
"Auntie suapi Chan!" pinta Chan.
"Ayo aa!" perintah Merry sambil siap menguapi spaghetti pesanan Chan.
"Kamu pacaran sama dia ya?" tanya Amar disela-sela makannya yang merasa belum puas karena pertanyaannya tadi belum dijawab oleh Merry.
"Enggak! Apaan pacaran kaya anak SMA!" jawab Merry acuh tak acuh.
"Sedekat apa kamu sama dia?" tanya Amar sambil memicingkan matanya.
"Nggak deket, biasa aja!"
"Masa sih?"
"Seperti yang Kak Amar lihat sendiri tadi!" ujar Merry.
"Tapi menurutku kamu udah deket sama dia! Nggak biasanya sama orang asing kamu gitu!" ujar Amar yang terus saja penasaran. "Dia duda beranak tiga Mer!" sambung Amar.
"Emang, udah tahu!" jawab Merry singkat. Amar terbelalak, wah udah sedekat itu ya ternyata mereka.
"Kamu mau jadi mamanya anak-anaknya Daris?" ceplos Amar yang nggak tahu otaknya dikemanakan kalau ngomong. Masa hanya gara-gara kenal, terus langsung jadi ibu dari anak-anaknya, aneh deh.
"Mamanya siapa?" Chan ikut menyahut. Rupanya anak kicik ini dari tadi menyimak.
"Mamanya anak-anaknya Om yang tadi!" jawab Amar yang membuat Merry langsung menendang kakinya.
"Aw, ngapain sih nendang?" Amar melolot pada Merry. "Tuh mulut kalau ngomong difilter, emang nggak boleh temenan sama orang?" protes Merry.
"Ya siapa tahu kan?" ucap Amar tanpa rasa bersalah. Tanpa mereka sadari Chan langsung mengerucutkan bibirnya.
*****
Di perjalanan pulang Chan yang biasanya ngoceh terus langsung berubah diam. "Tumben kamu diam aja Chan?" tanya Amar. Chan tetap saja diam.
"Capek mungkin!" sahut Merry. "Ya udah, tidur aja kalau capek, nanti Papi bangunin kalau udah sampek!" ujar Amar.
Sedangkan Chan hanya diam dan duduk sangat dekat dengan jendela sambil melihat pemandangan luar. Saat sudah sampai di rumah pun Chan langsung masuk ke dalam mengabaikan Merry dan Papinya.
"Kenapa tuh anak?" tanya Amar pada Merry. Dan Merry pun mengedikkan bahu karena tidak mengerti.
*****
Di malam harinya pukul 21.00 WIB
08××××××××××:
Selamat malam Merry
Ada chat masuk dari nomer asing, kebetulan Merry sedang memegang handphone. Merry mengabaikan chat itu karena Merry tipe orang yang malas membalas chat basa-basi. Ada perlu apa lebih langsung diutarakan saja.
08××××××××××:
Ini saya, Daris
Merry langsung bangun dari rebahannya, ngapain Daris chat malem-malem gini.
Me:
Oh, iya ada apa Pak Daris?
Merry langsung saja to the point. Dan memberi nama kontak Daris dengan nama "Pak Daris"
Pak Daris:
Kalau besok saya jemput untuk ke rumah, mau nggak?
Ternyata Daris tak kalah to the pointnya.
Me:
Wah, maaf Pak saya sibuk, katanya Emir mau nginap di sini? Kenapa nggak langsung diantar saja ke sini?
Pak Daris:
__ADS_1
Besok di rumah ada syukuran kelulusan adik saya Mer, kalau berkenan kamu bisa hadir besok?
Me:
Jam berapa Pak?
Pak Daris:
Sore, bagaimana?
Me:
Saya usahakan Pak
Pak Daris:
Besok saya jemput ke rumah kamu ya?
Me:
Dijemput?
Pak Daris:
Iya, kan saya yang ngajak!
Me:
Terserah deh Pak!
Pak Daris:
Oke, makasih banyak ya!
Me:
Sama-sama
Daris:
Dan Merry pun memilih untuk tidak membalasnya. Lalu meletakkan hp di nakas dan mulai memejamkan mata. Mungkin kebanyakan orang tidak akan menyangka jika Daris dan Merry bisa sedekat ini. Dekat dengan lelaki seperti ini merupakan hal yang baru bagi Merry. Entah apa yang membuat dia memberi sedikit akses untuk Daris.
Tok tok tok
Baru saja Merry memjamkan mata, pintu kamar sudah ada yang mengetuk pintu kamar.
Ceklek
"Ada apa Chan?" Merry heran, tumben malam-malam begini Chan kemari. Chan diam saja sambil terus berlalu masuk ke kamar Merry, naik ke ranjang Merry dan merebahkan dirinya.
Merry yang masih berdiri di pinggir pintu dan memegang gagang pintu bertanya, "Chan mau tidur sama Auntie?"
"Iya!" jawab Chan singkat. Akhirnya Merry menutup kembali pintu kamarnya dan melangkah menuju ranjang dan juga mulai merebahkan dirinya.
"Chan bisa tidur kalau lampunya mati?" tanya Merry dan dijawab anggukan oleh Chan. Akhirnya malam ini Merry tidur bersama Chan.
*****
Keesokan harinya di pagi hari
"Sering-sering ke sini loh Mar!" ujar Mommy Tyas karena Amar harus kembali ke rumahnya hari ini. Merry juga berdiri di samping Mommy Tyas. "Siap Mom!" jawab Amar.
"Ya udah Amar pulang dulu ya!" pamit Amar, lalu berjalan menuju mobilnya.
Tiba-tiba Chan langsung berbalik badan dan berlari memeluk Merry. Memeluk dengan erat. Merry tergelak, tumben meluk gini, semalam juga tiba-tiba nih anak minta bobo bareng.
"Chan yang pinter ya, jadi anak baik, nurut sama Papi!" pesan Merry sambil memeluk Chan juga. Setelah itu Chan melepaskan pelukannya dan berjalan kepada Papinya.
Saat Amar siap melajukan mobilnya, "I love you Auntie Merry!" teriak Chan dari dalam mobil.
Auntie dan Mommy Tyas saling berpandangan, apakah barusan mereka tidak salah dengar? Apakah cucu Oma Tyas ini sudah berubah sayang pada Merry? Karena apa? Kenapa mendadak begini?
"I love you too Chan!" jawab Merry seraya melambaikan tangannya dan tersenyum karena Amar sudah mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Mommy Tyas.
__ADS_1
Setelah Amar benar-benar hilang dari pandangan mereka, Mommy Tyas mengajak Merry masuk untuk memilih baju yang akan Merry gunakan di rumah Daris nanti.
"Pakai gaun ya?" tanya Mommy Tyas.
"Nggak mau Mom! Celana aja!" tolak Merry.
"Lagian pake baju lama Merry aja, banyak kok Mom!" lanjut Merry.
"Ya udah ayo, tapi Mommy bantu pilih!"
"Ini tuh selangkah lebih maju dari yang kemarin buat Mommy bisa dapet mantu dari kamu!" ujar Mommy Tyas.
Mereka sibuk memilih-milih baju yang sebenarnya membuat Merry jadi istighfar. Merry sendiri padahal biasa aja. Jujur dalam hatinya hanya ingin bertemu dengan si kembar dan Emir.
"Yang ini bagus!" Akhirnya mereka menetapkan pilihan baju untuk dikenakan. Mommy Tyas sejenak masih duduk di ranjang . "Amar kenal juga ya sama Daris ya?" tanya Mommy Tyas.
"Iya Mom!" jawab Merry. "Amar juga bilang katanya perusahaannya Daris itu masih jauh di bawah punya Amar!" ujar Mommy Tyas.
"Iya katanya Mom!" jawab Merry. "Kamu nggak papa kan meskipun nggak dapet sama yang yang perusahaannya nggak setara sama punya Amar?" tanya Mommy Tyas khawatir.
"Merry nggak pernah lihat orang dari hartanya, yang penting dia terus berusaha untuk bertanggung jawab aja. Dan orangnya baik, tulus, dan sayang sama Merry dan keluarga Merry juga!" jawab Merry sambil duduk di sebelah Mommynya.
"Itu yang Mommy suka dari kamu, dulu juga Mommy nikah sama Daddy hidupnya masih pas-pasan, Daddy masih bener-bener merintis karir!" ujar Mommy Tyas sembari tersenyum.
"Lagian ih Mommy, Merry cuma temenan juga sama Pak Daris!" Merry tertawa kecil, siapa juga yang mau nikah sama Daris.
Sebenarnya Merry tertarik berteman dengan Daris karena ada anak-anaknya yang membuat Merry penasaran. Bisa jadi Daris udah punya calon istri kan. Nggak ada maksud lebih dalam hati Merry, hanya karena penasaran dengan anak-anaknya.
"Ya udah yuk bantuin Mommy nanem mawar di belakang, sambil nunggu siang terus nanti nunggu Daris datang juga!" ajak Mommy Tyas.
Dua wanita hebat yang tahan banting ini memang suka berkebun juga, apalagi Merry si cewek kuat yang tidak takut panas, makanya kulitnya sawo matang.
*****
Siang hari
Sebuah pesan masuk di handphone Merry
Pak Daris:
Mer, aku ada di luar gerbang, nggak boleh masuk sama satpamnya!
Merry terkekeh, di rumah Mommy Tyas penjagaannya memang ketat. Akhirnya Merry menelfon Pak Satpam agar memberikan ijin untuk Daris bisa masuk.
"Assalamualaikum!" salam Daris yang sudah disambut kehadirannya oleh Merry.
"Waalaikumussalam, masuk Pak!" jawab Merry, lalu mengajaknya masuk.
"Duduk dulu ya Pak, tunggu Mommy saya sebentar!" ujar Merry yang mempersilahkan Daris agar duduk di sofa ruang tamu. Mungkin ini kali pertama bagi Daris datang ke rumah mewah keluarga Amar Syah. Tapi lebih tepatnya ini rumah orang tua Amar karena Amar punya rumah mewah sendiri yang jaraknya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit dari sini.
"Iya Mer, santai aja!' jawab Daris yang ternyata nervous.
Mbok Nah datang dari belakang, "Permisi Pak, mau minum apa?"
"Terserah aja!" jawab Daris. "Jus jeruk deh Mbok, siang-siang gini panas!" sahut Merry.
"Baik Non!" Mbok Nah pun kembali ke belakang untuk membuatkan pesanan Merry dan Daris.
Dari arah tangga, Daris melihat wanita paruh baya yang tampilannya sangat modis dan cantik. Beliau melangkah turun sembari tersenyum ramah, sama sekali tidak ada guratan kesombongan dalam dirinya. Daris yakin itu adalah Nyonya Syah.
Memang benar menurut berita di luaran sana, kalau nyonya Syah adalah orang yang sangat ramah.
"Hai, pasti Daris ya?" sapa Mommy Tyas. "Iya Nyonya!" jawab Daris yang langsung berdiri dan menyalami Mommy Tyas.
"Panggil Tante saja, jangan Nyonya!" ujar Mommy Tyas sambil duduk. Daris tersenyum, hangat sekali keluar Syah ini.
----------------------------
Hai hai hai, untuk kalian yang baca, kalian luar biasaa 🖤
Selamat mengikuti proses perubahan alur kehidupan Merry yang baru😁
Nikmati proses, jangan buru-buru!!
__ADS_1
Makasih untuk kalian semua🖤🖤