
Kevin menghapus Saliva di bibir Alva dengan ibu jarinya senyumnya mengembang.
Kevin dan Alva berjalan keluar dapur Alva membawa minuman kaleng sedangkan Kevin kembali ke kamar.
"astaghfirullah apa yang kamu lakukan nak"ucap Abra dia begitu syok melihat putranya tadi.ruang tengah dan dapur hanya di batasi minibar.tentu Abra Bowo dan Abi melihat kejadian tadi.
"apa yang kamu lakukan"ucap Abi dengan suara yang begitu dingin.
"apa?aku tidak melakukan apapun,oh ya hanya ini minuman yang tersedia"ucap Alva acuh.
"apa yang kamu lakukan kamu sadar dia adalah laki²,bahkan beberapa menit lalu kamu melakukannya dengan perempuan jal@ng"ucap Abi dia marah adiknya melakukan hal yang menyimpang menurutnya.
"apa kamu tidak waras hah?!apa kamu tidak takut tubuhmu akan kena penyakit menular hah?kamu menjijikkan"ucap Abi lagi Abra meneteskan air matanya ntah dia harus ngomong apa.
alva tertawa "ya aku tidak waras,siapa yang peduli dengan penyakit ku?dan ya aku menjijikan dan ini semua karena kalian"ucap Alva matanya berkaca².
"siapa pria tadi nak"Abra menahan diri agar tidak kelepasan saat mendengar jawaban alva.
"tanpa menjawab pun kalian sudah tau"ucap Alva menenggak habis minuman di gelasnya.
"apa dia tinggal disini?"tanya Abra lagi.
"ya kami tinggal bersama"jawab alva dia kembali mengeluarkan rokok dalam dusnya.
Melihat tangan alva yang bergetar "oh ****" umpatnya pelan.ayah abra meringsut mengambil alih korek dari tangan alva dan membantu menyalakan koreknya.alva menghisap dalam rokok tersebut.mata ayah abra terus memandang wajah anaknya,dia begitu merindukanya matanya berkaca² rasa ingin memeluk itu membuncah namun ia tahan andai ia tak mendengar umpatan semalam mungkin ia akan memeluk putranya.
Sesaat mereka saling diam.
"kamu sadar dia pria bukan?"tanya Abi,namun Alva tak menjawab.
"atau kamu punya kelainan?jawab Abang Arya,kamu punya kelainan?ayo kita berobat kita kembali berkumpul jauhi mereka Abang akan menemanimu"ucap Abi.
Alva hanya tersenyum sinis.
"tidak usah sok peduli dengan ku"jawab Alva.
"apa yang terjadi saat kamu menghilang hah,kenapa kamu jadi seperti ini"ucap Abi.
__ADS_1
"ayo kita berobat Abang akan temani bunda akan sedih jika lihat kamu seperti ini"ajak Abi mencoba membujuk alva.namun Alva hanya diam dia kembali menghisap rokoknya.
"Kemana saja ayah selama ini mencarimu"tanya abra.
"Kami semua mengkhawatirkan mu nak"tanya abra.
"Cih bukankah kalian sudah hidup bahagia tanpa saya?kalian sangat bahagia dan terlihat harmonis"ucap alva.abra menggelengkan kepalanya.
"kita mencari keberadaan mu kita semua mengkhawatirkan mu"ucap abra.
"Kalian sudah hidup bahagia mempunyai keluarga yang utuh,kalian tidak membutuhkan saya,lagian kalian tidak menganggap saya bukan?"ucap alva berbicara formal pada ayahnya.ayah abra menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu"tanya abra
"Ck kalian membuat keputusan tanpa melibatkan saya,stop bersandiwara seolah merasa kehilangan"ucap alva 'crak' dia meremas gelas minumannya.membuat Bowo dan Abi nyeri melihatnya.
namun Alva nampak tidak merasakan perih dia tersenyum melihat darah mengalir di telapak tangannya dia melepaskan genggamannya.alva menyelipkan batang rokok ke bibirnya dan tangan kirinya menyiramkan botol minuman beralkohol itu ke tangan kanan nya tangan yang meremas gelas itu.
'perih?'tidak! lebih perih hatinya lebih perih hidupnya lukanya tak sebanding dengan apa yang di rasakanya.
"apa yang kamu lakukan"ucap Abi dia mencari tisu ke dapur.namun Alva nampak santai jari tangan sebelah kirinya kembali menjepit rokok.bahkan dia memainkan darah itu.abra dan Bowo menatap Alva dengan tatapan yang sulit di artikan,obat itu ternyata benar Alva depresi terlihat dari tingkahnya pikir bowo.
"Tidak usah saya bisa sendiri"ucap alva dingin menarik tanganya dari tangan Abi
"biar aku obati"ucap Abi.namun Alva terus menarik tangannya abra mendekat
"biar ayah yang obati"Abi pun membiarkan ayahnya mengobati Alva.
"saya bilang tidak usah"ucap Alva,namun Abra tidak peduli dengan penolakan putranya.
"kenapa kamu melakukan itu apa kamu sudah gila hah lihat tangan kamu terluka" sebutan gila dari Abi membuat Alva terus ingin berbuat hal lebih gila karena kenyataannya dia gila kan pikirnya.dia tersenyum sambil menghisap kembali rokoknya.alva membiarkan abra membersihkan darah dan mengobati lukanya dia juga memperban tangan anaknya.
"Ayah sangat menyayangi mu,ayah sangat merindukan mu,ayah kehilangan anak ayah,ayah mencari mu kemana² nak,walaupun mereka mengatakan kemungkinan kamu sudah meninggal tapi ayah yakin kamu masih hidup dan akan pulang"ucap abra menatap alva.
"apa yang kamu pikirkan kami peduli denganmu tolong jangan berbuat hal yang menyimpang seperti ini bang itu tidak sehat kembali ke fitrahmu sebagai laki²,kita bahkan baru bertemu kembalilah pada keluargamu"ucap Abra.
"aku tekankan sekali lagi aku tidak punya keluarga,keluargaku sudah membuangku lalu keluargaku yang mana?"ucap Alva.
__ADS_1
"degh....Abra sakit mendengar kata² alva.
"kami tidak membuangmu nak kami mencarimu selama ini bahkan saat polisi mengatakan kamu sudah meninggal pun kami masih mencarimu"ucap Abra lagi
Alva meremas rambut kepalanya tangannya bergetar kepalanya menunduk nafasnya sesak keringat dingin terasa di tubuhnya.dia mencoba menarik nafas berkali².
"apa yang terjadi nak"tanya Abra.
"kamu kenapa Ar"tanya Abi.
"Kalo tidak ada lagi yang ingin di sampaikan silahkan pergi karena saya sebentar lagi akan keluar"ucap alva dia hanya berusaha menahan tubuhnya agar terlihat baik² saja.
Abra menatap nanar ia pun bangkit dari duduknya dia membungkuk memeluk alva membawa ke dadanya,alva diam masih duduk di sofa dia bisa mendengar degup jantung ayahnya yang begitu cepat"ayah sangat menyayangi mu"abra mencium pucuk kepalanya dan berlalu pergi.
Sesaat setelahnya dia mengambil obat yang ada di laci nakas kamarnya.dia menghembuskan nafas berkali².
"Aku ga akan kembali padamu sebelum anda menceraikan nya"gumamnya.
Abra membawa Abi keluar apartemen.
"yah ayah gimana sih Alva di kelilingi orang² yang ga bener yah,ayah lihat Alva membuat kita syok sama kejadian di apartemennya tadi, dia sakit yah kita harus obatin dia,ayah lihat sendiri laki² dan perempuan ya tuhan"ucap abi.saat ini mereka di lobi apartemen.
"cukup kita bahas ini di rumah"ucap Abra matanya melihat sekitar Abi yang paham mengangguk patuh mereka berjalan ke mobil masing².
Di dalam mobil Abra.
"Apa anak ku punya kelainan bowo?"tanya abra saat ini mereka berada di mobil yang membawa mereka kembali ke kantor.
Bowo tidak berani berpendapat.dia hanya diam tak menjawab.
"Apa pemikiran kita sama?"tanya nya lagi.
"Maaf pak bos"ucap bowo.
"Apa arvin bis3x?"ucapnya sendu melihat keadaan anaknya yang sekarang.
"Jerman memang tempatnya tapi apa mungkin anakku terpengaruh?"ucap Abra.
__ADS_1
"kita masih bisa membantunya untuk sembuh pak bos"ucap Bowo.
"ya ku harap seperti itu,tapi kamu liat sendiri gimana tadi dia menolak ku,apa yang ada di pikirannya kenapa bisa mengatakan kalo kita membuangnya"ucap Abra.