
"Tante, Luham titip ini!" Luham memberikan sepucuk surat pada Raya.
"Tapi Tente nggak tahu di mana rumahnya Ham! Gimana dong?" Raya juga bingung harus bagaimana.
Luham mengehela nafasnya kecewa, bagaimana ini, Luham ingin sekali mengirim surat kepada Merry melalui perantara tantenya.
Tapi, tantenya sama saja seperti dirinya tidak tahu di mana rumah Merry.
Raya mengetuk-ngetuk jidatnya berpikir. "Nanti deh, Tante pikirkan caranya!" ujar Raya.
"Pokoknya kita harus membawa Kak Merry bersama kita lagi!" lanjut Merry dengan mantap.
Luham mengangguk mantap, mereka berdua memiliki misi untuk membawa Merry bersama mereka lagi.
Tooss, mereka berdua tos sebagai tanda kerjasama.
"Tante!!" Emir datang ke arah mereka sambil mengucek-ngucek mata.
"Adudu, ponakan Tante bangun tidur ya!" Raya berjalan ke arah Emir lalu menggendong Emir.
"Eemm, bau acem ya, eemm!" Raya menciumi Emir sampai ke leher-lehernya. Tau kan baunya anak kecil baru bangun tidur, acem-acem syedep.
"Ayo ke lumah Bunda!" Emir menangis lagi ingat pada memorinya sebelum tidur tadi. Tadi sebelum tidur Emir menangis terus minta ketemu Merry. Bahkan, tidur sampai ngigo bunda-bunda terus. Eh, pas bangun tidur kembali ingat tentang Merry.
"Doakan Tante ya biar bisa bawa Bunda buat Emir, Kak Luham, dan Kak Liam!!" ucap Raya yang sebenarnya juga sedih.
Raya dan Luham saling memandang sejenak, saling memberi semangat untuk membawa Merry bersama mereka. Pantang menyerah sebelum ijab sah.
Daris yang berpakaian rapi datang bersama Liam yang juga berpenampilan rapi.
"Emir jangan nangis ya kan anak pinter!" Rayu Daris pada Emir yang masih menangis di gendongan Raya. Semalam Daris tidak tidur karena Emir menangis ingin bertemu Merry.
Daris menggendong Emir semalaman sambil bersenandung. Horor sih, untung nggak ada Tante Kun yang datang! Hii horor!
Daris mengecup kepala Emir.
"Luham nggak ikut beneran?" tanya Daris pada Luham. Hari ini Daris akan menjemput klien spesial dari Jepang di bandara.
Daris sebenarnya ingin mengajak anak-anaknya karena kebetulan Luham dan Liam sekolahnya juga libur. Dan kebetulan itu juga permintaan kliennya. Namun, rupanya Luham tidak mau jadi yang ikut hanya Liam.
"Ya udah kalau gitu nggak papa! Papa berangkat dulu ya!!" pamit Daris lalu bergegas pergi. Di depan, Al sekretaris pribadi Daris sudah menunggu.
Raya mengikuti Kakaknya sampai di teras depan sembari tetap menggendong Emir.
Al yang melihat kedatangan Raya langsung menegapkan badan dan menata rambutnya agar terlihat lebih tampan.
__ADS_1
Saat Raya dan Al saling berpandangan, Al mengedipkan sebelah matanya Raya membuat Raya langsung melototkan mata. Seolah-olah itulah peringatan bagi Al, awas Lu kalau berani genit lagi gue lempar pake sendal!!
Al tetap dengan gaya genitnya pada Raya pergi mengikuti Daris dan Liam masuk mobil.
"Dasar, playboy cap kandang!" gerutu Raya dalam hati.
*****
Di dalam mobil keluarga Syah.
"Beneran cuma dua Minggu?" Mommy Tyas bertanya pada Amar yang duduk di depan bersama supir.
"Iya Mom!" jawab Amar sambil sejenak menoleh pada Mommy nya yang duduk di bangku syaf kedua bersama Merry. Sedangkan Chan duduk di bangku syaf ketiga atau yang paling belakang.
"Bunda mau minta oleh-oleh apa?" tanya Chan pada Merry.
"Iya deh yang sekarang manggil Auntie Merry bunda, Oma jadi dilupakan!" Mommy Tyas pura-pura sedih. Nah, anak kicik ini malah tertawa kecil.
Merry ikut tertawa dan menoleh ke arah Chan di belakang. Ganteng kalau ketawa gini Chan!
Please deh tapi nggak mirip Amar, lebih mirip Lili mantan istri Amar.
"Mer, Lo bisa bantu gue nggak?" tanya Amar dengan serius.
Merry mengerutkan dahi, minta bantuan apa? Awas saja kalau mendadak dan sifatnya penting! Merry nggak mau bantuin!
"Bantu aku menjaga hatimu selama aku tak ada di sisimu!" ujar Amar dengan gaya bicara yang dibuat-buat.
Merry langsung memutar bola matanya malas. Nggak punya kerjaan banget sih tuh orang. Nggak tahu tempat juga!!
Merasa tak mendapat respon dari Merry, Amar pun menoleh pada Merry. Dilihatnya ekspresi Merry yang hanya datar.
"Nggak usah baper Mer, gue bercanda!" tutur Amar dengan ceplas-ceplos.
Merry langsung mengerutkan dahinya, "Idih, GeEr, siapa juga yang baper!!" sanggah Merry.
Amar tertawa entah menertawakan apa. Namun, anehnya Mommy Tyas dan Pak Njan ikut tetawa. Bahkan, si Chan yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa ikut tertawa. Merry jadi merinding, ngapain mereka tiba-tiba ketawa gini.
Percayalah, sedikit demi sedikit Merry mulai terbiasa dengan hidupnya yang tanpa Daris dan anak-anaknya.
Bukankah kehidupan Merry yang dulu memang begini? Jadi, seharusnya tidak masalah dong dengan atau tanpa kehadiran Daris dan anak-anaknya di hidupnya.
Hari ini, agenda Mommy Tyas dan Merry sebelum pergi ke butik untuk melakukan persiapan launching brand terbaru adalah mengantarkan Amar dan Chan terlebih dahulu ke bandara. Amar dan Chan akan menjenguk orang tua mantan istrinya yang sedang sakit.
*****
__ADS_1
"Sampaikan salam Mommy pada ibunya Lili ya!" ujar Mommy Tyas.
"Iya Mom!" jawab Amar.
"Ditunggu nih kabar baiknya ada yang CLBK sama masa lalu!" canda Merry menggoda Amar.
"Nggak usah cemburu gitu dong!" goda Amar tak kalah sengitnya sembari mengelus kepala Mery. Niatnya mau ngacak-ngacak rambutnya, tapi lah rambut Merry yang keriting hitam panjang itu di kuncir kuda kok, ya mana bisa?
"Nggak baik dipertontonkan di depan anak kecil!" Merry memperingatkan hal tersebut pada Amar. Ada Chan di sini.
Mommy Tyas hanya menggelengkan kepalanya heran, kenapa mereka selau berdebat atau bertengkar dan saling mengusili saat bersama.
"Nanti Chan yang pinter ya saat bertemu Nenek ya!!" nasihat Mommy Tyas pada cucunya.
"Siap Oma!" jawab Chan.
"Ya udah kita berangkat dulu ya Mom!" pamit Amar.
Akhirnya mereka pun pergi, tentu sebelum pergi tadi Chan salim pada Merry dan Omanya. Anak pintar, anak sholeh.
*****
Merry dan Mommy Tyas berjalan meninggalkan bandara.
Siapa yang meragukan pesona kedua wanita tersebut. Mommy Tyas dengan gaya elegannya tetap terlihat mempesona walaupun usianya sudah berkepala empat.
Tentu Merry juga tak kalah mempesonanya dengan Mommy Tyas.
Wanita 24 tahun yang memiliki perawakan tinggi, langsing, dan tegap. Seperti biasanya, baju hitam beserta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya menjadi style favoritnya saat menjadi bodyguard. Merry berjalan dengan tegap dan aura dingin yang mencekam.
Siapapun yang melihat Merry kala itu pasti memilih untuk tak berurusan dengan Merry.
Siapa yang mau berurusan dengan wanita yang sangat jelas terlihat cuek dan dingin. Bagi siapapun yang melihat Merry kali ini, tidak akan percaya jika Merry juga bisa berubah menjadi ibu peri bagi Emir, Chan, Luham, dan Liam.
Mungkin mereka menganggap jika Merry wanita tak berperasaan dan wanita yang lebih baik dihindari daripada mencari gara-gara dengannya.
Saat Merry terus melangkah dengan angkuhnya, matanya tanpa sengaja melirik tiga pria yang juga sedang melihatnya.
Pria itu adalah Daris, Liam, dan Al. Merry mencoba mengamati benarkah itu benar mereka? Ya benar, itu adalah mereka! Ngapain?
Namun, hal tersebut tak membuat Merry langsung berubah menjadi ibu peri. Merry tetap cuek dan dingin. Tidak peduli ada mereka atau tidak. Bagi Merry, mereka punya hidup masing-masing.
Merry terus berjalan dan melewati mereka. Saat pas di dekat mereka, Merry hanya menoleh dan tersenyum pada Liam. Anak itu ternganga melihat Merry. Apalagi Daris dan Al, mereka tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Daris hanya bengong melihat Merry.
Liam yang sadar jika Merry tersenyum padanya lalu memberikan senyumnya juga pada Merry. Raut wajah Liam berubah takjub melihat Merry yang seperti itu. Dia tak percaya benarkah itu Auntie Merry?
__ADS_1
Tidak ada tegur sapa di antara mereka. Daris masih bengong dan otaknya hanya mampu bertanya-tanya benarkan itu Merry? Kenapa cuek dan dingin? Kenapa menakutkan? Kenapa berbeda dengan Merry yang hari itu? Benarkah seperti ini saat menjadi bodyguard?
Sedangkan bibir Al hanya mampu berucap, "Gilaak, kereen!" Bahkan Al menilai jika Merry jauh lebih keren maco dari dirinya.