Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Liburan, Bukan Honeymoon


__ADS_3

"Assalamualaikum semua," teriak Raya di dalam apartemen sembari menggandeng tangan Emir.


"Bunda Bunda," teriak Emir dan langsung merangkul Bundanya.


"Salim dulu dong Sayang!" pinta Merry.


"Emang bener ya kata orang. Kalau kakak kita punya anak, kita yang bakalan jadi baby sitter-nya!" seru Raya sembari menjatuhkan dirinya di sofa.


Merry terkekeh sembari menggeleng. "Makasih ya Tante Raya, udah jagain Emir. Nanti tugasnya Tante Raya kurang satu, yakni menjemput Kak Luham sekolah!"


"Siap laksanakan Bu Bos!" jawab Raya sembari memberi hormat kepada Merry.


Merry berjalan menuju dapur dan melanjutkan kegiatannya menyiapkan makan siang.


"Ray, makan siang ya?" teriak Merry kepada Raya.


Bruk bruk bruk. Raya berlari ke dapur. Penasaran sedang masak apa kakaknya.


"Wow, udang balado. Mau dong, mau banget!" Mata Raya mendelik melihat masakan yang aw membuat perutnya meronta.


Baunya uh, nggak kuat. Mau banget dong makan sekarang.


"Eh, Kak, wait wait, Emir tadi ke kamar sendiri? Ganti baju sendiri?" tanya Raya yang tiba-tiba teringat tentang Emir.


Merry melihat Raya sembari tersenyum. "Iya ganti baju sendiri. Udah kakak siapin baju gantinya di atas ranjang, nanti dia bisa ganti sendiri. Agak lama sih ganti bajunya, tapi nggak papa lah namanya juga masih belajar. Belajar mandiri pelan-pelan."


"Ish, keren, bagus sih!" jawab Raya.


"Terus Liam gimana? Udah baik sama Kakak?" tanya Raya dengan pelan. Ya, takutnya Liam dengar. Bagaimanapun dia sudah besar dan paham dengan apa yang didengarnya.


Berhubung udang balado sudah beres. Merry bergegas mematikan kompor dan berbalik menghadap Raya. Merry tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya lagi.


"Semuanya sudah membaik. Sekarang kakak merasa menjadi ibu yang paling beruntung di dunia ini. Punya tiga anak yang super ganteng dan semua sayang ke kakak. Beruntung banget kan hidup kakak? Harus banyak-banyak bersyukur pokoknya!"

__ADS_1


Raya senang mendengarnya. Dia adalah saksi bagaimana dulu Merry berusaha PDKT kepada Liam. Tadinya setelah menikah, Raya dengan senang hati membantu kakaknya untuk dekat pada Liam. Namun, tiba-tiba Daris mengajak mereka hidup terpisah dengan Raya. Entah hari itu ada permasalahan apa yang sedang melanda mereka.


Tadinya sempat khawatir kakak iparnya akan menyerah, lalu pergi meninggalkan mereka. Padahal, menurut Raya, Kak Merry adalah wanita terbaik untuk menjadi istri Kakaknya dan ibu dari Luham, Liam, dan Emir.


"Syukurlah Kak kalau begitu. Seneng banget deh Raya dengernya. Selamat ya Kak!"


Merry mengangguk dan tetap tersenyum.


**


"Hi Papa!" teriak Luham.


"Hi, anak-anak Papa yang ganteng-ganteng. Nggak lupa juga istriku yang paling cantik!" jawab Daris di seberang sana melalui sambungan video call.


"Kak, jangan lupa, di sini ada Raya yang cantik juga!" teriak Raya yang sedang rebahan di atas ranjang Emir. Sedangkan Merry, Luham, Liam, dan Emir berada di ranjang Luham dan Liam.


"Iya iya, Raya cantik," jawab Daris sembari tertawa.


"Papa, kapan pulang? Liam mau jalan-jalan sama Papa sama Bunda!" Tidak disangka, Liam ikut bicara. Luar biasa, memang betul-betul berubah.


Sejujurnya Daris terkejut juga, tapi Merry segera memberi kode dengan mengedipkan mata. Wah, syukurlah kalau begitu.


"Segera Sayang. Papa janji deh, nanti setelah Papa pulang, kita langsung jalan-jalan ya!" jawab Daris.


"Tante Raya diajak ya!" teriak Raya.


"Nggak boleh, main sendiri aja Tante Raya!" sahut Daris di seberang sana.


"Ih, jahat, diajak dong. Tante Raya bisa kok jadi tukang foto. Nanti nggak perlu repot-repot kalau mau foto, ada Tante Raya yang siaga!" Bisa tidak bisa harus ikut. Lumayan, liburan gratis.


"Nanti dipertimbangkan lagi deh!" jawab Daris.


Mereka melanjutkannya dengan bercerita tentang keseharian, obrolan seru, dan juga bergurau. Jangan lupakan Liam yang sekarang sudah ikut berebut untuk bicara. Liam juga tidak segan untuk memeluk dan bersandar kepada bundanya.

__ADS_1


Setelah berbicara cukup lama dengan anak-anak, tibalah momen dimana Daris hanya ngobrol berdua dengan istri tercinta. Anak-anak sibuk bermain sendiri dengan Tante Raya.


"Udah makan malam Mas?" tanya Merry.


"Udah Bunda. Nih, perutnya jadi buncit!" Daris mengarahkan kameranya ke perutnya.


"Heh, itu mah kamu nggak pernah olahraga!" jawab Merry, lalu mencibikkan bibir.


"Istirahat yang cukup Mas, jangan terlalu capek!" ucap Merry.


Daris senyum-senyum diperhatikan seperti ini.


"Iya Sayang," jawab Daris.


"Oh ya, Mer, di sini bagus loh. Jadi pengen honeymoon. Kita honeymoon yuk kalau aku pulang?" tanya Daris penuh harap.


"Heleh gaya banget ngakak honeymoon. Ntar aja nunggu anak-anak libur sekolah!"


Daris mengernyitkan dahi.


"Itu liburan namanya kalau nunggu anak-anak libur sekolah. Terus kalau liburan berarti rame-rame. Aku kan pengennya berdua gitu!"


"Terus anak-anak mau kita titipkan ke siapa? Raya? Ya kasihan lah!" tolak Merry.


"Dipikir nanti deh, honeymoon ya??" tanya Daris sambil menaik-turunkan alisnya.


"Iya, pokoknya bareng anak-anak!" jawab Merry.


Daris cemberut. "Berdua lah Sayang!"


"Rame-rame lah biar makin seru. Nggak bisa aku seneng-seneng tanpa anak-anak!"


Daris tersenyum. "Iya deh iya Bunda. Tunggu Papa pulang ya!"

__ADS_1


Seneng deh lihat Merry sayang sama anak-anak seperti ini. Tidak masalah juga rame-rame. Walaupun bukan honeymoon sih, tapi liburan.


Hah, Daris jadi rindu dengan Merry.


__ADS_2