Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Pasar Malam


__ADS_3

"Sayang, mau lagi dong!" pinta Daris yang meminta Merry untuk menyuapinya cilok bakar lagi.


"Jangan panggil Sayang kalau di depan Emir, nanti dia ikutan manggil aku sayang!" omel Merry.


Memang benar adanya. Anaknya yang paling kecil ini suka sengaja meniru papanya saat memanggil bundanya dengan sebutan sayang.


Daris tertawa. Emir memang minta dicubit.


Saat ini mereka sedang berada di pasar malam. Terakhir Merry ke pasar malam adalah saat dia masih kecil. Sedangkan Daris, terakhir dia ke pasar malam saat zaman kecilnya Raya. Untuk Emir, ini adalah pengalaman pertama dia pergi ke pasar malam.


Dengan berbekal pengalaman yang terbatas dari Bunda dan Papanya di pasar malam, hari ini mereka akan bersenang-senang di sini.


Saat pertama kali masuk, mereka langsung mencoba komedi putar. Hanya Merry dan Emir yang naik, sedangkan Daris tidak mau. Dia lebih memilih menunggu sambil memfoto istri dan anaknya.


Selanjutnya, mereka langsung jatuh cinta pada cilok bakar karena baunya yang sedap menurut mereka. Akhirnya, mereka memutuskan membeli, lalu duduk sambil menyantap cilok bakar.


"Emil suka ini Bunda. Nanti kalau di lumah, buat ya?" ucap Emir sambil pada Bundanya.


"Nanti Bunda belajar ya!" jawab Merry. Tidak ada salahnya belajar kan. Jadi, dia bisa membuatkan untuk suami dan anak-anaknya di rumah.


"Setelah ini mau ke mana lagi?" tanya Daris.


"Mancing. Emil mau mancing ikan. Telus nanti ikannya digoleng di lumah!" jawab Emir dengan semangat empat lima.


Tadi dia melihat tempat untuk memancing. Ikan mainan yang muncul di permukaan air membuat Emir tertarik untuk memancing semua ikannya.


Apalagi tadi Emir melihat banyak anak yang seumuran dengannya. Wah, banyak teman. Emir suka punya banyak teman.


Setelah mereka berada di tempat memancing ikan. Merry duduk di kursi plastik kecil di samping Emir. Dengan telaten bundanya itu mengajari Emir bagaimana cara yang benar.


Sedangkan Daris tetap setia memegang handphone sambil memotret pemandangan romantis antara anak dan bunda di depannya ini.

__ADS_1


Sejujurnya, Daris juga terkesima melihat permainan ini. Pemancingan ini adalah permainan yang sederhana tapi seru.


Sebenarnya Daris juga ingin ikut bermain, tapi ah gengsi rasanya.


Mungkin nanti mencari kesempatan, bergaya mengajari Emir padahal dia juga ingin ikut bermain.


"Bunda," bisik Daris pada Merry.


"Iya," jawab Merry singkat karena sibuk dengan Emir.


"Gantian dong!" Ternyata rasa inginnya tidak bisa ditahan lagi.


Merry menoleh pada Daris. "Beneran? Ya udah ini gapapa!"


Bukannya enggan menemani Emir, tapi kalau suaminya mau ya tidak masalah.


Daris mengangguk dengan semangat dan bibirnya tersenyum lebar. Dengan cekatan ia menggantikan posisi Merry untuk menemani Emir.


Merry yang sedang berdiri di belakang Emir tertawa sambil menggelengkan kepala. Dia terbawa suasana saat melihat Daris dan Emir tertawa bersama.


Andai saja di sini ada Luham dan Liam, wah, pasti semakin seru dan heboh.


Seru juga ternyata pergi ke pasar malam. Raut wajah para pengunjung nampak sumringah. Mereka seakan melepas beban hidup sementara untuk menikmati hidup yang tidak panjang ini.


Merry juga melihat muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Hm, rupanya dunia serasa milik berdua.


Merry tersenyum sambil menggeleng, so sweet juga kelihatannya.


Sayangnya dulu di masa mudanya tidak ada pengalaman jalan bersama pacar. Paling mentok dan yang pasti pergi bersama Amar.


Tidak mengapa, sekarang dia berkencan bukan hanya bersama pacar, tapi bersama suami. Bahkan, bersama anak juga hehe.

__ADS_1


Langit juga bersih dan bertabur bintang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Sepertinya semesta mengijinkan dia untuk bersenang-senang di sini sekarang bersama keluarganya.


Saat sedang terbawa suasana melihat Emir dan Daris memancing. Merry dikejutkan dengan sosok anak kecil laki-laki yang merangkul kaki kanannya.


Sontak Merry langsung melihat pada anak kecil tersebut. Anak itu tersenyum dengan menampakkan giginya yang baru tumbuh empat kepada Merry.


Senyum anak itu serasa menghipnotis Merry. Ah, lucu sekali.


Merry berjongkok di depan anak itu.


"Pa pa pa pa, "celotehnya sambil terus tersenyum lebar pada Merry.


"Gemes banget sih Adek!" ucap Merry padanya.


Dari belakang tampak seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Merry mendekat padanya sambil berlari.


"Kakak, sekarang udah cepet ya jalannya. Mama sampai ngos-ngosan ngejarnya!" ucap wanita itu.


"Anaknya lucu!" ujar Merry yang sangat yakin jika wanita itu adalah ibu dari anak kecil di depannya ini. Wajah mereka bak pinang dibelah dua. Bedanya si anak kecil ini versi mini dan lelaki.


Wanita itu tersenyum pada Merry.


"Iya Mbak, anak pertama saya ini!"


"Namanya siapa Adek?" tanya Merry pada anak itu.


"Namanya Hamzah Tante!" jawab ibunya. Tentu saja, karena anak ini masih belum bisa bicara. Masih mengoceh yang mungkin hanya ibu dan ayahnya yang mengerti maksud dari ocehannya itu.


Merry mengobrol cukup asyik bersama wanita itu. Dari obrolan mereka Merry mengetahui jika Hamzah akan berusia satu tahun bulan depan.


Ibunya Hamzah juga bertanya perihal Emir. Dia juga tahu jika Merry sudah punya anak tiga. Hanya sebatas itu obrolan mereka. Tidak begitu serius.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Hamzah menangis karena mungkin dia sudah mengantuk dan ingin menyusu. Akhirnya, mereka pergi dan Merry kembali fokus pada anak dan suaminya.


__ADS_2