
"Tadi Mama lama atau tidak Bun?" tanya Luham sambil mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumah Mamanya.
"Satu jam Kak, ngobrol sama Bunda tadi!" jawab Merry yang sedang memasukkan beberapa pakaian dan seragam sekolah Luham dan Liam ke tas.
Tadi saat mamanya kemari, anak-anak tidak ada di rumah. Akhirnya, setelah mereka pulang latihan futsal, mereka akan pergi ke rumah mamanya diantar Al. Rencananya mereka akan menginap.
"Ini bukunya yang mana aja Kak yang mau dibawa?" tanya Merry karena mereka akan menginap sedikit lama di sana. Dan itu tandanya mereka akan berangkat sekolah dari sana.
Liam datang mendekat sambil menunjukkan buku apa saja yang akan dibawa. "Sudah Bunda, ini saja cukup!" ucapnya.
"Nanti yang pinter ya di sana. Nggak boleh nakal. Nanti di sana harus sayang juga sama adiknya!" Adik yang dimaksud Merry adalah Grace. Gadis kecil yang usianya dua tahun dibawah Emir.
"Emir beneran nggak ikut Bun?" tanya Liam.
Merry menghela napas. "Bunda sih pengennya Emir ikut. Tapi dia nggak mau kok. Tahu sendiri kan tadi nangis pas disuruh ikut kalian?"
Emir bersedia ikut jika ada bundanya ikut juga . Lah, bagiamana ceritanya Merry suruh ikut menginap di sana juga.
"Emir ini anak Bunda kok!" Daris masuk sambil menggendong Emir.
"Iya nggak Dek?" tanya Daris pada Emir.
Emir mengangguk sambil tersenyum pada papanya. Dia nampak bahagia. Sepertinya papanya berhasil menenangkan Emir yang tadi menangis karena diminta untuk ikut kakak-kakaknya.
Emir ingin beralih dipangku oleh Bundanya yang sedang duduk di ranjang Luham dan Liam.
"Sama Papa dulu ya, Bunda masih bantu Kakak!" tolak Merry.
Emir langsung cemberut dan memeluk leher papanya.
__ADS_1
"Udah nih apa lagi yang mau dibawa? Almari nggak sekalian dibawa?" canda Daris yang masih berdiri di pinggir pintu sembari melihat istrinya dan kedua anaknya yang sedang sibuk mempersiapkan keperluan untuk menginap di rumah Ambar.
"Bawa deh sekalian, nanti biar Om Al yang suruh ngangkut!" jawab Luham sambil tertawa.
Kasihan Al, tidak ada di situ pun tetap dibully.
"Nanti Emil mau jalan-jalan sama Bunda sama Papa. Kakak Luam, Kakak Liam tidak diajak!" pamer Emir berusaha mempengaruhi kakaknya agar tak jadi pergi.
Emir mengiming-imingi jika dia akan berjalan-jalan bersama Papa dan Bundanya supaya Luham dan Liam tidak jadi pergi dan lebih memilih pergi jalan-jalan bersama Papa dan Bundanya.
Sedari tadi dia berusaha agar kakak-kakaknya tidak pergi kepada wanita yang mengaku mamanya.
Merry sedari tadi geleng-geleng kepala melihat Emir yang seperti itu. Boleh saja jika dia tidak mau, tapi kenapa ada pikiran untuk mempengaruhi kakak-kakaknya agar tidak mau juga.
"Kakak kan mau pergi ke rumah Mama!" ucap Liam sambil mencubit kedua pipi Emir dengan gemas.
"Iya Mamanya Kakak, tapi bukan Mamanya Emil!" jawab Emil.
"Om suaminya Mama ke sini juga ya Bun?" tanya Liam.
"Katanya sih tidak. Mama hanya datang bersama Grace!" jawab Merry.
**
Saat mereka bersiap ingin masuk mobil.
"Jadi anak yang baik dan sholeh ya Nak!" tutur Merry pada kedua putranya.
"Siap Bunda!" jawab Luham dan Liam serentak.
__ADS_1
"Nggak boleh nyariin Bunda loh!" goda Daris. Takutnya karena terbiasa apa-apa Bunda, jadi mereka jadi resah karena tidak ada Bundanya.
Luham dan Liam tersenyum ragu. Takutnya begitu. Saat di rumah mereka sangat bergantung pada Bundanya.
Jika di sana ingin bergantung pada Mamanya, entah mengapa rasanya sungkan. Ya sudahlah, Luham dan Liam akan berusaha mandiri. Mereka tidak ingin merepotkan Mamanya.
Daris mendekat pada Al yang berdiri di samping pintu mobil. "Al, tolong dijaga anak-anak ya. Pastikan saat tiba di sana, mereka baik-baik saja!" bisik Daris.
"Siap Pak Bos. Jangan khawatir!" jawab Al.
Daris mengangguk sembari menepuk pundak Al. Sebenarnya Daris tidak begitu khawatir. Mereka kan di sana bersama Mamanya.
Setelah mobil yang dikendarai Al pergi meninggalkan rumah. Tangan Daris merangkul pinggang istrinya.
"Emir beneran ngambek!" ucap Daris.
Merry terkekeh. "Habis ini kita ajak jalan-jalan sendiri!"
Emir tidak ikut ke depan dan lebih memilih bermain di belakang ditemani Bibi. Dia ngambek pada Luham dan Liam karena tetap pergi. Dia tidak ingin kakaknya pergi ke rumah Mamanya.
"Kamu nggak pengen ketemu Mbak Ambar, Mas?" goda Merry sambil mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
"Memangnya boleh Sayang? Kalau boleh aku susulin nih anak-anak!" jawab Daris dan berhasil membuat Merry melotot padanya.
"Oh, jadi sebenarnya pengen ke sana juga, tapi ditahan-tahan. Ya udah, ke sana aja gapapa. Aku siapin juga nih bajunya. Tapi minta tolong ambilin kopernya ya!" ucap Merry, lalu berjalan mendahului Daris.
Daris tertawa terbahak-bahak. "Ampun Bunda, masa gara-gara cemburu, suaminya diusir dari rumah?" seru Daris.
Merry berhenti dan menoleh ke belakang dengan ekspresi masam. "Jadi disiapin nggak nih kopernya?"
__ADS_1
Daris segera mendekat kepada Merry, lalu memeluk Merry. "Cemburu cemburu, Bunda cemburu!" Daris mendusel-dusel Merry sembari tetap tertawa.
Hm, Merry, siapa yang memulai, siapa juga yang akhirnya ngambek.