Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Phelamphung


__ADS_3

"Mau- mau, mau tidul di lumah Mama!" Emir bersorak gembira.


"Iya boleh, tapi nunggu luka di kepalanya sembuh dulu ya!! Lain kali Adek kalau main hati-hati biar nggak jatuh lagi!" Nasihat dari ibu peri.


"Emang nggak papa Mer?" Si Bapak mencoba memastikan.


"Nggak papa Pak, lagian mereka lucu-lucu juga!" Mommy Tyas tidak akan marah, beliau pasti sangat senang. Lalu Merry mencoba berbicara pada si kembar," Kakak-kakak mau kan?"


Luham dan Liam hanya acuh tak acuh. " Luham, Liam, kalau ada yang nanya dijawab!" tegur Daris.


Sepertinya Liam sakit hati ditegur oleh Papanya, dia langsung berlari naik tangga menuju ke kamarnya. Sedangkan Luham masih mematung di tempat seraya menatap Merry, kemudian mengikuti Liam pergi ke kamar.


"Maaf ya Mer!" Daris merasa tidak enak.


Kayanya si kembar ada yang nggak beres deh!


"Santai aja Pak!" Merry sih santuy, kan nggak baperan kok.


"Di syana ada kolam lenang?" Emir bertanya dengan serius, ya ampun gemasnya Emir kaya orang dewasa deh.


"Ada, kalau di sini ada nggak?"


"Ada, tapi tecil!" jawab Emir yang mengajak Merry diskusi tentang kolam renang.


"Emil syuka lenang baleng Kak Liam, Kak Luam pake phelamphung!" lanjut Emir berceloteh. "Bial ngga tenggelem kata Papa!" lanjutnya lagi.


"Kapan-kapan Auntie ajarin renang deh biar nggak tenggelam meskipun nggak pakai pelampung! Mau kan?" tawar Merry. Sedangkan Daris tertawa kecil mendengar Emir berceloteh seperti itu pada Merry.


"Ngga pakai phelamphung?" sahut Emir terkejut.


"Iya," jawab Merry singkat.


"Tapih tapih Emil takutt!" Merry tertawa mendengarnya.


"Nggak apa-apa nanti Auntie ajarin deh!"


"Adek coba deh panggil Auntie itu Auntie!!" Tiba-tiba Merry mengajari Emir demikian yang membuat Daris jadi terdiam. "Mama!!" Dengan polosnya Emir terus kekeuh berkata Mama.


"Maaf ya Mer, kamu jadi risih gini dipanggil Mama sama Emir!" Daris merasa tidak enak hati pada Merry.


"Eh,, sebenarnya sih nggak papa Pak, tapi kan kalau bisa diupayakan manggil Auntie ya lebih baik Auntie saja!" Sebenarnya Merry juga bingung yang dia lakukan ini benar atau tidak.

__ADS_1


"Takut pasangan kamu salah paham ya kalau ada yang manggil kamu Mama?" Daris menduga hal tersebut adalah alasannya. Merry ingin tertawa mendengarnya.


Sayangnya saya jomblo fisabilillah Pak wkwk!


"Enggak, saya kan bukan Mamanya jadi lebih baik manggil Auntie aja!" Ucap Merry yang memang tak ada niatan dan tak ada pikiran sama sekali untuk jadi Mamanya mereka.


Daris terdiam mencerna perkataan Merry. "Tapi kalau tetep kekeuh manggil Mama ya saya nggak masalah sih Pak, nanti Emir agak besaran dikit juga pasti nggak akan manggil saya Mama lagi, atau nanti pas udah punya Mama baru juga nggak bakalan manggil saya Mama lagi kan?" Merry berkata demikian karena dia berpikir ya mungkin kedepannya akan seperti itu.


"Toh kedepannya kita juga nggak bakalan sering ketemu lagi!" lanjut Merry.


Daris hanya diam seribu bahasa, lalu ia tersenyum dan mengangguk. "Iya Mer, maaf sebelumnya ya!"


"Santai aja deh Pak!" jawab Merry sambil memberikan mainan Bus Tayo pada Emir yang juga masih berdiri di depan mereka.


Sejenak Merry melihat jam tangannya, "Saya pulang ya Pak!"


"Sekarang? Nggak makan dulu?" Daris terkejut sebenarnya.


"Nggak usah lah Pak, udah ditunggu Mommy saya pasti!"


"Saya anter ya?" tawar Daris yang sudah berdiri bersiap untuk mengantar Merry.


"Eh, nggak usah Pak! Saya pesen taxi aja!" tolak Merry halus.


"Santai aja kali Pak, saya nggak perhitungan kok orangnya!" jawab Merry sambil tertawa.


Daris menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, jadi lupa kalau wanita di depannya ini strong woman, bodyguard eeh. Tapi ya tetap saja tadi kan Daris yang mengajaknya ke sini.


"Saya kasih ongkos aja ya!" Waah waah, Merry semakin tertawa. "Saya punya uang kok Pak!" tolak Merry lagi. "Udah, santai aja!" lanjutnya.


"Adek, Auntie pulang dulu ya! Adek istirahat ya biar lukanya cepet sembuh!" pamit Merry kepada Emir. "Ikutt!" Emir langsung menempel begitu saja.


"Sekarang Adek istirahat dulu, nanti kalau udah sembuh kan kita ketemu lagi, main ke rumah Auntie!"


Rencana mereka yang semoga tidak hanya sekedar wacana, mengingat bagaimana cara memberi tahu Merry saat Emir sembuh kalau perantara untuk komunikasi di antara mereka saja tidak ada.


Walaupun Emir terlihat sedih tapi ia mengangguk patuh pada Mamanya. Lalu Merry mengusap pelan kepala Emir.


"Saya pamit ya Pak!" Merry berpamitan pada Daris.


Saat ingin keluar, rasanya Merry ingin menoleh ke arah tangga karena teringat pada si kembar. Ternyata, si kembar sedang mengintip dari balik celah pegangan tangga. Merry pun tersenyum pada mereka, lalu berjalan ke luar rumah.

__ADS_1


******


Di rumah sakit


"Assalamualaikum Mom!" Merry masuk ke ruangan tempat Mbok Nah dirawat.


"Waalaikumussalam!" jawab Mommy Tyas.


"Ih anak Mommy baru kencan sama cowoknya ya?" tembak Mommy Tyas. Merry merajuk menjawabnya, "Ih apa sih Mom, enggak!"


"Terus dari mana barusan?" tanya Mommy Tyas. Pada akhirnya Merry menceritakan semuanya dari awal sampai akhir pada Mommy nya.


"Jelas boleh dong, ajak aja ke rumah, Mommy seneng banget!" Bener kan apa kata Merry, Mommy akan senang mendengarnya.


"Jadi nanti mantunya Mommy itu duda beranak tiga? Hahaha wah hebat, beli satu gratis tiga!" goda Mommy Tyas sembari tertawa. Mbok Nah yang juga sedang bangun ikut tertawa mendengarnya.


"Apa sih Mommy mok mantu-mantu segala, cuma temen loh!" sanggah Merry.


"Gimana Mbok, senengnyaa aku langsung mau punya cucu banyak!" lanjut Mommy Tyas.


"Nggak seru ih Mommy, cuma temen kok, lagian Merry belum pengen nikah, masih jauuhh!!" tolak Merry lagi yang memang belum ada niatan untuk menikah.


"Iya deeh iyaa, tapi kalau anak-anaknya mau nginap di rumah boleh banget loh!"


Merry tersenyum masam. " Merry aja nggak tahu kapan Emir sembuh!"


"Lah kan bisa telfon, ngasih kabar!" ujar Mommy Tyas.


"Nggak ada Mom, nggak tukeran nomer telfon!" jawab Merry yang memang begitu keadaannya.


"Lah, gimana sih kalian, ya mana bisa ngasih kabar kalau anaknya sembuh kalau gitu!"


Mommy Tyas heran, dua orang ini udah pada gede yang satu udah gadis yang satunya lagi malah udah duda masa nggak mikir gimana cara ngasih kabarnya kalau nggak tukeran nomer telfon.


"Semoga aja ada kebetulan lagi!" jawab Merry yang sebenarnya jadi nggak enak sama Emir. Nggak mau ih dia bohongin anak kecil gitu, kasihan.


"Iya semoga aja bisa jodoh ketemu lagi!" Mommy Tyas ikut menimpali.


"Kok ngomong jodoh si Mom?" sahut Merry tidak terima.


Mommy Tyas tertawa, "Maksudnya Mommy jodoh bisa kebetulan ketemu lagi! Kamu pikir jodoh apa? Wah waah jangan-jangan pengen jodoh ya?" ejek Mommy Tyas yang membuat Merry mati kutu.

__ADS_1


"Enggak lah Mom!


__ADS_2