Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Tamu Jauh


__ADS_3

"Bunda, keyincinya nggak mau makan lagi!" teriak Emir yang sedang memberikan wortel kepada kelinci.


Emir berjongkok di depan kelinci warna putih dan terus memaksanya untuk makan.


Merry senang bisa melihat anak-anak bermain dengan bebas dan luas di rumah.


Ada taman kecil yang indah. Di sebelahnya juga ada kandang kelinci. Jika Emir sedang bermain di taman, kelincinya akan dilepas dan bermain di taman juga.


"Kelincinya kenyang. Udah nggak papa. Biarin main kelincinya!" jawab Merry.


Emir berjalan kepada Bundanya yang sedang duduk di kursi kayu yang terdapat di taman itu .


"Taluh mana Bunda?" tanya Emir sembari menunjukkan sisa wortel kelinci.


"Taruh di sebelah kandangnya Nak!" perintah Merry.


Emir, si anak baik ini menurut pada Bundanya.


"Bu permisi." Bibi datang dengan raut wajah cemas kepada Merry.


"Ada apa Bi?" Merry mengernyitkan dahi kenapa Bibi terlihat cemas.


"Itu Bu, di luar ada---," Bibi mengehentikan ucapannya seperti tidak enak jikalau akan melanjutkan ucapannya.


Merry berdiri dari duduknya. Ada yang tidak beres ini. "Di luar ada apa?"


"Ada Bu Ambar Bu!" jawab Bibi lirih.


Merry tampak berpikir. "Ambar," gumam Merry mengingat.


"Ambar mamanya anak-anak Bi?" seru Merry saat mengingat kalau mamanya anak-anak bernama Ambar.


Bibi mengangguk. "Ada di luar Bu!"


Tiba-tiba dada Merry terasa sesak. Apa benar Ambar datang?


Apakah setelah ini anak-anak akan melupakan dirinya setelah bertemu mamanya?

__ADS_1


Baru saja dia bahagia dan diterima baik oleh anak-anak. Apakah setelah ini akan berubah dan kehilangan?


Mas Daris, bagaimana dengan suaminya? Apakah dia akan kembali teringat dengan kenangannya masa lalunya dengan Ambar?


Merry menggeleng segera mengusir pikiran buruknya. Dia menghela napas. Tidak boleh berpikir seperti itu. Anak-anak sangat ingin bertemu mamanya. Pasti mereka senang.


Sedangkan Daris, tentu tidak ada hubungannya dengan Daris. Suaminya itu sangat mencintai dan setia padanya.


Merry menoleh pada Emir. "Nak, tunggu di sini dulu ya, Bunda ada tamu."


Biarkan Merry memastikan terlebih dahulu Ambar di depan, nanti pasti Merry mempertemukan Emir dengan mamanya.


Merry berjalan ke depan dan diikuti Bibi di belakangnya.


Setiap langkah yang tercipta terasa berat. Walaupun Merry berusaha berpikir positif, bohong bila tidak ada ketakutan di dalam hatinya. Merry takut ditinggal dan dilupakan oleh anak-anak.


Saat berada di depan pintu, Merry tampak ragu untuk membuka pintunya.


Ambar memang berada masih di luar. Bibi tidak berani memasukkan tamu ke dalam rumah tanpa seizin Daris dan Merry.


"Biar saya saja yang bukakan pintu Bu!" Melihat Merry yang ragu, Bibi yakin Merry sedang tidak baik-baik saja.


Di rumah ini, Merry tidak ingin Bibi terlalu sungkan padanya. Merry ingin semuanya biasa saja, asalkan saling menghormati satu sama lain.


Setelah Bibi membuka pintu. Wanita yang sedari tadi menunggu di luar langsung berbalik badan. "Sudah boleh masuk Bi?" Tidak heran jika Bibi dan Ambar sudah saling mengenal. Bibi yang bekerja di sini sudah ikut Daris sejak awal pernikahannya dengan Ambar dulu.


Bibi bergeser membiarkan Merry keluar.


Dengan ragu Merry melangkah keluar. Di luar tampak wanita yang seumuran dengan Daris sedang memandang dirinya tanpa berkedip.


Sejenak Merry juga terdiam sambil menatap wajah Ambar. Ternyata anak-anak juga sedikit mirip mamanya. Benar-benar perpaduan antara Daris dan Ambar.


Cantik. Ambar cantik. Terlihat anggun juga dengan dress selutut yang ia gunakan. Rambutnya panjang berwarna cokelat dia urai dengan rapi. Wajahnya juga nampak keibuan.


Merry juga memperhatikan sekitar Ambar. Rupanya hanya sendirian. Di mana anaknya yang bernama Grace? Apakah tidak diajak?


"Perkenalkan saya Merry. Istrinya Mas Daris!" Sepertinya berkenalan seperti itu adalah hal yang tepat. Merry juga mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Ambar.

__ADS_1


Ambar yang sebelumnya juga terdiam melihat dirinya, kini tersenyum sambil menerima uluran tangan dari Merry.


"Perkenalkan juga saya Ambar. Mamanya anak-anak!"


Merry tersenyum sembari mengangguk.


"Silahkan masuk Mbak!"


Setelah mereka berada di ruang tamu, mata Ambar fokus pada dua foto yang dipajang di dinding.


Foto Merry, Daris, dan anak-anak saat di pernikahan dulu dan juga foto keluarga terbaru beberapa Minggu yang lalu.


Merry mengikuti arah mata Ambar.


"Anak-anak sudah besar ya Mbak!" ucap Merry.


Ambar terkesiap dan menoleh kepada Merry. "Terima kasih telah menyayangi anak-anak!" ucap Ambar.


Lalu, matanya kembali fokus pada foto itu.


Merry kembali mengikuti arah mata Ambar.


Jadi curiga yang dilihat itu wajah anak-anak atau wajah Daris? Sepertinya memajang foto keluarga di ruang tamu bukan ide yang bagus.


Awas saja jika yang dilihat Ambar adalah Daris. Tidak akan Merry perbolehkan Daris bertemu dengan Ambar.


"Hari Sabtu biasanya Luham dan Liam main futsal Mbak. Nanti pulangnya setelah dhuhur." Sedangkan sekarang masih pagi.


Ambar mengenal napas. "Sayang sekali tidak bisa langsung bertemu anak-anak."


Dulu Ambar menunda kedatangannya karena sibuk. Selanjutnya, dia tidak mengabari lagi akan datang kapan.


Anak-anak yang sebelumnya sangat menanti kehadiran mamanya, bahkan sudah mulai ikhlas jika mamanya tidak jadi datang.


Sekarang, datang secara tiba-tiba tanpa mengabari terlebih dahulu seharusnya sudah siap dengan resiko tidak bisa bertemu anak-anak dengan cepat.


Tapi ya sudahlah, nanti juga pasti bertemu dan memang harus bertemu karena Ambar datang dari jauh. Kasihan jika tidak bertemu.

__ADS_1


Anak-anak pasti bahagia bertemu mamanya.


****


__ADS_2