
"apa maksudnya marsha"Andre menatap tajam ke arahnya.
Marsha terdiam
"jawab marshaa"desak Andre.
"dia mantan saya saat kuliah saya hanya mengatakan kenyataan dia pelit dan miskin"ucap Marsha setelah dia merasa di tekan oleh Andre.
"apa katamu Marsha?kamu tau pak alvarez adalah Presdir delta corp heh,berani sekali kamu bicara seperti itu"ucap Andre dia merasa was² setelah mendengar jawaban Marsha.
"dia tidak mungkin Presdir delta pak Andre,dia saja orang yang tidak waras,semua teman²nya tau dia pernah di rawat di RSJ di Jerman"ucap Marsha.
"saya tau itu Marsha pak Alva sendiri yang mengatakan saat di acara peresmian dan bukan jadi rahasia umum,dia pernah mengidap gangguan mental,tapi kamu tidak pantas mengatakan itu padanya"ucap Andre.
Kevin Denis dan Alva hanya melihat dua orang di depannya.
Marsha menggelengkan kepalanya dia masih belum percaya bahwa Alva adalah orang kaya seorang Presdir perusahaan terkenal.
"maaf pak Andre saya rasa saya tidak melanjutkan rencana kita"ucap Alva dia bosan melihat drama bos dan sekertarisnya.
"pak Alva kita bisa bicarakan ini"ucap Andre.
"saya tidak terima di katakan miskin dan pelit apalagi dia mengatakan bahwa saya gila, gangguan mental yang saya idap bukan lagi rahasia bukan?tapi dia mengatai saya tidak waras dan gila"ucap Alva membuat Andre tidak bisa berkata apapun.
Alva pun berdiri di ikuti oleh Denis dan kevin.andre pun ikut berdiri.
"pak Alva kita bisa bicarakan ini,saya minta maaf atas masalah ini"ucap Andre.
"maaf pak Andre"mereka bertiga pun pergi meninggalkan ruangan VIP itu.
"kamu benar² membuatku marah Marsha,kamu menghancurkan rencana ku,mulai sekarang kamu aku pecat"ucap Andre meninggalkan Marsha yang masih syok.
Setelah beberapa saat Marsha menyusul Andre namun Andre sudah pergi.dia pun menghempaskan tubuhnya di kursi dekat tempat parkir.
**
Abra saat ini sudah bisa berjalan namun harus menggunakan kruk.dia ingin segera menemui Alva ingin membicarakan tentang perusahaan dan tentang ucapan Alva saat inggrid meninggal.
Alva mendengar kabar dari salsa bahwa dia mendapatkan undangan dari ayahnya untuk makan malam di hotel bintang lima,makan malam ulang tahun Abra yang ke lima puluh tiga.acaranya hanya di hadiri keluarga saja.
salsa yang menerima undangan lewat direct message pun mengatakan akan datang.
Setelah membujuk Alva disinilah mereka berada.salsa membawa paper bag berisi kado untuk abra.salsa terlihat anggun dengan perut besarnya begitupun kail dan Alva mereka terlihat gagah datang dengan jas dan dasi kupu²nya.
"selamat ulang tahun pak Abra semoga panjang umur dan sehat selalu"ucap salsa.
"happy birthday opa all the best on your special day"ucap kail mengecup pipi Abra.
"terima kasih kail"ucap abra
__ADS_1
"terima kasih sudah datang"ucap Abra.
Alva tak mengucapkan selamat pada ayahnya atau menyapanya dia memilih duduk di salah satu kursi di meja bundar itu.'tidak apa yang penting dia datang'pikirnya menguatkan hatinya.
Padahal kursi untuknya sudah di siapkan.
Abra.abi duduk sebelah kanan dan di sampingnya ada Dian dan anak²nya.dan Alea sebelah kiri di sampingnya ada Zian juga papa Satria dan mama sinta.ada Daffa,Dilla dan Ahmad juga Gilang dan bowo dengan istri dan anaknya.
kail duduk di samping salsa yang duduk dekat Alva.
Suara di ruang VIP itu terdengar mereka saling berbincang namun tidak untuk alva.enam orang pelayan datang dan menyiapkan meja dan makanan.
Satu pelayan menyiapkan makanan untuk Alva dia membereskan alat makan di depanya.
"bawakan champagne krug clos untuku dan satu rock glasses"ucapnya.
Pelayan itu mengangguk setelah beberapa saat pelayan itu kembali dengan satu botol cantik dengan warna ungu pekat dengan satu rock glasses dan meletakkannya di depan alva.
Pelayan itu akan membuka botolnya namun Alva mengatakan "kocok dulu sebelum membukanya"pelayan itu mengangguk.
Alva duduk bersandar dengan kaki kanan bertopang di atas kaki kiri.
dia memperhatikan cara pelayan itu membuka botol,dia tidak perduli orang² di sekitarnya memperhatikannya.
"kenapa tangan mu bergetar seperti itu"tanya Alva.
"maaf pak"ucapnya dia tidak pernah membuka botol seperti itu.bahkan seorang manajer mengatakan minuman ini di banderol dengan harga kurang lebih enam puluh juta.
sungguh pelayan itu gugup membuka minuman mahal apalagi orang yang memintanya memperhatikannya.
tanganya seolah lemas tak bertenaga dan dingin. dia hampir saja menjatuhkan botol minuman itu jika saja Alva tidak menangkapnya.
"maaf pak maafkan saya"ucapnya bergetar wajahnya pucat seperti tidak ada aliran darah,dia takut di pecat karena membuat kesalahan apalagi tamu ini vip.
"ck kamu tau harga minuman ini berapa?"tanya Alva.
"maaf pak"ucap pelayan itu menunduk.
"enam puluh juta kamu tau,kalo pecah gajimu pun tidak akan cukup untuk menggantikannya"ucap Alva.
Salsa menelan ludahnya kasar 'enam puluh juta sebotol yang benar saja'pikirnya.
Dian mengerjapkan matanya 'enam puluh juta hanya untuk sebotol minuman bagaimana rasanya'pikir Dian.
'enam puluh juta untuk minuman ini gila'pikir Ahmad.
"kamu baru disini"ucap Alva.
"baru satu tahun saya bekerja di sini pak"ucapnya sungguh dia takut dengan orang di depanya ini.
__ADS_1
"Alva...suara salsa lirih,dia kasihan dengan pelayan itu.
"begini,lihat dan perhatikan kamu harus belajar melayani tamu dengan benar"ucap Alva.
"lihat ini kamu buka dulu segelnya,lalu kamu putar ini,kamu tahan atasnya setelah itu kamu tarik ke atas,atau kamu juga bisa menggunakan ini atau ini"ucap Alva Menunjuk ke gelas dan pisau.
"perhatikan"Alva mengocok lebih dulu dan mengambil gelas lalu mendorong tutup itu ke atas dengan pantat gelas itu dua kali dorong "taakk' botol itu keluar asap dan sedikit busa dari minuman itu tumpah.
"paham"ucap Alva.
pelayan itu mengangguk.
"pergilah"ucap Alva dia menuangkan minuman itu ke gelas setelah pelayan itu pergi.sebenarnya dia hanya ingin mengobrol salsa sedari tadi mengobrol dengan mama sinta.dia juga tidak menyapa orang lain memposisikan diri sebagai orang asing diruangan itu.
"Daddy kamu tidak makan...
"makanlah kail"ucap Alva dia menyesap minumannya.
mereka sibuk dengan pikiran masing² tidak ada yang bersuara saat makan.
Setelah beberapa saat mereka selesai makan mereka berbincang Dian dan alea meminta pelayan mengambil kue untuk Abra,suara tepuk tangan dari anak dan cucunya terdengar meriah namun tidak untuk alva.dia hanya diam menatap hp nya sambil menyesap minumannya.
M,ereka kembali mengucapkan selamat begitupun Daffa Dilla dan Ahmad.
"kamu tidak ingin mengucapkan happy birthday untuk ayah"ucap Zian mengalihkan pandangan dari hp nya.
Alva mengerutkan keningnya lalu menganggukan kepalanya "sudah di wakilkan kail"ucap Alva.
"apa kamu tidak bisa memaafkan ayah,dia terkena serangan jantung saat hari itu"ucap Zian.
'deg...jantung Alva berdegup.
namun wajahnya tetap datar.
"aku sudah memaafkannya itu yang kalian mau bukan?"ucap Alva dia kembali menyesap minumannya.
"apa kamu akan seperti ini terus,dia ayahmu,kamu tidak kasihan padanya"ucap Zian lagi.
"lalu kamu mau bagaimana heh memaafkannya sudah ku lakukan kamu mau aku bagaimana mendatanginya lalu memeluknya dan bercerita"ucap Alva dengan suara sedikit meninggi membuat orang² melihat ke arahnya.
Ahmad membawa anaknya putri juga kail dan Juna keluar begitupun Ara menjaga adiknya.
"ayah sudah bercerai darinya dia juga sudah meninggal seharusnya hubungan kalian membaik"ucap Zian.
"apa kamu tidak lelah memusuhi keluarga mu sendiri"ucap Zian lagi.
"mereka menolak ku Zian,kalo saja video itu tidak keluar kalian masih bersamanya berbahagia atas luka dan penyakitku bukan?mereka menolak ku tamparan hingga pukulan itu ku anggap penolakannya,lalu kamu bilang seharusnya membaik?bagaimana gangguan mental ku yang ku idap apa membaik apa menghilang ikut terkubur dengan mayat ****** itu? tidak dia disini,dia tetap disini lalu aku harus menerima mereka setelah di tolak?tidak aku punya harga diri kesempatan yang sudah aku berikan mereka abaikan"ucap Alva.
"sudah cukup sakit yang kalian torehkan padaku,aku menyimpannya sendiri aku melalui hariku sendiri di RSJ kalo bukan karena salsa yang memintanya aku tidak mau terlibat dengan keluarga kalian"ucap Alva sakit hatinya mengatakan itu.
__ADS_1
Alea dan Dian menangis berpelukan.daffa salsa juga dilla hanya diam.