
"Sejak bertemu dengan Lo dan anak-anak Lo, gue sadar kalau cinta itu memang ada. Keluarga kalian sangat harmonis dan nyaris sempurna. Ada seorang ibu yang menyayangi dan memperhatikan anak-anak dan suaminya. Ada bapak yang begitu menjaga dan mencintai istri dan anaknya. Dan anak-anak yang sangat menggemaskan dan sayang kepada orang tuanya."
"Hanya saja takdir tidak berpihak pada gue untuk bisa memiliki Lo. Tapi takdir mengizinkan gue untuk bertemu dengan Lo dan berhasil mengubah sudut pandang hidup gue. Sekarang gue percaya akan cinta dan gue mau berubah menjadi manusia yang lebih baik, supaya kebahagiaan yang gue dapatkan adalah kebahagiaan yang nyata. Sekarang gue bukan orang yang menyedihkan lagi."
Merry tertegun mendengar penjelasan Erga.
"Gue pamit!" ucap Erga pelan sambil menatap Merry.
Merry mengerutkan dahinya. "Pamit?" tanya Merry dengan bingung.
Erga tersenyum. "Gue mau pulang ke tempat mama gue. Nggak peduli kalau mungkin di sana nanti mama gue tetep nggak perhatian kayak dulu. Masih sama persis seperti dulu, nggak masalah. Itu nanti tugas gue memberi cinta ke mama gue."
Merry menghembuskan napasnya berat. Walaupun Erga ini orang baru di hidupnya, tapi Merry juga menganggap Erga seperti Raya. Ada rasa sesak saat mengetahui fakta jika Erga akan pergi.
"Jangan lupa datang kemari lagi. Kalau bisa bersama mamamu juga!" ujar Merry.
"Kita itu keluarga Erga!" lanjutnya.
Erga tersenyum, tapi air matanya jatuh.
Dia mengangguk, lali menghapus air matanya.
Merry jadi sedih. Air matanya juga menggenang.
Sejujurnya Erga tidak rela berjauhan dengan Merry. Hatinya begitu perih tidak bisa menatap wajah Merry lagi.
"Pasti. Nanti akan gue kenalin mama gue ke Lo, suami Lo, dan anak-anak!" ucap Erga.
"Apa Mas Daris sudah tahu tentang ini?" tanya Merry.
__ADS_1
"Iya, pria tua itu walaupun terlihat dingin, membosankan, dan memusuhi gue. Tapi sebenarnya dia baik sama gue. Gue jadi tenang Lo punya suami seperti dia!" jawab Erga.
Merry terkekeh. Sejujurnya Merry juga sudah tahu tentang ini. Tidak ada rahasia yang ditutup-tutupi antara dirinya dengan Daris.
"Apa kamu tidak ingin bertemu Luham, Liam, dan Emir?" tanya Merry.
Wajah Erga berubah sendu. Dia menunduk.
"Takut nggak jadi pergi kalau nanti ketemu sama anak-anak!" jawab Erga pelan.
Erga begitu menyayangi anak-anak itu. Erga merasa sangat dihargai dan hormati oleh anak-anak itu. Erga belajar banyak tentang ketulusan, kesopanan, dan menghormati orang yang lebih tua.
"Nanti sampaikan saja kalau Kak Erga harus pergi karena ada kepentingan yang sangat penting dengan orang tuanya. Kak Erga janji akan menemui mereka dan bermain bersama mereka lagi nanti." ujar Erga dengan yakin kepada Merry.
Merry tersenyum sembari menepuk pundak kiri Erga.
"Pasti!" jawab Erga dengan yakin.
"Kami akan menunggu kamu untuk menemui kami lagi!" ucap Merry.
Walaupun bibir Erga tersenyum, tapi air mata yang jatuh tidak bisa membohongi suasana hatinya yang begitu sedih.
"Jaga diri baik-baik ya, Mer. Tetap jadi sosok Merry dan ibu yang hebat. Seorang wanita yang penuh kasih sayang!" ucap Erga dengan tulus.
Keduanya saling melempar senyum untuk terakhir kalinya. Tidak tahu kapan akan berjumpa kembali. Dan dengan keadaan yang seperti apa saat bertemu kembali nanti.
Setelah ini masing-masing kehidupan keduanya sudah tidak ada lagi Merry atau Erga. Semua hanya tersisa kenangan.
*****
__ADS_1
Setengah tahun sejak kembalinya Erga ke negara tempat mamanya tinggal. Luham, Liam, dan Emir kini sudah kembali cerita seperti semula.
Mereka yang sebelumnya sangat bersedih karena kehilangan sosok Erga yang sudah dianggap seperti kakak sudah ikhlas menerima takdir yang memang seperti ini.
"Liam, mama video call!" Teriak Luham sambil berlarian ke arah Liam yang sedang melukis pot dari gerabah di halaman depan rumah bersama Raya dan Al.
Liam bergegas meninggalkan tugas sekolahnya dan mendekat kepada Luham. Mereka berdua duduk di teras sambil berbincang seru dengan mamanya.
Kini mereka juga sudah memaafkan mamanya. Usaha Merry berhasil walaupun membutuhkan usaha yang begitu keras. Merry tidak ingin ada rasa benci dan dendam dalam hati anak-anaknya, apalagi kepada ibu kandungnya sendiri.
Raya dan Al saling berpandangan. Mereka saling melemparkan senyum.
"Kak Merry memang hebat ya!" ucap Raya kepada Al.
Al mengangguk. Itu memang fakta yang harus diakui oleh semua orang. Wanita baik hati dan hebat.
"Aku juga yakin kalau kamu nggak kalah hebatnya dari calon kakak ipar!" jawab Al.
Raya tersipu malu, tapi dengan segera ia mengendalikan perasaan itu.
"Dasar, Om Om tukang gombal!" ejek Raya.
"Om Om ini juga calon suamimu Ray!" jawab Al dengan cepat sembari tersenyum menggoda.
"Iisshh, demi apa gue punya calon suami Om Om!" ucap Raya tanpa bisa menahan senyum di bibirnya.
Dalam waktu setengah tahun ini, Al memperjuangkan Raya dengan begitu kuat. Dia tidak ingin main-main lagi dengan Raya. Ternyata usahanya berhasil. Raya bisa mencintainya dan mereka sudah bertunangan dua bulan yang lalu. Pernikahan mereka akan dilaksanakan bulan depan.
Takdir yang begitu indah bagi keduanya.
__ADS_1