Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Kata Hati Liam


__ADS_3

"Ayo Bunda kejal Emil, hahaha, ayo Bunda kejal!!"


"Awas yaa, Bunda tangkap!"


Emir terus berlari sekencang yang ia bisa.


"Hahaha" Tawa Emir terus terdengar nyaring.


"Satu, dua, tiga HAP!! Kena!" Merry berhasil menangkap Emir dalam pelukannya.


Emir meronta-ronta di pelukan Merry sambil tertawa.


Bagi Merry, pagi hari adalah waktu yang cukup menguras tenaga. Mulai dari ia yang harus memasak, beres-beres rumah, dan mengurus keperluan anak-anak.


Untuk keperluan Daris, sementara ini Merry masih tidak ikut campur. Masalahnya belum selesai dengan Daris.


Khusus untuk Emir, mengurus anak kecil satu ini lelahnya mengalahkan mengurus si kembar.


Anak ini sangat aktif, menggemaskan, dan selalu ada saja ulahnya yang kadang membuat Merry harus lebih sabar lagi.


Si kecil Emir ini juga sangat nempel pada Bundanya. Dunia Emir hanya tentang Bunda. Kemanapun Bunda pergi, Emir harus ikut.


Emir sekarang juga tidak cengeng seperti dulu. Emir juga tidak mudah menangis karena hal sepele. Satu-satunya hal yang membuat Emir menangis adalah ketika ditinggal Bundanya pergi, walaupun itu hanya sebentar.


Dimana ada Bunda, di situ harus ada Emir, jika tidak bisa-bisa Emir menangis.


"Anak Bunda larinya kenceng ya!! Pinter banget sih!!" ucap Merry sambil menciumi Emir.


"Hm, bau acem!!" ucap Merry.


Emir terus saja tertawa bahagia, ia sangat suka dimanja-manja oleh Bundanya.


Merry segera menggendong Emir dan membawanya ke kamar mandi.


Itulah sekelumit drama sebelum mandi. Harus kejar-kejaran dulu sampai mereka mendaki gunung lewati lembah hehehe.


*****


Saat Merry membantu Emir memakai baju, Daris masuk ke kamar anak-anak.


"Papa!" seru Emir memanggil papanya.


"Hallo jagoan!" sapa Daris sambil mencium pipi putranya.


Emir tertawa geli saat dicium oleh papanya.


"Emir bisa pakai baju sendiri loh Pa!" ujar Merry.


"Oh ya, wah pinter anak Papa!" jawab Daris sambil membawa Emir ke pangkuannya, lalu mengunyel-unyel Emir.


Merry tersenyum melihat interaksi keduanya, lalu membereskan peralatan tempurnya dengan Emir barusan.


"Mau kemana Mas, rapi banget?" tanya Merry karena melihat penampilan Daris seperti hendak berangkat kerja, padahal hari ini kan hari Minggu.


"Ada pertemuan penting!" jawab Daris sambil memperhatikan yang sedang Merry lakukan.


"Oh, lain kali diusahakan kalau hari Minggu jadwalnya benar-benar kosong! Iya kemarin-kemarin anak-anak libur sekolah, tapi mulai besok kan udah masuk ajaran baru, mereka udah mulai sibuk! Kapan lagi bisa bareng papanya kalau nggak weekend?" tutur Merry sambil duduk di ranjang si kembar, sedangkan Daris bersama Emir duduk di ranjang Emir.


"Iya, diusahakan!" jawab Daris.

__ADS_1


Merry bersikap seolah-olah rumah tangganya sedang baik-baik saja.


"Nanti siang mau makan apa? Biar aku masakin!" tanya Merry.


"Kayaknya nanti siang aku makan bareng klien deh, terserah kamu aja mau masak apa!" jawab Daris. Hari-hari Daris masih dilingkupi perasaan cemas.


Merry mengangguk, "Ya udah kalau gitu!"


"Aku berangkat sekarang!" pamit Daris sambil


memberikan Emir pada Merry.


"Papa berangkat kerja dulu yaa!" pamit Daris pada putranya.


"Salim dulu sama Papa!" sahut Merry. Emir pun salim papanya dan diikuti oleh Merry.


"Aku berangkat dulu!" ucap Daris pada Merry.


"Iya Mas hati-hati!"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


*****


Kling


08××××××××××:


Suamimu sedang bersamaku!


Merry yang sedang menyisir rambut di kamarnya hanya tersenyum membacanya.


"Bahkan gue udah tahu lebih dulu sebelum Lo mengirim pesan ini!" ucap Merry pelan sambil tersenyum miring.


Ia letakkan sisir itu ke tempat semula, lalu berjalan ke arah ranjang.


Merry mengambilkan lima lembar foto yang sebelumnya ia letakkan di ranjang itu.


"Semua akan berakhir hari ini!" ucap Merry, lalu kembali meletakkan foto-foto itu di ranjang dan berjalan keluar kamar.


Merry memang tidak pernah tidur di kamar ini, tapi di siang hari ia tetap beraktifitas seperti biasanya. Hanya Daris yang setiap malam tidur di kamar ini.


*****


Di ruang keluarga, Merry melihat Liam tertawa bersama Luham, mereka nampak girang. Ini adalah pemandangan yang indah bagi Merry.


Seringkali Liam mengusili Luham dan membuat lelucon yang menimbulkan tawa. Memang benar kata semua orang, Liam jauh lebih ceria dan pecicilan daripada Luham.


Merry tahu Liam sangat bahagia karena mamanya akan datang, Liam mendapatkan kebahagiaan yang ia inginkan.


Melihat Liam yang ceria seperti itu membuat Merry tak berani mendekat kepada mereka.


Merry takut saat ia mendekat, nanti keceriaan Liam akan hilang. Merry lebih memilih memandang mereka dari kejauhan yang penting Liam dan Luham tetap happy.


Sebenarnya Merry kasihan pada anak-anak yang mainnya di ruangan itu-itu saja, dulu saat tinggal di rumah mereka bisa bebas bermain di mana saja, bisa halaman rumah, bisa di kolam renang, bahkan bisa bersepeda di jalanan depan rumah bersama teman-teman yang lain.


Sedangkan di sini, apartemennya sempit. Ini juga kali pertama mereka tinggal di apartemen, jadi belum terbiasa.

__ADS_1


Merry dulu pernah beberapa bulan tinggal di apartemen bersama Mommy Tyas, tapi apartemen yang besar dan mewah.


Namun, bukan berarti tinggal di apartemen yang saat ini Merry merasa keberatan, bagi Merry apartemen ini sudah bagus dan nyaman, apalagi di dalamnya ada anak-anak dan suaminya.


"Luham, kamu ingat nggak dulu kita kalau minta gendong Mama selalu rebutan?" tanya Liam.


"Ingat, dulu kita juga rebutan minta pangku Mama!" jawab Luham.


"Dulu kita juga rebutan nyium perut Mama pas Emir masih di perut!!" lanjut Liam sambil tertawa.


"Iya, perutnya besar kayak balon hahaha!" jawab Luham sambil tertawa-tawa juga.


Merry yang mendengarnya juga ikut tertawa.


"Eh, nanti kita bisa loh rebutan nyium perut Bunda kalau perut Bunda udah besar kayak balon gitu!" sambung Luham.


Merry tergelak, buru-buru ia memegang perutnya.


"Apa iya ini perut nanti beneran segede balon?" ucap Merry pelan sambil matanya tertuju ke perutnya.


"Kenapa harus bahas Bunda sih? Kita kan lagi bahas Mama!" ujar Liam dengan kesal.


Pandangan Merry langsung tertuju kembali pada mereka.


"Kenapa Papa dan Mama nggak bisa bareng-bareng lagi? Padahal aku ingin bisa seperti dulu, ada Papa dan ada Mama! Tiap pagi selalu dibangunim Mama, dimasakin Mama, diantar sekolah sama Mama!!" ujar Liam dengan emosi.


Luham hanya diam saja.


"Sekarang malah ada Bunda di keluarga kita! Semuanya sudah berubah, tidak seperti dulu lagi!!" lanjut Liam.


"Semuanya sudah berubah Liam! Kita harus protes ke siapa?" sahut Luham.


"Kita harus menerima Bunda! Bunda juga orang yang baik!" sambung Luham.


"Tapi Bunda itu orang asing, aku nggak nyaman ada Bunda di sini!" jawab Liam cepat.


Deg, air mata Merry meleleh tanpa permisi, jujur ini menyakitkan.


"Setiap hari aku selalu berdoa agar kita bisa seperti dulu! Tapi kenapa harus ada Bunda? Bukannya kalau ada Bunda berarti kita nggak bisa bareng-bareng sama Mama seperti dulu lagi?" tanya Liam dengan perasaan yang penuh kecewa.


Luham menunduk. Dari lubuk hati Luham yang paling dalam juga menginginkan Mamanya, tapi keadaan sudah berubah, apa boleh buat?


"Kenapa sih Papa dan Mama jahat? Kenapa mereka suka membuat aku sedih?" tanya Liam sambil menangis.


"Liam cuma mau Mama, tapi Papa nggak mau mewujudkan!" lanjutnya sambil tetap menangis.


"Terus kenapa juga Mama harus pergi jauh? Kenapa Mama nggak di sini aja bareng kita? Kenapa Mama juga jahat?" Liam meluapkan segala emosi yang ada dalam hatinya dengan menangis.


Merry iba melihat Liam menangis, ingin rasanya Merry mendekat dan memeluk Liam.


Namun, Merry mengurungkan niatnya karena ia takut membuat Liam nantinya semakin tak suka pada dirinya.


Merry hanya diam di tempat sambil


menghapus air mata yang terus mengalir.


Merry memegang dadanya yang sesak. Ia sangat lemah jika menyangkut anak-anak.


"Bunda sayang kalian! Kalian adalah harta yang paling berharga milik Bunda!" ucap Merry pelan di sela-sela tangisnya.

__ADS_1


"Bunda akan selalu berdoa agar kalian bisa menerima Bunda sepenuh hati!"


__ADS_2