Bunda Merry Hanya Milik Kami

Bunda Merry Hanya Milik Kami
Cemburu dan Ikhlas


__ADS_3

Merry menggeleng.


"Tidak ada paksaan. Merry juga tidak terpaksa!" jawab Merry lirih sembari menghapus air matanya.


Mommy Tyas bernapas lega, lalu tersenyum. Syukurlah semuanya akan baik-baik saja.


"Merry sayang kan pada Daris dan anak-anak?" tanya Mommy Tyas.


Merry hanya terdiam.


"Jujur pada diri Merry sendiri. Jangan sampai karena emosi sesaat kamu mengatakan kalau kamu tidak sayang kepada mereka. Padahal, di lubuk hati kamu yang paling dalam, kamu menyayangi mereka! " pinta Mommy Tyas.


Merry membisu sembari memikirkan sesuatu.


"Coba deh kamu pikirkan. Kamu sayang atau tidak dengan mereka. Mereka itu berarti atau tidak di hidup kamu!" lanjut Mommy Tyas.


Cukup lama Merry terdiam. Hingga akhirnya air matanya kembali menetes, tapi bibirnya tersenyum.


Merry mengangguk. Jujur dalam hatinya Merry menyayangi mereka. Anak-anak, iya kepada anak-anak. Namun, kepada Daris entah kenapa masih ada rasa kecewa.


Mommy Tyas tersenyum.


"Tentu saja kamu menyayangi mereka. Kamu istrinya dan Daris. Kamu juga ibu dari Luham, Liam, dan Emir!" ujar Mommy Tyas.


"Tapi Merry masih kecewa pada Mas Daris, Mom. Dia masih memberi celah kepada mantan istrinya. Seandainya Mas Daris tegas dari awal, mungkin mantan istrinya tidak akan punya peluang sampai detik ini. Apalagi mereka pernah hidup bersama dengan waktu yang lama. Merry juga tidak yakin apakah Merry lebih mengenal Mas Daris dibandingkan mantan istrinya itu. Mungkin Mas Daris masih menyayangi mantan istrinya!" jelas Merry.


Mommy Tyas tersenyum. Merry juga dilingkupi rasa cemburu selama ini.


"Kamu yakin Daris masih sayang sama mantan istrinya?" tanya Mommy Tyas.


Merry mengangguk. "Tidak banyak, tapi mungkin masih ada sisa rasa sayang itu. Mereka kan bersama sudah lama Mom. Dulu sebelum nikah juga pacaran cukup lama!"


"Ya, Mommy tidak tahu juga bagaimana yang sebenarnya isi hati Daris. Mungkin saat ini Mommy melihat kalau Daris sudah tidak menyayangi mantan istrinya lagi. Tapi isi hati menusia kita juga nggak ada yang tahu!" ucap Mommy Tyas.


"Tapi Mer, yang perlu kamu tahu. Daris menjebloskan Ambar ke penjara. Kamu yakin Daris masih mencintai Ambar?" lanjut Mommy Tyas.

__ADS_1


Merry sedikit terkejut mendengarnya. Namun, ia berpikir mungkin itu adalah ganjaran yang pas untuk Ambar.


"Tentu saja Mas Daris menjebloskan mantan istrinya ke penjara. Jika tidak, apa kata orang membiarkan mantan istrinya tetap bebas setelah menyakiti istrinya!" ujar Merry dengan tegas.


Sedikit demi sedikit Merry mulai berubah dari yang sebelumnya lemah menjadi tegas seperti biasanya.


Mommy Tyas tersenyum. Paham betul dengan perubahan Merry. Mungkin saat ini dia merasa nyaman dan tidak tertekan.


"Kamu itu sebenarnya cemburu. Kamu juga belum ikhlas!" ujar Mommy Tyas.


Merry menoleh kepada Mommy nya.


"Menurut Mommy, kamu itu cemburu. Tapi kamu menahannya sendiri. Seharusnya kalau kamu cemburu nih, kamu langsung ngomong sama suami kamu. Kamu harus tegas nih sama suami kamu. Kalau kata kamu Daris kurang tegas kepada mantan istrinya atau misal sama pelakor deh, ya kamu harus tegasin itu. Kamu kan istrinya, kalau Daris nggak mau dengerin omongan istrinya, terus mau dengerin omongan siapa? Omongan orang lain? Atau omongan pelakor itu?" jelas Mommy Tyas.


"Dulu Mommy juga gitu sama Daddy kamu. Apalagi kamu tahu sendiri kan Daddy kamu beruang hm, banyak perempuan penggoda di luar sana yang antri buat jadi istri kedua. Enak aja, nggak boleh dong!"


"Kamu harus tegas Mer. Kamu itu cemburu tapi kamu tahan. Nggak ngomong sama Daris!"


Merry mencoba merenungi penjelasan Mommy nya. Cemburu. Mungkin benar. Bukan hanya karena faktor Daris sudah hidup lama bersama mantan istrinya, tapi mantan istrinya itu adalah ibu dari anak-anaknya Daris.


Lalu, apakah ini juga faktor dari hormon kehamilan?


"Apa karena faktor hormon kehamilan juga?" tanya Merry.


Pembicaraan mereka semakin lama berubah seperti diskusi. Ya, berarti Merry sudah mulai normal.


Mommy Tyas mengernyitkan dahi untuk berpikir.


"Iya Mer, bisa jadi. Mommy memang belum merasakan rasanya hamil, tapi menurut pengalaman teman dan saudara Mommy, ini ada pengaruh juga dari hormon kehamilan. Kamu jadi berubah jadi istri yang pencemburu!" jawab Mommy Tyas.


"Dan tentu saja karena kamu semakin hari semakin cinta sama suami kamu!" ledek Mommy Tyas.


Merry cemberut. Masa iya sih.


Namun, tak lama kemudian Merry tersenyum. Ya nggak papa sih semakin hari semakin cinta. Kan kepada suami sendiri. Bukan kepada suami orang.

__ADS_1


Tapi, ish ish, apa lah Mas Daris ini. Jangan sampai dia tahu, nanti dia langsung terbang.


"Terus gimana cara menghadapi pelakor?" tanya Merry dengan serius kepada Mommy Tyas.


Mommy Tyas menahan tawanya. Kenapa tiba-tiba tanya begini.


"Mommy jangan tertawa. Ini Merry serius. Dulu kan katanya banyak banget nih perempuan penggoda yang jadi pelakor. Mommy pasti udah ngerti banget bagaimana cara menghadapi mereka!" lanjut Merry.


Mommy Tyas tertawa. "Padahal kamu juga jago menghadapi pelakor. Itu contohnya siapa dulu Mutiara kan? Udah mundur kan? Terus yang sekarang, Ambar, dia masuk penjara!"


"Tapi kalau untuk Ambar, Mommy pun tidak terima. Dia sudah berani menyakiti kamu. Berani mengancam keselamatan kamu!" lanjut Mommy Tyas dengan serius.


Merry tersenyum tipis sembari menyentuh perutnya.


Mommy Tyas mengikuti arah pergerakan tangan Merry.


"Kamu harus ikhlas Mer. Ikhlaskan dia yang sudah pergi. Kamu kan ada Luham, Liam, dan Emir juga. Nanti juga insyaallah akan diberi lagi kan. Semuanya ini sudah takdir dari Tuhan. Mau tidak mau ya harus ikhlas kan!" ujar Mommy Tyas mencoba mengingatkan Merry.


Merry tersenyum tipis.


"Merry memang bodoh karena tidak tahu kalau hamil. Ini salah Merry Mom. Sebenarnya Merry yang paling bersalah dalam hal ini. Hanya saja dia pergi karena kejadian itu, membuat Merry jadi syok dan cukup berat untuk ikhlas. Merry selalu berpikir jika saja Merry tidak didorong, mungkin selang beberapa hari Merry tahu kalau Merry hamil, dan Merry bisa berusaha yang terbaik untuk anak Merry!" ujar Merry mengatakan yang sesungguhnya.


"Hush, itu kan kata Merry. Itu kan angan-angan Merry. Tapi kita skenario yang terbaik itu dari Tuhan. Ini yang terbaik Nak. Baik musibah atau hal apapun yang menimpa kita pasti ada hikmah dibaliknya!" jelas Mommy Tyas.


Mommy Tyas memeluk Merry.


"Sekarang Merry harus ikhlas. Belajar ikhlas. Belajar memaafkan. Memaafkan diri sendiri yang terus-terusan Merry salahkan dan katakan bodoh. Lalu, memaafkan Daris juga. Dia kan juga manusia biasa yang pernah melakukan kesalahan. Walaupun ya Daris kurang tegas. Namun, Mommy yakin berkaca dari kejadian saat ini. Pasti kedepannya dia akan berusaha lebih baik lagi. Merry harus memberi kesempatan itu. Berikan kesempatan lagi kepada suamimu!" tutur Mommy Tyas.


Merry tersenyum di pelukan Mommy nya.


"Makasih ya Mom!"


Dibalik pembicaraan mereka sedari tadi, ada Amar di belakang yang mendengar semuanya.


Lagi dan lagi Amar mendapatkan fakta jika Merry sangat mencintai suaminya.

__ADS_1


Jika memang begitu. Asal Merry bahagia, Amar juga bahagia.


__ADS_2