Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Akhirnya...


__ADS_3

"Wah, beres-beres ya Kak?" Daris masuk ke kamar anak-anaknya, di dalamnya terlihat Liam sedang merapikan kamar.


Semua di ruangan itu dirapikan oleh Liam, mulai dari tempat tidur dia dan Luham, Emir, dan apapun yang sekiranya Liam mampu merapikannya.


Sore ini Daris memutuskan untuk pulang ke rumah bersama Raya, sedangkan di rumah sakit Merry menunggu Luham sendirian. Nanti malam Daris akan kembali ke rumah sakit.


Liam berbalik menatap papanya, senyum manis merekah di bibir Liam.


"Iya Pa, besok Luham pulang kan?" tanya Liam dengan semangat. Selama Luham dirawat di rumah sakit, Liam beberapa kali ke sana walaupun tidak bisa full. Liam sangat merindukan saudara kembarnya itu.


Daris berjalan mendekat kepada Liam. "Aamiin, semoga besok Luham bisa pulang ya!"


Liam mengangguk semangat.


Daris duduk di ranjang Liam. "Sprei baru ya Kak?"


"Iya Pa, ini dibelikan Oma Tyas!" jawab Liam dengan bahagia. Sebenarnya ini pemberian Merry, tapi karena Merry takut kalau Liam tahu ini sprei pemberiannya nanti Liam menolak. Jadi, Merry mengatasnamakan Oma Tyas.


Daris hanya tersenyum mendengarnya, tentu ia tahu jika sebenarnya ini pemberian Merry bukan Mommy Tyas.


Sprei itu berwarna abu-abu bermotif polkadot hitam. Hihihi lucu ya.


Waktu itu Merry membeli sprei untuk ranjangnya, tanpa sengaja ia melihat sprei abu-abu bermotif polkadot hitam. Merry jadi teringat pada Luham dan Liam. Tadinya Merry ragu apakah Luham dan Liam mau memakai sprei bermotif polkadot. Ternyata, mereka mau dan suka. Hanya saja, setahu mereka jika sprei itu pemberian Oma Tyas. Tapi tak apalah, Merry sangat senang karena mereka menerima dengan bahagia.


Tak lupa juga Merry membelikan untuk Emir. Ingin mencari yang motif kartun Tayo tapi tidak ada. Akhirnya, Merry membelikan yang motif hewan-hewan, sekalian biar Emir belajar mengenal hewan-hewan juga. Eh, ternyata anak tampan itu juga senang.


"Liam, sini dong duduk di sebelah papa!" pinta Daris sembari menepuk tempat duduk di sebelahnya. Liam mendekat dan duduk di sebelah papanya.


"Sini rebahan sama Papa!" Daris merebahkan dirinya dan membiarkan Liam menggunakan lengan kanannya sebagai bantalan.


"Menurut Liam, papa orangnya gimana?" tanya Daris.


"Papa orangnya baik, sayang sama Liam, Luham, Emir, dan Tante Raya! Papa juga seneng ngajakin kami jalan-jalan! Papa juga nggak pelit! Papa itu Papa terbaik buat Liam!" Liam dengan lancar menceritakan kebaikan papanya, lalu diakhiri dengan mencium pipi kanan Daris.

__ADS_1


"Luham sayang nggak sama Papa, sama Luham, sama Emir, dan Tante Raya?" tanya Daris lagi.


"Sayang dong Pa! Liam sayang banget sama Papa, Luham, Emir, dan Tante Raya!" jawab Liam sambil tersenyum.


"Liam sayang juga sama Mama!" tambah Liam yang tak melupakan mamanya.


Hati Daris berdenyut.


"Harus dong, Liam harus selalu sayang sama Mama dan selalu mendoakan Mama biar Mama sehat dan bahagia!" tutur Daris. Walau bagaimanapun mereka adalah anak Ambar, jadi Daris akan selalu memberikan pemikiran positif tentang Ambar kepada anak-anaknya.


"Tapi Mama nggak di sini lagi Pa!" Liam berubah sedih.


"Liam bahagia nggak sekarang?" tanya Daris. Mereka berbincang-bincang sembari rebahan dan menatap plafon atap kamar.


"Liam bahagia kan ada papa, Luham, Emir, dan Tante Raya! Tapi, kalau saja ada Mama pasti Liam akan lebih bahagia!" Liam mencurahkan isi hatinya pada Daris.


"Apa Mama nggak bisa bareng kita lagi Ma?" tanya Liam sambil menoleh ke arah papanya.


"Enggak sayang, Mama udah bahagia, Mama kan udah punya keluarga!" jawab Daris.


"Liam pengen punya Mama?" tanya Daris. Inilah waktu yang tepat untuk membicarakan ini.


Liam hanya diam saja.


"Liam nggak kasihan lihat Emir nggak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu?" tanya Daris.


"Kalau Papa mau nikah sama Auntie Merry boleh kok Pa!" ujar Liam secara tiba-tiba. Daris langsung mengerutkan dahi, apa dia tak salah dengar? Apa jangan-jangan ini hanya mimpi? Bisa jadi kan barusan dirinya tertidur lalu bermimpi tentang ini.


"Apa? Gimana?" tanya Daris.


"Liam minta maaf karena Liam salah Pa!" Liam bangun dari tidurnya dan merasa bersalah.


Daris pun ikut bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Liam nggak salah kok, Papa tahu Liam seperti itu karena Liam sayang banget sama Mama, jadi Liam khawatir kalau keberadaan Mama tergantikan! Padahal, dengan kehadiran Mama baru itu nggak akan pernah bisa menggantikan Mama Ambar di hati Liam, Luham, dan Emir! Mama Ambar tetaplah orang yang mengandung dan melahirkan kalian!" tutur Daris.


"Tapi bukan berarti nantinya membuat kita jadi hilang hormat pada Mama yang baru! Kalian juga harus sayang dan hormat karena bagaimanapun itu juga ibu kalian!" lanjut Daris.


"Kalian itu butuh ibu, apalagi Papa nggak bisa mengawasi kalian dengan ekstra!" tutur Daris.


Sebenarnya di lubuk hatinya yang terdalam Daris juga butuh istri. Butuh seorang wanita yang bisa diajak berdiskusi tentang rumah, anak-anak, masa depan anak-anak, dan menceritakan keluh kesah Daris. Daris juga butuh tempat untuk bersandar.


"Tapi Liam nggak sayang sama Auntie Merry Pa, nggak papa kan Pa?" tanya Liam dengan sedih.


"Nggak papa sayang! Liam itu bukannya nggak sayang, tapi belum sayang! Lambat laun pasti Li sayang sama Auntie Merry!" jawab Daris.


Liam pun mengangguk patuh.


Pikiran Liam mulai terbuka saat melihat Luham dan Emir yang sangat manja dan dekat dengan Merry. Rasanya, Liam ingin seperti mereka juga. Tapi Liam malu, apalagi dulu dia menolak Merry mentah-mentah. Luham minder dan tak tahu harus memulai dari mana kalau ingin seperti Luham dan Emir yang suka ber manja-manja dengan Merry.


Padahal, Merry sangat terbuka pada Liam selayaknya pada Luham dan Emir, tapi Liam saja yang malu dan bisa jadi masih gengsi.


"Yang paling penting adalah Liam patuh dan hormat pada Auntie Merry! Liam mengerti kan?" tanya Daris. Liam pun mengangguk patuh.


"Liam juga boleh loh kalau mau manggil Auntie Merry dengan sebutan Bunda! Biar sama kaya Luham dan Emir!" ujar Daris.


Liam terlihat berpikir, lalu menggeleng dengan ragu.


"Liam malu Pa!" ucap Liam pelan.


Daris terkekeh. "Ya udah gapapa, Papa nggak maksa kok! Seenaknya Liam aja dulu! Pasti nggak lama lagi Liam nggak akan malu manggil Auntie Merry Bunda!" ujar Daris sembari mengelus lembut kepala Liam.


Yes yes, Mer kita jadi kawin Mer!! sorak Daris dalam hati.


----------------------


Yok yok semoga Daris dan Merry jadi nikah aamiin🤭

__ADS_1


Makasih yang udah baca ya!!


Luv Luv kalian ❤️❤️


__ADS_2