
"Udah Mas pelukannya, mau mandi aku!" ujar Merry sambil melepaskan diri dari Daris.
"Mau ditemani?" tanya Daris menggoda Merry.
"Dikira Emir apa mandi ditemani!" jawab Merry sambil menjulurkan lidahnya ke Daris.
Daris melihat Merry yang masuk ke kamar anak-anak jadi teriris hatinya. Seharusnya, masuknya kan ke kamar mereka, tapi malah ke kamar anak-anak.
"Pokoknya nanti malam Merry harus tidur di tempat semestinya!" Daris akan memastikan hal tersebut.
*****
"Kak, please dong nanti malem aku nginap sini!! Boleh ya boleh!!" pinta Raya yang sepulang dari mall.
"Lain kali aja!" tolak Daris sambil bermain handphone.
"Ih pelit, kenapa sih? Cuma satu malam doang!!" ujar Raya ngambek.
"Lain kali aja! Udah buruan sana pulang!" usir Daris.
"Ih diusir, nggak mau!!" tolak Raya tegas.
"Kak Merry, boleh ya nginap sini!!" Tak kurang akal, Raya ganti merayu Merry.
"Mas, gapapa lah nginap sini, emangnya kenapa kok nggak boleh?" tanya Merry pada Daris.
Daris memejamkan matanya, nggak peka ih Merry. Padahal Daris tuh mau usaha buat itu tuh! Masa udah nikah seminggu lebih, tapi istrinya masih ting ting.
"Nggak usah nginap, nanti Kakak transfer uang buat kamu!" ucap Daris.
Raya melotot, "Serius?" tanyanya dengan girang.
"Giliran uang, mau!!" ujar Daris.
Merry tertawa melihat hal tersebut.
"Ya mau lah dikasih uang, tapi bukan berarti aku mau pulang ya!!" ucap Raya tegas.
Daris melotot, enak aja Raya.
"Boleh dong Kak, please please!!" pinta Raya memelas.
"Bolehin aja lah Mas, kasihan!!" bela Merry.
"Iya Kak, emang dasar Kak Daris itu pelit!!" Raya merasa menang dibela oleh Merry.
"Iya deh iya, boleh!!" Akhirnya Daris mengalah dan mengijinkan Raya dengan berat hati.
"Yes, makasih Kakak ganteng, makin sayang deh!!" ucap Raya sambil mencium pipi Daris, lalu berganti mencium pipi Merry.
Daris memutar bola matanya malas.
Sedangkan Merry tertawa terhibur dengan adanya Raya.
"Kak, kapan sih Kak Merry hamil?" tanya Raya secara spontan.
__ADS_1
Merry tergelak, hamil?
"Masa nikah baru seminggu udah hamil Ray!" jawab Merry.
"Secepatnya, udah tenang aja!" jawab Daris sambil menatap Merry.
"Iya deh secepatnya, Raya pengen gendong anak bayi tahu nggak sih!" ucap Raya dengan ekspresi imut.
Malam harinya.
Merry membuat makan malam ditemani oleh Raya, mereka berdua nampak kompak di dapur.
"Kak, Raya mau curhat dong!"
"Iya, curhat apa?" tanya Merry.
Raya yang sebelumnya memotong sayur, mengehentikan aktifitasnya.
"Raya tuh suka sama cowok, tapi cowoknya nggak suka sama Raya!" ucap Raya dengan sedih.
Merry mengerutkan dahinya, "Terus?"
"Raya tuh tulus banget sama dia, tapi dia nggak peduli, masa dia nggak bisa lihat ketulusan Raya sih?" Raya memang tak ragu menceritakan apapun pada Merry, ia telah menganggap Merry seperti ibunya sendiri.
"Raya udah suka lamaa banget sama dia, Raya tuh tulus banget!! Sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan!" lanjut Raya dengan sedih.
"Cowok itu udah tahu apa belum kalau kamu suka sama dia?" tanya Merry. Aduh, cinta anak muda memang rumit.
"Udah Kak, bahkan Raya udah memberanikan diri untuk menyatakan cinta ke dia! Raya nekad Kak!!" jawab Raya menutup matanya.
Raya nyengir sambil berkata, "Eh iya lupa Kak!"
"Emang cowoknya udah punya pacar apa belum?" tanya Merry.
Raya terdiam dan terlihat sangat kecewa.
"Enggak Kak, tapi dia suka wanita lain! Bahkan, dia juga senasib sama Raya! Cintanya juga bertepuk sebelah tangan dengan cewek itu!" tutur Raya.
Merry tersenyum, untungnya dia dulu tak senasib juga dengan Raya.
"Gini lagi loh Ray, aduh, Kakak bingung deh mau ngomong apa!" ucap Merry dengan bingung.
"Memperjuangkan cinta boleh, tapi jangan sampai melakukan hal yang aneh-aneh ya, apalagi sampai merendahkan martabat kamu sebagai wanita!" ucap Merry.
"Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia, bisa jadi laki-laki yang sekarang nggak suka sama Kamu suatu saat cinta sama Kamu! Kalaupun tidak, pasti suatu saat ada lelaki yang tulus mencintai kamu!!" tutur Merry.
"Raya cinta banget sama dia, tapi tenang aja Kak, Raya nggak mungkin aneh-aneh, cinta Raya masih normal kok!" jawab Raya sambil tersenyum kepada Merry.
Merry mengangguk, ia percaya pada adik iparnya ini.
"Khem," Daris berdehem mengangetkan Raya.
Merry dan Raya menoleh ke arah Daris secara bersamaan.
"Kak Daris?" panggil Raya sambil sedikit cemas apakah Daris barusan mendengar perkataannya, malu kalau Daris dengar.
__ADS_1
"Cowok mana sih yang berhasil membuat adik Kakak jadi cinta mati gini?" tanya Daris sambil berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Eng.. enggak!!" jawab Raya tergagap. Dia malu jika hal seperti ini sampai di telinga Daris, apalagi sebelumnya Daris melarang Raya punya pacar.
Bukan tanpa alasan, Daris takut Raya disakiti oleh laki-laki.
Merry terkekeh, ternyata walaupun Raya terlihat santai dan asik kepada Daris, aslinya dia juga takut pada Daris.
Daris mengecup kening Merry membuat Raya jiwa jomblo Raya jadi meronta-ronta.
"Tahu tempat dong kalau adegan 17+, jangan di depan orang jomblo gini!" gerutu Raya sambil cemberut.
Daris terkekeh, "Udah halal Ray, baru kalau kamu yang ciuman sama cowok di depan Kakak! Wah, Kakak taruh kamu di kandang singa!" jawab Daris.
Merry langsung melotot kepada Daris. "Dih, ke kandang singa itu kalau kamu lirik-lirik wanita lain!" protes Merry.
"Itu nggak mungkin terjadi sayang!" ucap Daris dengan percaya diri. Percaya diri jika dirinya akan selalu setia kepada Merry.
"Udah sana Kak Daris pergi, jangan ganggu deh!" sahut Raya yang merasa terganggu dengan kehadiran Daris.
"Suka suka Kakak dong Ray, orang Kakak lagi ke istri Kakak kok!" jawab Daris sambil menjulurkan lidahnya.
"Ganggu tahu nggak sih! Lagi ngomongin masalah perempuan nih, laki-laki nggak boleh ikut!" ucap Raya.
"Udah lah Ray, dia nggak mau sama kamu, masih banyak laki-laki yang ganteng kayak Kakak! Eh, tapi kalo yang persis sama Kakak nggak ada ya, limited edition!" jawab Daris dengan sombong.
Merry tertawa mendengar pertarungan antara Daris dan Raya.
"Udah ih, cuekin aja Kakakmu, ayo lanjut masak lagi! Ntar keburu subuh nggak jadi makan malam malah jadinya makan sahur!" ucap Merry sambil tertawa dan Raya pun ikut tertawa.
"Mana ada keburu subuh, ini aja masih jam setengah tujuh!" sahut Daris.
Merry dan Raya melanjutkan memasak dan Daris di situ hanya mengganggu mereka saja. Mulai dari yang tiba-tiba memeluk Merry dari belakang sehingga pergerakan Merry terbatas, yang tiba-tiba menjewer Raya, sampai menyembunyikan bumbu dapur dan itu semua sukses membuat Merry dan Raya emosi.
"Mas, udah sana kamu ke ruang tv jagain anak-anak!" ucap Merry sambil mendorong Daris agar keluar dari dapur.
"Aku kan pengen bantuin!" jawab Daris sambil tertawa.
"Bantuin biar hancur iya! Udah deh sana pergi!" kata Merry.
"Nggak mau ah, orang dibantuin kok nggak mau!" ucap Daris sambil ingin masuk ke dapur lagi. Namun, Merry menahan agar Daris tak masuk Dapur lagi.
"Kamu yang pergi atau aku dan Raya yang pergi?" tanya Merry.
Daris bingung, "Nggak ada opsi pilihan yang lain ya?"
"Nggak! Cepetan! Kalau aku dan Raya yang pergi, itu artinya makan malam hari ini kamu yang masak!" jawab Merry tegas.
Daris terkekeh sambil mengacak-acak rambut Merry.
"Iya iya aku pergi, masak yang rajin ya!" ucap Daris sok manis.
Merry memutar bola matanya malas.
"Iya udah sana pergi!" ucap Merry dan akhirnya Daris pergi.
__ADS_1