
Setelah berenang dan bermain seharian Alva kini mengantarkan kail pulang ke rumah.
"Gue mau pergi,kalian kalo cape istirahat aja gue mau ketemu danu kalian udah seharian ngikutin gue"ucap alva
"Tapi bos tanggung jawab kita"ucap rey.
"Gue bisa jaga diri"ucap alva.
mereka hanya mengiyakan walaupun nanti malam mereka akan tetap mengikuti alva.
tidak ingin ambil resiko dengan membiarkan Alva keluar sendiri.gabriel dan Dominic bisa marah besar jika tau.
Alva saat ini sedang bersama danu di bar,dia sedang konsultasi tentang perusahaan yang sedang menjadi sangketa yang akan di jual.tapi tak terlintas di pikiran danu jika orang yang sedang di bicarakan adalah orang yang akan membeli perusahaan tersebut.mereka ngobrol santai walaupun tetap minum tapi tidak berpengaruh.
Kring...suara hp alva berbunyi.
"Alea?"gumamnya.
"Halo ada apa dek?"tanya alva.
"assalamualaikum Abang kesini dong ke rumah,adek kangen nanti kalo adek udah nikah nanti repot sama kak zi,Kak zi kan posesif"ucap alea.
"Harus banget ya"ucap alva malas mendatangi rumah ayahnya.
"Adek mau curhat sama abang"ucap alea.
"Ya nanti abang kesitu tapi agak maleman abang masih di luar sama danu"ujar alva
"Kenapa"tanya danu.setelah alva mematikan panggilan tersebut.
"Alea minta gue kerumah"ucap alva.
danu mengangguk-anggukan kepalanya.
Alva pun menghubungi salsa karena dia bingung akan pulang atau tidak.
Jam setengah dua belas malam,alva berada di depan gerbang rumah yang sudah sekian lama tidak dia datangi.
Klotek..klotek..
Satpam pun mengintip dari dalam.
"Cari siapa mas?"tanya nya dari dalam ternyata dia satpam baru,yang lama sudah tidak ada wajar tidak mengenalinya.
"Alea"jawab alva.
"Waduh sudah malam mas nanti besok saja ya"ucap sang supir.
Terlihat pak imam sedang nonton bola di pos.
"Panggil pak imam"ujar alva menunjuk ke pak imam.satpam pun memanggil pak imam.
"Cari siapa mas"ucap pak imam memperhatikan orang di depannya.
"Ya allaah bang ar, ini bang ar kan? Ya Allah bang ar pulang"ucap nya histeris.
"Buka gemboknya rud cepat ini anaknya pak bos"ucap pak imam.
__ADS_1
Pintu gerbang di buka pak imam langsung memeluk alva dia terharu hingga meneteskan air matanya.
Di dalam mobil rey dan kevin melihat dari kejauhan mobil mereka parkir jauh dari rumah abra.setelah mengikuti alva dari apartemen dan bar.
"kenapa bos kesini bang"tanya rey.
"mana gue tau"jawab kevin.
"Menurut mu apa yang akan terjadi bang"tanya rey.
Namun kevin hanya diam sedang memperhatikan alva,menurutnya malas menjawab pertanyaan Rey yang sudah jelas tidak tau jawabannya.
"Gue khawatir penyakit bos kambuh"ucap rey.
"Hanya mendengar namanya saja dia bisa meremas minuman kaleng hingga berdarah"ucap rey lagi.
"Kita pantau satpam² itu kalo terjadi sesuatu di dalam pasti mereka juga akan tau"ucap kevin yang sama mengkhawatirkan alva sebenarnya.
*
"Ya Allah mamang seneng banget bang ar pulang dengan selamat ya allah"ucapnya lagi dia terus menangis.
Tiga satpam itu berdiri di luar pintu pos melihat pak imam yang masih memeluk seorang pria yang kata pak imam ana bosnya.
"Ini adiknya bang abi,abangnya non alea"ucap pak imam memperkenalkan ke satpam semua.
Satpam menunduk memberi hormat.
"Maafkan saya pak saya tidak tau"ucap satpam tersebut.alva mengangguk.
"Pak imam apa kabar?"tanya alva
"Ga usah pak terima kasih"ucap alva.
"Simbok juga pasti seneng banget,tiap hari nanyain bang ar kapan pulangnya"ucap pak imam.alva tersenyum.
"Simbok udah ga bisa jalan di urus sama suster"katanya lagi,simbok tidak punya keluarga sedari muda ikut mami Greys ibu dari Abra.
"nanti aku tengokin simbok di paviliun kan?"tanya alva pak imam mengangguk.
"Aku masuk dulu pak"alva pun berjalan menuju paviliun.
"itu tadi bang Arya,kakaknya non alea kuliah di Jerman tapi katanya hilang,pak bos juga udah kesana tapi ga ketemu alkhamdulillaah dia pulang dengan selamat"ucap pak imam melihat punggung Alva yang makin menjauh.
"pantes kita ga pernah liat"ucap satpam satu.pak imam tersenyum bahagia.
Terlihat ada beberapa art yang masih nonton tv,alva pun mendatangi paviliun simbok yang terpisah.
"Mbok"panggil alva lirih dia duduk di tepi ranjang simbok sambil memegang tangan nya.
Merasa ada yang memegang tanganya simbok bangun dan matanya terbuka.
"Bang ar,bang ar ya allah bang ar"ucapnya dengan air mata yang mengalir meraba wajah putra majikanya yang di urusnya dari bayi.
Alva mengangguk simbok pun duduk dan memeluk alva.
"Bukan mimpi ini bukan mimpi ini nyata ya Allah, alkhamdulillaah ya Allah bang Ar kembali"racaunya dia takut kalo ini hanya mimpi.alva tersenyum.
__ADS_1
"bang Ar apa kabar?Mbok udah ga bisa jalan,ga bisa ngurus bang ar lagi"ucapnya airmatanya terus mengalir.
"Yang penting mbok sehat"ucap alva tersenyum.
Simbok meraba wajah Alva,sungguh dia tidak menyangka Alva pulang harapannya jika meninggal ingin bertemu dengan Alva untuk terakhir kalinya.
Setelah setengah jam ngobrol dengan simbok alva pun masuk ke rumah utama.tujuannya adalah kamar alea demi permintaan adiknya yang baru bertemu dan akan menikah dia menguatkan hati untuk kembali ke rumah.
Dia berjalan menuju lift yang akan membawanya naik ke lantai atas untuk menemui sang adik,namun belum sampai depan kamar sang adik seseorang menyapanya
"Abang pulang"sapanya...Alva diam membeku.
"Abang apa kabar?abang sudah makan biar ibun siapkan"ya itu suara Inggrid.
"Abang...."belum selesai Inggrid mengeluarkan suaranya lagi alva sudah menyela nya.
"ga usah sok peduli,ingat kita hanya orang asing"ucap alva tanpa membalikkan tubuhnya.
"Abang ibun minta maaf atas kejadian di restoran waktu itu,jika membuatmu tidak nyaman,ibun hanya senang saat melihatmu ibun terbawa suasana hingga memelukmu di tempat umum"ucap Inggrid,dia tidak mau ada masalah yang akan membuatnya berpisah dengan Abra.
"ck wanita murahan seperti mu,mungkin sudah terbiasa memeluk pria di depan umum"ucap Alva mencemooh.
"Abang!"suara tegas Abra terdengar. Alva tersenyum miris dengan keadaan dirinya yang mengidap gangguan mental tapi mereka berdua sangat menikmati pernikahan mereka.
"kenapa?memang bener kan kalo dia hanya orang asing yang murahan"ucap Alva.
Alea yang sedang menunggu alva turun dari ranjang saat mendengar suara ayahnya memanggil 'abang' yang menurut dugaannya adalah alva.dia mendengarkan di balik pintu kamarnya.
"dia ibu kamu sekarang dan dimana sopan santun mu,inikah yang kamu dapat dengan bersekolah di luar negri tidak punya etika dan sopan santun pada orang tua"ucap Abra tegas.
"tidak pantas wanita sepertinya mendapatkan penghormatan dan sikap sopan dariku,dan ingat ibuku cuma satu hanya satu hanya bunda Nilam,Nilam ayu tidak ada yang lain ataupun di gantikan,sampai kapan pun dia bukan ibu aku"ucap Alva mengeraskan rahangnya.
"kami menikah atas permintaan bunda mu nak"ucap Abra merendahkan suaranya.kecewa atas pernikahannya terbaca dari setiap kata² putranya.
"ck"Alva berdecak
"aku tau sebelum bunda masuk rumah sakit kalian sudah sering bertemu kan?jangan berpikir aku tidak tau"ucap alva
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan"ucap abra lirih
"Lalu apa yang aku pikirkan?kalo kenyataan nya orang asing ini ada disini,apa yang aku pikirkan salah hah?ck dan anda sahabat seperti apa yang tega merusak rumah tangga sahabatnya jawab! bahkan belum genap 40 hari kalian sudah menikah apa kalian tidak sabar hah?apa ini yang kalian harapkan mengharapkan bunda cepat mati agar kalian bisa cepat menikah begitu?! tidak sabar kah sedikit saja? Berpura² lah sedikit saja untuk jual mahal berpura²lah tidak ingin menikah,kenapa anda itu murahan sekali bahkan niatmu terbaca sekali ******!"ucap alva dengan suara keras.
Seketika abra melayangkan tanganya di pipi alva 'plaak' alva memejamkan matanya dia tersenyum miris untuk pertama kali ayahnya menamparnya hingga telinganya berdengung bahkan sudut bibirnya pecah berdarah Alva mengusap sudut bibirnya itu dengan punggung tangannya,dia tersenyum menatap Abra.
Abra mematung matanya memerah dan berkaca² dia menyesal telah menampar putranya dia tidak bisa mengontrol emosinya tanganya telah menyakiti anaknya untuk pertama kalinya.
"Anda menampar saya tuan Abraham,terima kasih untuk sambutan istimewa ini"ucap Alva matanya memerah kekecewaannya sungguh besar pada ayahnya.abra menggelengkan kepalanya air matanya mengenang di pelupuk mata tua itu.
Alea pun keluar dia mematung depan pintu kamarnya airmatanya sudah membasahi pipinya sedari tadi.
"di luar sana ada banyak pria yang memilih menjadi single parents padahal anaknya masih berusia lima tahun mungkin masih bayi padahal anak itu membutuhkan seorang ibu.tapi kalian belum empat puluh hari sudah menikah sedangkan alea saja sudah besar bisa mengurus dirinya sendiri bukan balita lagi,apa kalian sudah tidak sabar untuk bersama?kita udah dewasa aku udah ikhlas bunda pergi aku dan Alea bisa jaga diri kita,aku dan Alea bisa mengurus diri kita.kita tau bunda meninggal dan ga akan pernah kembali!"Alva mengeluarkan kegundahan yang selama ini ia pendam matanya berkaca².
"dari dulu aku sudah menganggapnya ibu sama seperti mama sinta,tapi itu dulu,kalian hanya memikirkan perasaan kalian sendiri tanpa memikirkan perasaanku.aku benci kalian berdua,kalian pembunuh,kalian pembunuh bundaku"ucapan Alva meninggi.
"aryaaa!!"abra mengangkat tangannya lagi.
"kenapa mau nampar lagi?mau nampar ayo tampar,tampar lagi disini atau disini hah "Alva mendekatkan wajahnya sambil menepuk-nepuk pipinya.
__ADS_1
Alea yang sudah dari tadi berdiri di depan pintu menangis dia luruh ke lantai pertengkaran alva dengan ayahnya adalah yang pertama kali,bahkan ayahnya menampar abangnya yang baru saja pulang ke rumah?apa yang di pikirkan ayahnya itu pikir alea.bibijah yang datang ke rumah utama untuk mencari alva pun berlinang airmata simbok mengatakan bahwa (Alva telah kembali dia pulang dan telah mendatanginya dan sekarang sedang di rumah utama) dengan cepat bijah mendatangi rumah utama untuk memastikan bahwa alva telah pulang.dan ternyata benar aryanya telah pulang.
Bijah memeluk alea yang menangis terduduk di lantai di pintu kamarnya.