
"Sayang, kamu capek ya?" tanya Daris sambil terus merapikan rambut Merry.
Sedangkan Merry lebih memilih memejamkan mata sedari tadi. Ia enggan diganggu oleh siapapun.
Daris mengerti jika istrinya hanya pura-pura tidur. Itulah mengapa dia mengajak Merry untuk berbicara.
"Kangen Sayang, ngomong yuk, dikit aja!" Sungguh, Daris sangat merindukan istrinya.
Daris melihat perut Merry yang rata. Hatinya terasa teriris. Rasa bersalah terus bermunculan di hatinya.
Maaf ya, Nak. Papa nggak bisa menjaga kamu dengan baik. Papa nggak tahu kalau ada kamu. Sekali lagi Papa minta maaf. Tapi kamu harus percaya kalau Papa sangat menyayangi kamu dan sangat menantikan kehadiran kamu. Ya, mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama-sama di dunia, tapi nanti kita pasti bersama di Surga ya. Batin Daris.
Sampai detik ini juga Daris masih belajar untuk ikhlas. Sekarang Daris mengerti bahwasanya ikhlas dalam hal ini tidaklah semudah yang dikatakan. Semuanya butuh perjuangan.
Kehilangan memang sakit, tapi setidaknya dia juga bersyukur karena Tuhan masih membiarkan Merry untuk tetap bersamanya. Tuhan tidak mengambil keduanya.
Entah bagaimana mentalnya sekarang jika seandainya Tuhan mengambil keduanya. Daris tidak mengerti hidupnya akan sehancur apa saat ini. Sungguh, Daris tidak berani membayangkan lebih tentang hal ini.
Kehilangan anak bungsunya ini membuat Daris semakin bertekad untuk menjaga keluarganya dengan baik. Menjaga anak-anaknya dan istrinya.
Daris takut kehilangan lagi. Kehilangan itu sakit. Apalagi kehilangan orang yang kita sayangi.
Daris tidak akan membiarkan orang lain mengusik kehangatan keluarganya lagi. Tidak akan membiarkan sedikit pun.
"Assalamualaikum"
Mommy Tyas masuk ke dalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa. Raut wajahnya panik. Matanya juga seperti bekas menangis.
Disusul Amar di belakang yang juga sama paniknya seperti Mommy Tyas.
"Waalaikumussalam," Daris menyalami Mommy nya. Lalu sedikit minggir membiarkan Mommy Tyas mendekat kepada Merry.
Mommy Tyas mencium dahi Merry dengan lama, lalu mengusap kepalanya. Matanya juga berair.
Hanya sekedar itu yang dilakukan oleh Mommy Tyas karena melihat Merry sedang tertidur. Beliau tidak ingin menganggu anaknya yang sedang tertidur.
"Sudah tidur dari tadi?" tanya Mommy Tyas pelan.
Sejenak Daris menatap istrinya yang sedang tertidur. Lalu, berganti menatap Mommy nya.
__ADS_1
"Iya Mom," jawabnya, tapi sambil menggelengkan kepalanya mengisyaratkan jika Merry sebenarnya tidak tidur.
Mommy Tyas langsung menatap Merry dengan sedih. Sungguh, sebagai seorang ibu pasti Mommy Tyas merasa sangat sedih dengan apa yang sedang menimpa putrinya.
"Kamu sudah makan, Nak?" tanya Mommy Tyas beralih menatap Daris.
Mommy Tyas juga tidak tega menatap Daris yang terlihat lesu, matanya sembab, wajahnya tidak bersemangat, sedih, dan sangat menunjukkan jika dia khawatir dengan keadaan istrinya.
Mommy Tyas tidak yakin apakah sejauh ini Daris bisa makan dengan baik. Kasihan anaknya ini.
"Amar, kamu temani Daris makan ya!" pinta Mommy Tyas kepada Amar.
"Amar," panggil Mommy Tyas lagi karena Amar terpaku menatap Merry.
"Khem," Daris berdehem dengan keras.
Seketika Amar tersadar.
Mommy Tyas yang sudah biasa melihat hal seperti ini di antara mereka hanya menghembuskan napasnya.
"Temani Daris makan ya!" ujar Mommy Tyas yang mencoba ingin menormalkan suasana.
"Iyalah, biar Mommy yang ganti menjaga Merry di sini!" jawab Mommy Tyas.
"Nggak usah Mom, Daris udah makan kok!" sahut Daris.
Daris mengerti jika Amar keberatan untuk menemaninya. Lagi pula, siapa juga yang mau ditemani Amar.
"Sudah sudah, jangan membohongi Mommy. Ayolah kalian ini harus rukun, kalian ini saudara ipar loh!"
"Kamu harus makan Daris. Kamu itu harus sehat. Harus menjaga istri dan anakmu. Coba lihat, istrimu sekarang sedang lemah dan sakit. Kalau kamu sakit juga, gimana sama cucu-cucu Mommy di rumah!" ujar Mommy Tyas mengingat Luham, Liam, dan Emir.
"Amar, temani Daris ya!" lanjut Mommy Tyas sambil melotot.
Ternyata sampai di sini Amar belum sepenuhnya ikhlas Merry dimiliki oleh Daris.
"Iya Mom!" jawab Amar.
Mommy Tyas tersenyum. Kedua putranya ini memang dari dulu tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Amar melangkah keluar tanpa berbicara apapun.
"Sudah kamu makan dulu. Biar Mommy yang jagain istrimu. Kamu harus sehat, harus kuat!" ujar Mommy Tyas sambil menepuk-nepuk pundak Daris.
Daris tersenyum. Bersyukur sekali dia mertua sebaik Mommy Tyas. Tidak membedakan antara anak dan mantu.
"Daris keluar dulu ya Mom!"pamit Daris.
"Iya, makan yang enak ya Nak, biar selera makannya bagus!" jawab Mommy.
**
"Makan yang banyak, biar bisa menjaga istri kamu dengan baik!" ucap Amar, lalu menyeruput kopinya.
Mereka makan di kanti rumah sakit.
Daris menghentikan makannya. "Terima kasih atas perhatiannya!"
Amar tersenyum miring.
"Jangan libatkan Merry dengan masalah masa lalumu!" ujar Amar dengan dingin.
Daris sudah tidak berselera untuk makan. Dia tersenyum tipis.
"Kami menyerahkan Merry kepadamu agar kamu membahagiakan dia di masa sekarang dan masa depan. Bukan untuk terluka karena masa lalumu!" lanjutnya.
Daris hanya terdiam.
"Kami selalu berusaha membahagiakan Merry. Kami menjaga Merry dengan baik. Jadi tolong saat Merry sekarang bersamamu. Jaga dan bahagiakan dia dengan baik, setidaknya seperti kami saat menjaga dan membahagiakannya!" lanjut Amar.
"Saya mengerti setiap masalah yang menimpa Merry saat bersamamu. Walaupun Merry tidak pernah cerita kepada kami, tapi kami tahu. Kami tahu jika Merry yang kamu sayangi tidak bahagia bersamamu."
"Merry bahagia bersama saya!" jawab Daris sambil tersenyum.
"Iya, aku tahu dia bahagia menjadi istrimu. Tapi hidupnya tidak benar-benar bahagia!" sahut Amar.
"Jangan biarkan wanita-wanita mu itu mengusik hidup Merry!"
"Tidak ada wanita lain Pak Amar. Wanita saya hanya istri saya yaitu Merry!" Suasana semakin menegang di antara keduanya.
__ADS_1
Amar tersenyum miring.