah.
"Oke boy kita hari ini ke mall"ucap alva.kail bersemangat untuk pergi jalan² ke mall bersama daddy nya.
"ayahmu merindukan mu"ucap Jackson.
Alva hanya berdecih.
"kehidupan mereka sudah bahagia"ucap Alva
"setelah urusan disini selesai kita akan tinggal di Singapura"ucap Alva lagi membuat Jack dan Rey terkejut.
"apa kamu yakin"tanya jack.alva mengangguk.
"Kamu tidak ingin tau keadaan ayahmu"tanya jack.
"Ga penting mana berkasnya"ucap alva.jack pun memberikan berkas² yang harus di periksa Alva setelah memeriksa beberapa berkas di atas meja dia beranjak dari duduknya dan membawa berkas tersebut.
"gue mau ke mall dulu"ucap alva lagi.
"Dengan anakmu?"tanya jack.
"Hemm banyak yang harus aku beli"ucap alva.
**
setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam.
Saat ini mereka sedang ada di salah satu mall terbesar alva menggandeng kail ada kevin di samping kail sedangkan rey dan axel berjalan di belakang mereka.alva mengenakan kaos oblong warna army dan celana kolor warna krem,dengan sepatu kets dan topi terbalik dan kacamata hitam yang menggantung di kaos nya.
Kail pun memakai pakaian yang sama.
"Daddy apa kail boleh membeli buku?"tanya kail.
"Of course boy"ucap alva.
"Thank you daddy"alva tersenyum mengacak rambut anaknya.
setelah lelah berjalan karena belanja dan mencari buku² untuk kail,kini anak itu kelelahan setelah makan es krim.
Alva menggendong kail berjalan keluar mall,banyak pasang mata yang melihat ke arah Alva berjalan sebutan hot daddy tersemat untuknya.
"Apa anak daddy tidur?"tanya alva.kail menggeleng di ceruk lehernya.
__ADS_1
Alva mengantarkan kail pulang ke rumah,bibi sarah menyambut di depan pintu.
Setelah mengantarkan kail,Alva meminta di antarkan ke apartemen.
"Ke apartemen rey gue yakin mereka sudah mengerahkan orang buat nyari gue"ucap alva.
"apa yang bakal loe lakuin"tanya Kevin.
"tentu aja membuatnya muak setelah hilang kini datang dengan keadaan yang berbeda"ucapnya dengan seringai tipis.
"dia pasti akan mengawasi,bikin anak buahnya hanya mengetahui kebangsatan gue,bukan tentang kehidupan gue belum saatnya mereka tau tentang gue"Kevin mengangguk.
"panggil ****** yang berbeda setiap harinya ke apartemen"ucap alva.kevin hanya diam tak menyahut.
"gue pastikan dia akan jijik dan muak dengan gue dengan begitu dia ga akan Sudi lagi mempunyai anak kaya gue,dan gue bisa pergi tanpa beban"ucapnya walaupun ia tau apa yang di ucapkanya salah.
Rey yang mendengar hanya diam, kekecewaan seseorang akan merubah sifat manusia pikirnya.
setelah menempuh perjalanan melewati kemacetan ibukota dan panasnya udara dan polusi kini mereka sudah sampai di apartemen lama Alva ,Sean sudah mengurus semuanya,Alva memasukkan pin apartemen tersebut setelah pintu terbuka terlihat apartemen yang masih sama seperti dulu photo keluarga dan baju² yang dulu sering dia pakai saat menginap di apartemen.
seorang cleaning service telah membersihkan apartemen nya.kevin dan Rey memeriksa setiap ruangan tersebut.alva merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kaki yang menggantung ingatan tentang masalalu kembali teringat.
*flashback
"bugh..alva memukul zian tepat mengenai pipinya.
"Brengsek kalian berdua,gue ga nyangka loe kaya gini di belakang gue zi!"Ucap alva menatap zian tak percaya sahabat yang sudah seperti saudara nya sendiri menghianatinya.
"sorry ar,tapi dia ga cinta sama loe kita udah jalin hubungan dari sebelum loe nembak dia"jelas zian
"terus kenapa loe terima gue jadi pacar loe ras? kalo loe ga cinta sama gue?"tanya alva ke laras adik kelas Alva saat SMA yang berpacaran dengan Zian namun karena tidak enak hati Zian menyuruh Laras menerima Alva.
laras hanya diam tak menjawab dia baru kali ini melihat alva semarah itu dengan rahang mengetat dan mata memerah.
"JAWAB!! kenapa harus sama ZIAN! dia sahabat gue dari kecil kenapa harus dia?"suara alva menggema menuntut jawaban dari laras
"sorry ar waktu itu gue ga enak buat nolak loe," jawab laras
"cih"alva berdecih sakitnya di hianati oleh sahabat serta pacarnya sendiri selama setahun dia merasa menjadi orang bodoh.
"hubungan kita udah setahun,berarti kalian begini di belakang gue selama itu?
hahaha gila bodoh banget gue jadi cowok"Alva tertawa sumbang menatap dua orang di depanya.
"sorry ar gue yang nyuruh laras buat Nerima loe karena gue gak tega loe patah hati karena ga di terima cintanya sama laras"ucap zian.
"terus sekarang loe pikir gue ga patah hati liat kalian berdua,jadi loe lebih milih gue patah hati dengan cara begini?"alva menekan emosinya yang hampir meledak ke sahabatnya itu.
"sorry ar,loe sering curhat tentang laras,dan sebagai sahabat gue.."ucapan zian terpotong oleh alva
"sebagai sahabat loe lebih milih main di belakang gue gitu?bangsat loe zi"ucap alva
"sorry ar bukan itu maksud gue"ucap zian
"kita putus,lanjutkan hubungan kalian,sorry udah jadi penghalang di antara kalian.thanks buat hari ini"ucap alva berlalu keluar dari cafe.
__ADS_1