Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Bibit Unggul Nih Bos!


__ADS_3

"Bisa aja bohongnya Kak Merry!" ujar Erga.


Merry mengernyitkan dahi. Aneh nih bocah. Udah diberi tahu fakta yang sesungguhnya tidak percaya.


"Ya sudah kalau tidak percaya!" jawab Merry singkat.


Orang seperti ini diabaikan saja. Nanti dia akan lelah sendiri. Memang terkadang orang-orang ini juga aneh. Lagipula dia masih muda.


"Boleh minta nomor handphone nggak Kak? Atau apa deh terserah, yang penting bisa buat chat atau telfon. Siapa tahu mau sleep call kan?" tanya Erga.


Merry mulai kesal dengan sikap Erga yang dibiarkan semakin menjadi-jadi.


"Kalau mau nomor handphone saya, silahkan minta ke suami saya!" jawab Merry sekenanya.


Erga terdiam. Suami lagi suami lagi. Apa jangan-jangan nggak bohong? Beneran punya suami?


Merry merasa cukup aneh saat Erga hanya diam di belakangnya. Merry mencoba melirik. Ih, memang diam. Kenapa dia diam? Bukannya dari tadi ngoceh terus?


Tapi ya sudahlah, masa bodoh. Bagus dia diam. Tidak menganggu Merry lagi.


"Kak?"

__ADS_1


Merry memejamkan mata. Baru saja dibilang bagus sudah diam, eh sudah mulai ngomong lagi. Heran deh!


"Erga maaf, saya harus ke kasir, permisi!" pamit Merry dan bergegas mendorong troli belanjanya ke kasir.


Erga mengamati Merry yang pergi tanpa berniat mengikuti.


Erga berpikir. Apa benar Merry sudah punya suami?? Nggak bohong?? Seriusan nih??


Kalau iya, seganteng apa sih suaminya. Tapi seganteng apapun suaminya pasti lebih ganteng Erga dong. Secara pasti lebih muda dan lebih keren Erga.


Erga berpikir bagaimana caranya dia bisa tahu suami Merry. Ya, walaupun Erga tidak mau seratus persen percaya dengan ucapan Merry. Bisa saja tadi memang berbohong. Iya kan???


"Haa, gue tahu!" gumam Erga saat mendapatkan ide yang cemerlang, berkilau, dan bercahaya. Indah bukan idenya? Seindah wajah Merry, menurut Erga.


Dia bergegas mendorong troli nya menuju ke kasir juga.


Bergegas membayar, lalu akan mengikuti Merry secara diam-diam.


Erga dan Merry membayar di kasir yang bersebelahan.


Merry sekilas melihat Erga. Tentu saja Erga langsung tersenyum kepada Merry.

__ADS_1


Senyum paling manis paling ganteng yang Erga berikan. Supaya Merry menyadari kalau Erga itu memang tampan rupawan.


Bibit unggul nih bos. Secara fisik sih tapi. Kalau secara sikap dan perilaku, Erga masih kacau balau.


Saat Merry sudah berada di dalam mobilnya. Begitu juga dengan Erga yang sudah berada di dalam mobilnya.


Erga memasang kacamata hitamnya. Bibirnya tersenyum miring. Pandangannya serius melihat mobil Merry yang mulai melaju.


Mungkin pertemuannya dengan Merry memang sudah takdir. Lihat saja, secara kebetulan mobil mereka berdekatan. Tentu saja mempermudah Erga untuk mengikuti Merry.


"Saatnya menjadi detektif Erga!" ucap Erga dengan serius.


Mobilnya melaju mengikuti mobil Merry. Dia sangat hati-hati saat mengikutinya.


Sedari tadi mengikuti Merry, ada satu hal yang membuat Erga kagum.


Skill Merry saat menyetir patut diacungi jempol.


"Keren juga Merry. Cewek idaman gue banget. Paket komplit!" ujar Erga penuh semangat di dalam mobilnya.


"Gue harap pikiran gue bener kalau Lo cuma bohong!" ujar Erga lagi.

__ADS_1


Erga mengikuti Merry dengan penuh semangat. Jangan sampai dia kehilangan jejak Merry.


__ADS_2