
"Bunda kapan bobok sama kita di sini?" tanya Luham dengan polosnya.
"Secepatnya!" sahut Daris dengan cepat.
Mereka tengah duduk di depan ruang televisi.
Merry santai saja, toh setelah ini dia memang akan menikah dengan Daris. Tentu benar jika setelah ini mau tidak mau dan suka tidak suka, Merry harus hidup di tengah-tengah keluarga Daris.
"Tapi nanti Auntie Merry tidurnya sama Papa!" lanjut Daris memberi peringatan.
Merry langsung melongok dan mencubit lengan Daris dengan cepat.
"Aww," Daris mengaduh kesakitan.
"Kenapa sih? Emang iya kan?" Daris tidak terima dicubit oleh Merry.
Merry kembali memprotes dengan pandangan tak suka pada Daris.
"Tolong direm ya Pak!" ucap Merry memberi kode.
Sebenarnya Merry ingin berbicara," Tolong dong itu mulutnya dijaga, jangan los gitu, ada anak kecil di sini!" Namun, berbicara hal demikian kepada Daris di depan anak-anak tidaklah baik.
Eh, dasar Daris bukannya merasa bersalah dia justru senyum-senyum pada Merry. Jujur Merry jengah dengan sikap Daris yang seperti ini.
"Jangan Pa, Bunda sama kita dong! Awas kalau Papa rebut Bunda!" ancam Luham.
Si kecil Emir ikut manggut-manggut se kubu dengan kakaknya.
"Ga boyeh Papa!" sahut Emir sambil menggelengkan kepalanya.
Nah, bisa ketahuan kan gimana kedepannya?
Gue harus memperdalam jurus kucing-kucing an nih! batin Daris.
"Iya iya, gantian nanti ya?" tawar Daris.
"Nggak boleh Pa!!" sahut Luham dengan cepat.
"Ga boyeh!!" Emir ikut menimpali.
Merry berusaha menahan tawanya sekuat tenaga. Merry mencoba berpikir positif, supaya otaknya tidak travelling.
Daris menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Kalau seperti ini mending semua seperti Liam saja lebih enak. Liam akan menyerahkan Merry secara penuh pada Daris, nggak akan ada cerita kucing-kucing an seperti ini.
Daris melirik Merry mencoba meminta persetujuan bahwasanya kita harus bekerja sama Mer, bekerjasama untuk mencapai kebahagiaan bersama.
Sedangkan Merry malah acuh tak acuh.
Mampus dah Daris, udah punya satpam-satpam kecil, eh malah Merry jual mahal juga. Selamat bekerja keras Daris!!
"Besok malam aku ke rumah kamu!" ucap Daris pada Merry. Sontak Merry langsung menoleh pada Daris.
Melalui sorot matanya, Merry mencoba bertanya apakah kedatangan Daris untuk melamar dirinya?
Daris mengangguk seraya tersenyum manis, "Lebih cepat lebih baik!"ucap Daris.
Merry langsung mengalihkan pandangannya menatap depan. Wajah Merry bersemu merah.
Namun, sekuat tenaga ia bersikap biasa saja.
__ADS_1
Merry mengangguk menyetujui perkataan Daris.
"Anak-anak wajib diajak Pak biar rame!" pinta Merry tanpa melihat ke arah Daris. Pandangan lurus ke depan, jujur Merry gugup.
Daris menggeser duduknya mendekat pada Merry. Sontak Merry langsung sedikit menjauh karena gugup. Daris tetap mendekat lagi. Merry pun langsung menjauh lagi.
"Jangan deket-deket dong Pak, belum halal!" protes Merry karena dadanya sedang diskoan.
Daris pun menyengir tanpa rasa bersalah, "Sabar ya kamu, bentar lagi juga kita halal!" ujar Daris dengan enteng.
Merry langsung melotot pada Daris. Enak aja bilang Merry harus sabar, bukannya yang nggak sabar itu Daris ya? Orang dari tadi yang mepet-mepet juga Daris.
Merry langsung beranjak dan duduk di karpet bawah bersama anak-anak. Bagi Merry lebih baik dia menjauh dari Daris, daripada tuh orang semakin seenaknya sendiri.
Belum tahu rasanya gue sleding emang tuh orang! gerutu Merry dalam hati.
Jujur sebenarnya Merry meminta Daris untuk mengajak anak-anak karena selain Merry sayang pada anak-anak Daris, anak-anak adalah pelarian terindah saat rasa gugup melanda pada dirinya saat hanya berdua bersama Daris.
Apalagi jika kedatangan Daris besok malam untuk meminta dirinya menjadi istrinya, pasti aura canggung menjadi-jadi di antara mereka berdua.
Maka, anak-anak adalah alasan dan pelarian terindah untuk mencairkan suasana dan menghindar agar tak berduaan dengan Daris.
Merry tak berani lagi menatap Daris, takut Daris GeEr. Sedangkan Daris tersenyum bahagia melihat anak-anak dan calon istrinya.
*****
Di lain tempat.
Amar sedang tersenyum sambil melihat cincin berlian yang ia pegang. Ia mengamati cincin itu dengan teliti. Rona bahagia memancar indah di wajahnya. Cincin itu terlihat sangat simple, elegan, dan manis. Sesuai dengan seseorang yang sebentar lagi akan menjadi pemilik cincin tersebut.
Pandangan Amar menerawang ke depan. Dalam bayangannya, ini memang sudah waktunya. Senyum manis tak pudar dadi bibir Amar.
Ia letakkan cincin berlian itu ke dalam kotak perhiasan kecil yang cantik dan elegan. Amar menyimpannya ke dalam laci di nakas kamar hotel.
"Papi Papi!" panggil Chan yang beranjak dari sofa kamar hotel.
"Iya Boy?" jawab Amar.
"Apakah Chan boleh video call Bunda Merry?" tanya Chan.
"Boleh ya, please please!" lanjut Chan memohon dengan memelas dan menggemaskan.
"Tentu saja Sayang!" Amar mengambil handphonenya lalu mencoba menghubungi Merry.
Cukup lama Chan dan papinya menunggu Merry mengangkat video call itu, tapi hasilnya nihil.
"Apakah Bunda sedang sibuk?" tanya Chan dengan kecewa.
Amar menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Kita coba lagi ya!" ucap Amar sembari mengusap lembut kepala putranya.
Chan mengangguk patuh. Ada secercah harapan dalam hatinya agar Merry mengangkat video call untuk kali ini.
Namun, lagi-lagi Chan harus kecewa. Bukan hanya Chan, Amar pun juga kecewa.
"No problem Babby, mungkin Bunda sedang sibuk, kita bisa mencobanya nanti lagi kan?" Amar mencoba menghibur putranya yang sangat kecewa dan bersedih.
Chan mengangguk lemas.
__ADS_1
"Coba ambil gelang yang buat oleh-oleh Bunda Merry!" perintah Amar pada Chan.
Chan menurut dan mengambil gelang yang menjadi oleh-oleh untuk Merry. Chan mendekat pada papinya dengan membawa dua pasang gelang megnet.
"Papi curang, Papi beli juga, Papi pengen nempel sama Bunda ya?" protes Chan sambil cemberut.
Jadi, gelang itu adalah sepasang gelang magnet yang saat dipakai bisa menempel.
Chan ingin saat dia dan Merry memakai gelangnya, lalu magnet di gelang itu mereka tempelkan, maka Chan dan Merry tangannya nempel dan kemanapun bisa bersama terus.
Namun, ternyata Amar juga tak ingin kalah dengan putranya. Jadilah dia membeli sepasang lagi untuk dirinya dan Merry.
"Nanti kan kita barengan memakainya Sayang! Kamu bergandengan dengan Bunda Merry di sebelah kanan, Papi di sebelah kiri! Jadi, kita bertiga bisa bersama-sama terus, lucu kan?"
jawab Amar yang ia rasa ini adalah ide bagus agar Chan berhenti protes.
Chan langsung tersenyum setuju, baginya itu juga ide yang bagus.
"Iya Papi, betul, kita bisa bersama-sama!" seru Chan dengan bahagia.
Amar tersenyum bahagia melihat Chan juga bahagia.
*****
Kembali ke kediaman Daris.
Merry sedang berada di kamar mandi anak-anak untuk memandikan Emir karena sudah sore.
Merry juga membantu mempersiapkan perlengkapan Luham saat Luham usai membersihkan diri.
Ternyata, Luham tak malu pada Merry, Luham sangat menganggap bahwa Merry adalah ibunya sendiri, tak ada rasa canggung pada dirinya.
Liam juga bersama mereka, tapi dia masih malu untuk akrab pada Merry. Dia hanya menjawab saat Merry bertanya pada dirinya.
Berbeda dengan Luham dan Emir yang sudah seperti tak ada batas lagi dengan Merry.
Banyak sekali keributan-keributan yang terjadi di kamar mandi. Mulai dari Emir yang nggak mau mau mandi katanya airnya dingin, terus pas keenakan mandi ternyata nggak mau udahan, dan sampai Merry pun akhirnya kenal dengan si bebek karet penghuni bak mandi Emir hehehe.
Daris juga ada di situ untuk membantu Merry mengurus Luham. Mereka nampak seperti keluarga bahagia. Canda dan tawa menyelimuti mereka.
Setelah Emir, Luham, dan Liam beres. Ya, meskipun Liam memilih melakukan apapun sendiri dan mandiri. Merry merasa bahagia dan ada rasa puas dalam dirinya karena Merry barusan ikut andil dalam mengurusi anak-anak.
Ada rasa haru juga dalam hati Merry, anak-anak ini akan menjadi anak Merry. Anak-anak ini akan selalu Merry sayangi dan kasihi sampai kapanpun, bahkan sampai mereka besar, tua, dan selamanya.
Merry juga bangga pada Liam karena mandiri, walaupun sebenarnya Merry juga tahu sebenarnya Liam ingin bermanja-manja tapi masih malu. Merry terus mencoba agar membuat Liam terbuka pada dirinya.
-------------------------------------------
Akhirnya bisa up..
Author up satu bab dulu ya!!
Maaf nih luamaa bangett ngett ngett nggak up, Author sibuk pindahan tempat tinggal! Ribet banget!!
Bismillah.. yuk bisa yuk up teratur teruss💪🏻
Makasih banyak ya buat yang udah baca dan tetep setia sama karya Author yang udah lama menghilang dan nggak up❤️❤️
I Love You All❤️❤️
__ADS_1