Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Daris dan Ambar


__ADS_3

"Hai Daris, lama tinggal berjumpa!" sapa Ambar kepada Daris. Ambar sedang mengantar anak-anak pulang.


Di rumah hanya ada Daris dan Bibi. Sedangkan Merry dan Liam pergi ke toko atk di antara oleh Pak Sopir.


Saat ini mereka sedang duduk di kursi yang berada di teras rumah. Sedangkan anak-anak berada di dalam kamar meletakkan tas yang kemarin ia bawa menginap di rumah mamanya.


Bibi sedang di dapur membuatkan minum untuk Ambar.


Daris hanya menatap lurus enggan menatap Ambar yang duduk di sampingnya, tapi terpisah oleh meja kecil.


"Seperti yang kamu lihat, baik-baik saja!" jawab Daris seadanya.


Ini kali pertama mereka berbicara setelah beberapa tahun terakhir. Bahkan, saat terakhir Ambar menemui anak-anak, Daris tidak berbicara dengannya.


Bisa dibilang Daris dan Ambar tidak kompak dalam mengurus anak walaupun setelah berpisah. Hubungan mereka bisa dibilang keruh dan berpisah secara tidak baik-baik.

__ADS_1


Daris memang sudah berdamai dengan takdirnya, hanya saja bukan berarti dia bisa baik kepada Ambar.


Sebenarnya dia juga enggan untuk menemui Ambar. Daris pasti selalu menghindar dengan berbagai alasan. Namun, apesnya barusan ia sedang berada di teras. Tidak mungkin tiba-tiba pergi dengan sebuah alasan. Apalagi ada anak-anak.


Ambar melihat Daris dari samping. Jauh lebih mempesona dibandingkan foto yang ia lihat kemarin.


Daris terlihat lebih tua, tapi lebih maskulin. Rahangnya tegas dan ditumbuhi kumis tipis. Kenapa ia telat menyadari jika Daris setampan ini.


"Rupanya kamu sangat berjuang setelah kita berpisah." ujar Ambar.


Daris sukses sekarang.


"Aku kira hidupku yang sekarang jauh lebih baik. Ternyata aku sadar hidup bersamamu dan anak-anak jauh lebih baik dan menyenangkan." lanjut Ambar saat tak menerima respon apapun dari Daris.


Daris melirik Ambar sekilas saat mendengarnya. Apakah ini bentuk penyesalan mantan istrinya?

__ADS_1


Ambar menoleh kepada Daris saat dirinya tak mendapat respon apapun sedari tadi. Dilihatnya ternyata Daris hanya menatap depan, enggan menatap dirinya. Ambar kesal karena sekarang Daris sangat dingin padanya. Berbeda dengan Daris yang selalu hangat, menurut, dan melimpahkan semua kasih sayangnya kepada Ambar.


"Apa kamu tidak punya niatan merawat anak-anak bersamaku lagi?" tanya Ambar.


Daris mengerutkan dahi sembari menahan tawa. Maksudnya Ambar menyuruhnya menjadi pebinor dengan cara merebut Ambar dari suaminya?


Cih, tidak sudi. Dia punya Merry yang menjadi segalanya sekarang. Bahkan, sebelum ada Merry pun pasti Daris enggan.


"Tidak," jawab Daris singkat sembari mentertawakan Ambar dalam hati.


Ambar sangat geram. Tapi tunggu dulu, ini masih permulaan. Ambar sangat yakin jika Daris masih mencintainya. Hanya saja sekarang Daris masih gengsi.


Ambar tersenyum miring. Ambar sangat mengerti karakter Daris yang disaat-saat tertentu juga pasti jual mahal. Apalagi setelah persoalan rumah tangga mereka yang telah kacau. Namun, yang selalu Ambar yakin adalah Daris masih mencintainya. Bahkan cintanya melebihi cinta kepada Merry.


Mengingat tentang Merry, Ambar jadi kesal. Orang baru yang telah mengambil Daris dan anak-anak darinya.

__ADS_1


Enak saja sekarang mereka hidup bahagia. Seharusnya Ambar lah yang ada di posisi Merry saat ini.


Sepertinya Ambar harus segera menyadarkan Merry bahkan cinta anak-anak dan Daris hanya untuk Ambar seorang, bukan untuk Merry.


__ADS_2