
"Mama kenapa lama nggak pulang sih?" tanya Liam pada Ambar.
Ambar yang sedang menyisir rambut Grace itu menoleh pada Liam yang sedang duduk di sisi kirinya.
Liam juga memakan kue coklat kering kesukannya. Ambar sengaja menyediakan makanan itu karena Liam suka.
Ambar hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.
"Mama udah nggak sayang lagi ya sama kita?" tanya Liam dengan serius pada Ambar. Bahkan, dia sudah meletakkan toples kue coklat kering yang ia pangku sebelumnya.
Ambar cukup panik mendengar pertanyaan putranya. Kenapa bertanya seperti ini? Apakah Daris telah mempengaruhi putranya untuk berani pada dirinya?
Ambar buru-buru meminta Grace duduk di sampingnya, lalu dia dengan segera berhadapan dengan Liam.
"Mama minta maaf ya. Mama nggak pulang lama bukan berarti Mama nggak sayang pada kalian. Kehidupan Mama di sana juga tidak mudah. Mama ingin sering bertemu kalian. Tapi keadaan yang menyulitkan."
Ambar berusaha menjelaskan pada putranya agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
"Liam bisa mengerti Mama kan?" tanya Ambar dengan sangat hati-hati.
Tidak bisa dipungkiri, anak-anaknya semakin besar dan mengerti. Apalagi sekarang di rumah mereka punya ibu. Ada Bunda yang selalu bertukar pikiran dengan mereka.
Ambar hanya berharap, semoga Merry tidak pernah memberi pengaruh buruk pada anak-anak tentang dirinya.
"Liam, Mama ingin bertanya!" ucap Ambar.
Liam mengangguk.
"Apakah Bunda kalian baik?" tanya Ambar.
Liam tersenyum, "Tentu saja. Bunda adalah orang yang baik."
Ambar sedikit kesal melihat Liam tersenyum manis saat membahas tentang Merry.
__ADS_1
Saat berbincang dengan Merry memang dia kelihatannya orang yang baik. Tapi siapa yang mengerti hari manusia? Bisa saja sebenarnya pelan-pelan dia bekerjasama dengan Daris untuk mempengaruhi anak-anak untuk membenci dirinya.
"Kamu sayang dengan Bunda Merry?" tanya Ambar pelan.
Lagi lagi Liam mengangguk dengan wajah sumringah.
"Bunda itu seperti bestie kita Ma. Bunda seru dan tahu apa yang selalu kita butuhkan. Kadang Liam juga heran, kenapa Bunda bisa mengerti kita dengan sangat baik!"
Ambar mendengus kesal. Apa baiknya sih Merry. Apa tidak lebih baik Ambar ibu kandung mereka. Ibu yang mengandung dan melahirkan mereka.
"Kalau Emir bagaimana?" tanya Ambar.
Jantungnya berdetak kencang saat menanyakan tentang Emir. Anak yang sengaja dia lupakan dan abaikan.
"Bagaimana maksudnya?" Liam tidak mengerti maksud Mamanya.
Ambar sedikit gugup.
"Emir itu lahir dari perut Bunda!" jawab Emir singkat.
Hati Ambar mencelos. Emir lahir dari rahimnya. Walaupun saat masa kehamilan, dia dan Daris sedang diterpa masalah perselingkuhannya dirinya dengan mantan kekasihnya dulu.
Hari-harinya dulu dipenuhi rasa muak dan ingin berpisah dari Daris. Sedangkan Daris terus menahannya dengan alasan dia tidak mau menceraikan karena Ambar sedang hamil.
Hingga tiba saatnya Emir lahir, Ambar merasa mendapat angin segar. Itulah saat yang ia nantikan. Akhirnya bisa berpisah dari Daris.
"Hehe, maksud Liam, Emir sudah seperti lahir dari perut Bunda. Bukan dari perut Mama. Pokoknya Emir yang harus menang kalau tentang Bunda!" jelas Liam sembari terkekeh.
Ya, walaupun begitu tetap saja Ambar yang melahirkan Emir. Walaupun sekarang seperti orang asing dengan Emir.
Andai saja dulu Ambar tidak memaksa untuk bercerai, pasti hari-hari Emir juga tentang Mama, bukan tentang Bunda.
"Liam lebih sayang Bunda atau Mama?"
__ADS_1
Deg, Liam terdiam seribu bahasa.
Kenapa mamanya bertanya seperti ini? Liam tidak tahu harus menjawab apa.
"Sayang Mama dan Bunda. Liam sayang kalian berdua!" jawab Liam. Semoga jawabannya cukup untuk menjawab pertanyaan Mamanya.
Ambar menggeleng. "Iya Mama tahu!"
"Maksudnya Mama itu, kadang sayangnya lebih banyak ke Mama atau ke Bunda?" lanjutnya.
Liam bingung. Sejujurnya, rasa sayangnya pada Mamanya sama seperti pada Bundanya. Bahkan, sebenarnya Liam merasa lebih rileks saat bersama Bundanya. Sekarang merasa sedikit canggung pada Mamanya. Mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu secara langsung.
Mereka hanya berbicara melalui sambungan telepon atau video call. Tentunya berbicara melalui telepon rasanya berbeda saat berbicara secara langsung.
Apakah ini tandanya dia lebih sayang kepada Bundanya? Ah, tidak mungkin. Ini Mama yang mengandung dan melahirkannya.
Bundanya juga sering berkata, jika seandainya rasa kasih sayang bisa diukur. Mama Ambar harus mendapatkan masih kasih sayang yang paling banyak.
"Liam lebih sayang sama Mama!" jawab Liam sembari tersenyum.
Ambar tersenyum senang. Setidaknya dia tetap menang dibandingkan Merry. Tentu saja anak-anaknya lebih menyayanginya.
Luham yang ternyata sedari tadi mendengar pembicaraan mereka tersenyum masam. Luham memang tidak bergabung dengan mereka karena dia baru saja dari toilet lalu memilih untuk duduk di teras rumah.
Pembicaraan mereka sangat jelas di telinga Luham. Andai saja yang ditanya Luham, pasti dia menjawab lebih sayang pada Bunda.
Luham sayang kepada Mama, tapi lebih sayang pada Bunda. Luham jujur saja. Tidak masalah jujur kan?
Hm, tiba-tiba Luham merindukan Papa, Bunda, dan Emir. Luham rindu suasana rumah. Sedang apa mereka di sana?
Kembali kepada obrolan Liam dan Mamanya.
"Apakah Papa kamu sangat menyayangi Bunda Merry?" tanya Ambar dengan serius.
__ADS_1