
"Wow, ganteng banget coach nya!" celetuk Raya saat mereka berada di tribun penonton.
Al yang duduk di samping kanannya langsung menoleh ke arah Raya.
Lalu Al mengikuti arah pandang Raya.
Mana ganteng? Masih juga gantengan gue! batin Al sambil menyipitkan mata mengamati pria yang mungkin disebut tampan oleh Raya.
"Kak, lihat deh, ganteng banget kan. Keren banget gitu!" ujar Raya kepada Merry yang duduk di sebelah kirinya.
"Mana?" tanya Merry.
"Itu loh itu, yang pake jaket. Ih, mau dicomblangin dong sama Luham dan Liam!" jawab Raya dengan heboh.
"Enak aja. Anak kecil suruh jadi comblang. Belum waktunya!" sahut Al tidak terima.
Gayanya saja membela Luham dan Liam yang masih terlalu kecil jika jadi comblang. Namun, dalam hatinya sebenarnya Al cemburu.
Iya sih coach nya keren. Tadi Al juga sempat berpikir, wih keren juga coach mereka. Nggak heran tim nya Luham dan Liam bisa kerena.
Namun, karena Raya mengagumi coach itu dan Al merasa cemburu. Pikiran yang mengatakan jika coach Luham dan Liam keren, batal. Tidak jadi.
"Ih, ya nggak papa lah. Kata siapa nggak boleh. Malahan kalau comblangnya anak kecil itu dia polos, lucu, dan pasti berhasil!" Raya menyanggah.
__ADS_1
"Karena mereka masih polos. Makanya, jangan dinodai kepolosan mereka. Biarkan lah mereka tumbuh semestinya. Jangan suruh jadi comblang!" Al tidak kehilangan akal untuk menjawab sanggahan Raya.
"Halah, ngaku aja kalau Om Al cemburu!" ujar Raya sembari menjulurkan lidahnya.
Al memutar bola matanya malas sambil kembali melihat coach yang menjadi idaman Raya.
"Sungguh indah ciptaan-Mu Tuhan!" gumam Raya sambil tersenyum saat melihat coach itu.
Sedangkan Al semakin malas mendengarnya.
"Tujuannya nonton futsal, bukan cari jodoh!" ujar Al.
Raya langsung cemberut dan sekilas menatap Al
"Ya fokus dulu dong sama Luham dan Liam. Nanti kalau Lo fokusnya sama siapa itu si coach yang gantengnya juga masih gantengan gue. Keren juga masih kerenan gue. Nanti Lo jadi nggak fokus mendukung Luham dan Liam!"
Gayanya Al saat cemburu memang terlalu banyak alasan.
"Ngomong apa sih Om. Lagian bukan berarti niat cari jodoh di sini itu bakalan menghilangkan konsentrasi gue nonton mereka!" jawab Raya.
Merry yang mendengar perdebatan mereka berdua hanya tersenyum dan sesekali menggeleng.
Terserah mereka berdua mau gimana. Ribut di sini juga boleh. Mau jadian di sini pun juga boleh. Eh, jadian.
__ADS_1
"Kalau Al suka kenapa nggak langsung dilamar aja sih, Mas?" bisik Merry kepada Daris.
Daris yang tentunya juga mendengar perdebatan itu, tapi karena malas mendengarnya akhirnya memilih fokus melihat anak-anaknya yang sedang pemanasan menoleh kepada istrinya.
"Urusan mereka lah. Nggak mau memaksa Raya untuk nikah muda juga. Terserah dia, itu kan hidup dia. Terserah Al dan Raya!" jawab Daris.
Yang paling penting jangan sampai Al menyakiti Raya. Dan pastinya jangan sampai Raya menyakiti Al juga.
"Oh My God. Coach nya senyum ke gue!" seru Raya kegirangan.
Aduh, Raya jadi salah tingkah dan deg-degan.
Al menyipitkan matanya. Eh, emang iya sesekali tersenyum ke Raya.
Wah, dasar buaya darat, buset.
"Nggak baik Ray, dia bukan cowok yang baik. Dia buaya, Lo harus percaya sama gue!" ujar Al mencoba meyakinkan Raya.
"Apaan sih, Om, pake ngomong buaya segala. Buayanya nggak ikut campur malah dibawa-bawa. Jangan memfitnah buaya deh. Awas ntar buayanya marah, dicaplok Om sama buayanya. Tinggal nama doang!" protes Raya dengan judes.
Al ingin menjewer Raya rasanya. Dasar anak kecil. Itu kan perumpamaan. Buaya itu perumpamaan playboy.
Pake caplok caplok dan tinggal nama segala.
__ADS_1
Coach Luham dan Liam tersenyum kepada Raya karena memang tahu jika Raya adalah tantenya Luham dan Liam.