Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Kenapa Harus Dia?


__ADS_3

Auntie, Luham mau Auntie ke sini lagi ya! Siapa yang ngajarin Luham kalau ada tugas dadi Bu Guru untuk buat ketupat lagi?


Oh iya, empat hari lagi Luham ikut lomba menyanyi loh Auntie! Luham mau Auntie datang sama Papa buat nonton Luham lomba.


Luham mau nyanyi lagu buat Auntie! Jadi Auntie harus lihat ya!


Merry menarik nafasnya dalam, lalu mengeluarkan perlahan. Dadanya sesak sekali.


Oh iya, kemarin Luham mimpi Auntie nyuapin Luham, Liam, dan Emir loh!


Luham suka sekali Auntie, semoga Auntie bisa nyuapin kita beneran ya!


Bahkan Auntie tidak tahu apakah Auntie bisa menyuapi kalian! batin Merry.


Kriiing kriiing kriiing


Handphone Merry bunyi, akhirnya Merry mengambil handphone nya.


Nomor tanpa nama menghubungi Merry. Siapa? Merry mengerutkan dahi.


Sebentar-sebentar, kalau dilihat dari nomor yang belakangan itu nomornya Daris. Untuk apa Daris menelpon?


Akhirnya, Merry mengabaikan telepon tersebut. Merry membiarkan Mbak Operator yang menjawab Daris "Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi" kira-kira begitu yang akan diterima Daris di sana.


Tak lama kemudian Daris menelpon lagi, tapi tetap saja Merry mengabaikan.


Ini Merry lagi baca surat dari anaknya, ternyata bapaknya juga telfon.


Jujur sebenarnya Merry penasaran, tapi egonya lebih besar untuk tidak mengangkat telfon dari Daris.


Merry tetap membiarkan handphone nya menyuarakan nada dering telepon favoritnya. Merry menunggu nada dering itu berhenti sendiri. Setelah nada deringnya berhenti.


Kling


Ganti notif chat WhatsApp yang bunyi.


Saat Merry membuka chat tersebut matanya langsung terbelalak. Buru-buru Merry mengambil dompet dan kontak mobil. Merry bergegas ke luar dari kamar dan menjatuhkan surat dari Luham ke lantai kamarnya. Merry berjalan tergesa-gesa, otaknya sudah tak bisa berpikir, hanya air mata yang terus menetes sebagai clue dari apa yang terjadi padanya saat ini.


"Merry kamu mau ke mana?" Mommy Tyas menghadang Merry karena merasa ada yang tak beres dengan anaknya.


Merry menggelengkan kepala. "Merry mau harus buru-buru Mom!" Merry segera pergi dari Mommy Tyas dan berjalan tergesa-gesa.


Mommy Tyas mengejar Merry di belakangnya, "Di antar Pak Njan ya!" tanya Mommy Tyas, beliau khawatir dengan keadaan yang seperti ini Merry malah menyetir mobil sendiri.


Mommy Tyas khawatir terjadi sesuatu yang tak diharapkan pada Merry.


"Nggak usah Mom!" Merry menolak dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Ya Allah lindungi anak hamba Ya Allah!" Doa Mommy Tyas dengan perasaan yang khawatir pada Merry. Kenapa juga Merry itu, apa yang terjadi padanya? Baru pertama kali Merry bersikap seperti ini!


Merry memacu mobilnya dengan kecepatan


tinggi. Air matanya terus menetes. Hatinya tak henti-hentinya berdoa semoga apa yang barusan ia baca tidaklah benar.


"Nggak mungkin, itu nggak mungkin!" ucap Merry yang terus berusaha tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar.


Jarak rumah Merry dengan tujuan Merry kali ini dapat ditempuh dalam waktu setengah jam.


Kenapa setengah jam ini lama sekali?


Merry memukul-mukul stirnya tiap kali bertemu dengan lampu merah. Merry semakin menangis menjadi-jadi di tengah antrian lampu merah.


Merry mencoba menarik lalu membuang nafasnya. Merry mencoba menenangkan dirinya. Air matanya terus menetes tanpa seizin darinya.


Mendekati tempat tujuan, Merry menambah kecepatannya. Dirinya sudah tak sabar untuk sampai ke tempat tujuan.


Hingga pada akhirnya, sampailah Merry di depan bangunan besar nan megah bertuliskan RS. SEHAT MEDICA.


Setelah memarkirkan mobilnya, Merry buru-buru masuk ke dalam rumah sakit tersebut dan mendatangi resepsionis untuk bertanya. Setelah mendapat informasi yang Merry kira cukup, buru-buru Merry pergi ke suatu ruangan yang diinformasikan oleh petugas resepsionis tadi.


Merry merasa langkahnya ini berat sekali, kenapa ruangan itu jauh sekali.


Tibalah Merry di depan ruangan yang ia tuju.


Merry membaca tulisan besar yang ada di atas pintu ruangan tersebut "ICU" hatinya perih, benarkah ada orang tersayang yang sedang berjuang di dalam sana?


Merry kembali melihat pada pria tersebut. Pria tersebut belum menyadari kehadiran Merry.


"Kenapa bisa terjadi Pak?" tanya Merry dengan pelan. Pria itu mengangkat kepalanya menatap Merry.


Dengan gerakan yang cepat pria itu langsung memeluk Merry. Memeluk dengan erat sampai Merry merasa sesak nafas.


Pria tersebut menangis meluapkan segala kesedihannya di pelukan Merry.


"Kenapa harus dia Mer?" Jujur, ini kali pertama Merry melihat hancurnya hati seorang pria. Pria tersebut memeluk Merry dengan erat, tapi Merry tak berani memeluknya balik. Merry hanya membiarkan pria tersebut memeluk dan berbagi kesedihan dengan dirinya.


Bibir Merry kelu untuk berbicara, pikirannya terbagi-bagi antara gugup dipeluk dan memikirkan seseorang yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya di dalam sana.


Cukup lama Merry membiarkan pria tersebut memeluk dirinya, hingga pada akhirnya pria tersebut melepas pelukannya sendiri.


"Maaf, saya lancang memeluk kamu!" Pria itu meminta maaf pada Merry.


Merry mengangguk memaafkan pria tersebut.


"Boleh saya masuk Pak?" Merry ingin segera melihat orang yang sedang berjuang di dalam sana. Setidaknya ia bisa menyalurkan energi positif agar orang yang sedang berjuang di dalam sana semangat untuk sembuh.

__ADS_1


"Sebentar, ada dokter di dalam, kita tunggu dokternya ke luar dulu Mer!" jawab pria tersebut. Akhirnya, mereka duduk di kursi tunggu.


"Kenapa harus dia Mer?" ucap pria tersebut.


Merry juga bingung harus menjawab apa, kalau boleh ditukar, Merry mau menggantikannya. Hari Merry juga terus bertanya-tanya kenapa harus dia yang merasakan rasa sakit itu? Bukankah itu sangat menyakitkan bagi dia.


"Dia anak yang baik, kenapa harus dia?" ucap pria itu lagi.


"Dia anak yang kuat Pak! Bapak harus percaya padanya!" Merry mencoba memberikan energi positif pada pria tersebut. Bagaimana pun pria tersebut harus kuat, dialah tumpuan anak-anaknya.


"Saya menyesal hari itu tidak menemaninya!" Pria itu mengungkapkan rasa sesalnya pada Merry.


"Itu sudah bagian dari cerita hidupnya Pak! Sekarang yang harus kita lakukan adalah berdoa dan mengusahakan perawatan yang terbaik untuk dia!"


Pria tersebut mengangguk. Setidaknya ada yang diajak berbagi kesedihan saat ini.


"Anak-anak gimana kabarnya?" tanya Merry.


"Mereka di rumah, aku nggak tahu gimana kabarnya, bahkan aku lupa untuk bertanya bagaimana kabar mereka! Fokusku hanya tertuju padanya!" jawab pria tersebut sedih. Di satu sisi dia sangat khawatir pada orang yang sedang berjuang di dalam Ruang ICU, tapi di sisi lain dia juga merasa bersalah mengabaikan anak-anaknya di rumah.


"Saya bisa memaklumi itu Pak, tapi setidaknya Bapak kabari dulu anak-anak di rumah!" ucap Merry.


"Kamu benar Mer!" Pria itu menyetujui perkataan Merry.


Akhirnya, pria itu mengambil handphone nya untuk menghubungi anak-anaknya di rumah.


Belum sempat memencet tombol panggil, seorang dokter bersama dua perawat ke keluar dari ruang ICU. Merry dan pria itu bergegas mendekat pada dokter tersebut.


"Mari ke ruangan saya Pak, ada yang harus saya bicarakan!" ajak dokter bername tag Surya Pradipta. Akhirnya, pria tersebut mengikuti dokter ke ruangannya, Merry pun juga ikut karena penasaran dengan apa yang terjadi.


Di ruangan dokter.


Banyak informasi yang dokter tersebut berikan, diskusi pun juga mereka lakukan. Dari banyaknya informasi dan diskusi yang mereka lakukan, ada satu kalimat yang terus terngiang-ngiang di otak Merry.


Seseorang yang sedang berjuang di dalam ruang ICU terus memanggil-manggil namanya "Auntie Merry Auntie Merry" Hati Merry sesak, perih, dan entahlah tak bisa didefinisikan lagi.


Kenapa dirinya yang dicari di alam bawah sadarnya? Sepenting itukah Merry di hidupnya?


----------------


Huhu siapa ya yang kira-kira sedang berjuang di dalam Ruang ICU😭 Sedih banget😭


Menurut kalian siapa? Coba deh komen di bawah!!


Sekali lagi makasih ya buat yang udah dukung Author🖤🖤


Luv Luv yang banyak buat kalian semua🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2